Jodoh Untuk Jenna

Jodoh Untuk Jenna
Bab 115. Iseng - Iseng Tak Berhadiah


__ADS_3

Dering hape dari tas selempang Jenna, menarik perhatian orang-orang di sekelilingnya. Jenna menatap nomor telepon orang yang menghubunginya.


" Iya, iya kami akan kembali ke vila!" Jawab Jenna menutup pembicaraan itu. Mata Karolina dan Bang Fendi menatap wajah kesal Jenna yang tampaknya ditelepon oleh kakaknya.


" Bang Tedi nyuruh kita balik ke vila?"


" Ayuk, daripada Bang Tedi ngamuk nggak karuan!" ujar Karolina membenarkan. Kakak sepupunya itu sih memang ganteng dan pendiam. Kalau anak muda sekarang disebutnya cool. Coba kalau Bang Tedi marah? Huh, sudah seperti banteng ngamuk bagaikan di acara Rodeo di belahan bumi Amerika sana. Atau seperti sebuah festival di negara Spanyol yang melepas para banteng di sebuah jalan raya, hanya untuk mengejar para pria yang merasa punya nyali setinggi pegunungan Himalaya, untuk berlari atau menghindari serangan banteng itu.


" Memang ada apa, Mbak?" tanya Bang Fendi yang mulai tertarik dengan pembicaraan kedua wanita yang bersaudara sepupu itu. Walaupun mereka berbeda seratus delapan puluh derajat dalam segala hal. Tetapi Tedi adalah lelaki yang paling ditakuti oleh keduanya.


" Bang Fendi, sepertinya ada di antara anak-anak team kreatif yang berbuat iseng, dengan mengundang sesuatu di vila itu! Sekarang ada anak buah Bang Miko yang mulai bersikap aneh. Saat ini Opa nggak mungkin bisa bantu, mengingat riwayat penyakit jantungnya... Abang bisa menolong kami?"


" Saya nggak punya kepandaian apa-apa, Mbak Jenna. Tetapi kalau saya bisa menolong akan saya lakukan!"


Sengaja Jenna berbicara seperti itu saat berdua saja dengan kakak seperguruannya itu, karena mereka pernah belajar di padepokan yang sama . Jenna tahu, betapa takutnya Karolina kalau membicarakan hal-hal seperti itu. Tetapi Opa sudah mengamati keadaan di sana, pasti akan ada sesuatu yang buruk yang bakal terjadi di vila Bunga itu.


Mobil bergerak sangat cepat karena menuruni jalan raya Puncak ke arah Cilember. Hari masih pukul 15. 00. Saat jalanan masih belum terlalu padat oleh puluhan kendaraan dari kedua jalur. Hampir 30 menit lebih, mobil mewah itu mulai berbelok ke kanan setelah melewati sebuah turunan di dekat sebuah mesjid besar berwarna putih kehijauan.


" Bang Fendi tolong semua diantar ke Villa Damash. Nanti Abang susul ke Villa Bunga. Bawa apa pun yang Kakek Guru berikan kepada Bang Fendi. Mungkin benda itu berguna untuk menolong!"


Benar saja, di halaman belakang, tampak Mas Saidi yang mukanya sudah memerah. Dia terlihat tidak sehat. Awas saja kalau dia ngamuk! Lelaki bertubuh tinggi besar ini akan susah ditolong, kalau dia mengalami kerasukan.


" Mana Bang Fendi?" tanya kakaknya itu cemas.


Mereka tadi menggotong Mas Saidi yang mulai berteriak - teriak tidak jelas, setelah kembali ke Vila Bunga, sehabis makan siang. Diseretnya tubuh besar itu agar tidak masuk ke frame kamera saat dimulainya pengambilan gambar untuk shooting berikutnya.


Awalnya, dia ditegur oleh beberapa orang kru dari bagian kamera, karena makan sangat banyak di vila Damash. Sudah dua kali nambah dengan porsi besar. Mas Saidi itu marah. Setelah disuruh wudhu dan ikut sholat berjamaah di musholla keluarga, Mas Saidi menolak. Lelaki yang sudah berkeluarga dan punya satu anak itu semakin meracau tidak jelas saat kembali ke Vila Bunga.


Sebenarnya tugas Mas Saidi hanya membawa mobil besar yang berisi peralatan properti dan memasang set kamera untuk pengambilan gambar. Pokoknya, para anggota team kreatif ini bekerja saling bahu- membahu di lapangan. Kecuali beberapa orang yang dipercaya memegang kamera mahal itu.


Jadi ketika Mas Saidi mulai mengamuk, mereka belum menyadari. Sampai Keanu agak dikejutkan dengan suara gumaman aneh dari tenggorokan pria itu. Seperti suara nenek - nenek tua yang mengusir mereka semua agar keluar dari vila utama. Mang Koya tampak prihatin. Semua orang laki-laki di tempat ini tak ada yang bisa menolong.

__ADS_1


"Kamu takut, Jenna?" bisik Keanu dengan wajah cemasnya. Dia yang tadi disuruh menjaga Mas Saidi, karena dilihat Keanu saja yang tidak repot.


Proses pengambilan gambar terakhir masih disiapkan. Rara dibantu banyak orang sekarang. Ada yang membawakannya minum. Mengipasi rambutnya yang sudah sedikit basah karena berkeringat.


" Ada dari mereka yang iseng kemarin malam, ini. ... Jadi mengusik munculnya sesuatu di sini!" ucap Jenna pelan.


Mang Koya mengangguk, dia yakin cucu-cucunya pak Jenderal mengetahui hal ini. Tetapi di sani ada lebih dari 8 pria dewasa tinggal di dalam vila. Mungkin salah satu dari mereka tertantang untuk tidak mematuhi aturan yang disampaikan Tedi Darmawan secara garis besarnya saja kemarin, sebelum membawa mereka menginap di sini.


" Gua mau ngomong serius, tapi Lo jangan takut, Keanu. Sebab wanita tua penghuni tempat ini mulai tidak menyukai keusilan mereka..."


" Jenna!"


" Ada yang menaruh sesuatu, lalu direkam dengan kamera... Mereka pikir ini acara shooting iklan kosmetik atau dagelan yang mau memperlihatkan tangkapan mereka dengan adanya makhluk di dunia lain sana!"


Keanu bergidik. Jenna tadi menekan kuat bagian leher belakang Mas Saidi agar tenang. Mang Koko masih menjaga pria itu yang terduduk di lantai dapur belakang vila utama.


" Jenna! Lo jangan nakut-nakutin, Gue dong! Nggak lucu, Jenna!"


" Berisik , Lo ...Ah! Kemarin Lo ngomong apa ke gua! Sekarang lihat kan, akibatnya? Ini belum seberapa Keanu. Kalau Si Emak ini sudah ngamuk, habislah kalian semuanya..."


Bang Fendi datang tergopoh-gopoh. Dia membawa sesuatu di pinggangnya. Yang Jenna tahu, satu - persatu murid yang disayangi Kakek Guru Amir pasti akan diberi jimat berupa benda pegangan beliau. Pria itu mewariskan beberapa benda itu kepada beberapa muridnya. Seperti Jenna mendapat semacam pisau belati yang didapatkan gurunya itu dari gurunya sewaktu masih muda.


"'Bang Fendi, sini!" Panggil Jenna pelan sambil melambaikan tangannya.


Pemuda itu datang ke arah belakang vila utama. Dia melihat seorang pria bertubuh besar meringkuk duduk di atas lantai.


" Bisa minta tolong ambilkan air putih segelas, ya?" pintanya.


Mang Koko bergerak cepat ke dalam rumah mertuanya. Dia kembali dengan membawa segelas air putih yang diambil dari kendi dari tanah liat.


" Bismillah!" seru pemuda itu. Sambil membacakan sesuatu... Dia langsung menyuruh pria itu menghabiskan air di gelas itu... Tak lama Mas Saidi kembali meringkuk tubuhnya. Sampai tubuhnya ditarik dengan kuat oleh Bang Fendi. Mas Saidi sekarang berhadapan - hadapan dengan Bang Fendi.

__ADS_1


" Kalau kerja, ya. Kerja, Mas. Fokus! Jangan melamun dan membiarkan pikiran jadi kosong!" Bentak Bang Fendi seperti kesal dan memarahi lelaki itu.


" Iya, Bang. Maaf!"ujar Mas Saidi patuh.


" Kalau agak capek ... Istirahat sebentar! Jangan ganggu orang lain, yang tidak tahu apa-apa!"


Interaksi Bang Fendi dan Mas Saidi terus terjadi. Keanu bengong. Padahal hampir dua jam lebih tadi, Mas Saidi ngomel - ngomel tidak karuan. Satu persatu sifat dan watak anak - anak dari team kreatif dikulitinya dari ketidakmampuan mereka dalam berbagai hal yang justru ada di luar pekerjaan mereka. Tetapi dia tidak berani mengusik Tedi. Padahal kakak Jenna itu yang membawa Mas Saidi pergi dari taman vila depan agar tidak menggangu untuk persiapan pengambilan gambar.


" Mas, tolong temani dia sebentar, ya! Kami ada perlu!" ujar Bang Fendi memerintahkan pada Keanu. Kali ini Jenna tidak mengomentari panggilan Mas, pada Keanu. Jelas - jelas Keanu memakai celana jeans hipster dan T-shirt biru muda lembut. Terlalu feminim untuk dipanggil Mas, sebutan pemuda dari bahasa Jawa, yang artinya kakak laki-laki.


Jenna diberi kode oleh Bang Fendi supaya ikut dengannya masuk ke dalam vila utama. Suasana vila masih tercium bau apek ruangan yang agak lama tertutup. Sedikit pengap, bercampur dengan bau sabun mandi, sampo dan bau parfum yang biasa dipakai oleh pria-pria muda yang bekerja di lapangan.


" Lihat itu!" tunjuk Bang Fendi pada lantai di bawah meja sudut. Seperti ada tumpukan bunga - bunga yang sedikit mengering. Juga ada cermin kecil dan beberapa bentuk barang seperti makanan yang sudah kering dalam kantong keresek hitam.


Jenna memfoto benda - benda itu tanpa berani memindahkannya. Apa ini benda-benda ritual dalan upacara pemangilan arwah? Yeh, bulu kuduk Jenna langsung merinding ....


" Ada kamera, nggak. Bang?" tanya Jenna pelan. Takutnya ada orang iseng yang melanggar berbagai larangan untuk membuat penghuni alam sana datang. Lalu mereka dapat merekam penampakan itu.


Sekilas, Jenna seperti melihat ada bayangan Oma Mieke di ujung ruangan sana. Dada Jenna berdebar antara rasa takut dan tak percaya. Tanpa sadar dia meraih lengan Bang Fendi dan memegangnya dengan erat.


" Oma maaf! Kami nggak bermaksud mengusik ketenangan Oma di sini. Maafkan kami ya, Oma... Maaf banget!" ujar Jenna terbata.


Bang Fendi menuntun Jenna keluar dari vila utama itu. Dia mengusap kepala Jenna dengan hati - hati


Tanpa sadar, Jenna membalikkan tubuhnya. Dia menangis...


Sudah lama Ibu Om Sidharta itu sakit. Jenna pun sudah jarang main ke sini. Walaupun sering menginap di villa Damash bersama keluarganya. Vila Bunga ini semakin tertutup, tentu dengan tembok tinggi dan pagar pintu depan yang terkunci rapat. Seakan berniat memutuskan hubungan dengan penduduk di sekitar wilayah itu.


Sampai dia mendengar berita meninggalnya Oma Mike itu, dari Mang Koya dua hari yang lalu. Vila ini sudah lama tertutup untuk umum. Sama juga dengan kepribadian Om Sidharta, istri dan kedua orang anaknya. Mereka hanya datang dan pergi ke vila itu tanpa bermaksud berbaur dengan masyarakat di sekitarnya


Padahal vila itu sudah dibangun bertahun -tahun yang lalu. Juga mengalami banyak perubahan. Sebab dulunya, bangunan vila ini hanya terdiri dari satu bangunan vila utama saja yang sangat sederhana. Sampai Om Sidharta mengambil alih dari ayahnya. Ada vila tambahan yang dibangun di belakangnya, khusus diperuntukkan untuk anggota keluarganya saja. Bahkan di halaman yang luas itu dibangun kolam renang pribadi, kolam ikan, taman bunga, dengan berbagai koleksi tanaman hias ya g bagus dan mahal. Juga membuat rumah gubuk untuk penjaga vila yang terlihat sederhana namun rapi dan kokoh.

__ADS_1


Bahkan diberi tembok tinggi di sekeliling vila itu. Agar penghuni di dalamnya nyaman dan terlindung saat tinggal di sana.


__ADS_2