
Mata Pras mendelik ketika Jenna hanya mengucapkan kata maaf saja. Padahal adegan singkat yang memalukan tadi sudah menjadi tontonan banyak orang. Mungkin ini yang disebut membunuh tetapi tidak menyentuh!
" Hey, mau kemana?" ujar Pras gusar. Saat dia melihat Jenna berbalik untuk melanjutkan perjalannya. Bahkan gadis itu masih memegang satu laporan dengan tangan kirinya, juga tangan itu memegang tas kerjanya yang memakai tali kulit panjang.
" Berlakulah sopan, Bung! " Ketus Jenna.
Pras tertegun. Sinis sekali ucapan gadis itu. Memang dia sejenis virus Corona 19, yang harus dijauhi karena menyebar bibit penyakit kepada orang lain apa? Apalagi dia cukup penasaran dengan sikap Jenna tadi. Bahkan tubuhnya yang berat dan kokoh dapat dibanting dengan satu tangan kanan saja! Keterlaluan juga adik si Tedy ini....
" Nggak apa-apa, tadi. Non Jenna?"
" Nggak apa-apa, Pak! Mau mencoba ketupat Bengkulu mungkin cowok ngaco itu kali! Kami tadi memang dikenalkan sekilas oleh Om Jhon. Tetapi tidak seharusnya main colek- colek bahu orang, seperti tidak ada sopan santunnya, sama sekali...."
" Non, tadi ada orang yang merekam saat pemuda itu jatuh dibanting, Non Jenna!"
" Siapa Pak Min?" tanya Jenna kaget.
" Tadi orang itu berdiri di dekat pos jaga masuk itu, Non! Pikir Pak Min dia juga klien Pak Jhon Sagara juga ."
" Ya, sudahlah, Pak.... Sekarang kita balik ke Sentul. Sebelumnya mampir ke toko buah yang dekat-dekat rumah saja, ya! Opa minta dibuatin Jus buah Naga."
Beberapa orang petugas keamanan mendekati Prasaja Bramantyo untuk membantu Tampaknya jalannya agak pincang sedikit. Karena tadi cara Jenna menjegal kakinya cukup kuat.
" Apa bapak mau mengajukan komplain?"
" Kenapa?"
" Tadi gadis itu dengan rasa tidak bersalah, segera pergi. Sepertinya kaki bapak sedikit terkilir, ya?"
" Apa kalian melihat kejadian tadi?"
" Sedikit... Sebab gadis itu terus sibuk berbicara dengan supirnya. Jadi kami tidak melihat secara keseluruhan..."
" Sudahlah... Ini hanya miskomunikasi saja. Saya mengenal perempuan tadi! Mungkin dia kaget, jadi keluarlah gerakan ilmu bela dirinya secara reflek!"
__ADS_1
" Pantas, gadis muda itu seperti terlatih dengan ilmu bela diri. Gerakan membanting lawan itu seorang adegan yang dilakukan seorang aktor laga bintang film Amerika yang mempelajari Aikido."
" Nggak apa-apa! Itu salah saya juga, yang terus menggodanya. ..."Jawab Pras sedikit cemas. Pras segera berjalan menuju mobilnya, masuk ke dalam mobil sport dua pintunya yang berwarna cukup mencolok. Merah!
Kedua pria yang tadi masih asyik ngobrol di restoran, akhirnya menutup pertemuan mereka. Saat mereka sampai di loby bawah, ada sekelompok orang yang ramai membicarakan soal gadis yang berhasil menjatuhkan tubuh pria yang mengganggunya di halaman taman hotel. Namun Om Jhon kurang memperhatikan hal tersebut. Walaupun sedikit mendengar kalau gadis yang dibicarakan itu mirip seperti sosok Jenna, keponakannya.
Mana ada orang bekerja di kantor yang memproduksi berbagai produk kosmetik ternama, malah datang mengenakan t-shirt putih gombrong yang dipadankan dengan blazer hitam formal dan setelan celana panjang skinny jeans hitam. Belum lagi flatshoes putih. Jenna lebih terlihat seperti wanita muda yang akan berangkat ke kampus daripada bekerja di sebuah perusahaan.
Justru Zaki Iskandarsyah yang tertarik dengan cerita seorang petugas keamanan di dekat pintu masuk. " Maaf, Pak. Boleh tahu, Ada kejadian apa tadi di depan hotel?"
" Salah paham saja, Pak ! Seorang gadis muda membanting lelaki yang dipikir copet atau pria yang akan mengganggunya.."
" Apa si lelaki itu naik mobil sport merah?"
" Benar, Pak!"
Zaki berlari menghampiri Jhon yang masih sibuk menelepon istrinya. Zaki terdiam di depannya, sambil menunggu sahabatnya itu menyelesaikan obrolannya.
" Gawat apaan, sih?"
" Kayaknya si Pras kena banting si Jenna, deh! Sorry, adek ipar gua memang nggak ada akhlaknya. Dia itu pantang ditolak cewek. Walaupun ceweknya segalak Jenna!"
" Maksud, Lo ... Yang diomongin orang - orang tadi itu adalah Jenna dan Pras?"
" Iya... Ayo kita tanya lebih jelas, lagi!" ajak Zaki sambil masuk ke dalam ruang loby. Ternyata kejadian itu menjadi semakin ramai dibicarakan. Apalagi ada beberapa pengunjung hotel yang melihat peristiwa itu secara jelas dari ruang loby utama hotel karena seluruh dindingnya terbuat dari kaca.
Pak John Sagara tak bisa menyembunyikan tawanya ketika melihat kejadian itu dari monitor cctv hotel. Wajah Pras tampak pias ketika dia kena jegal kaki Jenna.
Sahabatnya, Zaki pun mengakui kehebatan gerak cepat Jenna. Dia tidak begitu yakin kalau dibalik tubuhnya yang mungil dan rapuh ada kekuatan yang sangat dahsyat.
" Gila aja! Jenna bisa membanting badan segede kebo kayak badan Pras!"
" Ya, udah! Tolong bilang ke Pras jangan diperpanjang masalah ini." Ujar Om Jhon takjub. " Takutnya Jenna yang tambah ngamuk. Lo sudah lihat, kan ? Kalau Jenna sudah dari awal suka dengan sikap dan cara bicara Pras sejak di restoran tadi.."
__ADS_1
" Tetapi, Pras juga konyol banget, sih! Nggak tahu, kalau si playboy cap minyak air mata duyung itu tambah penasaran... Maaf, Bro! Sejak dia kerja di Australia, otaknya makin miring sebelah, kali!"
Kedua pria itu menghembuskan nafas berat. Untungnya pihak hotel akan menyimpan rekaman itu. Takut pihak Pras menggugat dengan dalil mempermalukan orang lain. Padahal pria muda itu malah mempermalukan diri sendiri.
" Eh, kita ajak omong Tedy saja, agar masalah ini tidak diperpanjang. Keponakanmu itu kan berteman baik dengannya." Tawar Zaki. Tapi mau nggak mau dia akan menceritakan hal ini kepada istrinya.
Jenna sampai di rumah sudah melewati waktu Magrib. Tas kertas yang berisi buah-buahan sudah dibawa Pak Min ke dapur. Jenna cepat menyelinap masuk ke kamarnya di lantai atas, mandi lalu sholat Maghrib.
Percakapan terdengar dari ruang makan. Si Opa Damash kembali berada di tengah keluarganya tetapi masih duduk di kursi rodanya. Dia belum begitu kuat menopang tubuhnya yang masih lemah. Namun dari hari ke hari kesehatan mulai membaik dan pulih.
" Kamu pulang agak sore, Jenna?"
" Maaf, Opa! Om Jhon meminta Jenna ikut dalam kerja sama dengan perusahaan ekspedisi pengiriman barang..."
" Kenapa kamu nggak ambil kursus manajemen atau bisnis saja, Jenna! Sayangkan juga ijazah D2 bahasa Inggris dengan S1 Ekonomi kalau tidak dimanfaatkan... . Segera urus persyaratan untuk membuka bisnis baru. Mungkin usaha yang sedang ramai atau viral saat ini. Cocok untuk dicoba!"
" Belum waktunya, Opa! Ini Papa saja malah mau menutup pabriknya yang di Bandung. Ekonomi negara kita masih sulit ... Mungkin dua atau tiga tahun ke depan baru akan pulih."
" Itu hanya teori orang- orang Barat, untuk mengucilkan kemampuan bangsa kita saja, Jenna! Selama orang itu hidup, perlu makan, sandang dan pakaian. Ekonomi masyarakat pasti akan terus berputar. Jangan terlalu mengandalkan pertolongan orang luar..."
Kalau sudah begitu, Jenna mengiyakan saja. Sebab walaupun sudah lama pensiun dan tak aktif di dunia kerja, semangat nasionalisme dan cinta produksi dalam negeri, selalu ada di hati mantan prajurit ini! Bagi Opa Damash muda, tugas adalah di atas segala-galanya!
Opa mau kembali ke kamarnya setelah Jenna memantau suster Diah memberikan obat-obatan yang harus diminum pria tua itu setiap hari. Ada yang tiga kali sehari atau sehari dua kali.
Kemarin si Mama mulai mengeluh tentang sedikitnya persediaan beberapa obat untuk Opa karena harus membeli secara khusus. Mereka sudah mencari ke beberapa apotek besar di Jakarta. Ternyata hanya mendapat beberapa strip saja... Paling lama untuk persediaan dua mingguan ini.
Opa mulai tenang saat Jenna dengan hati- hati meninggalkan ruang kamar tempat dia dirawat. Kamar itu sudah diatur seperti layaknya ruang rawat VVIP. Besok mereka akan membawa Opa kontrol bekas jahitan operasinya ke rumah rumah sakit, di dekat Lapangan Banteng Jakarta.
Jenna jadi ikut, karena Oma juga memaksa ikut. Di belakang Alphard milik Pak Feri, Jenna memejamkan matanya sambil mendengar musik slow rock dengan memakai headset.
Perjalanan menuju rumah sakit di pusat kota Jakarta itu harus beberapa kali terhambat kemacetan. Opa duduk di bangku tengah bersama dokter Arunika dan Oma Frida. Sedangkan Jenna menikmati kesendiriannya di jok bangku belakang.
.
__ADS_1