Jodoh Untuk Jenna

Jodoh Untuk Jenna
Bab 114. Cerita Tentang Keanu


__ADS_3

Rombongan team kreatif sudah datang ke vila Damash. Walaupun masih ada acara shooting esok hari, Bang Tedi sangat puas dengan cara kerja mereka yang cukup profesional. Jadi Bang Tedi akan membuat acara bakar-bakaran di halaman vila malam ini.


Teh Lilis sudah memasukan beberapa ikan dalam bumbu olesan, dan membakar ikan itu sebagian. Bahkan Oma Frida juga sudah menyiapkan jagung yang akan dibakar.


Suasana di vila ini semakin ramai setelah Magrib. Dua anak Teh Lilis ikut bergabung, sambil bermain dengan Efron... Sedangkan Jenna menjaga keponakannya itu dengan sangat hati-hati. Sebab yang lainnya sibuk menyiapkan berbagai makanan untuk dibawa ke meja besar yang diletakkan di halaman depan vila untuk acara makan malam bersama


Suster Fani yang akhirnya ikut membantu Mbok Yah mengeluarkan nasi, sayur dan piring-piring. Di meja yang diletakkan di samping bakaran . Sementara beberapa anak-anak muda itu ikut membantu membakar ikan yang jumlahnya sangat banyak itu.


Tante Ismaya, Om Jhon dan Naura ikut juga bergabung dengan mereka. Malah ada satu orang yang memvideokan keramaian ini. Mereka mulai makan ikan itu dengan tambahan nasi dan lauk lainnya. Ada dua orang yang hanya makan ikan bakar itu saja, dengan diberi sambal yang banyak.


Mang Asep menggunakan kipas angin agar nyala arang di pembakaran itu tetap stabil. Setelah semua ikan dibakar, Pak Suheri mulai membakar jagung. Bau harum jagung bakar menyeruak kemana - mana.


Anak-anak antusias menikmati jagung itu, yang biasanya mereka beli saat jalan-jalan keluar dari vila. Terutama di jalan raya dekat puncak pass. Di sanalah para anak muda biasanya nongkrong menghabiskan malam panjang, yaitu malam Minggu.


Karolina tampak sangat berbeda dari biasanya.. Dia menjaga Oma dan Opanya dengan lebih penuh perasaan dan kasih sayang.


" Lo tumben kalem, Jenna! Kesenggol Jin ifrit penunggu jembatan Kali kecil itu, ya!" ledek Keanu.


Padahal Jenna sedang menyuapi Efron makan dengan ikan bakar. Sebab ikan itu mengandung protein hewani dan kaya dengan omega untuk perkembangan otak seorang anak... Dia harus sangat berhati-hati menyuapi bayi itu agar tidak tersedak durinya. Jenna hanya memberi dagingnya saja dari ikan bakar itu. Setelah membuang semua bagian duri - durinya.


"Eh, Lo bisa diam, nggak! Lihat wajah Rara sudah pucat lagi. Kalo ngomongin setan, demit atau sebangsanya... Tahu tempat, sedikitlah, Keanu! Jangan di sini... Terlalu sensitif!" Ancam Jenna kesal dengan suara tertahan.


Dasar Keanu itu juga titisan makhluk setengah langka. Dipikirnya Jenna juga takut seperti keponakannya itu, yang seharian tadi nggak mau ditinggal olehnya walaupun sebentar saja. Karena Rara begitu ketakutan sejak berganti di salah satu ruang vila yang dijadikan ruang ganti dan meletakkan semua gaun-gaun untuk kostum pengambilan gambar untuk Rara dan segala asesorisnya.

__ADS_1


"'Ala, Lo Jenna! Bukan kayak anak Pasar Minggu aja. Kayak ginian, mah kecil!" Volume suara Keanu semakin besar.


Tanpa sadar, Jenna menampar bahu Keanu dengan kekuatan lima jari kanannya. " Iya, Mbak kunti mana ada yang doyan sama makhluk jadi - jadiannya kayak Elo. Dilepeh kali, karena daging Lo pahit ..."


Tedi tertawa ngakak, melihat ' Tom and Jerry' itu beraksi kembali. Sebenarnya Keanu memang sudah berusaha menjadi lelaki tulen. Sayangnya, dia dulu terlalu banyak dikekang oleh ibunya untuk tidak banyak bermain di luar rumah, saat masih kecil.


 Jadi jika teman-teman sebayanya bisa bermain bola di lapangan depan kompleks setiap sabtu dan Minggu... Keanu malah dikurung di dalam rumah, nggak dibolehin keluar. Tentu ibunya itu punya alasan agar baju Keanu tidak kotor atau anak laki-lakinya itu tidak terluka karena terjatuh. Sebab bermain bola kan harus berlari dan mengejar bola untuk di masukkan ke gawang lawang.


Saat anak-anak bisa bermain bebas dengan naik sepeda, sepatu roda atau ikut merecoki saat ibu-ibu senam di lapangan bulu tangkis, di depan kantor RW. Justru Keanu malah dibawa ibunya pergi ke pasar. Pokoknya, dipikir Ibunya itu, bermain bersama anak-anak di kompleks itu akan membuat Keanu jadi nakal, tidak disiplin dan malas belajar! Mana di rumahnya, seluruh anggota keluarga Keanu adalah perempuan. Kecuali Ayah dan supir mereka. Jadilah Keanu menjelma yang seperti apa adanya sekarang ini.


Suasana menjelang malam, menjadi semakin dingin. Jenna pamit lebih dulu untuk istirahat ke kamarnya di lantai atas. Sebab Naura pun sudah sangat mengantuk. Begitu juga Rara yang sekarang tidur sekamar dengan Mbak Hera. Karena ada Mas Fajar dan Kang Abel yang ikut bergabung dan tidur di kamar sebelahnya.


Di luar masih bertahan beberapa orang, selain Bang Tedi. Mereka minuman kopi dan makan jagung bakar. Sampai suara itu mulai tak terdengar lagi. Sunyi dan sepi. Samar Jenna melihat angka di jarum dinding di dalam kamarnya itu. Pukul 23.30, mereka baru bubar


" Kak, Jenna! Jalan-jalan keluar, yu!" ajak Naura pagi itu setelah mereka menyelesaikan sarapan. Tante Ismaya tak bisa ikut , karena berfokus pada proses pengambilan gambar itu sampai selesai. Ternyata ide itu disambut Karolina dengan sangat antusias.


Mungkin, karena berdua pernah mengalami peristiwa serupa yang terjadi bertahun-tahun yang lalu. Jadi sudah berkurang minatnya, pada acara pengambilan film untuk iklan itu. Lain halnya dengan Opa dan Oma Frida yang sangat tertarik dengan proses kreatif itu. Mereka segera menantikan tayangan iklan itu dan berharap mendulang kesuksesan.


" Bang Fendi bisa antar kami jalan-jalan?" tanya Karolina


" Bisa, Mbak! Mau kemana?" tanya Bang Fendi ikut tertarik.


" Mungkin sampai atas, cari tempat biar anak -anak bisa main dengan aman di alam bebas nanti!" ujar Karolina kalem.

__ADS_1


Pria itu sejak kemarin seperti menghilang. Ternyata dia tinggal di salah satu kamar, di rumah Pak Suheri yang ada di belakang villa. Tentu dia sangat takjub melihat suburnya tanah di depan villa. Sehingga berbagai jenis sayuran yang tumbuh subur di sana. Sayuran itu berupa paprika, selada, brokoli , kembang kol, sampai beberapa sayuran yang bibitnya diimpor dari luar negeri. Seperti bit dan tomat ceri.


Mobil mewah itu segera keluar dari vila Damash menjelang pukul 10.00 pagi. Naura menyanyikan beberapa lagu islami yang diajarkan di sekolahnya, yang merupakan sekolah Islam modern di daerah Kelapa Gading. Sehingga kedua orang tuanya, tidak terlalu sulit untuk menyuruh anaknya untuk sholat lima waktu atau mengaji.


Efron ikut-ikutan benyanyi dan bersholawat. Sesuatu yang jarang diajarkan si Ibu. Jenna tersenyum geli. Dia duduk di samping Bang Fendi dengan santainya. Sedangkan di belakang ada suster Fani yang sibuk main hape, sambil ikut membuat siaran atau video.


Ternyata Bang Fendi sudah sering ke tempat ini. Beberapa kali Karolina menginap di villa sambil membawa team kerjanya, untuk membuat konten di video-nya. Tentu suasana Puncak itu dapat menjadi selingan tersendiri. Setelah beberapa videonya diambil dari rumah di Pasar Minggu dan kediaman orang tuanya di Sentul.


Tanpa sadar, saat memandangi hamparan kebun teh, menjelang kawasan Puncak Pas, Jenna mengingat peristiwa saat mereka dulu berhasil menemui kecurangan seorang laki-laki muda yang dijodohkan Opa Damash untuknya...


Mereka singgah di sebuah tempat penjualan oleh-oleh, di sebelah kanan jalan lajur arah Puncak Pass. Lahan parkirnya agak luas. Bang Fendi pun mengendong Efron tanpa rasa sungkan, saat bayi itu dibawa keluar dari dalam mobil. Sepertinya Bang Fendi sangat menghormati Opa Damash, sehingga menolak dipekerjakan di sebuah agen yang merekrut barisan keamanan dan bodyguard untuk keperluan sebuah acara.


Seperti biasanya, para emak - emak rempong Karolina sibuk memburu berbagai jajanan yang dijual di sekitar lapak oleh-oleh itu. Ada bakso tusuk, cilok , gemblong dan makanan cemilan lainnya. Harga seporsinya yang paling murah lima ribu sampai sepuluh ribu rupiah.


Bang Fendi malah membeli keripik Sanjay, yang merupakan oleh-oleh khas dari asal tanah asal kelahirannya. Sejenis keripik dari singkong yang diberi campuran saos sambal yang pedas dan manis


Jenna menjaga Naura yang ingin membeli permen lolipop dan es krim. Mereka melanjutkan perjalanan sampai melewati Puncak Pass.


Suster Fani tertarik berswafoto di atas dataran tinggi itu... Seperti orang-orang yang banyak berkumpul di sana. Tampaknya kebanyakan dari mereka adalah kaum muda, ada yang merupakan pasangan kekasih atau kelompok remaja yang menikmati hiburan murah meriah itu.


Sampai mobil yang dikemudikan Bang Fendi itu bergerak mencari lahan parkir yang aman. Lagi- lagi Efron turun digendong laki-laki itu. Bocah laki-laki yang hampir berusia 2 tahun itu, tahu kalau dia disayang dan dilindungi lelaki itu.


.

__ADS_1


__ADS_2