
Sore harinya, Jenna baru sampai rumah. Di sana sudah ada kakaknya dan Marvin yang terlihat sehat seperti sediakala.
Jenna hanya memberi salam dan langsung masuk ke bagian ruang keluarga. Di sana juga ada Karolina yang sedang ngobrol dengan sang Mama.
" Baru pulang, Jenna? " tanya Karolina. " Sore banget!"
" Macet, Cing ..." Ledek Jenna. Ini ibunya sendiri saja tidak protes, ketika pulang kerja agak malam. Kalau jalan-jalan di Jakarta tidak macet, sih! Dia bisa pulang tepat waktu ! Nah, ini yang seharusnya menjadi berita. Walaupun jalan - jalan utama di sekitaran wilayah sekitaran Jakarta Selatan lebih sedikit volumenya dibandingkan sebelum pandemi, tetap saja ada kemacetan panjang di perempatan lampu merah dan berbagai kendala lainnya.
" Kamu mandi dulu, Jenna! Kita segera makan malam!" Perintah Dokter Arunika tegas.
Jenna bergegas ke kamarnya di lantai atas. Hampir dua puluh menit Dia menyelesaikan aktivitasnya itu. Sekarang dia turun menuju ruang makan dengan t-shirt gombrong dan celana training kesukaannya.
Mata kakaknya menatapnya agak lama. Tanda dia mau berbicara yang lebih serius nantinya. Mereka makan dengan cepat. Sebab Karolina juga mau segera masuk kamarnya. Dia sudah membuat beberapa video konten baru di rumah orangtuanya selama seminggu ini. Jadi membuatnya ingin istirahat karena benar- benar sangat kelelahan.
" Efron, mana Karo?"
" Ya, sudah tidur ...Tadi siang dia terus bermain di rumah Opa Damash. Saat perjalanan ke sini sudah tepar di dalam mobil."
" Jenna!" panggil Bang Tedi dengan suara baritonnya itu. Selalu tidak ada manis-manisnya! Kalau pria itu memanggilnya. Padahal dia adalah adik perempuan satu - satunya, yang tercinta bagi pria itu.
" Sini, duduk di situ!" perintah si Abang!"
Wajah Jenna cemberut sebab diperlakukan seperti seorang tertuduh. Padahal dia belum tahu permasalahan apa yang membuat kakaknya itu sedikit kesal. Di sebelahnya juga duduk Bang Fendi, pemuda yang mulai dipercayai karena selalu berpikir logis, tenang dan akurat.
" Apa yang kamu sarankan pada Miko dan Arkan?" Tuduhnya
" Ye, si Abang! Siapa dulu yang memberi tahu mereka kalau saya ada di salon Kebayoran Baru!"
__ADS_1
" Yang pasti, bukan saya yang memberi tahu!"
" Bang Fendi, apa bisa menolong ketika salah satu anak buah Bang Tedi ada yang mau bermain - main dengan penghuni vila itu. Agar bisa viral saat terekam video mereka?"
Fendi menghela nafas siang panjang. "' Nggak bisa, Mbak Jenna! Akan sangat riskan dan terlalu beresiko. Sebab beberapa video tentang penampakan yang selama ini beredar di beberapa media sosial itu kebanyakan itu semuanya sudah direkayasa...."
" Terus, bagaimana cara menolong Arkan ? Dia bertanggung jawab dalam editing dalam penyelesaian iklan itu!" tanya Bang Tedi mulai bingung.
" Bilang sama dia, Bang! Yang keluar dari vila Bunga itu setannya dari segala setan!" jawab Jenna kesal.
Wajah Tedi memucat. Jenna kalau sudah ngomong ketus seperti itu, berarti dia serius... Tidak terbayang kerugiannya, kalau proses editing itu mengalami hambatan. Sedangkan mereka punya proyek baru dalam pembuatan proyek iklan berikutnya.
Bang Fendi merasakan kerisauan cucu dari Pak Damash, lelaki yang sangat dia hormati setelah kakek gurunya. Para Lelaki bijak yang mempunyai pandangan hidup yang sangat luas tentang segala hal.
" Pak Tedi, Jenna sudah benar. Tinggal kita lihat saja usaha Arkan itu untuk mencari pertolongan, buat dirinya. Kalau nggak, dia akan menghancurkan dirinya sendiri!"
" Tolong beri penjelasan apa yang terjadi di villa itu, karena ini sangat tidak masuk di akal." Tuntut Tedi lemah.
Mereka semua terdiam. Dulu vila itu awalnya hanyalah bangunan sederhana, layaknya tempat menginap sebuah keluarga. Berapa tahun kemudian, lahan di sekitar vila bunga juga dibeli oleh pemiliknya yang namanya mirip Om Sidharta. Kalau nggak Salah Pak Raymond Armin.
" Mungkin kalau Pak Damash sehat, dan usianya lebih muda beberapa tahun, akan banyak membantu Sebab beliau pernah menolak, saat Kakek Guru meminta izin untuk membuka mata batinnya, Mbak Jenna. Sewaktu jadi muridnya. Sebab ilmu yang sedang dipelajari Mbak Jenna itu memerlukan ketetapan yang tinggi dan feeling yang kuat, untuk menggunakan pisau sebagai senjata andalan yang dipilih Mbak Jenna."
" Jadi adik saya, bertahun -tahun berguru di pedalaman Sumatera itu percuma , dong!"
" Nggak percuma juga, Pak Tedi! Dalam kemampuan ilmu itu, Mbak Jenna sudah di level empat... Padahal saya saja yang laki-laki saja , dan tinggal di sana hampir sepuluh tahun saja baru mencapai di level lima."
" Maksudnya apa, nih?"
__ADS_1
" Hanya keturunan Kakek Guru Amir yang mempunyai wewenang yang untuk mengembangkan ilmu silat khusus dari padepokan itu. Terutama mereka yang mendapat warisan ilmu kekuatan batin. Pak Damash setara dengan kemampuan kakek Guru. Jadi untuk memperkuat daya tahan fisik dan mentalnya Mbak Jenna, malah disuruh kakek guru mempelajari ilmu bela diri yang lain , untuk menambah wawasan.
" Oke..Apa bisa bantu Abang bantu saya menolong Arkan, kan? Lain kali kalau dia masih bermain-main seperti ini, saya tidak peduli! Walaupun sampai dia dikunyah - kunyah oleh makhluk astral seperti itu... Sekarang ini, ada ratusan juta yang akan terbuang percuma kalau iklan itu tidak segera ditayangkan!"
" Siapa suruh, pegang bermacam-macam job! Fokus Bang bantu di perusahaan Papa!"
" Huh, daripada dikerjakan oleh dari pH Pandu Samidi? Mending aku yang ambil dong, penawaran dari Tante Ismaya itu !"
" Terserah, deh!" Ucap Jenna malas. Terus dia pamit undur diri. Tubuhnya sudah lelah, karena sudah seharian tadi digunakan untuk bekerja, dan mengendarai mobilnya sendiri pulang - pergi. Tetapi pikirannya semakin bercabang - cabang. Terutama tentang cara Opa menolak niat Kakek Guru Amir untuk membuka mata batinnya dalam menggunakan senjata anda dalam penguasaan ilmu silat tingkat mahir.
Jenna teringat mata sayu Arkan yang seakan - akan meminta pertolongannya. Bagi Jenna, para pemuda yang tergabung dalam team produksi itu sebenarnya sudah cukup dewasa dalam bersikap dan bertindak. Tentu mereka tahu konsekuensinya kalau melakukan suatu yang konyol dan tak bertanggung jawab seperti ini!
Untungnya Bang Fendi mau membantu Tedi mengatasi permasalahan itu. Mereka akan kembali ke vila Bunga besok sore. Kepergian mereka pun agak dirahasiakan... Sebab yang Jenna melihat di dalam mobil itu tidak hanya ada kakaknya dan Bang Fendi. Di sana ada juga Bang Miko, Mas Saidi, dan Arkan.
Sejak itulah, Jenna tak mendengar kelanjutan cerita tentang anak-anak buah Bang Miko tersebut. Dia hanya kasihan kepada kakaknya itu, karena proyek iklan pertamanya itu mendapat hambatan yang cukup berat dan menguras seluruh pikirannya Jadi dia hanya mendoakan dari jauh agar upaya itu segera berhasil.
***
Karolina sudah kembali ke rumah Pak Feri Darmawan di Pasar Minggu. Dia sengaja mau meminta pendapat Jenna, tentang tawaran iklan yang di berikan dari Keanu Danuri Hardi.
" Jenna, bagaimana ini?"
" Terserah, ambil saja! Kesempatan itu tidak datang dua kali!" kata Jenna memberi pendapat.
Mau bagaimana lagi? Karolina harus memulai kariernya itu kembali dari nol lagi saat dia ditawari sebuah iklan... Mungkin, tidak secemerlang iklan yang didapatkan oleh Rara. Sebab saat ini gadis belia itu mulai menanjak kariernya. Setelah setahun ini dia harus pandai - pandai membagi waktu antara jam belajar sekolah WFH dan pemotretan atau ada job lain.
" Nanti aku tungguin, deh. Kalau kamu mendapatkan tawaran itu! Tetapi nggak seterusnya, ya! Aku masih harus bekerja Karolina. Bosku galak!"
__ADS_1
Ucapan serius Jenna hanya dijawab dengan tawa geli Karolina. Sebab Bos Jenna adalah Tante Ismaya. Mana ada galak-galaknya wanita yang cantik dan tampil stylish juga awet muda itu. Kalau sedikit cerewet, mungkin iya kali!
Akhirnya Karolina menelpon Keanu. Pembicaraan mereka cukup memakan waktu agak lama juga. Jenna hanya mendengar kalau Karolina harus mengikuti casting juga, dalam iklan produk rumah tangga itu. Semuanya memang perlu perjuangan... Apalagi bagi Karolina yang hampir tiga tahun ini secara perlahan meninggalkan dunia model dan iklan setelah bertunangan dengan Kak Farhan Hisbillah.