Jodoh Untuk Jenna

Jodoh Untuk Jenna
Bab 88. Siapa yang Mengikuti Aku?


__ADS_3

Kehadiran Efron di rumah keluarga Darmawan menjadi hiburan tersendiri buat anggota keluarga itu. Apalagi di sana banyak para pekerja di rumah yang dapat dimintai tolong, untuk sekedar menjaga anak itu yang mulai senang menjelajahi seluruh bagian dari rumah itu.


Tentu Efron paling tidak suka dilarang oleh siapapun bila dia mencoba naik ke tangga rumah.


Tangga itu terlalu curam, memang dibuat cukup estetis dengan gaya melingkar untuk mencapai lantai dua. Larangan itu akan membuat bayi itu menangis keras.


Jenna tetap dengan kesibukannya di salon yang di Jakarta Selatan. Sedangkan Karolina sesekali memantau salon yang di Kelapa Gading. Sebagai selingan dari kegiatannya, dalam pembuatan videonya. Apalagi salon di sana yang paling lengkap dengan seorang dokter yang hadir di sana untuk memberikan konsultasi pada pelanggannya mengenai kesehatan kulit, kecantikan dan perawatan tubuh.


Tante Ismaya semakin fokus pada pengembangan produk baru untuk kosmetik andalannya. Wanita itu memang senang sekali dengan berbagai eksperimen warna untuk segala koleksinya produk kosmetik buatan pabriknya.


Sama seperti waktu-waktu sebelumnya. Lagi-lagi Jenna merasa seperti dikuntit oleh seseorang ketika dia pulang ke rumah. Kali ini mobil yang dipakai oleh penguntit itu adalah sejenis mobil sejuta umat yang mudah berbaur dengan mobil lain yang sejenis diantara kemacetan jalan - jalan di Jakarta . Namun kali ini, Jenna tidak mau kehilangan kesempatan untuk melihat melihat siapa pengemudi mobil si penguntit tersebut?


Segera saja dia membawa Honda Jazz itu memasuki sebuah wilayah di pemukiman perumahan tingkat menengah. Sejak angka covid mulai melonjak lagi di pertengahan tahun ini, beberapa jalan di sana diberi portal untuk langkah antisipasi penyebaran penyakit tersebut. Jadi bila jarang lewat sana, tentu akan sangat merepotkan.


Santai saja Jenna melewati jalan-jalan di rumah itu. Sampai di sebuah wilayah blok D, Jenna berbalik dari ke sebelahnya. Ternyata ... tak lama ada sebuah Avanza hitam mengikutinya. Mobil itu berjalan ke ujung sana. Padahal posisi Jenna sekarang sebenarnya ada di belakang mobil itu, setelah dia berbalik dari jalan di satu gang sempit lainnnya.


Jenna segera mengambil foto plat nomor polisi mobil itu yang huruf depannya bukan B, melainkan F. Nomor polisi Bogor? Apa tidak terlalu jauh orang itu memantaunya kali Ini? Namun Jenna semakin waspada... Setelah mobil itu masuk ke gang di sebelah kanan. Segera Jenna memacu mobil itu melalui jalan belakang perumahan. Juga melalui satu jalan kampung lain, sebelum menembus jalan utama di daerah Pasar Minggu.


Di satu titik Jenna menunggu di satu tempat yang agak tersembunyi. Mobilnya terparkir di sebuah sudut jalan , dekat pusat jajanan. Sehingga dia dapat parkir paralel di belakang mobil lain. Tak lama ada mobil lain yang juga parkir di belakangnya. Sebab tempat itu memang ramai dikunjungi orang. Para pembeli itu umumnya para pekerja yang baru pulang ngantor. Untuk membeli lauk-pauk atau jajanan yang cocok di makan menjelang sore ke malam hari.


Mobil yang menguntitnya itu juga belum terlihat lewat di seberang jalan utama sana.Tak ayal Jenna tersenyum puas dan senang karena berhasil mengecoh penguntit iseng itu.

__ADS_1


Serasa Jenna ingin mengucapkan kata ' Selamat datang di kompleks pemukiman Jakarta. Dengan beberapa jalan-jalan yang telah diberi portal laksana masuk ke sebuah labirin tanpa ujung.'


Setelah menunggu hampir 30 menit juga, mobil itu belum juga terlihat melewati tempat ini. Jenna bermaksud membeli jajanan yang ada di seberang jalan utama itu. Dibelinya dua buah martabak terang bulan yang variasi susu keju dengan coklat kacang.


" Tante pulang!" seru Suster Fani ketika melihat mobil merah Jenna masuk ke dalam garasi. Pak Imam tadi yang pintu menutup pagar depan lagi supaya aman. Sebab tepat di samping paviliun ada pagar kecil yang hanya cukup satu orang melewatinya, sebagai jalan keluar- masuk untuk anggota keluarga Pak Imam dan para supir yang ada di samping musholla pribadi itu.


Dua kotak martabak dengan nama merek yang cukup terkenal itu, diletakan Jenna di atas meja. Mungkin makanan ini menjadikan jajanan favorit di rumah ini, selain bakso dan rujak. Walaupun martabak itu sebenarnya bukan jajanan asli Indonesia. Katanya dulu adalah makanan yang berasal dari negera di Afrika Utara, kalau tidak salah, Mesir! Hanya setelah sampai ke bumi Nusantara sudah mendapatkan modifikasi dan disesuaikan dengan cita rasa lidah orang Indonesia. Jadilah makanan terbagi dua jenis, yaitu martabak telur dan martabak terang bulan.


Kalau yang martabak telur berisi campuran dari daging cincang dengan potongan daun bawang dengan campuran bumbu kari. Lain halnya kalau martabak manis, biasanya disebut martabak terang bulan dengan berbagai toping yang disesuaikan dengan keinginan pembeli. Dari keju, coklat, kacang dan variasi lainnya.


Saat Jenna masih kecil, mana pernah si Ibu membelikan mereka berbagai jajanan ala kaki lima masa kini. Apalagi makanan Junk Food. Mereka semua tidak diberi uang jajan. Kecuali kalau ada esktra kegiatan di luar sekolah. Itupun diantar jemput oleh pak supir dan dibawakan minuman dan bekal yang banyak dari roti sandwich sampai makan siang dengan menu lengkap.


Padahal sudah banyak peringatan yang digaungkan oleh para pakar makanan, kesehatan dan Gizi tentang kurang baiknya bubuk tambahan makanan itu kalau dikonsumsi agak banyak. Terutama oleh anak- anak. Akibatnya akan dirasakan bertahun-tahun kemudian. Sampai timbullah sebutan dengan generasi mecin untuk anak muda sekarang yang sangat suka akan makanan dan jajanan yang banyak mengandung MSG karena gurih dan enak itu! Atau sebutan untuk anak muda sekarang yang maunya serba instan dan cepat! Tanpa mau bersabar menunggu proses itu berlangsung.


Mama Arunika selalu mengatur menu yang sehat, segar dan bergizi di rumah. Jenna lebih banyak diberi bekal makanan daripada uang jajan. Walaupun jarak sekolah Jenna, dipilih yang terdekat dari rumah. Orang tuanya hanya mencari sekolah yang nyaman buat anaknya. Bukan prestasi yang dipaksakan!


Mak Isah sudah menempatkan martabak dengan porsi besar itu pada dua buah wadah plastik tertutup di atas meja makan. Biasanya diperuntukkan untuk anggota keluarga saja.


Sedangkan untuk orang-orang yang bekerja di team pembuat vlog dan video, untuk makan dan beristirahat, Karolina punya dana sendiri. Apalagi vlog sepertinya itu semakin disukainya masyarakat. Beberapa tayangan itu, sedikitnya sudah dapat menghasilkan uang yang cukup lumayan... Terutama bagi Karolina, yang dulunya ingin berdedikasi menjadi Ibu rumah tangga biasa.


Sebuah cita-cita mulia! Karena dia berharap dapat mengasuh anaknya itu dari lahir sampai cukup umur untuk ditinggal untuk Karolina kembali beraktivitas di luar rumah. Kata Jenna cita- cita yang luhur, sebelum rumah tangganya cerai - berani oleh kedatangan orang ketiga. Wanita muda itulah yang masuk ke rumah tangga Karolina. Wanita yang berbau lulusan pesantren, masih muda, cantik dan lugu... Ibu Nyai dapat menyetir wanita itu agar selalu patuh. Wanita muda sebagai menantu ideal yang dipilih ibu mertuanya untuk memisahkan mereka!

__ADS_1


Ada sebuah rumah yang letaknya tidak terlalu jauh dari kediaman keluarga Darmawan yang disewakan ... Niat Karolina untuk menyewa tempat itu. Agar orang-orang di teamnya itu tidak terlalu jauh pulang dan pergi saat mereka bekerja di rumah ini. Sayangnya mereka juga perlu membeli peralatan rumah tangga secara umum untuk mengisi rumah yang akan disewa nanti.


Nggak mungkin juga Karolina memberi mereka fasilitas seadanya seperti tidur di kasur lipat, kamar yang kurang nyaman atau makan seadanya...Memang zaman penjajahan! Setelah mendapat masukan dari Omnya itu, Karolina akhirnya menyewa rumah itu dan memperkejakan dua ART lainnya.


Sekarang Jenna lebih banyak memantau kegiatan Karolina itu.. Banyak memberi ide dan masukan, tetapi Jenna menolak untuk diajak membuka sebuah usaha bersama dengannya. Belum saatnya saja....


" Jenna mau kemana?" panggil Karolina melihat Jenna sudah berpakaian lebih rapi pagi ini.


" Ke Sentul ! Opa kemarin telepon. Minta duit jenguk. Efron boleh diajak nggak?"


" Bawa aja, Jenna. Mungkin Opa juga sudah kangen dengan cicitnya ini!" Ucap Katolik sambil celingukan mencari seseorang yang dicarinya.


" Suster Feni!" panggil Karolina dengan suaranya yang nyaring, membahana di seantero rumah keluarga Darmawan ini. Sampai ada beberapa ART yang sedang menyelesaikan pekerjaan masing - masing di pagi itu ikut kaget juga.


" Woy, pelan Karolina!" protes Jenna dengan suara cempreng wanita beranak satu itu...Mungkin dia juga baru bangun tidur.


" Sorry, bro!" ucap Karolina serasa tak bersalah.


" Lu lebih mirip ibu komandan yang sedang memimpin barisan kalau suaramu keras begini!"


Mata mereka bertatapan... Dunia Karolina dan Jenna berbalikan sejak mereka mulai remaja. Karolina dengan segala hal yang berbau seni sehingga cocok di dunia entertainmen, yang katanya nggak pernah cukup waktu sehari itu 24 jam. Sedangkan Jenna lebih suka keteraturan di bidang usaha atau perkantoran. Ada Jam masuk dan pulang kerja! Selebihnya untuk beristirahat.

__ADS_1


__ADS_2