
Jenna memang tidak tahu perihal fotonya yang dipasang mamanya di dinding ruang keluarga mereka.
Selama ini, ketika Jenna pulang kerja langsung masuk kamar. Di kamarnya itu dia mandi, istirahat atau mendengarkan musik sambil merebahkan tubuhnya. Sekedar meluruskan punggungnya karena lelah membawa kendaraan roda empatnya. Nanti kalau dia merasa lapar, barulah keluar dari kamarnya. Sekedar untuk mencari makanan atau cemilan di meja makan atau di dapur. Kalau pun tak ada di sana, dia bisa minta tolong pada ART untuk dibuatkan mie instan, roti bakar atau salad campur buatan mamanya yang selalu tersimpan di kulkas.
Keadaan itu sudah hampir berlangsung selama tiga hari ini. Sampai Mak Isah memberi tahu tentang foto dirinya yang cantik dan dewasa, terpajang di ruang keluarga. Ruangan luas tempat anggota keluarga Darmawan berkumpul, bersantai, bercengkrama atau menerima tamu yang punya hubungan kekeluargaan yang sangat dekat dengan mereka.
" Itu foto Non Jenna, cantik banget! Mak sampai nggak nyangka aja. Saat Non masih kecil, Emak yang ngurusin. Eh, ujuk- ujuk udah gede aja, jadi perawan!"
Lagi- lagi kejadian yang seminggu lalu yang terjadi di salon, kembali terulang di rumahnya ini. Benar saja! Di sana foto dirinya, dengan gaun malam dari brokat itu membungkus tubuhnya dengan ketat... Terlihat pinggul Jenna yang padat, pinggang ramping. Belum lagi riasan wajahnya lebih bold sehingga menampilkan kesan dirinya adalah wanita dewasa yang cantik, anggun dan berkelas.
Foto itu bukan foto biasa, sebab sudah tercetak di atas kanvas. Jadi mirip sebuah lukisan karya sang maestro. Sungguh Jenna tak menyangka kalau sang mama mau berupaya keras, guna mendapatkan foto terbaik dari dirinya.
" Kapan ini dipasang, Mak?"
" Empat hari yang lalu, Non! Si Iman disuruh Nyonya ngambilnya di sebuah studio foto di daerah Pondok Indah... Kalau nggak salah!" Ucap perempuan tua itu agak ragu-ragu.
" Iya, Mak. Kalau nggak salah? Ya, pasti benar!"
" Bisa aja, Si Non. Ini ganggu Emak!" Ujar Mak Isah malu.
" Mau dibawain makanan apa, Non? Sebab Nyonya pasti marah kalau Non Jenna sering makan siang di luaran!"
" Apa, aja. Mak! Asal jangan semur jengkol, sama sambel pete. Nanti pelanggan di salon pada kabur lagi semuanya karena wanginya itu, Lho!"
Mak Isah ketawa geli. Jenna pernah membawakan dua masakan andalannya, untuk dua karyawati salon yang suka masakan dari bahan yang berbau menyengat itu. Karena sangat penasaran masakan mereka makan juga saat jam makan siang. Tanpa menunggu disimpan dulu untuk dimakan di rumah.
__ADS_1
Tentu saja si OB yang kebagian bersih-bersih kamar mandi, marah- marah. Karena toilet untuk karyawan seharian itu menimbulkan bau harum semerbak yang membuat pusing kepala Barbie! Sampai satu botol karbol pewangi, terpaksa ditumpahkan di sana untuk menumpasnya.
Dokter Arunika menjadi semakin akrab dengan Ibu Angelina karena sering mengadakan janji temu berdua. Mereka seperti menjadi adik dan kakak saja dalam pertemuan yang cukup singkat itu.
Padahal Dokter Arunika juga wanita sibuk! Apalagi Ibu Angelina, juga harus menggurus suaminya yang sudah lama menderita sakit, di rumah.
Sampai juga terkirim juga foto - foto cantik Jenna, dari Dokter Arunika kepada Ibu Angelina. Sebab ibunya Pandu itu sampai terkagum-kagum melihat gaya Jenna yang natural. Maklum Jenna tidak ada basic di dunia model atau panggung.
Kata orang, kecantikan Jenna itu adalah hasil perpaduan Jawa dari darah yang mengalir di tubuh Pak Feri ... Juga darah Sunda pada diri Dokter Arunika dari Ayah. Serta , bercampur dengan Minang dan Arab, dari ibunya... Alias nenek Jenna.
Bagi Ibu Angelina, sosok Jenna menurutnya adalah calon menantu idamannya. Selain masih muda dan cantik, Jenna itu mandiri dan mau bekerja keras. Apalagi tak ada kesan tinggi hati di diri gadis muda itu. Padahal dia mempunyai kedua orang tua yang berpendidikan tinggi dan sukses di bidang masing-masing.
" Jenna nggak ambil kuliah kedokteran juga, Jeng? Biasanya kalau orang tua dokter, anaknya akan menjadi dokter juga...." Ucap Ibu Angelina bijak.
" Jenna itu anaknya aktif, Mbak! Jadi dia kurang suka duduk berjam-jam untuk belajar. Bisa mati berdiri dia! Padahal menjadi mahasiswa kedokteran itu harus tekun belajarnya. Belum lagi masa kuliah yang lebih lama dari perkuliahan umum ... Kalau tidak diarahkan Papanya, mungkin anak itu sudah kabur keliling dunia kali! Menjadi backpacker atau guide di travel perjalanan ke luar negeri!"
Ada tawa di pembicaraan mereka itu. Wanita dari kalangan atas itu terlihat akrab dan bersahaja. Mereka merasa cocok berteman baik. Karena dapat bertemu di sela- sela kesibukan keduanya. Karena perkenalan mereka murni untuk berteman dan curhat masalah keluarga masing-masing.
Bukan seperti wanita lain pada umumnya, mereka mempunyai motif tersendiri untuk masuk dalam sebuah gank sosialita. Mereka lebih banyak pamer dengan kelebihan materi yang mereka punya. Sehingga para wanita itu berteman hanya saling menjatuhkan di belakang orangnya. Belum lagi kalau salah satu dari mereka terlibat dalam masalah, bukannya dibantu... Malah digosipin, kalau perlu kasusnya menjadi viral.
" Bagaimana kalau kita rancang sebuah rencana untuk mempertemukan mereka, Jeng? " Usul Ibu Angelina
" Mbak Angel, mempunyai suatu acara di Minggu ini?" tanya Dokter Arunika.
" Kalau makan malam di rumah saya, bagaimana?" tanya wanita itu.
__ADS_1
" Boleh itu, mumpung suami saya akan ke Bandung. Nanti saya paksa biar Jenna ikut!"
Kedua wanita itu tertawa senang dengan kesepakatan mereka. Sebab mereka tahu, Jenna dan Pandu adalah pribadi yang penuh tekad dan agak sedikit keras kepala. Tidak mudah diatur. Karena sama- sama anak bungsu.
Sejak rencana itulah, dokter Arunika menekan Jenna untuk ikut dalam acara makan malam di kediaman keluarga Samidi. Tahu kalau dia harus mendampingi ibunya hadir di sana. Jenna malah semakin merasa tak nyaman.
Lebih lucu lagi, sikap Mamanya. Wanita itu sibuk mempersiapkan semua keperluan Jenna beberapa hari sebelumnya agar tampil maksimal pada acara makan malam bersama itu.
Tentu saja Jenna yang kaget, sebab sang Mama sudah memilih, salah satu gaun malam yang ada di lemarinya. Di sana ada dua gaun cantik rancangan dari desainer , sahabatnya Mbak Rosalin itu. Gaun dikirim untuk Jenna lewat paket sebagai hadiah. Sebab wanita muda itu merasa bersyukur karena butiknya kebanjiran order dari gaun rancangannya itu. Setelah dia memasang foto- foto Jenna dengan gaun rancangannya. Sekarang beberapa butiknya semakin laris l manis saja.
" Eh, Mama. Jenna nggak mau ya, pakai baju itu. Memang kita mau datang ke acara gala dinner!"
" Tapi Jenna, kita kan harus menghormati undangan makan malam dari CEO Samidi group itu!"
" Ini acara makannya di rumah, beliau kan?"
" Ya, iya. Kamu mau diundang masuk ke stasiun TV milik Pandu?"
" Ogah, ah! Pokoknya kalau aku harus pakai gaun - gaun itu, malas nganter Mama ke sana! Mending nonton drama Korea atau drama cina di rumah!"
" Ya, sudah. Iya! Mama mengalah. Tetapi dandan yang cantik, ya, Sayang!"
" Repot banget si Mama ini... Nanti Jenna tampilin kecantikan dari dalam diri saja. Oke?"
Wajah Dokter Arunika kembali mendung. Beginilah kalau mempunyai anak perempuan sudah dewasa, selalu bertentangan dan beda pendapat melulu dengan ibunya! Padahal dulu Jenna adalah anak yang manis dan penurut.
__ADS_1
Sabtu sore itu Dokter Arunika sudah heboh sendiri. Jenna masih nongkrong di teras paviliun Mak Isah. Sebab gadis itu berteman akrab dengan kedua cucu Mak Isah. Mak Isah ini yang dulu momong Jenna, sejak Jenna berusia 7 tahun. Sedangkan sang Ibu harus menyelesaikan studi lanjutan ilmu kedokterannya di Australia.
Mak Isah ini, jadi ikut pindah ke Sentul. Sebab Keluarga Pak Damash merasa kasihan pada gadis itu yang selalu sendirian dan kesepian di rumah. Sementara ayahnya sibuk di kantor dan sering pulang malam. Kedua kakak laki- lakinya juga bersekolah di tingkat lanjutan yang juga banyak mempunyai kegiatan di luar rumah.