Jodoh Untuk Jenna

Jodoh Untuk Jenna
Bab 21. Urusan yang Panjang


__ADS_3

" Mbak Arunika!"


Tiba- tiba ada suara panggilan dari pintu depan rumah Opa. Tampak Tante Amanda terburu- buru masuk. Wajahnya berkeringat, agak terkesan takut dan rasa bersalah.


" Maaf, saya nggak menyambut Mbak Arunika dan Jenna dengan baik! Maklum...."


" Banyak tamu, banyak mengundang penyakit, Amanda! Kalian orang dewasa sebentar lagi akan mendapat vaksin virusnya. Tetapi, apa kamu tidak memikirkan kesehatan cucumu itu? Dia baru lahir, lho!"


Tante Amanda tersadar. Dia hanya melihat sekilas kemarahan istri kakaknya itu ketika datang ke rumahnya. Tentu wanita yang baru dikarunia cucu pertamanya itu melupakan situasi dan keadaan sekarang yang sangat berbeda dari beberapa waktu sebelumnya.


Rasa gembiranya, dipenuhi kebahagiaan hidup. Sehingga dia memposting wajah cucu lelakinya itu di media sosialnya. Tante Amanda melupakan keadaan yang terjadi saat ini. Wabah virus covid semakin meluas ke seluruh dunia , setelah menyebar dari daratan Cina. Setahun ini, keadaan di Indonesia pun semakin mencekam.


" Kita harus mengungsikan Karolina dan bayinya. Terserah kemana! yang paling penting dijauhi dulu dari orang banyak, tamu atau kerabat yang datang dari tempat yang lain!"


Dalam sekejap, ruang makan yang cukup luas, dengan meja besar kayu jati solid dan bangkunya yang lebih dari dua belas buah itu, menjadi ruang rapat dadakan. Kehebohan itu terus berlangsung cukup lama.Di sana ada Opa Damash, Tante Amanda , Dokter Arunika Fitri J. Darmawan, dengan Farhan dan Marvin yang hanya bisa terdiam. Hampir satu jam lebih diskusi yang terlihat alot itu belum akan berakhir juga.


Justru Jenna sebelumnya telah membawa si Oma pindah ke lantai dua. Ke kamar pribadi si nenek yang dilengkapi balkon, ruang tamu tersendiri lengkap dengan sofa dan bangku santainya. Mereka duduk di sana. Menunggu sambil berbicara tentang peristiwa Karolina yang terpaksa di bawa ke klinik di daerah seberang perumahan sana.


" Oma! Tetap harus menjaga kesehatan. Jenna sudah pesan training couple yang samaan dengan Opa. Tetap bergerak dan olahraga ringan di sekitar rumah saja, ya!"


Si Nenek yang masih terlihat sehat dan segar itu memeluk cucu perempuannya erat-erat. Memang benar kata orang, kalau anak perempuan atau cucu perempuan lebih perhatian kepada anggota keluarganya. Sayangnya, si cucu yang sangat penyayang ini tinggal jauh dari rumahnya. Dia juga semakin jarang main ke Sentul. Sebab, Jenna pun dengan cepat tumbuh menjadi dewasa dan harus bekerja!


Tak lama terdengar langkah kaki cepat dari tangga kayu di samping ruang tidur utama ini. Sesosok tubuh tinggi pria muda dengan wajah tampannya muncul di depan pintu kamar.


Pintu diketuk agak kuat. Sampai wajah tampan itu muncul dari balik pintu, mengejutkan si Oma.


" Teddi? Kamu cucu Oma kan?"

__ADS_1


Pria muda segera masuk ke dalam menyambut sang nenek tercinta. Pemuda itu bukan hanya memeluk si Oma dengan hangat. Tetapi mengendong dengan usil. Si Oma tentu saja menjerit- jerit, antara takut dan bahagia.


" Ugh, anak nakal kamu, ya!"


Suara nenek terdengar terengah-engah setelah diturunkan kembali ke lantai. Tangannya memukul dada si cucu yang semakin kuat dan perkasa.


" Ngapain ngeliatin? Mau juga dipeluk?" Ledek pemuda itu pada Jenna.


" Oh, ogah deh! Malas banget punya Abang beginian. Main peluk aja, ya. Oma? Memangnya kita cewek apaan, gitu ...."


Cara bicara Jenna yang mencontoh gaya cowok melambai yang sekarang, banyak muncul di acara tv dan tik- tok, membuat si Oma terpingkal - pingkal menahan rasa geli. Habis gerakan tangan Jenna mirip banget. Tak peduli kalau si Jenna ini sebenarnya adalah cewek tomboi.


Dia selalu menikmati kebahagiaan seperti ini yang diterima dari cucu - cucu putra sulungnya, Ferry Darmawan. Anak dan istrinya itu lebih bebas dan demokratis dalam merawat dan mendidik ketiga anaknya. Sehingga Jenna dan kedua kakaknya lebih bersifat spontan dan terbuka dalam segala hal.


Lain halnya dengan cucu-cucu dari kedua anaknya yang lain, yang tinggal di lingkungan keluarga militer, lebih banyak aturan dan tata tertib yang harus dipatuhi. Terkadang mereka melawan dan memberontak dari berbagai ketentuan dari orang tua mereka.


Seharian ini dia sudah menghadiri dua rapat besar, yang berkaitan dengan kelangsungan usaha dari berbagai pabrik dan usaha dari milik Feri Darmawan. Berbagai cara telah mereka lakukan demi kelangsungan hidup ratusan karyawan.


" Oma sama Opa sementara mengungsi dulu. Mau di Pasar Minggu atau di apartemen Feri yang di Gatot Subroto?" tanya Ibu Arunika.


" Apa harus begitu, Arunika? " tanya Opa Damash tak percaya.


" Karolina tak mau diantar ke rumah mertuanya di Bogor. Sementara rumah Amanda harus disterilkan dulu, paling sedikit harus disemprot seluruhnya..."


Mata Marvin tak bisa lepas, saat dia melihat Jenna dan Tedy mengandeng si Oma Frida turun dari tangga lantai atas. Tadi Mbok Rah sudah mengemas sebagian pakaian pasangan suami istri dalam satu koper besar.


Mereka lebih setuju tinggal di rumah ayahnya Jenna, di Pasar Minggu. Padahal apartemen yang dipunyai oleh anak sulung mereka pun mempunyai berbagai fasilitas yang lengkap dan terbaik , karena berada tengah kota Jakarta.

__ADS_1


Pak Min yang akan ikut mereka mengungsi ke rumah Jenna. Sekaligus mengurus semua keperluan si Opa. Pembantu setia Opa itu sudah mengangkat koper itu dan dimasukan ke dalam bagasi Alphard milik Pak Feri.


" Jangan pergi dulu, Jenna! Apa nggak mau lihat keponakanmu yang ganteng ini?"


Terpaksa Jenna melihat wajah bayi lelaki itu yang sejak tadi digendong sang suster. Oma dan Opa sudah keluar dari rumah dan bergabung dengan Arunika dan suaminya. Mereka sudah kembali ke Pasar Minggu.


" Sebentar aja, ya. Neng. Abang juga mau pulang dan istirahat. Capek nih, dua hari kerja rodi sama pak Bos!" Keluh Tedy, yang mulai membaringkan tubuhnya yang panjang itu di sofa ruang keluarga.


Karolina tersenyum. Dahulu, dia dan Jenna yang sering menyeleksi para gadis yang menjadi pacar dan gebetan sang idola ini.


Maklum kakak laki- laki Jenna ini sangat baik kepada semua orang, termasuk pada para gadis yang terlanjur baper. Sehingga Jenna dan Karolina akan melibas para gadis itu yang suka mencari ajang manfaat!


" Kenapa, senyum- senyum? Masih terpesona dengan aku, huh! Ingat Karo, kau itu sudah bersuami dan beranak!"


Tawa Karolina meledak. "'Jenna apa dia mengatakan sudah punya pacar? Atau bule- bule cantik yang sedang berbikini dan berjemur di pantai Kuta itu yang jadi incarannya sekarang?"


Senyum Kak Tedi jadi tersungging sinis." Diam, kamu! Apa kamu mau melihat Dokter Arunika senewen lagi mendengar ocehan kamu yang tidak jelas tentang koleksi pacar baruku, huh!"


Jangan tanya tawa Jenna dan Karolina yang bagaikan paduan suara kelas anak- anak sekolahan. Maklum mereka berdua sudah tak lagi menjadi juri penilai pacar- pacar sang Don Juan, sejak pria muda itu merantau ke Bali.


Marvin melihat betapa pria muda itu sangat menyayangi adik perempuannya dan sepupunya itu. Mereka terus ngobrol dan bercanda di sudut ruangan. Sementara sebagian para ART sibuk mengadakan pindahan kecil- kecilan ke sebuah kamar di kediaman utama Andrian Damash.


" Mau pulang, nggak?"


"'Ya, maulah!" Seru Jenna dengan cepat. Dia tidak akan mau terlalu lama di rumah kakek dan neneknya. Ketika melihat Farhan dan Marvin sibuk mengkoordinir acara pindahan itu.


Wajah Tante Amanda semakin murung ketika kedua keponakannya itu pamit dan undur diri. Apalagi mobil yang dikemudikan Tedi bergerak meninggalkan Sentul. Menuju Jalan Tol Jagorawi ke arah Jakarta.

__ADS_1


__ADS_2