
Jenna sudah melakukan pembayaran dengan segala perbelanjaan itu dengan kartu kreditnya. Oleh seorang petugas swalayan itu, segala belanjaan Jenna dimasukan ke dalam dua tas kain yang selalu rajin dibawa Jenna ke mana- mana. Karena tas kain itu mudah dilipat-lipat menjadi sangat kecil. Juga dapat diselipkan di saku dan kantong dari di tas kerjanya sehari - hari.
Di kantor yang menggurus produk kosmetik kecantikan itu mungkin hanya Om Jhon dan Tante Ismaya saja, yang belum memprotes cara Jenna berpakaian untuk pergi ke tempat kerja. Sebab mereka selalu berprinsip dari hasil kerja pegawainya. Bukan karena penampilan, omongan dan tindakan yang tidak berdasar dan kurang bertanggung jawab.
Selama bekerja di kantor itu pun Jenna menciptakan gaya berpakaiannya sendiri. Karena merasa usianya masih muda. Baru 21 tahun. Jarang sekali dia memakai high heels!
Koleksi sepatunya lebih banyak sneaker ataupun sepatu olahraga. Dia juga baru membeli beberapa sepatu flat shoes pun setelah mulai bekerja di sana.
Di lemari pakaiannya hanya ada empat potong blazer bergaya formal dengan warna hitam, coklat, putih dan biru Navy. Nanti blazer itu dapat dia gunakan agar pantas saja, saat menghadiri acara penting. Seperti ada rapat atau pertemuan dengan klien di luar jam kantor.
Sebagain besar koleksi pakaian kerja Jenna adalah berbagai atasan dari bahan rajutan halus atau kaos. Kalau mungkin pun dia akan membeli blus- blus simpel dari katun atau bahan yang mudah menyerap keringat. Dia tidak suka memakai rok span pendek, atau rok - rok feminim yang membuatnya susah bergerak. Apalagi yang terlalu pendek atau terbuka, justru akan memperlihatkan pahanya kurus dan kecil.
Lain halnya bila Jenna berada di lapangan untuk berolahraga raga, sekedar bermain volly atau basket. Dia suka menggunakan seragam itu yang terdiri atas t- shirt tanpa lengan dengan bawahan celana pendek dari bahan spandek atau kaos tebal. Sebab pakaian seperti itu membuatnya lebih nyaman bergerak di lapangan atau sekedar mengeluarkan keringat.
Mungkin karena bunyi peraturan di kantor milik Om Jhon itu hanya menyebutkan 'berpakaian rapi dan sopan.' Itulah prinsip Jenna. Untung saja dia tidak mencontoh pakaian kerja para wanita dari negeri ginseng sana. Sebab cara para karyawatinya berpakaian sangat rapi dan modis. Walaupun hanya memakai celana pendek bahan, kulot atau atasan you can see. Itulah dunia kerja yang harus disesuaikan dengan budaya di negara itu sendiri.
Jenna menggotong dua kantong tas belanjaan ke mobil yang ada di area parkir. Dia membuka bagasi dan mendorong masuk kedua tas kantong itu yang cukup membuatnya meneteskan sedikit keringat. Sebab agak berat!
Netta. berlarian, menghampirinya . " Mbak Jenna! Ditunggu Abang Tedi dan Abang Pras di KFC!"
Mata gadis mungil itu mengerjab riang... Mungkin bagi anak seusianya, berkunjung ke restoran fast food seperti itu adalah sebuah kemewahan. Padahal anak bungsunya Mpok Lis itu hampir selalu memakan sejenis itu hampir setiap bulannya.
Di keluarga Jenna, apa yang dimakan oleh majikan, juga dimakan juga oleh para Art. Dari yang tukang bersih-bersih rumah, tukang masak sampai tukang kebun dan sopir.
Dokter Arunika pun sering membawa makanan sejenis fried chicken. Karena di klinik tempat dia berpraktek sebagai dokter ahli anak pun, selalu kebagian hadiah ulang tahun dari pasiennya itu.Yang sebagian besar adalah anak-anak. Hadiah itu pun selalu diberikan kepada anak- anaknya Mpok Lis.
Bagi wanita itu, nggak lucu juga anak bungsunya diberi sekantong kue ulang tahun yang berisi jajanan anak- anak. Wadah kue atau minuman dengan karakter kartun lucu. Juga beberapa boneka kecil itu untuk gantungan tas. Sedangkan Jenna sudah lama meninggalkan masa anak - anaknya itu. Bisa dibilang Jenna terlalu cepat dewasa di usianya yang menginjak 21 tahun.
__ADS_1
" Netta, kalau sebutan untuk Abang Tedi. Okelah Kakaknya Mbak Jenna dipanggil seperti itu. Tetapi kalau yang satunya mana pantas dipanggil Abang? Panggil aja Abang Bakso atau Abang tukang somay, gitu? Cocoklah!"
Jenna mengedipkan matanya kepada Netta sebagai tanda persengkokolan. Gadis kecil itu tersenyum riang.
" Masa Abang bakso, Mbak Jenna? Kan dia nggak jualan. Tadi malah naik mobilnya bagus, Lho!"
Haduh! Ini bocil ini nggak bisa diajak kompromi juga. Apalagi mereka akan menunggunya di teras restoran cepat saji di sana.
Benar saja si makhluk ajaib itu sudah duduk santai di sebelah sang Abang.
" Kamu pesan sendiri, sana! Sekalian buat Netta !" Ujar sang kakak sambil menyerahkan kartu kredit dari sebuah bank swasta terkenal.
Huh, kalau yang diterima ditangannya ini sebuah black card, niscaya dia akan mampir ke sebuah butik di seberang sana untuk dipakai membeli dua jaket denim yang tampak manis dan menarik perhatiannya.
Malas Jenna masuk ke dalam ruangan restoran siap - saji tersebut. Langsung berbaris di meja kasir untuk mulai memesan. Karena tidak terlalu ramai pengunjung, pesanan Jenna langsung dilayani. Tak sampai sepuluh menit kemudian, datanglah pesanan itu.
Ucapan main - main Pras sudah Membuat. Mata Jenna melotot tajam." Siapa Elo? Sudah berani kritik gue! Dia kakak gua. Mau gua pake seberapa pun uangnya di kartu kredit ini. Bukan urusan Elo!"
" Jenna, ada apa ini, Baby? Nggak biasanya kamu ngomong kasar sama temen Abang. Padahal pada orang yang baru kamu mau bersikap sopan!" Tegur kakaknya agak keras.
" Dari mana Abang ketemu teman seperti ini, yang lahir bukan di zamannya? Mungkin dari abad yang hilang kali , ya? Ngomong selalu sembarang. Mulutnya mungkin nanti yang harus aku cuci dengan Rinso. Kotor dan banyak nodanya."
" Pras, kamu apakan Adikku?"
" Sorry, Bro! Aku hanya becanda dengan menggodanya . Eh, Aku dibantingnya..."
" Jenna itu beda, Pras! Dia bukan seperti cewek-cewek bule yang kamu temuin di pantau Bali sana. Mungkin gombalan recehmu membuat mereka senang. Kalau Jenna enek kali..."
__ADS_1
Pras tersenyum pasrah! Selama ini dia salah menduga kalau adik rekan bisnisnya ini adalah cewe cupu. Karena masih sangat muda usianya. Dipikirnya Jenna itu hanya lulusan sebuah akademi biasa saja. Tetapi gelar S.E itu yang disandang Jenna, berasal dari sebuah kampus swasta yang cukup terkenal di Jakarta, membuatnya kaget.
" Dia lulus SMA umur 17 tahun... Adikku bukan gadis bodoh hanya karena nggak mau pilih fakultas kedokteran atau teknik! "Jelas Tedi. Saat temannya itu mengamati foto wisuda Jenna di sebuah hotel bintang lima, setahun yang lalu.
Di foto itu hadir semua anggota keluarga Darmawan. Dari kedua orang tua Jenna, kedua kakaknya. Seorang kakak Ipar, juga sang keponakan laki- laki. Cucu pertama di keluarga Darmawan itu sampai itu dibawa kedua orangtuanya dari Medan demi merayakan hari kelulusan si bungsu.
Sayangnya, lowongan di kantor sang Kakak Mas Bayu Aji di Medan sudah penuh. Padahal Jenna sangat cocok ditempatkan sebagai asistennya.
" Ini Netta, anak ART di rumah kami. Jadi kalau dia makan seperti ini, Jenna juga akan membungkusnya makanan sejenis untuk kakak dan ibunya di rumah!"
" Sorry, Jen!"
" Telat... Kuy! " ujar Jenna malas.
Sejak tadi Jenna hanya mengajak bicara Netta. Juga membantu gadis kecil itu dengan membelah potongan ayam goreng tepung yang masih panas.
Lihatlah Jenna tidak pernah merendahkan orang lain! Anak ART pun diperlakukan baik. Kalau sudah begini, siapa yang harus disalahkan?
" Jenna aku minta maaf... Sudah salah menilai mu sejak kita bertemu di restoran dulu, bersama Kak Zaki dan Om Jhon ..."
" Iya, ku maafkan! Tapi elo jauh- jauh dari gua, ya?Takut aku tiba-tiba khilaf, tak sengaja menendang kepalamu yang setelannya udah sedikit kendor...."
" What? ha, ha!" Tawa Tedi tak bisa ditahan. Dia juga sedikit aneh mendengar permintaan Om Jhon untuk mendamaikan Jenna dan Pras.
" Jadi Lo yang disebut- sebut Om Jhon katanya sedikit melantai di halaman taman hotel itu. Kena jegal Jenna, sakit, nggak ?"
Pras semakin menundukkan wajahnya. Di antara rasa malu, marah juga tak berdaya. Tawa Tedi tadi sangat memukul harga dirinya. Di sini dia yang jadi korban! Eh, ini Si kakak malah membela adiknya yang salah. Memang darah lebih kental dari air.
__ADS_1