
Di WA itu Mbak Sonya menuliskan kalau data diri Tania tidak sesuai dengan fakta yang terjadi. Juga ada beberapa foto Tania remaja dengan berbagai kegiatannya. Semua data diri yang disampaikan ke email Bu Rully itu katanya hanya rekayasa.
Memang dari seragam yang dikenakan Tania di foto itu, terlihat gadis itu mengenakan seragam sebuah sekolah Internasional di Jakarta, dengan penampakan gedung bertingkat dua kejauhan. Sebab terlihat, yang perempuan mengenakan blazer sedangkan murid yang laki- laki memakai rompi rajut biru navy. Belum lagi dengan tas sekolah yang harganya mahal, sepatu dan aksesoris yang stylis.
Tentu Jenna dapat merasakan perbedaan itu, sebab dia bersekolah dengan embel-embel negeri itu. Dari SD, SMP sampai SMA di dekat rumahnya. Tentu dengan berbagai pertimbangan, dari penilaian kedua orangtuanya.
"Fakta tidak seindah warna aslinya!"
Begitu bunyi ujaran Mbak Sonya, di bawah foto- foto lama itu. Jenna mulai menerka, maksud terselubung dari berita itu yang di sampaikan oleh wanita cantik itu. Sepertinya ada sebuah ledakan emosi Mbak Sonya yang bermain di sana.
" Sudahlah... Perusahaan memakai Tania untuk promosi produk. Kita bukan wartawan gosip yang akan menguliti kehidupan Tania dari A- Z. Kalau pun dia punya masa lalu yang kurang baik, mungkin itu kesalahannya. Kita tidak perlu bermain menjadi seorang hakim!"
Perkataan Jenna saat itu lebih masuk akal, akan pernyataan Mbak Sonya. Takutnya Tante Ismaya akan bertindak. Bukan soal pribadi Tania. Lebih kepada image produk kecantikan yang sedang dibawakan Tania. Saat ini iklan itu sudah semakin terkenal dan mendapatkan banyak perhatian perempuan muda di tanah air.
Memang saat makan siang di kantin belakang, soal WA dari Mbak Sonya itu tidak lagi banyak dibicarakan. Mereka lebih mengutamakan menikmati makanan yang telah dipesan. Sebab pekerjaan semakin banyak saja, dengan keberhasilan promosi tersebut.
Beberapa perempuan muda yang lain, punya pendapat tersendiri soal WA Mbak Sonya itu. Para wanita muda di sana lebih terbuka dalam segala hal. Jadi mereka sangat suka dengan Tania yang cukup berhasil dalam membawakan iklan itu. Buktinya, omzet permintaan barang meningkat sehingga pabrik tingkat menengah di daerah Tangerang itu masih bisa berproduksi saat ini . Padahal masih dalam masa pandemi, dengan beberapa ketentuan dari pemerintah yang harus mereka patuhi.
" Non, aku ikut nebeng pulang, ya!" Ujar Bu Rully.
Tiba- tiba saja saja Bu Rully sudah masuk ke ruangan kerja Jenna. Pantas tadi dia mendengar suara percakapan di depan pintu masuk. Tentu Bu Rully sedang menanyakan keberadaan Jenna yang masih ada di kantornya. Padahal jam pulang kerja sudah terlewat lebih dari sepuluh menit.
" Hey, Bu Rully. Tunggu sebentar, ya! Om Jhon sudah pulang?"
" Sejak jam satu yang lalu. Mereka diundang makan siang oleh keluarga Tania di sebuah apartemen di daerah Tanah Abang..."
__ADS_1
Jenna segera merapikan barang- barang pribadinya yang bergeletakan di meja kerjanya. Ada hape, dompet dan kunci mobilnya.
Kedua wanita itu segera meninggalkan gedung kantor itu menuju tempat parkir di halaman samping.Ternyata mobil Jeep Om Jhon masih di sana. Apa Tante Ismaya juga pergi bersamanya, juga?
Jenna segera membuka pintu samping mobil Honda Jazz merahnya. Mempersilakan Bu Rully masuk. Wanita itu duduk di sampingnya dengan nyaman. Setelah beberapa kali ikut nebeng mobil Jenna pulang kerja, barulah wanita itu percaya kalau Jenna sangat mahir membawa kendaraan roda empatnya itu. Bukan seperti pengemudi wanita muda lainnya yang agak ceroboh dan kurang mematuhi aturan lalu lintas dan keselamatan di jalan raya.
Perjalanan cukup lancar saat mereka meninggalkan wilayah Kelapa Gading. Sejak pandemi, kemacetan di Jakarta sedikitnya agak berkurang. Bahkan anak- anak sekolah pun tetap melakukan pembelajaran secara daring. Sudah satu tahun berlalu, namun virus covid semakin meluas penyebarannya di Indonesia.
Iseng - iseng Jenna menanyakan soal WA yang ditulis Mbak Sonya di group kelompok karyawati kantor.
" Bu Rully, kenapa Mbak Sonya sampai ngamuk begitu, sih?"
" Dia kesal sama Pandu! Pria itu dengan seenaknya mengacak-acak program promosi yang sudah diaturnya bersama Keanu. Yah, begitulah... Mbak Sonya kalau sudah tersinggung, semua dilibas!"
" Om Jhon kena libas juga, dong?"
"Padahal acara promosi itukan sudah masuk dalam perjanjian awal kan, Bu?"
" Makanya, Sonya marah besar. Sampai dia mendapatkan jejak kehidupan sekolah Tania sebelum dia pindah ke Singapura. Ternyata Tania remaja sudah mempunyai kehidupan yang sangat liar. Kami pikir dia disekolahkan ke luar negeri untuk menjauhkannya dari kenakalan remaja pada umumnya anak-anak orang kaya... Seperti pemakaian narkoba misalnya! Ternyata Tania lebih parah lagi! Dia pernah hamil saat kelas 3 SMP dengan pacarnya. Apakah janin itu sengaja digugurkan? Sebab setahun kemudian Tania melanjutkan sekolahnya ke luar negeri."
" Informasi itu di dapat dari Keanu, Bu Rully?"
" Mana berani temanmu itu sebagai manajernya membuka aib model yang sedang diorbitkannya! Sonya mendapat berita itu dari Felicia Saraswati."
" Waduh gawat!" Tanpa sadar Jemari Jenna memukul cukup kuat kemudi yang sedang dipegangnya.
__ADS_1
" Gawat apanya?" tanya Bu Rully ikut panik. Dia segera menatap kaca jendela mobil di sisi kiri dan depannya, secara bergantian. Seakan mencari sesuatu di sana. Memang jalan di depannya tepat berada di perempatan lampu merah, jadi laju kendaraan agak padat merayap.
" Felicia itu mantannya Pandu, Bu! Putusnya pertunangan mereka itu sudah membuat heboh keluarga Samidi. Apalagi sekarang Tania mulai diusik!""
" Aduh, Jenna maafkan saya, ya! Kurang mengikutinya berita seperti itu. Kecuali gosip artis, nah itu baru asyik!"
" Jenna juga maklum, Bu... Sama! Saya juga kurang update berita seperti itu. Tetapi saya pernah dihadang Felicia, hanya karena jalan bersama Bang Tedy..."
Bu Rully tertawa geli. Dia cukup mengenal kedua kakak Jenna. Karena sering datang ke kantor Ayah Jenna di Kuningan. Di kantor itu dulu, ada dua lantai dari gedung tersebut yang untuk sementara digunakan Om Jhon untuk menjalankan perusahan kosmetik dari hasil racikan istrinya, Dr Ismaya Sagara. Dia sana ada Mas Bayu Ajie dan Bang Teddy, yang masih membantu bekerja di perusahaan milik Pak Feri Darmawan.
" Iya, sih... Si Mas Teddy itu , semakin dewasa, kok semakin kelihatan wajah Eropanya, deh. Bu Rully pikir dia dulu menjalani oplas gitu.."
Tawa Jenna semakin geli. Di keluarga besar mereka, semua cucu- cucu Opa Damash membawa ciri dari daerah kedua orangtuanya masing-masing. Jadi walaupun satu kandung saja, kadang mereka tampak sangat berbeda.
Misalnya, Mas Bayu Ajie kakak sulungnya Jenna, lebih menyerupai pria Jawa dengan wajah tampan, ramah dan suka bersikap konyol. Bawaan dari Eyang Kakung, ayah dari pihak Mama Arunika .Bang Teddy ternyata, mewarisi darah Eropa dari kakek pihak ayah. Sisanya Jenna. Dia menjadi terbentuk dari darah perpaduan antara Jawa, Sunda, Betawi dan juga sedikit Eropa pada kulitnya yang putih bersih dan mulus.
Sekarang raut wajah Jenna mulai dijiplak oleh Brandon, sang keponakan dari anak Mas Bayu Ajie. Apalagi anak itu besar di Medan, saat pertama kali sang kakak di beri tanggung jawab dari ayahnya untuk memimpin cabang perusahaan di Pulau Sumatera.
" Terima kasih, Jenna. Mau mampir?"
" Nggak usah, Bu! Jenna juga sudah ditunggu Mama di rumah. Sepertinya dia ada janji dengan seseorang.."
Suara mobil Jenna mulai terdengar meninggalkan area pemukiman yang cukup padat di daerah Pancoran tersebut. Jenna lebih menyukai mencari jalan alternatif yang menuju ke rumahnya karena lebih cepat sampai. Walaupun jalan itu lebih sempit karena melintasi berbagai pemukiman dengan jalan berliku - liku.
Di rumah, sang Mama juga baru pulang dari tempat prakteknya di sebuah klinik di sekitaran Lebak Bulus. Biasanya ibunya itu suka menyetir sendiri mobil sedan mewah pemberian suaminya di ulang tahunnya, setahun yang lalu. Namun mereka tak lantas memberhentikan beberapa pekerja yang sudah lama mengabdi di rumah ini karena pandemi.
__ADS_1
Padahal Pak Feri sudah berpikir sangat keras dalam beberapa bulan yang lalu, agar usahanya tetap berjalan. Sebab ada ratusan pekerja yang mengantungkan hidupnya dari bekerja di pabriknya yang terdapat di daerah Jabotabek.
Tampaknya usaha rintisan milik Bang Tedy yang harus dikorbankan. Sebab dengan semakin sedikitnya wisatawan asing yang datang berkunjung ke Pulau Bali, usaha agen perjalanan dan penukaran mata uang asing sepi peminat. Beberapa negara di Asia dan Eropa mulai memberlakukan sistem lockdown.