Jodoh Untuk Jenna

Jodoh Untuk Jenna
Bab. 112. Jangan Menaruh Cerita


__ADS_3

Kegiatan shooting hari itu berjalan sangat lancar, dari pagi menjelang siang. Rara sudah tidak canggung lagi berakting di depan dua kamera sekaligus untuk mengantisipasi hambatan yang terjadi. Jadi jarang sekali diambil adegan yang berulang -ulang.


Mereka meneruskan pengambilan gambar untuk film iklan itu berkejaran dengan sang waktu. Sebab cuaca pagi itu cukup cerah, juga tidak terlalu panas... Tetapi dari laporan BMKG, akan ada turun hujan deras di sekitar Bogor dan Puncak siang nanti dengan intensitas sedang.


Justru di halaman belakang vila Bunga, yang cukup jauh jaraknya, Opa Damash sibuk mengambil ikan-ikan yang ditawarkan Mang Koya di dua kolam besar. Ikan yang ada di situ adalah ikan mas, dan mujair. Sedangkan yang ada di kolam satunya lagi adalah ikan lele. Ikan itu sudah jarang ditangkap oleh si empunya villa.


Suara ribut kedua pria tua itu, menarik perhatian Tedi yang tadi iseng duduk sendirian di taman belakang. Akhirnya ketiga orang itu bekerja sama mengambil kedua jenis ikan itu dengan jaring.


Baju mereka basah kuyup, karena ikan itu bergerak lincah menghindari serokan jaring. Sampai mereka mendapat satu ember besar ikan mas dan mujair. Rencananya besok Opa akan mengambil ikan lele di kolam yang satunya lagi.


Opa Damash tak berani bertanya lebih jauh lagi pada pria itu, tentang majikannya Tuan Sidharta Armin. Mang koya sangat loyal terhadap majikannya itu. Bahkan transfer yang diberikan majikannya itu untuk perawatan villa sebesar ini sangat minim, sehingga kehidupan keluarga Mang Koya jadi sangat berat.


Tampaknya ide menawarkan. vila ini ke pihak lain pun, juga. kurang pas. Sebab Sidharta Armin tidak diketahui keberadaannya. Segala surat-surat kepemilikan vila ini tentu masih di tangannya. Menjual properti mewah pada saat ini, juga akan banyak mendapatkan kesulitan. Terutama dengan datangnya wabah pandemi yang mulai memburuk perekonomian nasional . Apalagi dengan rendahnya pendapatan masyarakat. Di saat ini, banyak orang mulai mengetatkan pengeluaran mereka dalam kebutuhan sehari-hari.


" Koya, kalau kurang beras atau makanan lain, tolong datang ke vila. Minta sama Suheri saja, ya! Jangan biarkan anak dan istrimu kelaparan di sini. Nanti saya kirim keperluan untukmu, " janji Opa.


" Terimakasih, Pak Jenderal!" ujar pria itu tua itu pasrah. Matanya berkaca-kaca mendengar hal itu.


Pria itu sekarang mengerjakan pekerjaan apa saja yang bisa dikerjakan untuk mendapatkan sedikit upah untuk membiayai kehidupan keluarganya. Tetapi dia tidak bisa melepaskan tanggung jawabnya untuk tetap menjaga vila milik majikannya, Tuan Sidartha. Walaupun transferan uang yang dikirim beliau sangat pas-pasan. Sebab hanya cukup untuk membayar listrik, dengan sisa yang tidak banyak lagi.


Padahal perawatan villa yang terdiri dua bangunan besar, kolam renang, taman bunga yang luas itu juga sangat mahal. Mereka tidak lagi memakai jasa tukang kebun dan orang-orang yang membantu membersihkan kedua villa itu secara teratur. Tidak ada dana yang cukup untuk membayar upah mereka.


Sampai dia diberi masukan oleh Pak Suheri untuk memanfaatkan tanah kosong di green house itu untuk ditanami paprika yang bibitnya diberi oleh Pak Suheri secara cuma-cuma. Kalau sudah panen, buah paprika itu dijadikan satu dengan hasil panen dari di Villa Damash. Dari penjualan itulah, Mang Koya dan keluarganya bertahan hidup dalam dua tahun ini.


Saat break shooting, beberapa kamera disimpan oleh anak buah Bang Miko di ruang khusus. Mereka berjalan bersama - sama ke villa milik keluarga Tedi untuk makan siang. Justru Om Jhon bertahan di vila ini untuk menjaga Naura yang mulai berenang di kolam itu. Kemarin Mang Koya sudah mengisi air di kolam itu sampai penuh.


Di ruang makan, Mak Onah, istri Pak Suheri sudah menata hasil masakan mereka bertiga. Di meja sudah ada menu soto Bandung, bakwan jagung, bakwan sayur, sambel tomat dan kerupuk. Di sana juga terhidang karedok yang merupakan request dari salah satu anak team kreatif.


Karedok ini makanan serupa dengan gado- gado.Hanya sayurannya yang dihidangkan masih mentah alias tidak dimasak. Setelah dicuci bersih, semua sayuran itu di diiris halus. Berbagai jenis sayuran dapat dibuat karedok seperti, kacang panjang, terung lalap hijau, kol , tauge dan yang lainnya. Supaya tambah mantap, pada bumbu ulekan sambal kacangnya diberi sedikit kencur atau cikur dalam bahasa Sunda.

__ADS_1


Mereka segera makan dengan lahap. Sedangkan Keanu , Rara dan dua MUA dari salon Ismaya belum menampakkan dirinya di vila itu. Tentu Rara membutuhkan waktu yang agak lama, karena harus mengganti kostumnya itu dengan pakaian harian. Juga harus menghapus makeup tebal yang menempel di wajahnya itu. Karena harus memakai berbagai lapis paduan foundation yang tahan terkena panasnya cahaya kamera.


Anak - anak Teh Nia jadi ikut berenang. Mereka tadinya malu - malu saat ditawarkan untuk ikut bergabung oleh Om Jhon. Mereka juga baru pulang belajar online tadi, di rumah kawannya, yang memiliki handphone dan ada Quata Internet. Sesuatu yang tidak dimiliki cucu-cucu Mang Koya.


Mang Koya juga ikut menunggui mereka. Karena air kolam cukup dalam. Takut terjadi apa-apa.


Dari jauh, Tante Ismaya muncul di gerbang depan vila Bunga dengan membawa wadah makanan yang cukup banyak.Tadi dia diantar Mang Asep dengan motor maticnya. Karena banyak membawa barang, jadi tidak mungkin dibawa sendirian ke vila Bunga, agak merepotkan memang.


" Asep, Ini ikan tangkapan Pak jenderal!" panggil Mang Koya saat melihat anaknya Pak Suheri itu mau kembali pulang.


" Nggak salah ini Mang, ikan segini banyaknya!" seru Mang Asep kaget. Dia mengangkat wadah dan kantung plastik itu ke depan motornya.


Sebagai ikan-ikan itu hasil tangkapan Pak Damash dan Tedi, sudah dibersihkan oleh Istri Mang Koya di dapur rumah gubuk mereka. Kotoran dan insangnya dibuang dan dicuci bersih. Semua ikan itu dimasukkan ke wadah plastik. Sebagain lagi dibiarkan masih masih hidup untuk dimasukan ke dalam plastik besar yang diberi sedikit oksigen. Sebab Den Tedi mau membuat acara bakar ikan untuk makan malam.


Mang Asep segera membawa ikan itu dengan motornya ke vila Damash.Suara motor itu mulai terdengar menjauh.


Makanan yang dibawa oleh Ibu Ismaya segera digelar di meja, dekat tepi kolam renang. Bu Titin mengeluarkan piring, gelas dan sendok untuk adiknya dokter Arunika, istri dan anaknya makan. Malah mereka akhirnya diajak makan juga bersama - sama, karena Bu Ismaya membawa porsi yang banyak, dan cukup untuk semua orang di rumah keluarga Mang Koya juga


Setelah makan, keempat anak yang usianya hampir sebaya itu kembali berenang. Om Jhon sudah mulai kedinginan.


Dia masuk ke dalam villa utama, mau berganti baju di salah satu kamar mandi yang ada di sana. Ketika berada di depan sebuah kamar mandi itulah, dia berhadapan dengan Fajar, yang baru saja keluar dari kamar mandi satunya. Wajah pria itu sangat pucat. Keringat menetes di dahi dan lehernya.


" Kamu kenapa?" tanya Om Jhon juga kaget melihat keadaan anak buah istrinya itu yang bekerja di salon Kelapa Gading.


"Hmm, anu... Nggak... Saya tadi terkunci di dalam kamar mandi, Pak!" bisiknya agak takut. " Tadi sudah saya dorong dengan kuat, juga nggak bisa terbuka pintunya! Sudah lebih dari 15 menit saya di dalam. Mau berteriak pun percuma. Sebab anak-anak sudah. pergi semua ke Villa Damash ...."


" Ah, masa. Sih?" tanya Om Jhon kurang yakin.


Pria itu mencoba membuka kedua handle pintu kamar mandi itu yang letaknya bersisian. Kunci terbuka dan tertutup seperti biasanya. Semua terlihat baik-baik saja.

__ADS_1


Sampai suami Ibu Ismaya itu berbicara dengan nada yang seperti memberi nasehat. " Jar, di mana pun itu, kalau mau masuk atau keluar dari kamar atau rumah orang lain, jangan lupa permisi, dulu!"


" Eh, iya, Pak!" ujar Fajar bingung.


" Sana makan dulu! Ismaya banyak membawa makanan, di samping kolam renang..."


" Terimakasih, Pak!" ujar Fajar pasrah.


Om Jhon segera mandi dan berganti baju. Selama dia masuk ke dalam villa ini memang sudah merasakan hawa yang tidak enak. Walaupun tempat ini bersih, bagus dan mewah. Tetapi sudah lama tidak ditempati oleh manusia.


Fajar masih duduk di tepi kolam. Dia berusaha menikmati makan siangnya itu. Tak lama muncul Hera Rara, dan Keanu, dari taman depan. Tetapi makanan di meja itu sudah tak bersisa lagi. Segeralah mereka berjalan cepat menuju Vila Damash. Walaupun jarak itu sangat dekat, berkali-- kali Rara, menahan napasnya. Langkah kaki mereka terasa berat, sehingga tidak segera sampai ke tempat tujuan.


"' Astaghfirullah!" Seru mereka hampir bersamaan. Sampai mereka mengucapkan Alhamdulillah, setelah memasuki halaman depan villa Damash dengan pagar besi yang tidak terlalu tinggi


Vila Damash memang terlihat berbeda dari beberapa bangunan vila lainnya, yang banyak berdiri di lembah dan tepian kaki pegunungan itu. Dari pintu gerbangnya terbuat dari besi sederhana. Di dalamnya tampak halaman luas tertata cone blok untuk parkir kendaraan.


Separuh bangunan berlantai dua itu menghadap ke timur , sehingga terlihat terbuka dan nyaman .


Di vila dengan nuansa unik dari kayu itu, tidak ada barang mewah yang ditampilkan di sana. Yang ada beberapa ruangan yang dibuat terbuka dan lebat untuk ruang tamu dan ruang keluarga.


Bahkan di ruang tamu hanya diisi seperangkat kursi dari rotan dan kayu yang simpel. Di ruang keluarga malah ada jejeran sofa yang empuk dan nyaman dengan dinding kaca besar yang dapat digeser di sebelah utaranya. Justru di depan ruangan itulah terpampang keindahan alam pengunungan dari lembah sampai ke puncaknya.


Di vila itulah, mereka dapat menikmati liburan yang sesungguhnya. Berkumpul bersama keluarga. Menjauh sebentar dari rutinitas kesibukan kerja sehari-hari di Jakarta yang tak pernah ada habisnya. Seperti yang sekarang dilakukan para anggota team kreatif. Mereka asyik ngobrol di beberapa ruangan di vila itu. Apalagi di depan ruangan keluarga ada teras, dengan halaman berumput untuk melihat pemandangan daerah pengunungan di lembah kehijauan di sana, dengan beberapa bangunan vila yang tersembul di sana - sini.


Sementara Karolina, Jenna dan tiga perempuan lain dari team kreatif sedang menikmati rujak aseman karya Jenna. Sebab semua buah yang tadi dibeli Jenna di pasar tradisional , yang disajikan terasa asem semua. Ada potongan mangga muda, buni sampai gandaria, yang dijadikan satu dalan mangkuk besar dicampur bumbu rujak dari perpaduan gula merah, terasi dan garam.


Tedi bergumam tak jelas. " Sudah tahu asam dan kecut, tetap aja dijadikan rujak dan dimakan!"


Jenna melotot, " inilah kenikmatan hidup, merasakan asam-kecut kehidupan, Bro!"

__ADS_1


Semua perempuan itu tertawa geli, mendengar ocehan receh Jenna, yang absurd. Tak peduli wajah mereka berkerut -kerut menahan rasa asam, pedas dan manis yang sangat menyegarkan itu!


__ADS_2