Jodoh Untuk Jenna

Jodoh Untuk Jenna
Bab 96. Pertemuan Karolina dengan Fendi


__ADS_3

Karolina sekarang tampaknya lebih suka pergi satu mobil dengan Jenna atau Bang Tedi... Mungkin dia lebih nyaman dan aman pergi bersama mereka, karena tahu kedua bersaudara itu mempunyai ilmu bela diri yang mumpuni.


Padahal kegiatan olah raga itu sepertinya adalah kegiatan wajib bagi anggota keluarga Damash. Hampir semuanya menekuninya, terutama para cucu diharuskan mempunyai ilmu dasar bela diri... Maklum sang kakek, dipercaya menjadi ketua pembina olah raga Pencak Silat. Nyatanya Karolina lebih feminim dari Jenna, sebab dia lebih menyukai kursus modeling sejak di kelas 3 SMP.


Berkat perlindungan keluarga Darmawan yang sejak dulu memperlakukannya seperti anaknya sendiri, Karolina nyaman tinggal di rumah Pakdenya itu. Dia lebih fokus bekerja dengan teamnya itu untuk membuat video yang bagus dan memberi manfaat buat orang lain. Semakin banyak orang yang melihat konten itu, tandanya usaha Karolina yang dilakukannya dalam beberapa bulan ini tidaklah sia-sia.


Di rumah, Jenna sering latihan olah raga di halaman belakang ditemani sahabat kecilnya, Efron. Dia biasa lari - lari kecil ataupun latihan mendribel bola basket dengan satu ring. Lapangan itu dibangun oleh kedua kakaknya di halaman depan, yang sangat menyukai olahraga dari negara Amerika Serikat itu. Atau kalau cuaca kurang mendukung seperti mendung atau turun hujan, Jenna akan masuk ruang Gym milik ayahnya itu, di samping garasi.


Di ruangan itu Jenna akan mengunakan beberapa alat untuk latihan workout di rumah. Seperti sepeda statis, treadmill atau melatih kelenturan tubuh di sebuah matras yoga.


Terkadang Pak Feri juga akan mengajak Fendi berolah pagi dengan berkeliling kompleks dengan berjalan kaki, sebelum ngantor. Apalagi Fendi sangat gampang berbaur dan bersikap fleksibel dengan semua anggota keluarga Darmawan. Bahkan cepat akrab dengan para ART, supir dan pegawai yang tergabung dalam team kerja Karolina.


Sampai saat ini, Fendi masih menolak untuk diajak bergabung sebagai anggota bodyguard dari perusahaan rekanan menantu Pak Damash itu. Di sana kemampuannya tentu bela dirinya lebih diuji dan dihargai. Sebab Jenna tahu, pria ini adalah asisten Guru Kakek Umar di padepokan, setiap ada ujian kenaikan tingkat, bagi murid yang berlatih silat di tempat itu.


Ada satu kiriman sepeda listrik untuk Karolina, yang diberikan oleh seorang pengusaha yang tertarik dengan berbagai video uniknya. Beliau meminta agar sepeda listriknya itu diiklankan Karolina pada video tutorial untuk menjaga kebugaran tubuh.


Tentu saja sepeda listrik model tercanggih itu segera dikuasai Jenna. Sepeda berwarna merah terang itu sering dibawanya keluar rumah. Biasanya Jenna menggunakan sepeda itu untuk berkeliling kompleks, mencari bakso, rujak dan camilan lainnya.


Apalagi di sepeda itu ada boncengan khusus, sehingga Efron selalu bisa duduk di sana. Jadilah mereka dua sejoli yang mudah dikenali banyak orang pada setiap Sabtu atau Minggu. Terutama ketika Jenna of bekerja. Sehingga sudah menjadi pemandangan biasa bagi para pedagang di sana. Melihat keberadaan si Tante cantik dengan keponakan yang imut , gemoy dan ganteng itu dengan sepeda listrik yang keren dan terbaru.


" Ternyata mahal juga, ya?" bisik Ibu Arunika yang tertarik ingin memiliki sepeda listrik seperti itu. Jadi dia tak perlu mengayuh dengan mengeluarkan seluruh tenaga untuk menjalankannya. Tentu saja wanita itu kaget setelah melihat harga yang ditawarkan sepeda itu mencapai puluhan juta.


" Nggak salah, Ma? Sepeda Papa juga mahal juga, tuh! Untung bukan yang yang bermerek Beverly Hills Edition. Kita bisa jual ginjal untuk membelinya !" Ledek Jenna.


Setelah dia meletakkan sepeda itu di dalam garasi khusus yang tertutup. Di sana juga nongkrong sepeda gunung papanya, yang dibeli saat kegiatan bersepeda sedang booming. Sekarang beliau hanya sesekali menggunakannya ke bepergian ke beberapa tempat di wilayah di Pasar Minggu. Katanya terlalu capek bila dia harus gowes ke GBK sendirian, untuk bergabung di sana dengan teman satu komunitasnya.


Pak Feri lebih suka mengajak Efron jalan atau bermain di taman belakang yang dipenuhi berbagai pohon buah cangkokan. Dulu Dia ingin membuat kolam renang pribadi di sisa tanah yang mencapai 150 meter itu. Namun sebuah developer besar membangun perumahan mewah di seberang kompleks ini. Tentu melengkapinya dengan fasilitas sebuah wahana ala water boom yang dibuka untuk umum.

__ADS_1


" Adek beli apa sama Ate?" tanya Karolina menyambut kedatangan Efron.


" Bakso!" ucapnya lucu dengan bahasa bayinya yang belum terlalu jelas.


" Kurang keren, Dek! Minta jajan sama Tante Jenna itu pizza, hamburger, HokBen...Ini bakso ... Bikinan Mak Isah juga nggak kalah enak sama Bakso Bang Jangkung di depan kompleks..." Ledek Karolina.


Wajah Efron memberengut. Pantang baginya, si Tante Jenna diremehkan. Walaupun oleh ibunya sendiri. Jenna tertawa senang, sebab dia sekarang punya sekutu untuk melawan kejahilan Karolina.


" Ndak.. Ndak Boleh! Mama nakal!' Seru Efron ketika Karolina mencomot sebuah bakso di mangkok anaknya itu.


Tawa para ART di rumah ini berderai melihat perseteruan ibu dan anak bayinya, di taman belakang. Karolina mendelik. Sebutir bakso urat halus itu sudah masuk tenggorokannya malah ditangisi oleh anaknya. Suster Fani mendekati Efron dan membujuknya agar tidak menangis.


Dari seberang duduknya, Jenna menyeringai. " Emang enak? Ha, ha."


Padahal tadi Karolina menolak saat ditawarkan Jenna untuk dibelikan seporsi bakso juga.


Padahal dalam kamus kesehatan, untuk disebut langsing itu adalah tinggi tubuh kita dikurangi 110, untuk patokan mencapai berat ideal... Sekarang tubuh Karolina malah terlihat lebih tinggi lagi karena sangat kurus. Kalau Pak Imam menyebutkan, sepupu Non Jenna itu kerempeng.


Jenna sangat menyayangi Efron, karena merasakan persamaan dirinya dengan anak Karolina itu. Sebab dia juga lebih banyak tumbuh dalam asuhan seorang Mak Isah. Saat itu ibunya, dokter Arunika mulai mengejar kariernya sebagai wanita yang bergelar dokter... Dia harus mengikuti berbagai tahap sekolah dan ujian, sampai berkuliah lagi untuk mengejar gelar spesialis..


Pada waktu itu Ibu Arunika kuliah di negara Australia. Tentu, setelah suaminya mempunyai cukup dana untuk membiayai kuliahnya istrinya yang sangat mahal itu.


Urusan pekerjaan bagi Jenna semakin lancar. Apalagi setelah dia juga tidak lagi terusik dengan kehadiran Pandu Samidi yang suka datang ke Salon di Kebayoran Baru. Kedatangan pria itu ibaratnya seperti, " Datang tanpa diundang, pulang tanpa diantar."


Kedamaian yang baru Jenna rasakan dalam dua minggu terakhir ini, mulai terusik dengan berita yang dibawa oleh Marvin. Kubu dari para adik dan kubu dari anak Pak Zaenudin Hisbilah itu mulai bentrok di suatu malam. Sampai ada jatuh korban yang harus dilarikan ke rumah sakit ... Seorang anak muda luka parah terkena sabetan golok dalam peristiwa berdarah itu.


Pak Feri mulai was-was... Inilah ujung dari pertikaian di dalam keluarga Hisbillah... Segala keserakahan anak-anak dari Ibu Nyai Dian Komariah yang menjalankan berbagai bisnis tanpa memperhitungkan untuk rencana jangka panjang. Mereka hanya membayangkan dapat meraup keuntungan sebanyak mungkin, Tanpa mempersiapkan segala hal dengan dampak dari wabah Virus Covid 19, yang melumpuhkan seluruh sektor ekonomi di masyarakat. Termasuk berbagai usaha kakak Farhan yang tutup dan bangkrut.

__ADS_1


" Jenna kamu mau dijaga Pak Sanad atau Fendi?" tanya Bang Tedi suatu hari.


" Ada apa sebenarnya, Bang?"


"Kelompok anak muda dari kubu Kakaknya Farhan ngamuk! Dia mulai memantau orang-orang yang berlawanan dengan mereka."


" Pak Sanad saja, biar dia juga bisa ikut menjaga keamanan di salon!"


Fendi sendiri kaget ketika mereka bertukaran tugas. Sebab Karolina harus menemui beberapa orang yang menawarkan iklan berkat konten - kontennya yang banyak menginspirasi kaum muda, terutama wanita.


" Non Karolina. Saya Fendi Sabaruddin! " ujar Pria itu santun.


" Iya, Maaf... Pak Sanad kemana, ya ?" ujar Karolina nervous, karena tidak menyangka dengan bahasa pria itu yang lemah lembut itu. Apalagi pria itu juga tampan dengan proporsi tubuh kokoh dan tinggi.


" Pak Sanad bertugas mengawal Mbak Jenna... Saya disuruh Bang Tedi yang mengawal Nona bila akan bepergian ke luar rumah?"


" Bisa bawa mobil saya?" tanya Karolina kurang yakin. Wanita itu menyerahkan kunci mobil Mercedez terbarunya yang berumur hampir seusia dengan anaknya, Efron.


"'Alhamdulilah, bisa ... Non!" ujarnya setelah menerima kunci mobil yang sangat elegan itu.


Karolina berjalan kembali masuk ke dalam rumah. Rupanya dia menyuruh Suster Fani menyiapkan keperluan Efron. Kali ini dia akan membawanya anak dan suster Fani untuk berpergian bersamanya. Tak mungkin juga pergi sendirian dan duduk di belakang, bisa mati kaku di sana. Walaupun dia tahu Jenna sangat menghormati kakak seperguruannya itu. Sudah lama Karolina memperhatikan sosok pria tampan dan sederhana ini secara diam-diam.


Bila Fendi ada di rumah ini, tak segan dia membantu Mak Isah mengangkat galon atau gas yang berisi 12 Kg. Atau juga dia mau membantu Pak Imam menyapu halaman depan yang dipenuhi daun - daun kering yang tertiup angin.


Suara gemuruh di dada Karolina semakin membahana. Setelah dia memberi tahu lokasi kantor yang perlu dia datangi siang ini.


Sesekali Fendi mengamati jalan raya yang semakin ramai di depannya. Kantor itu ada di daerah Salemba, Jakarta Pusat. Sampai mobil bagus buatan Jerman itu memasuki sebuah halaman ruko atau pertokoan. Fendi memberhentikan dan memarkir mobil itu tepat di sebuah ruko yang tertata paling nyentrik , dengan papan nama yang sesuai dengan alamat yang mereka cari.

__ADS_1


__ADS_2