
Jenna sudah sampai di pintu gerbang kompleks kediaman Keluarga Damas di daerah Sentul. Pintu gerbang dengan dua sisi pintu itu terbuat dari besi tempa dengan simbol huruf D. Pintu itu terbuka dengan sendirinya ketika Jenna membawa mobilnya di jalan beraspal mulus itu.
Dulu si Opa sewaktu mulai pensiun dari dinas ketentaraan, ikut tender sebuah proyek pada perusahaan milik anak sambungnya, Feri Darmawan. Tender proyek besar itu berhasil dimenangkan oleh beliau. Sehingga Opa mulai sibuk berbisnis demi mewujudkan keinginannya untuk membangun satu kompleks hunian khusus untuk anggota keluarga Damash ini. Kecuali Feri Darmawan, yang menolaknya.
Di rumah peninggalan orang tua dari Oma Farida itulah rumah itu kini ditempati keluarga Pak Feri Darmawan, Papanya Jenna. Setelah rumah lama direnovasi. Beliau juga membeli beberapa lahan kosong , di samping dan belakang di rumah warisan neneknya itu.
Rumah itu di berada di kawasan Pasar Minggu. Sebuah daerah di Jakarta Selatan yang masih mempunyai banyak lahan hijau terbuka. Sehingga di sana masih dapat merasakan udara yang segar di pagi hari.
Jenna terharu, ketika melihat sosok sang nenek sudah menyambutnya di depan pintu teras. Penuh rasa sayang dipeluknya wanita tua itu. Wajahnya cantiknya sudah terlihat
lebih cerah dari beberapa bulan yang lalu...Tentu dengan sakitnya sang suami, membuat wanita itu tetap bertahan di Sentul dan jarang menemui keluarga Jenna lagi.
" Oma, Oma sehat?" bisik Jenna saat berada di pelukan sang nenek tercinta.
" Oma sehat. Aduh, Oma kangen banget dengan cucuku yang cantik ini!"
Ternyata si Opa juga sudah keluar dari kamarnya. Beliau menggunakan tongkat kayu yang dipesan Pak Feri secara khusus dari seorang pengrajin di daerah Bandung.
"'Opa?" seru Jenna riang.
Tubuh si Opa tampak lebih kurus dari berat idealnya. Sehingga beliau lebih tinggi lagi di hadapan Jenna. Sakitnya yang cukup berat, membuat pria itu kehilangan separuh dari berat tubuh yang semula. Tampaknya rasa sayang sang kakek pada Karolina, tetap membuatnya harus ikut campur dalam kisruh rumah tangga Karolina dan Farhan.
Karolina berlari - lari kecil dari depan rumah orangtuanya yang ada di sebelah kolam renang. Jenna terharu, melihat Karolina tampak lebih sehat dan segar. Dia diet ketat untuk menurunkan bobot tubuhnya yang bertambah 20 Kg sejak hamil dan melahirkan.
" Kok, nangis? Jangan Karo! Berbahagialah!" Bisik Jenna sambil menepuk-nepuk bahu sang sepupu.
" Aku kangen banget, Jenna! Bersama kamu dan keluarga ini. Sampai Opa harus bersitegang dengan Ibu Mertua karena masalah pengasuhan Baby Efron."
Ternyata mereka membiarkan Jenna dan Karolina ngobrol di ruang keluarga rumah utama. Sementara kedua suami istri itu duduk agak menjauh. Mereka bisa melihat dan menilai, kalau Jenna lebih bahagia dengan semua langkah dan pilihan yang telah diambilnya.
Lain dengan Karolina yang hidup penuh disiplin, dengan banyak segala aturan ketat di lingkup keluarga mereka. Justru setelah menikah , cucu perempuan terbesar dari sang kakek kehilangan jati dirinya.
"Mami membuat aku pusing kepala, Jenna. Dia tak suka dengan cara aku menggurus Baby Efron dibantu oleh seorang baby sister. Apalagi di rumah, aku membayar dua ART lain, untuk masak dan beberes rumah, satu lagi cuci baju dan setrika."
" Maksudnya apa, sih, Ibu mertuamu Karo? Masa di rumah sebesar itu kamu harus mengerjakannya sendiri semua pekerjaan rumah tangga... Juga masih mengurus bayi. Bisa dua hari dua malam kamu hanya menyapu dan mengepel lantainya saja!"
Air mata Karolina menitik." Aku selalu dibandingkan - bandingkan dengan para menantu yang lainnya. Apa salah kalau aku nggak bisa buat sayur asem yang sedap atau buat pepes ikan mas yang lezat?"
" Itu makanan kesukaan Kak Farhan?" tanya Jenna paham.
__ADS_1
" Iya..."
" Pesan saja di restoran yang terkenal di dekat rumahmu. Beres!"
" Mungkin kalau aku cerita sama kamu Jenna, semua permasalahan dalam rumah tanggaku ini bisa menjadi satu buku novel pop yang cukup tebal..."
" Ya, sudah... Bercerita Lah!"
Karolina menatap kakak sepupunya itu semakin tak berdaya. Kalau dalam urutan silsilah keluarga mereka, seharusnya dia memanggil Jenna dengan kata 'kakak'. Sebab Jenna adalah anak dari Kakak sang Mama, Ibu Amanda. Tetapi dalam hal usia, Jenna jauh lebih muda 5 tahun darinya. Makanya mereka lebih sering memanggil dengan nama saja karena hubungan mereka yang sangat dekat.
" Oma sudah wanti-wanti, kalau aku nggak boleh ngomong banyak soal ini ...."
" Memangnya kenapa?"
" Takut kamu nanti nggak mau menikah! Apalagi dalam ikatan pernikahan, seorang wanita malah dituntut seperti wonder woman! Harus segalanya bisa. Sedangkan kamu pasti lebih suka berkarier, daripada menjadi ibu rumah tangga kan?"
" Aku lebih suka jadi Joan of Arc saja, agar menjadi kesatria wanita pembasmi kejahatan saja!" Ledek Jenna.
" Ini, serius Jenna!"
" Oke! Waktu dulu dijodohkan dengan Kak Farhan, kamu oke- oke saja! Malah tak sampai 6 bulan pacaran, kalian langsung menikah!"
" Terus kamu kena prank, gitu?"
" Wanita itu mau rumah tangga semua anaknya sesuai dengan aturan keluarga besarnya .. . Padahal kita berbeda generasi. Beda juga dalam pandangan. Si Mami mulai sering datang dan mengatur semuanya ... Sampai kepalaku mau pecah saja mendengar omongannya. Belum lagi Baby Efron pun jadi sering sakit..."
"'Kak Farhan, bagaimana?"
" Ya, ikut pusing... Apalagi dia sibuk dengan proyek yang ada di Banten! Jadi lebih jarang ada di rumah."
"Sabar, Karo... Bahagia harus berasal dari dalam diri kita bukan?"
Karolina menghela nafas panjang. Dulu kata- kata itulah yang memompa semangatnya untuk tetap berkarier di dunia mode. Diantara kesibukan jadwal manggung, ujian di kampusnya juga macetnya jalan- jalan protokol Jakarta. Sebab Karolina harus tampil di beberapa gedung dalam satu harinya. Dia bisa mengatasi semua itu, walaupun tidak mudah.
Karolina tetap bisa menyelesaikan kuliahnya tepat waktu sampai meraih gelar sarjana. Sedangkan di sisi lain, karier modelnya meroket tajam. Sampai melalang buana ke berbagai pentas di tanah air dan beberapa peragaan di luar negeri. Yah, sebelum dia terjebak dengan setingan buruk dengan seorang aktor film ternama yang sudah kacau balau hidupnya.
" Kamu benar-benar mau bantu usaha Bang Tedi di Bali?"
" Oh, dengar juga gosip itu!"
__ADS_1
" Iyalah.. apa sih yang nggak disampaikan oleh keluarga Damash. Boleh aku ikut?"
" Maksudnya mau ikut ke Bali?"
" Iya..."
" Karo , Jangan main- main! Nanti bagaimana dengan si bayi dan Kak Farhan?"
" Bayiku mungkin sudah berumur satu tahun, jadi bisa bepergian dengan pesawat terbang. Kalau Kak Farhan terserahlah ... Si Mami pasti bakalan mencarikan istri baru untuk Kak Farhan. Tentunya perempuan yang sesuai dengan kriteria yang wanita itu inginkan sebagai menantu Idaman. Yang sholehah, yang nurut dan patuh kepada suami dan mertua. Huh, Aku sudah nggak peduli!"
" Segitunya?"
" Aku lelah Jenna... Dalam dua tahun ini mengenal dan menikah dengan Farhan... Tetapi dia malah tidak membuat anak dan istrinya hidup nyaman..."
Jenna bengong sendiri. Dia kasihan dengan Karolina. Kemanakah sepupunya itu yang dulu sangat berani dan percaya diri? Pernikahan itu seharusnya memberinya kenyamanan hidup. Sekarang dia malah tidak bahagia.
Di stroller itulah baby boy dibawa oleh seorang baby sister ke rumah Kakek buyutnya. Jenna menatap bayi laki- laki itu yang tubuhnya tampak gemuk dan lucu. Diangkatnya Bayi itu. Ada suara lucu yang keluar dari mulutnya ketika Jenna mengajaknya bicara.
Jenna bergumam dalam hati. Semoga keluhan Karolina tadi hanya sebatas curhatan keresahan hatinya. Kasihan kalau bayi tampan ini nanti tumbuh besar, namun kedua orangtuanya bercerai karena banyak mengalami hambatan dalam rumah tangga mereka.
" Kita nginep ke Puncak, Yuk! Biar diantar Pak Sutarto!"
Wajah Karolina tampak berseri - seri. "'Beneran? Oke, nih. Sekarang?"
" Habis Magrib aja, dodol! Memang kamu nggak mau menyiapkan keperluan Baby Efron? Seenggaknya, kamu bawakan dia selimut dan baju hangat... Apalagi kalau Oma mau ikut? Biar kita refreshing sedikit!"
" Iya, Iya,!" Jerit Karolina bahagia.
Wanita itu keluar dari rumah utama bersama Bayi dan baby sister nya untuk kembali ke rumah sebelah.
" Oma sama Opa mau ikut?" tawar Jenna.
" Besok siang saja kami menyusul. Jenna! Kata Mamamu ajak Karolina bicara lebih banyak. Dia sudah mengalami baby blues, sejak Baby Efron berusia 4 minggu. Ditambah si Nyonya Hisbillah itu terlalu mau mengatur semua rumah tangga anaknya. Padahal Farhan juga sibuk dengan pekerjaannya. Jadilah Karolina yang stres sendiri karena banyak mendapat tekanan dari para ipar perempuan dan ibu mertuanya."
Bisik Oma Farida menjelaskan.
" Inikah yang membuat kesehatan Opa drop? Karena merasa bersalah dengan menjodohkan Karolina dan Farhan?"
Si Oma mengangguk . " Keluarga kita berbeda banyak hal dari keluarga mereka. Jadi Karolina itu dipandang buruk di mata keluarga suaminya. Hanya karena pernah menjadi model dan peragawati. Kakek sampai kaget, karena dengan ketus si ibu Mertuanya membeberkan semua kekurangan Karolina sebagai menantu dari Keluarga besar Hisbillah!"
__ADS_1