
Jenna cukup tahu dan tak mau lagi dilibatkan lagi dengan urusan Ibu Angelina ataupun anaknya Pandu Samidi Junior. Bah!
Kata orang, mereka itu keluarga konglomerat super wahid di bidang hiburan tanah air. Bisnis Samidi Group, selalu berhubungan dengan kamera, layar kaca dan layar lebar, juga serentetan gosip yang berputar kehidupan anggota keluarga keluarga kaya raya itu.
Jenna dulu pernah bertemu dengan Ibu Ruth Samidi Ruslan. Saat dia mengantar Karolina sebagai bintang tamu dalam sebuah acara talk show di sebuah telivisi swasta.
Wanita cantik itulah yang menjabat sebagai produser dalam acara tersebut. Beliau adalah putri sulung dari Pak Samidi yang sudah lama bergelut di balik layar dan menghasilkan beberapa program acara tv yang cukup terkenal di masanya.
Tampaknya acara terbaru itu langsung disukai masyarakat penonton pada waktu itu. Sebab acara itu dikemas dengan memadukan hiburan, informasi sehari-hari yang sangat bermanfaat bagi kehidupan. Ditambah Berita terbaru dan beberapa games berhadiah yang seru. Sayang beberapa waktu kemudian acara- acara yang sejenis mulai bermunculan di beberapa layar TV swasta lainnya. Jadi acara itu sekarang sudah kurang greget lagi kehadirannya.
" Good morning!" Sapa sebuah suara berat.
" Good Morning!" Jawab Jenna spontan.
Sampai dia menengadah wajahnya, karena kaget dengan suara pria yang mulai terbiasanya di dengar telinganya itu. Hampir saja Jenna terlempar dari bangku beroda yang didudukinya. Sebab kehadiran pria itu sungguh tak disangka dan di luar perkiraannya.
Di hadapannya telah berdiri sosok Pandu Samidi. Dia berpakaian sangat perlente hari ini. Setelan pakaian kerja mahal yang dipakainya sangat harmonis dari ujung kaki sampai di atas kepala. Sudah mirip model pria pada sebuah majalah, dengan halaman iklan yang menampilkan pria tampan ala Mafioso yang berasal dari Amerika sana.
Rambut yang agak gondrong itu tersisir rapi menggunakan minyak rambut sejenis wax atau Pomade. Dia memakai celana pantalon berbahan wool premium abu-abu, yang serasi dengan kemeja lengan panjangnya berwarna biru muda. Cuma kurang jasnya saja yang yang dia tidak pakai hari ini! Biar mirip lelaki yang siap mau menghadap pak Penghulu!
Belum lagi jam tangan merek " R' yang melingkari pergelangan tangan kirinya. Semakin membuatnya macho. Sampai sepatu pantofel hitamnya itu disemir begitu mengkilat sehingga dapat digunakan untuk orang mengaca, mungkin!
" Maaf, Bapak, eh. Anda... Ada yang bisa saya bantu?" Tanya Jenna nervous.
Demi langit dan bumi! Sejak makan malam yang terjadi beberapa hari yang lalu. Jenna sudah membuang jauh- jauh semua pemikirannya tentang laki-laki ini. Kalau bisa dibuangnya ke tong sampah kali!
" Bunga yang cantik, untuk wanita muda yang cantik! " Ujar Pandu manis, sambil menyerahkan buket bunga mawar merah yang tadi disembunyikan di belakangan punggung lebarnya.
__ADS_1
" Untuk saya? " tanya Jenna ragu-ragu. Jarang dia diberi bunga oleh pria yang bukan dari kerabatnya. " Dalam rangka apa? Saya tidak berulang tahun hari ini!"
" Terimakasih kasih, karena telah menghadiri undangan makan malam di rumah kami. Mami saya sangat senang karena karena kehadiran kamu, Jenna..."
Mata Jenna mengerjab. " Sepertinya Anda salah alamat, deh! Dokter Arunika Jelita Fitri Darmawan yang diundang Ibu Angelina Samidi dalam makan malam itu. Saya hanyalah objek penyerta...."
Tak urung diterimanya juga buket mawar merah yang cantik itu. Di sana ada 5 buah bunga mawar merah yang mahkotanya sudah merekah , dan 4 kuntum mawar yang masih sedikit menguncup. Dibungkus kertas cellophane mewah warna coklat gelap dengan pinggiran emas.
" Terimakasih, nanti buket bunga ini akan saya sampaikan pada ibu Arunika. Sebenarnya yang paling praktis, Anda dapat mengirimnya melalui jasa kurir ke alamat rumah atau tempat beliau praktek hari ini..."
" Jenna , bunga itu buat, kamu!"
Akhirnya terdengar jawaban juga suara Pandu yang bernada jengkel. Mana suara dan sikap gentleman yang selama ini membungkus kepribadian lelaki ini dengan sempurna?
Ada senyum manis Jenna terukir di sana. " Musang telah menampakkan wujud aslinya!"ujarnya jelas.
" Lebay, ih! Yang lebih bagus lagi Tuan Pandu Samidi Yang Terhormat! Anda menyingkirkan jauh- jauh dari hadapan saya. Saya tidak tahu, apa yang telah direncanakan oleh Ibu- ibu kita yang tercinta itu."
" Maksudmu, mereka merekayasa sesuatu, begitu?"
" Bisa aja... Saya sudah merasakan hal itu sejak pertemuan beliau dengan Ibu saya pertama kali di Salon ini!"
" Apa mereka berencana untuk menjodohkan kita?"
" Mungkin! " Jawab Jenna dengan ketus karena tidak suka dengan siasat para wanita dewasa itu yang terlihat cukup rapi.
" Apa saya bukan calon suami potensial untukmu saat ini, Jenna ?"
__ADS_1
" Maaf, saya dan Anda tidak selevel!"
" Apa latar belakang keluarga saya dan kedudukan saya kurang sesuai dengan penilaianmu?"
" Maafkan saya! Usia Anda terlalu tua bagi saya. Masak saya harus berjodoh dengan Om- Om?"
Air Muka Pandu sudah semakin keruh untuk dilihat lagi. Mungkin ada kemarahan yang tersimpan di wajah tampan itu. Salah sendiri mengapa menilai diri sendiri terlalu tinggi. Perjodohan? Kata- kata itu. menjadi terlalu basi bagi Jenna.
Tidak semua wanita mencari pasangan hidup sesempurna sosok Pandu Samidi ini. Pria itu punya segalanya. Tetapi kepribadian dan pandangan hidupnya terangkai sangat rumit dalam sebuah labirin. Di tambah nama keluarganya dengan peraturan sulit dan ketat untuk dimasuki oleh orang lain yang tidak sesuai dengan kriteria mereka.
Jenna masih ingin mewujudkan impian- impiannya yang terus berputar di kepalanya sampai saat ini. . Tetapi untuk menikah, kata itu ada di catatan terakhir dalam tujuan hidupnya saat ini. Setidaknya sampai dia cukup siap mental untuk berumah tangga, minimal 3 tahun mendatang. Juga bukan Pandu calon suami yang dia dambakan! Kepribadian lelaki itu sudah membuat Jenna jengah!
" Hello, Jenna!" Panggilan Pandu itu telah mengembalikan Jenna ke alam nyata. Sebab pria itu melambaikan tangannya di depan wajahnya.
Jenna tak menyangka kalau pria itu masih duduk di hadapannya. Dia tampak sebagaimana adanya. Gempuran kata- kata penolakan Jenna dan cara wanita muda ini mengkritik dirinya hanyalah menjadi hambatan biasa bagi hidupnya.
" Apa Anda tidak berangkat bekerja? Takutnya nanti perekonomiannya Indonesia menurun karena kehadiran Anda terlalu lama di tempat ini. Biarkan saya di sini bekerja dengan tenang. Yah... walaupun hanya mendapat mengais sekedar uang recehan. Tetapi lumayanlah untuk sekedar membeli bensin dan makan bakso di warung Bang Kumis di depan!"
Tampaknya Jenna sudah tidak mau lagi berhadapan dengan pria itu. Sebab di layar laptopnya Jenna sudah dipenuhi daftar tamu di salon hari ini. Dia terus membantu Mbak Arini untuk mengatur waktu untuk kedatangan tiap tamu... Agar setiap sesinya hanya ada 4 atau 5 pelanggan saja . Untuk mematuhi dan menjaga protokol kesehatan yang berlaku.
Suara ketuk sepatu mahal lelaki itu terdengar menapaki tangga menuju lantai bawah. Entah dia mau pergi atau meninggalkan tempat ini. Jenna tidak peduli. Toh, dia tidak mengundang pria itu untuk datang kemari...Lebih bagus lagi, kalau Pandu tidak terlalu menuruti semua permintaan ibunya. Termasuk ikut dalam rencana perjodohan yang sangat konyol ini.
Buket bunga mahal itu tergolek tak berdaya di meja kerja Jenna.. Sementara si pemilik meja menatap mahkota bunga itu yang merah membara. Simbol cinta pada warna bunga cantik itu justru menimbulkan rasa amarah.
Apakah Dokter Arunika akan terus kekeh dengan rencana itu ? Bagaimana kalau Jenna berhasil mengumpulkan berbagai artikel tentang sepak terjang Pandu dalam petualangannya dengan beberapa gadis cantik. Tentu sebelum dia bertunangan dengan Felicia, dan dihancurkan oleh fakta yang mengejutkan dari gadis cantik itu!
Mungkin itulah karma yang harus diterima Pandu, setelah mematahkan hati para mantan pacarnya yang tulus mencintai dia. Sebab Felicia membuat pria itu terpuruk cukup lama. Felicia dengan sejuta ambisinya untuk meraih kepopulerannya di dunia hiburan sebagai pencapaian tertinggi dalam hidupnya. Setelah namanya kurang bersinar terang di sisi Karolina, di dunia model.
__ADS_1