Jodoh Untuk Jenna

Jodoh Untuk Jenna
Bab 99. Farhan Terdesak


__ADS_3

Mobil Fortuner itu sudah berjalan lebih dahulu meninggalkan mereka. Di samping Bang Gunawan, Jenna sempat melihat mobil Avanza yang ada di depan cafe, terparkir di antara para pengunjung tempat nongkrong itu yang sebagian besar membawa motor untuk. Diperkirakan umur mobil sudah lebih dari lima tahun. Mobil itulah tadi yang digunakan oleh Kak Farhan menuju ke tempat ini.


Cekatan sekali, Bang Guna mengejar ketinggalannya... Sebab ajudan Om Bramantyo tidak membawa mobil itu menuju ke polsek terdekat... Justru mobil itu bergerak lebih ke selatan lagi .


Sampai mobil itu memasuki sebuah wilayah yang masih banyak terdapat lahan kosong. Lahan itu berupa lapangan atau kebun-kebun yang terdapat di sisi kanan kiri jalan itu. Lahan itu ada yang diberi pagar pembatas seadanya. Ada juga yang diberi pagar seng sekelilingnya. Mungkin lahan seperti ini telah menjadi milik orang lain... Yang pasti bukan milik penduduk di daerah ini. Karena kalau milik penduduk di sini tidak akan dibiarkan terbengkalai seperti itu.


Malah ada beberapa lahan di sana diberi plang dengan berbagai tulisan. Ada yang dimiliki oleh sebuah perusahaan atau lembaga tertentu . Yang lainnya merupakan milik pribadi.


Akhir tahun lalu banyak pemberitaan tentang penutupan berbagai tempat usaha seperti, pabrik, mall, toko juga kantor swasta yang ada di sekitaran wilayah Jabodetabek ini.


Tentu agak riskan membuka usaha baru di masa sulit seperti ini. Harus menunggu sampai perekonomian di tanah air pulih kembali, seperti sedia kala. Mungkin diperkirakan situasi seperti ini berlangsung sampai dua atau tiga tahun tahun mendatang...


Penduduk asli di daerah itu lebih sering menyebutnya, kalau tanah dan lahan yang banyak kosong itu adalah punya orang 'Jakarta'.


Pada sebuah gapura besar berwarna putih dari beton itulah mobil Fortuner itu berbelok dan masuk . Separuh jalan itu belum di aspal tetapi sudah dikeraskan dengan bebatuan dan pasir halus. Hampir tiga km dari jalan besar tadi, mobil berhenti di sebuah halaman depan bangunan besar seperti gudang atau tempat sebuah produk kerajinan tangan. Namun pagar di sekelilingnya sudah terbuat dari tembok tinggi dengan pintu depan dari besi tempa yang kokoh.


Mobil berhenti di sebelah bangunan itu, dengan halaman yang sudah diberi paving blok. Seorang ajudan sudah menggiring Farhan memasuki bangunan besar itu yang agak kosong... Di sana hanya ada beberapa meja, kursi dengan tumpukan kardus bekas.


" Duduk di sini Farhan!" perintah Om Bramantyo.


Jenna dan Gunawan yang tadi menyusulnya, ikut mencari bangku yang plastik yang bertumpuk di belakang mereka.


"'Sudah dapat kabar dari Pak Sanad?" tanya pria itu lembut kepada Jenna.


" Marvin baru siuman, Om .Bang Tedi akan merujuknya di sebuah rumah sakit lain di Jakarta... Tampaknya harus disiapkan tindakan operasi!"


Farhan tertunduk. Tetapi di wajahnya itu tidak ada rasa penyesalan sama sekali. Itulah yang membuat Jenna geram... Hanya dalam hitungan waktu tak sampai 3 tahun saja, penilaian tinggi Jenna terhadap lelaki itu, langsung berubah seratus delapan derajat.

__ADS_1


Inilah sesungguhnya, sosok Farhan Maulana Hisbillah. Pria idaman yang dulu akan dijadikan contoh bagi Jenna untuk mencari calon suami di masa depan... Sekarang berubah menjadi lelaki paling brengsek sedunia! Demi memenuhi permintaan ibunya, yang katanya di telapak kakinya adalah surga... Lelaki itu rela menyisihkan Karolina dan Efron demi perempuan muda yang disodorkan ibunya sebagai istrinya kedua.


Konyolnya, Farhan juga menikahi perempuan lugu saat dia masih berstatus sebagai suami Karolina. Bahkan pria itu seakan tutup mata atas tindakan Ibu dan para kakak ipar perempuannya yang selalu mengintimidasi istrinya itu. Sebab dalam berbagai kriteria, Karolina bukanlah menantu ideal di dalam keluarga Hisbillah.


" Jangan berkelit lagi, Farhan! Kamu punya rencana yang kurang rapi untuk menciptakan huru- hara lagi di daerah ini... Belum cukup yang di Parung?" tanya pria itu dengan volume suara yang lebih tinggi karena mulai emosi.


Jenna sudah bisa meraba arah omongan Om Bramantyo itu. Mereka semua terdiam.


" Oke, silakan kamu mengunci mulutmu itu. Tetapi semua alibi dan bukti mengarah padamu. Tolong Jenna nanti bukti itu viral kan saja oleh teamnya kerjanya Tedi! Lelaki konyol ini mungkin tidak bisa lagi bersembunyi di ketiak ibunya!"


" Sip, Om!" ujar Jenna cepat.


Secara tidak sengaja, Jenna memperdengarkan rekaman pembicaraan Farhan itu dengan beberapa pegawai cafe setelah peristiwa itu terjadi. Terutama pada seorang manajernya. Farhan malah dengan santainya duduk menunggu di sana, untuk mendapatkan kabar dari seseorang , tentang keadaan Marvin yang terluka dan dibawa ke klinik untuk mendapatkan pertolongan.


Wajah Farhan menjadi pias ... Jenna tersenyum masam. Nilai penampilan mantan suami Karolina itu masih di atas 60 karena kesantunan dan wajah tampan itu... Tetapi segala kelakuannya dan tindakan yang bisa Kak Farhan sangat keterlaluan itu nilainya minus 40!


" Jangan lakukan itu Om!" Cegah Farhan bersuara... Dia menatap wajah pria Om Bramantyo Sanusi penuh permohonan.


" Lalu Om harus apa? Diam begitu dengan aksi anarkis kalian...Pikir Farhan! Mau pakai seribu orang pun untuk menyerbu lokasi kavling di Parung... Kalian hanyalah cucu, bagi Hisbillah! Sertifikat itu masih atas nama almarhum kakek kalian, Ahmad Rashidi Hisbillah dan nama Nenek mu... Walaupun sudah diucapkan ada bagian yang akan diberikan tetapi tidak ada surat kuasanya! Jadi masih menjadi hak ahli warisnya yaitu nenekmu dan anak-anaknya !"


" Sudahlah, Om... Sepertinya lelaki ini mau merasakan dinginnya lantai hotel prodeo... Kemarin saja, kalau tidak ditekan oleh pengacara dari kami, dia tidak mau menyelesaikan tuntutan Karolina tentang uang nafkah dan pembagian harta gono-gini yang tertunda lebih dari empat bulan ..."


" Jenna! Nggak ada hubungannya soal perceraian kami dengan persoalan ini! " Teriak Farhan marah karena merasa disudutkan dan terdesak.


" Ada! Pelakunya memang kamu Kak Farhan! Kamu memang lelaki pecundang...Biar dia dibawa ke polsek saja, Om! Saya sudah menyelesaikan soal Cafe. ... Keluarga Damash dan Darmawan masih sanggup membiayai operasi dan perawatan Bang Marvin sampai sembuh !" Ujar Jenna malas.


Gadis itu bangun dari duduknya. Segera diikuti oleh Gunawan. Lelaki itu lebih dulu berjalan menuju mobil Honda Jazz merah, yang di parkir di belakang Fortuner hitam di sana.

__ADS_1


" Apa ini yang direncanakan Tedi?" tanya Om Bram .


" Iya, Om... Mungkin nanti akan dipanggil beberapa wartawan untuk meliput... Apa dia masih bangga menyandang nama Farhan Hisbillah... Sebab masih ada proyek pembangunan perumahan di Banten dan penyelesaian pembangunan Boarding school di Bogor itu yang masih mencantumkan nama dirinya!"


" Kalian memang keturunan Damash yang kejam!" ucap Farhan kesal. Karena tahu, keuangan keluarganya sudah terseok-seok membayar berbagai tagihan bank atas dua proyek besar Hisbillah. Sedangkan berbagai usaha lain sudah kolaps. Antara hidup segan tetapi mati tak mau!


" Siapa yang menabuh genderang perang lebih dulu? Keluarga Hisbillah bukan? Marvin berusaha menjadi penengah . .. Coba kalau Papa saya bertindak lebih tegas lagi kepada dua tikus yang menggerogoti pabriknya, seperti kedua kakakmu! Nama Hisbillah sudah hancur dari tahun lalu! Eh , ini adiknya malah bertindak lebih tidak masuk akal... Mainnya kurang jauh Pak! Untuk melibatkan nama kami pada secuil tanah di Parung! Apa Darmawan tertarik? Oh, Tidak!" Umpat Jenna kesal.


Segera Jenna mencium tangan Om Bramantyo pamit. Biar lelaki itu terus menggertak Farhan! Saat ini urusan Marvin yang harus didahulukan! Karena masalah nyawa!


" Kita Ke Fatmawati, Bang ! Pak Sanad dan Bang Tedi sudah membawa Bang Marvin ke sana!"


Gunawan mengangguk, dia mulai berkosentrasi membawa mobil Citi car itu melalui jalan yang sempit untuk dua lajur jalan yang berbeda... Ada puluhan angkot dan mobil pribadi lainnya. Sesekali ada mobil boks berukuran lebih besar lewat. Mungkin lebih leluasa ke daerah Depok dan sekitarnya melalui jalan Lenteng Agung atau Jalan Jakarta Bogor, tetapi kedua jalan itu pun selalu dihadapkan pada kemacetan yang cukup parah di beberapa titiknya .


Di bagian UGD Marvin masih ditangani... Setelah para dokter mempersiapkan operasi untuknya pada pukul 20.00 nanti. Sampai menunggu kesadaran asisten kakaknya itu pulih kembali.


" Bagaimana?" Tanya Si Abang itu ketika melihat kedatangan adiknya... Jenna menyerahkan sebuah flashdisk berisi rekaman kejadian pengeroyokan yang dapat direkam CCTV kafe dan suara percakapan antara Farhan dan manajer Kafe.


" Tunggu Om Bram menangani si konyol itu. Tetap nggak mau ngaku, dia! "


" Ya, sudah! Kalau kamu mau pulang! Pak Sanad biar di sini... Tadi Fendi dan Pak Catur sudah menjemput Ibunya Marvin yang tinggal di Cengkareng."


Jenna meminta kunci dari tangan Bang Guna. Lelaki itu sudah separuh hormat dan kagum kepada gadis muda itu. Tindakan sungguh di luar dugaan...Sangat jauh berbeda dengan saudara sepupunya yang satu itu. Karolina! Wanita cantik yang dinikahi Farhan hampir dua tahun itu malah dibuang! Padahal sudah memberinya satu anak yang sudah berusia 14 bulan. Dia anak laki-laki yang tampan dan pintar.


Marvin memang sudah menjelaskan latar belakang Farhan Hisbillah dan dua keluarga lainnya, Damash dan Darmawan. Tetapi sejak dilibatkan dalam urusan ini, Gunawan memahami. Banyak kepentingan Hisbillah yang melanggar semua aturan yang berlaku dalam dunia bisnis dan tatanan hidup di masyarakat.


Dia sendiri cemas, ketika Marvin memenuhi permintaan Farhan Hisbillah untuk bertemu dengannya... Nyatanya Marvin mendapatkan musibah di sana. Dikeroyok oleh kelompok orang yang tak dikenal. Sampai Marvin tergolek tidak berdaya di sebuah meja di bagian samping cafe. Tetapi Farhan malah bersembunyi di dapur kafe...Tak ada inisiatif untuk mencari pertolongan! Padahal Marvin yang selalu menjaga dan melindungi Farhan melebihi menjaga seorang majikan.

__ADS_1


__ADS_2