
Jenna punya kesibukan tersendiri di Salon Ismaya. Juga dengan beraneka cerita yang disampaikan ole para pekerja salon di sana. Biasanya cerita itu berasal dari pelanggan yang sedang menjalani perawatan tubuh dan kecantikan.
Di sana, di ruang makan di lantai satu itulah mereka ngumpul bersama pada jam makan siang atau istirahat. Mengalir cerita- cerita konyol itu sebagai bahan hiburan di kala lelah bekerja.
Jenna yang sering tertawa geli mendengar ocehan para pekerja itu... Yah, maklum para sosialita, pelanggan salon mereka itu biasa melalang buana dengan uang suaminya yang tidak berseri itu. Mereka biasa bepergian ke belahan negara lain untuk berlibur atau istilah pada zaman Kuda gigit besi itu adalah pakansi . Kalau telinga anak muda sekarang lebih familiar dengan kata healing.
Bagi Jenna yang sudah hapal gaya hidup para kalangan Borjuis itu, menganggapnya hal biasa. Lain halnya, para pekerja salon itu yang merupakan masyarakat kelas menengah, sampai bawah. Mereka harus membanting tulang agar dapat bertahan hidup di kota Jakarta yang sangat keras ini.
Sebelum acara makan siang barengan itu, para pekerja itu sudah titip ke Pak Ujang untuk membelikan mereka makan siang dengan berbagai menu pilihan. Pada umumnya mereka makan siang dari Warteg atau nasi Padang yang warungnya ada dekat sebuah lapangan. Sampai mereka minta dibelikan beraneka macam jajanan yang dijual para pedagang di sana.
Biasanya di sana ada tukang somay, batagor, cilok, es Doger, atau bakso yang cukup murah meriah dan lumayan di lidah. Si Mas itu membawa dagangannya baksonya itu dengan menggunakan motor.
Jenna mau saja makan- makanan kaki lima seperti itu asal para penjualnya dapat menjaga kebersihan dari tampilan barang dagangan dan tempat berjualan.
Jenna sejak kecil punya perut yang sensitif, kurang bisa menerima makanan yang tidak higienis. Dia akan mengalami diare hebat dan muntah-muntah kalau habis jajan sembarangan. Karena di keluarganya, hanya Jenna yang bersekolah di sekolah umum alias sekolah Negeri. Jadi dia terbiasa dibawakan bekal makan siang dan kue-kue di tasnya.
Baik ibunya ataupun si Oma kurang yakin dengan berbagai jajanan di depan gedung sekolah SDN di dekat rumahnya itu. Sebab digelar terbuka pada meja di depan gedung sekolahnya dengan jalan yang ramai oleh kendaraan, penuh asap knalpot dan debu.
Lain halnya sejak Jenna SMP, dia mulai ikut jajan saat ada kegiatan ekskul di luar sekolah... Misalnya di lapangan sepak bola. Jenna pernah membeli minuman rasa lemon dengan warna oranye yang memikat. Besoknya Jenna terserang demam dan sakit Kepala. Tentu si ibu memarahinya, setelah tahu anaknya jajan minuman yang banyak mengandung gula buatan dan pewarna makanan yang justru dipakai untuk mewarnai tekstil.
Dulu Opa menyekolahkan Jenna di SD negeri yang paling dekat dengan rumahnya, waktu Jenna tinggal di Sentul. Sewaktu di SMP dan SMA pun Jenna berjuang dengan belajar lebih rajin agar diterima di sekolah unggulan di wilayah Pasar Minggu.
Lain halnya dengan kedua kakak dan para sepupunya yang bersekolah di sekolah swasta terbaik. Mereka mengejar fasilitas juga ekskul pilihan yang lebih beragam. Maklum uang bulanan dan yang kegiatan tahunan di sekolah itu berkali- kali lipat banyaknya dari uang sekolah Jenna yang pada waktu itu tak sampai dua ratus ribu rupiah untuk membayar kegiatan ekskul.
" Mbak Jenna, ini Mbak Karolina, ya? " tanya Meta tiba-tiba sambil menyodorkan hapenya yang menampilkan suatu aplikasi di tok-tok .
Itu video kedua Karolina. Tampaknya video itu cukup bagus. Karena di sana Karolina sedang menerapkan langkah awal seorang pemula untuk menjadi model.
" Iya , ini Karolina !"
__ADS_1
" Bagus banget videonya. Ini kiriman dari keponakanku ... Dia juga tertarik menjadi model. Penjelasan Di video itu sangat membantunya!"
Jenna tersenyum. " Belum tahu aja, Mbak... Semua yang terlihat bagus dan mentereng itu sebenarnya harus diawali dengan perjuangan yang sulit dan cukup berat!"
Ucapan Jenna juga diakui kebenaran nya oleh para pekerja salon itu. Berbagai pekerjaan yang terlihat berkilau seperti artis, itu memerlukan syarat dan bakat selain faktor keberuntungan.
Situasi sekarang sudah mulai kondusif. Satu dua orang pelanggan masih memanggil jasa mereka untuk melakukan perawatan di rumah dari facial sampai pewarnaan rambut.
" Mbak Jenna, sepertinya waktu itu ada barang milik Ibu Angel yang tertinggal di ruang lulur di lantai tiga... " Lapor Mbak Tika.
" Apaan, Tik? Duit atau hape? " tanya para pekerja itu mulai kepo.
" Dompet make up, sepertinya. Sebab dompet itu dia masukan ke dalam lemari untuk peralatan salon..."
Mbak Tika menyerahkan sebuah pouch warna merah magenta di tangan Jenna. Gadis itu nanti akan menelpon ibunya Pandu itu , dan akan mengirimkan barang ini lewat jasa kurir.
Elusan tangan Mbak Meta segera ditepis oleh Mbak Arini." Jangan Meta, ntar lecet. Barang import itu! Lu nggak jajan setahun barulah bisa kebeli dompet lucu itu... " Ledek Mbak Arini.
" Nggak percaya! Lo kebanyakan hoaks, ah ... Paling berapa? Nggak sampai satu jutaan! "
Ucapan Meta mulai meremehkan.. Mas Jos telah menyelesaikan suapan terakhir dari nasi Padang yang dipesannya. Tetapi dia hanya memilih lauk telur Dadar Padang. Yang harganya agak lebih murah daripada memakai ayam atau ikan bakar.
" Meta, itu ELo. yang biasa belanja dompet di Asemka, sih! Sejuta dapat sejibun... Sepertinya ini barang merk luar, deh!" Harganya paling murah bisa lima jetong, Bu!"
Ha, ha, ha! Jena mulai tertawa ngakak, kalau Mas Jos sudah mengeluarkan jurus andalannya. Seperti para pengamen pria yang lebih suka berdandan dan berpakaian seperti wanita.Katanya lebih banyak mendapat simpati jadi lebih banyak dapat duit.
" Sudahlah, Mas Jos. Jijay aku melihatmu melambai... " Teriak Tika. " Melambai bukan pohon nyiur, tetapi lelaki berbelalai yang menyerupai Mbak Kunti. Hih!"
Segera Jenna keluar dari ruang makan yang cukup luas itu. Selain berusaha menahan tawa gelinya. Dia tidak mau mendengar perang kata-kata dari para pekerja salon itu untuk sekedar hiburan di siang ini.
__ADS_1
Dulu-dulu Jenna sering memperingatkan agar jangan keterlaluan kalau menggoda teman mereka dengan perkataan yang menyakitkan. Tetapi Apa komentar mereka?
" Di sini nggak boleh baper, Mbak!
" Kalau tersinggung jangan ngumpul sama banyak orang, ke laut aja!"
" Kita teman, Mbak. Sebagian dari ucapan kita adalah kritik yang membangun!"
Jenna terbengong saking kagetnya. " Terserah kalian. Tetapi tolong kalau mau memberi nasehat, usahakan secara baik-baik. Kalau bisa bicara saja berdua!"
Tante Ismaya kembali datang ke salon. Selain melakukan pengawasan ke salon cabang miliknya ini, dia juga sudah kangen dengan keponakan yang dia sayangi. Mereka asyik ngobrol di ruang kerja Jenna yang bersih dan terang. Karena tirai- tirai sudah dicopot, karena tidak sesuai dengan gaya ruangan ini yang bernuansa modern.
" Tante sudah dengar soal Karolina?"
" Sedikit... Tetapi Tante nggak menyangka Farhan yang alim dan pendiam itu menduakan istrinya dengan menikah lagi..."
" Sekarang Karolina, buat konten , Tante! Kasih endorse dong. Karena makeup yang dipakai dari produk yang Ismaya keluarkan awal tahun ini!"
" Serius? Makeup itu punya kamu?"
Tante Ismaya pun segera mengeluarkan kata untuk menyeletuk, " Salahnya.. Dikasih contoh produk baru nggak dipake! Dipake orang lain nggak mau rugi, minta diganti, huh!"
" Ya, sudah... Jangan menyesal lho, Tante. Kalau Karolina mendapat endorse dari produk kosmetik yang lain. Sebab banyak orang yang suka dengan tayangan Karolina itu. Ntar Tante yang rugi, Babe!'
Tante Ismaya tersenyum. " Orang pikir, Jenna itu cupu, ya? Ternyata suhu... Otak bisnis, encer banget ...."
" Ah, Si Tante... Bisa aja bercandanya!" Balas Jenna lagi.
Sampai wanita itu keluar dari ruang kerja Jenna dengan catatan yang lengkap... Dia tersenyum cukup puas dengan keberhasilan salon kecantikan miliknya ini.
__ADS_1