Jodoh Untuk Jenna

Jodoh Untuk Jenna
Bab 89. Pria Misterius


__ADS_3

Jenna berusaha menunggu dengan sabar semua persiapan yang dilakukan wanita muda itu. Sebab Suster Feni agak kerepotan juga menyiapkan semua keperluan Efron dalam waktu yang singkat. Melihat hal itu, Ibu Arunika segera membantu. Dia langsung mengganti pakaian Efron dengan pakaian yang lebih bagus. Segera Suster Fani bersiap dengan memasukkan semua printilan keperluan Efron di dalam tas bayi berukuran sedang itu.


Mata Jenna menatap Karolina yang masih santai dengan piyama dan muka bangun tidurnya. Dia sedang menikmati secangkir kopi panas yang disediakan Mak Isah di meja makan ... Semalaman Karolina ikut begadang dengan teamnya di sebuah ruangan di belakang garasi yang dijadikan studio sementara.


Malas Jenna mulai memanaskan mesin mobilnya. Pak Iman sudah ada di depan rumah, setelah membuka pintu pagar depan. Sebentar lagi tentu Pak Feri dan Ibu dokter Arunika berlomba - lomba keluar dari rumah ini dengan seribu kegiatan dan kesibukannya masing -masing dalam pekerjaannya.


" Non, tolong buka bagasinya!" panggil Mbak Ayu perlahan.


Segera Jenna membuka pintu bagasi di belakang mobilnya itu. Sambil melihat apakah bensin di mobilnya masih penuh atau kosong. Jenna berusaha berdisiplin dengan aturan seperti itu atas anjuran Opa Damash yang dulu mengajarinya mengendarai mobil ketika dia berumur 15 tahun. Terkadang hal- hal kecil itulah yang menolong diri kita . Apalagi buat wanita yang mengendarai mobilnya sendiri. Harus selalu waspada!


Sepertinya Jenna juga tidak akan pernah meninggalkan tas kerja, tas tangan atau tas laptop saat meninggalkan mobilnya di tempat parkir umum. Ini untuk mencegah tindakan kejahatan yang sering terjadi. Sebab para penjahat tetap nekat akan memecahkan kaca mobil, bila melihat ada barang yang tertinggal di dalam mobil. Meskipun itu hanya tas biasa. Kelompok penjahat itu akan tetap melakukan aksinya itu di tengah keramaian sekalipun. Seperti di depan toko di pinggir jalan yang ramai.


Jenna juga sangat waspada saat berkendara di jalan raya ... Sebab banyak modus yang dilakukan orang untuk melancarkan aksi kejahatannya. Ada yang pura-pura tertabrak dan meminta ganti rugi yang sangat besar. Pura-pura memberi tahu kalau ban belakang mobil kita bocor, sehingga pengemudinya panik dan membuka pintu tanpa menguncinya lagi. Padahal ada anggota komplotannya yang akan membuka pintu itu dan menjarah apapun yang ada di dekat kursi pengemudi dari hape, dompet sampai tas.


Mbak Ayu membantu mengangkat tas dan stroller milik Efron ke bagasi mobil Jenna. Sementara Suster Fani mengendong si bayi gemoy itu di pinggang kanannya. Sedangkan dia membawa tas selempang di pinggang kiri dan sebuah kotak berisi botol susu, termos air hangat dan susu formulanya.


" Hati - hati, Non! Dah anak ganteng!" teriak Mbak Ayu ketika mobil yang dikemudikan Jenna meninggalkan halaman depan rumahnya.


" Mbak Jenna, kita mampir ke toko buah untuk membeli oleh-oleh kan ?"

__ADS_1


" Iya, Sus...Ibu Karolina menitip uang?"


" Iya, Mbak ! Saya disuruh beli buah naga, melon dan anggur untuk Pak Damash !" ujar wanita muda itu sambil memperlihatkan 5 lembaran uang seratus ribuan.


" Suster beli melon dan buah naga saja! Nanti saya yang beli buah lain untuk Oma Frida!"


Sepanjang jalan Efron bergumam riang... Seat car yang sedang didudukinya itu adalah hadiah dari Bang Tedi dengan ukuran yang lebih besar lagi. Pertumbuhan Bayi itu semakin pesat setelah berulang tahun, yang pertamanya beberapa bulan yang lalu. Dokter Arunika selalu mengawasi segala asupan gizi untuk Efron. Semua aturan itu juga diberikan tidak hanya pada suster pengasuhnya, Karolina juga para ART yang memasak di dapur.


Mobil Honda Jazz itu memasuki halaman sebuah toko khusus yang menjual berbagai buah. Sebuah toko yang sangat besar dan terlengkap di daerah ini. Efron digendong Suster Fani saat mereka keluar dari mobil. Jenna dan suster itu pun masing masing memakai tas selempang. Sebagian besar barang-barang pemberian Jenna kepada Suster Fani, justru lebih sering dipakai oleh pengasuh bayi itu. Karena barang milik Jenna itu lebih sesuai dengan seleranya sebagai wanita muda, yang energik.


Efron tertatih-tatih digandeng Jenna menuju rak -rak yang memperlihatkan berbagai jenis anggur dari anggur hitam lokal sampai anggur impor dari negara tetangga sebelah. Tergantung dari kualitas dan harganya, tentunya... Jenna memilih anggur hijau, yang lebih disukai si Oma.


" Sus, simpan saja sisa uang belanjaan dari Karolina itu untuk pegangan!" Perintah Jenna.


Wanita muda itu mengangguk... Dia cukup senang bekerja di dua keluarga itu. Keluarga Damash dan Darmawan... Makanya, saat Ibu Karolina bermasalah dengan ibu mertua dan kakak-kakak iparnya, Suster Fani sangat sedih. Dia baru menggurus Efron sejak anak itu berusia 4 bulan...Para pengasuh yang lain bergantian masuk dan keluar dari pekerjaannya karena diperlakukan tidak layak saat mereka menginap di keluarga Hisbillah. Atau mereka suka mengintimidasi para pengasuh Efron. Dipikiran mereka, Karolina terlalu banyak gaya dengan mempekerjakan baby sister berpengalaman pada agen penyalur yang resmi dan cukup dikenal. Sebab gaji mereka lebih tinggi dibandingkan tenaga ART biasa yang disuruh momong anak.


" Suster nggak beli sesuatu?" tanya Jenna ketika mereka keluar dari toko besar berlantai dua itu. Karena masih belum terlalu siang, jadi pengunjung belum begitu banyak yang berkunjung ke tempat itu.


" Cukup Mbak! Nanti kalau ada barang Efron yang kurang dan habis bisa beli di mini market terdekat.."

__ADS_1


" Maksud saya, beli barang buat keperluan pribadi Suster Fani..."


Mata wanita muda itu terkejut. Lalu bibirnya mengulas senyum. " Nggak usah, Mbak Jenna! Saya selalu dibelikan oleh Ibu Karo setiap bulannya. Dari keperluan mandi, sampai skincare... Semakin hari barang endorse Ibu semakin banyak... Jadi sebagian diberikan ke saya!"


Jenna tersenyum. Kendaraan yang dikemudikannya itu mulai memasuki jalan tol Jagorawi dari arah pintu masuk Kampung Rambutan. Perjalanan Sabtu pagi ini cukup nyaman. Belum terlihat banyaknya antrian mobil lainnya dari Jakarta ini menuju ke tol ke arah selatan. Biasanya mobil - mobil itu bergerak menuju tol Ciawi.


Pada umumnya orang -orang Jakarta mencari tempat untuk beristirahat dan berwisata ke daerah Puncak, Jawa Barat. Atau melipir ke kanan sedikit menuju ke arah kota Sukabumi.


Plang di pinggir jalan tol itu mulai memperlihatkan nama Sentul... Segera Jenna memilih lajur jalan yang paling kiri. Sampai dia mencapai pintu gerbang pembayaran... Dari arah belakang mata bulat Efron mengawasi kegiatan si Tante itu dengan menempelkan kartu E-toll menggunakan tongkat plastiknya ajaibnya.


Suster Fani tertawa. Bayi itu mulai mengoceh lagi mengikuti lagu anak-anak bermain dengan menggunakan bahasa Inggris. Selama perjalanan Jenna menyetel lagu itu dengan volume yang sedang.


Jenna mengurangi kecepatan mobilnya... Sehingga Efron pun dapat mengamati keadaan di sekelilingnya... Sampai mereka mulai memasuki kawasan perumahan... Hampir 2 kilo meter kemudian, terlihat gerbang besar yang bertanda khusus. Sebuah kompleks pemukiman milik keluarga Damash.


Kedatangan Jenna sudah disambut oleh sepasang suami istri di depan rumah besar yang letaknya paling kiri dari kavling tersebut. Rumah opa Damas! Sampai Jenna sedikit tertegun... Dari kejauhan dia melihat sosok pria yang sangat asing... Dia lebih muda dari beberapa pekerja yang biasanya menjadi petugas keamanan yang ditempatkan di kompleks ini, atas permintaan Om Sungkono atau Om Danang.


Yang lebih mengejutkan lagi, tak jauh dari tempat dia memarkirkan mobilnya, ada sebuah mobil yang terlihat biasa saja bagi orang awam pada umumnya... Tetapi mobil yang biasa disebut mobil sejuta umat itu mempunyai nomor yang akan selalu diingat oleh Jenna di dalam pikirannya.


Nomor kendaraan dari wilayah Bogor! Tampaknya mobil ini yang pernah membuntutinya beberapa kali ketika dia pulang kerja, atau setelah bepergian di hari off kerjanya. Tampaknya mobil ini tidak menguntit dia lagi. Setelah dua kali terakhir dalam perjalanannya, Jenna berhasil melepaskan diri dari pengawasan mereka.

__ADS_1


__ADS_2