
Hampir seminggu ini, Opa Damash dan istrinya tinggal di rumah orang tua Jenna. Walaupun demikian, kedua lansia itu dapat menikmati hari- hari lalu liburannya yang tidak disengaja itu dengan santai.
Apalagi, si menantu, Arunika Fitri Jelita menekankan agar mereka tidak banyak berinteraksi dengan orang banyak dulu. Apalagi menerima tamu.
Si Oma yang mempunya hobi yang sama dengan sang putra, Feri Darmawan, yaitu berkebun. Jadi beliau setiap pagi selalu sibuk dengan gunting pemotong dahan atau semprotan hama di tangannya. Sambil menjelajahi berbagai pohon cangkokan buah di kebun mini, yang letaknya ada di halaman belakang rumah. Atau melihat puluhan pot tanaman hias yang tersusun cantik pada rak- rak besi bersusun di teras depan rumah.
Terkadang dibantu Pak Uus yang membawakan tempat, saat si Oma memanen mangga, kelengkeng, jambu air juga beberapa kedondong mini dari kebun itu.
Terkadang sepasang suami istri yang sudah sepuh itu akan berjalan kaki, berkeliling di sekitar perumahan. Wilayah itu dikenal masih memiliki pemandangan yang asri. Karena masih banyak lahan terbuka hijau dengan pepohonan rimbun di sepanjang jalan perumahan tingkat elite itu.
Mereka berencana akan kembali ke Sentul hari Minggu ini. Tante Amanda yang akan menjemput kedua orang tuanya itu.
Sejak kemarahan Mamanya Jenna itu, si adik ipar selalu melibatkan peran serta Ibu Dokter Arunika dalam segala hal tentang kesehatan cucu kesayangannya itu.
" Jenna?"
Suara nyaring Karolina sudah terdengar di depan pintu kamarnya. Semakin keras dia mengetuk pintu kamar itu. Sampai Jenna bangun benar- benar terbangun dari tidurnya.
Terlihat wajah bantal Jenna, muncul dari lipatan selimut tebalnya, membuat Karolina terkikik geli
" Woi, anak perawan, bangun siang- siang. Jodohnya dipatuk ayam!"
" Mama, berisik! "'teriak Jenna kesal.
Dia padahal sudah berpesan kepada ibunya agar jangan dibangunkan terlalu pagi di hari Minggu ini. Dua malam ini dia harus begadang untuk menyelesaikan laporan yang diminta Om Jhon. Sebab beliau harus kembali menemui seorang pengusaha muda yang bernama Pandu Pramana Ahmadi di Senin besok. Jadi segala Laporan dan data harus disiapkan Jenna.
" Sadar, Woi. Emak kamu itu masih ngobrol di teras depan!"
" Karo?" tanya Jenna tak percaya. Sambil mengumpulkan kesadarannya, sedikit demi sedikit. Sampai dia melihat sepupunya yang berdiri di sisi ranjangnya. Tampak bertubuh tinggi dan besar, serta menjulang itu.
" Bangun! Nggak sopan ada tamu jauh - jauh datang, tuan rumah malah molor!"
" Sorry, aku baru menyelesaikan laporan untuk Om Jhon dini hari tadi."
__ADS_1
" Memang Bu Rully belum sembuh?"
" Lagi pemulihan! Mana bisa kita memperkerjakan tenaga sekretaris baru! Jadilah aku tumbalnya!"
Karolina memeluk Jenna penuh rasa sayang. Om Jhon itu tipe pria pekerja keras, sama dengan Om Fery ayah Jenna. Tentu sulit mencari pengganti Ibu Rully, yang bekerja di perusahaan itu sejak berdiri pertama kalinya lima tahun yang lalu.
Benar saja, di meja ada kertas laporan bertumpuk. Dan gambar- gambar wadah dan pembungkus produk kecantikan terbaru.
" Terima kasih, atas hadiahnya. Semua produk skincare nya itu ternyata cocok untuk wanita hamil dan menyusui!"
" Nah, itu produk kita yang akan siap diluncurkan bulan depan!"
Wajah Karolina memucat. " Yang kamu berikan bukan tester atau coba- coba kan?"
Kesal, Jenna mengetok kepala sepupunya itu. " Kamu kira aku setega itu pada saudara sendiri. Itu produk buatan Tante Ismaya yang terbaru. Masih meragukan kemampuan istri Om Jhon, dasar?"
" Nggak, becanda doang. Huh! Nenek pemarah!" ujar Karo menjulurkan lidahnya.
" Sudah sana keluar dari kamarku! Tunggu tiga puluh menit, Aku mau mandi dan ganti baju dulu!"
Apalagi, Mak Isah sudah menyajikan pisang goreng andalannya, yang hangat, manis dan gurih. Buah pisang itu kemarin hasil panen dari pohon yang banyak ditanam di belakang paviliun, tempat Mak Isah dan keluarganya tinggal di sana. Bersebelahan dengan rumah Pak Feri, majikannya.
Di teras depan, Ibu Arunika dan Ibu Amanda momong bayinya Karolina, ditunggui oleh si Mbak Baby sitter.
" Sentul aman?"
" Tari, yang aku ungsikan ke rumahnya di Pondok Gede. Sejak Kami mengungsi ke rumah Opa, hanya dia memang masih mengurus rumahku. Dua hari lalu dia mengeluh demam. Dia aku suruh istirahat total di rumah orang tuanya!"
"Bawa Tari ke rumah sakit terdekat saja, biar diisolasi!" perintah Ibu Arunika cepat.
"Ada apa ini?" tanya Oma , yang mendengar ribut - ribut antara anak dan menantunya.
" Nggak apa-apa, Ma. Hanya saja Amanda harus berhati- hati dalam situasinya yang terjadi sekarang."
__ADS_1
Jenna berlari turun dari lantai atas. Dia memeluk sang ayah, kakek dan sang Tante.
" Ini anak makin kurus saja! Justru Karo malah seperti raksasa, berdiri di sampingnya!" Tegur Si Tante.
Semua tertawa mendengar Karolina dipanggil raksasa. Maklum bobot tubuhnya yang bertambah hampir 20 kg saat hamil, belum berkurang satu ons pun. Sebab dokter melarang dia berdiet ataupun senam, mengingat dia harus menjalani operasi Cesar untuk melahirkan bayinya.
" Huh, dahulu Oma mengurus sendiri bayi yang dilahirkan, tanpa bantuan baby suster seperti sekarang. Nggak perlu diet, langsung langsing kembali!" Tegur Oma Frida.
" Itu zaman dahulu, Oma. lain dong dengan sekarang!" Bela Karolina tak mau kalah.
" Kamu saja yang manja, Karo! Bergeraklah sedikit. Jangan Mamamu dan Mbak Sita yang seharian mengurus bayi itu."
Jenna duduk terdiam. Dia melihat Karolina yang selalu mendapat bantuan dari ibunya dan si Mbak Suster. Padahal juga dulu Oma melahirkan Om Danang dan Tantenya Amanda, sewaktu, Opa masih berdinas di daerah di luar Pulau Jawa. Semua keluarga ikut dan tinggal di suatu daerah terpencil.
" Sini aku gendong si Dedek bayi!" pinta Jenna pada Si Mbak.
" Hati - hati Jenna!" teriak Karolina panik .
" Kamu pikir, siapa yang mengurus Brandon saat dia bayi, di sini? Ya, akulah...."
Karolina ingat, Brandon. Anak dari kakak sulung Jenna, Mas Ajie Bayu!
Pantas, Jenna serba tahu soal bayi. Sebab dia selalu membantu kakak iparnya setelah melahirkan dan menjalani pemulihan pasca melahirkan anaknya di rumah ini.
Dua buah mobil mewah mulai memasuki halaman samping kediaman Fery Darmawan. Rumah besar berlantai dua ini lebih memiliki gaya modern klasik, sesuai dengan keinginan sang pemilik yang lama tinggal dan belajar di negara Amerika Serikat.
Pak Muh menunggu di depan teras paviliun bersama Pak Uus. Sambil minum kopi yang disediakan Mak Isah. Pria tua itu yang membawa mobil Inova sang pemilik, Bapak Andrian Damash. Lain halnya, mobil Alphard hitam itu, dibawa Marvin dan sang Bos Farhan Hasbillah. Mereka akan menjemput Karolina juga bayinya, berserta, Mbak Sita.
Jenna melihat Kak Farhan yang datang bersama asisten yang satunya ini. Mereka sudah dipersilakan untuk bergabung makan siang di ruang makan.
Di sana ada Jenna yang sedang mengendong bayi, sementara Karolina telah menghabiskan semangkok sayur bening bayam dan jagung. Semua itu atas perintah dokter Arunika. Dokter pribadi anaknya sekaligus pengawas kesehatan Karolina, sang ibu bayi.
"Dedek Efron tidak apa- apa. Nanti di Sentul, kamu ke tempat praktek Dokter Siska Sudiro, saja! Kliniknya ada di seberang Perumahan Citra Raya Sentul."
__ADS_1
" Enaknya ... anak diperiksa ibu dokter, emaknya dikasih makan makanan bergizi dan bervitamin!"
Teguran Kak Farhan, hanya membuat Karolina tertawa. Mana mau dia memakan segala masakan dengan penuh sayuran hijau seperti ini. Semua anggota keluarganya di rumah lebih suka masakan dari ikan laut dan sebangsanya, pasta ataupun berbagai olahan daging sapi dan ayam.