
Pekerjaan baru Jenna ternyata banyak memberi dampak yang cukup baik bagi dirinya. Misalnya jarak tempuh dari rumah ke tempat kerja lebih dekat, karena sama - sama di daerah selatan Jakarta.
Jadi Jenna jarang mengalami stress karena terlalu lama menghabiskan waktunya hanya di jalan. Walaupun namanya macet, di setiap sudut kota Jakarta ini pasti akan terdapat kemacetan. Biasanya, Jenna dapat mencari jalan alternatif lain untuk pulang ke rumah.
Tempat dia bekerja sekarang ini bukanlah tempat formal, jadi dia dapat berpakaian santai asal rapi.
Para karyawan pun sudah terbagi atas tugas masing- masing sesuai dengan skill yang mereka punya. Jadi , Jenna tinggal melanjutkan tata aturan kerja, juga pengajian mereka berdasarkan catatan Mbak Tya.
Bahkan dua karyawan pria yang bekerja menjadi hair stylis pun sudah mempunyai pelanggan tersendiri. Di sini masih masih ada empat karyawan lain, mereka akan saling membantu sesama karyawan lain. Terutama mengkonfirmasikan ulang dari daftar tamu yang diterima Mbak Arini di bagian depan, sebagai penerima tamu atau resepsionis.
Jenna merencanakan untuk mengubah beberapa tatanan
ruangan di salon ini untuk memberi efek baru agar lebih menyegarkan. Apalagi, mereka tidak menerima pelanggan terlalu banyak dulu. Mereka harus mengadakan janji dengan Arini untuk menentukan waktu, dan lama pekerjaan yang harus diselesaikan.
Rasanya, mengubah sudut- sudut, dari gedung salon berlantai tiga ini lebih banyak memberikan tantangan kepadanya. Tante Ismaya memperbolehkan hal itu untuk memberi warna baru juga mengubah suasana kerja lebih hangat dan nyaman.
Jenna hanya merapikan ruang tunggu, ruang ganti dan persiapan untuk membuka kafetaria atau kantin kecil di lantai dua.
Ruang kerja Jenna ada di lantai dua. Di sana terdapat jendela kaca besar yang menghadap langsung ke jalan raya yang ada di depan gedung ini. Di depan pintu kantornya juga terdapat ada balkon yang memanjang sampai ke ujung bangunan. Balkon itu dihiasi dengan pot-pot tanaman hidup yang tumbuh hijau dan segar.
Si Mama ternyata menjadi pelanggan setia di salon ini. Tante Ismaya yang memberikan sebuah kartu eksklusif, dengan potongan cukup besar yaitu 30 persen setiap wanita itu datang ke salon.
Ibunya itu akan datang sebulan dua kali. Namun sudah jarang untuk minta dirias full makeup, untuk menghadiri suatu acara undangan khusus. Sesuatu yang biasanya itu masuk dalam agenda dokter Arunika saat itu. Undangan yang biasanya diterimanya dari pejabat atau petinggi suatu perusahaan besar lainnya. Karena kedudukan dia sebagai pemimpin sebuah klinik kesehatan untuk Ibu dan anak , atau sebagai istri dari seorang pengusaha terkenal, Feri Darmawan.
" Jangan melamun, Neng!" ledek Teh Risa. Wanita cantik itu sedang menuliskan catatan pembelian barang kebutuhan salon.
" Nggak, ngelamun. Teh. Hanya bengong sedikit..."
__ADS_1
" Sami mawon, Mbak! " Balas wanita yang baru punya anak bayi berusia 6 bulan itu agak kesal. Namun jadi tertawa geli.
Salon ini saja sudah kehilangan separuh dari pelanggannya mulai pertengahan Mei tahun 2020. Tante Ismaya, mempersilakan para karyawannya untuk mundur, dengan memberi sedikit pesangon. Ketika keadaan dan situasi di Jakarta ini semakin tidak kondusif... Ada banyak larangan dan aturan untuk pemilik usaha. Jadi salon itu harus ditutup.
Awal tahun 2021 salon dibuka lagi, konsep awal salon ini diubah sedikit, dengan fokus untuk melayani pelanggan secara terbatas.
Para wanita pelanggan salon itu, sudah merasa jenuh karena sudah terlalu lama berdiam di rumah dengan dibatasinya berbagai aktivitas di luaran.
Jadi banyak dari mereka yang meminta jasa salon Ismaya untuk ke rumah masing- masing. Dari perawatan rambut , wajah sampai menghias kuku. Banyak dari wanita itu yang mengganti model rambutnya dengan model sangat berbeda dari yang biasanya.
Bahkan ada di antara para wanita yang lebih muda itu mewarnai rambut mereka dengan pemilihan warna yang jarang dipakai wanita lain, kecuali dia artis atau orang sering muncul di medsos.
Mereka mengecat rambutnya dengan warna pink, hijau bahkan ungu dan biru... Mirip kue pelangi.
Dimulailah trend pewarnaan rambut dengan segala warna terbaru, terang dan menyala....
Mbak Arini tiba-tiba memasukkan sebuah nama, di daftar tamu pada pukul 13.30. Nama keluarga wanita itu agak familiar di telinga Jenna yaitu Samidi. Nanti Jenna akan mencoba mengeceknya di meja resepsionis.
Catatan Teh Risa segera disimpan Jenna, di map pembelanjaan. Mungkin karena terbiasa mengurusi puluhan karyawan di kantor Om Jhon dulu. Jadi dia dengan cepat mengenali karyawan salon ini yang jumlahnya tak sampai sepuluh orang. Ditambah dua untuk orang yang bertugas parkir.
Ruang tunggu untuk pengantar terasa lebih nyaman dan lapang dengan mengubah tata letak sofa dengan bersandar pada dinding Begitu juga dengan mejanya. Beberapa hiasan berupa piagam dan penghargaan dipasang dengan pigura yang bertumpuk di satu dinding. Di ujung ada rak berisi buku dan majalah edisi terbaru.
Hampir pukul 13.30, Jenna sudah turun dari tangga menuju lantai satu. Matanya cukup awas mengawasi sejumlah tamu yang baru datang. Mereka sedang konsultasi di meja Mbak Arini.
Ada seorang pria yang duduk santai, di sofa sudut ruangan. Pria itu terlihat tidak peduli dengan orang - orang yang ada di sekitarnya.
Memang masker penutup mulut itu dapat menyamarkan wajahnya. Tetapi Jenna mana bisa lupa dengan sikap arogan lelaki satu ini. Terbukti kan ucapannya? Walaupun dengan nama besar keluarganya, Tania tidak dapat melanjutkan lagi kariernya di dunia entertainment.
__ADS_1
Wajah gadis itu masih wara- Wiri di beberapa tayangan iklan di TV. Tetapi bagi pebisnis dan pemilik usaha lainnya, nama Tania dijauhi. Sebab perkara Tania dengan perusahaan produk kecantikan Ismaya Beauty sudah tercium wartawan. Nama Tania langsung meredup, sebelum gadis cantik itu melenggang di panggung entertainment yang lebih tinggi dan gemerlap!
Jenna cepat meninggalkan ruang tunggu itu untuk kembali ke kantornya. Syukurlah dengan masker dan kacamatanya, wajah Jenna akan sulit dikenali pria arogan itu.
" Mbak Jen! Nggak jadi ke warung bakso Mas Kumis?" tanya Pak Ujang, yang sedang menyapu lantai dua. " Tadi ditunggui Teh Risa dan Uni Netty di depan!"
" Iya, Pak! Baru mau ambil dompet ini!"
Di meja kerja, Jenna memakai bucket hat biru navy untuk semakin menyamarkan penampilannya kali ini.. Malas sekali kalau dia harus berpapasan atau bertegur sapa dengan lelaki ini. Lelaki yang mudah menghakimi seseorang tanpa mencari fakta sebenarnya. Jadi yang paling baik adalah menghindari, Pandu Samidi!
Tawa kedua pegawai salon Ismaya itulah yang didengar Jenna. Ketika kedua perempuan itu menunggu kedatangannya. Gadis itu sampai dibantu menyeberangi jalan oleh seorang petugas keamanan di sana. Karena memang siang itu di depan gedung salon lalu lintas sangat ramai.
" Kurang satu, Mbak Jenna! Agar tampil lebih sempurna dan keren!" Ledek Teh Risa.
" Apaan, Teh? " tanya Si Uni Neti kurang paham.
" Jaket!" Seru Teh Risa riang.
" Sialan... Memang aku tukang ojek , apa!" Jawab Jenna memaki.
Tawa Teh Risa dan Uni Neti tetap terkekeh geli sampai mereka memasuki warung bakso yang ada di perempatan jalan ini. Walaupun harganya agak lebih mahal dari warung bakso yang lainnya. Tetapi inilah, bakso terenak yang di wilayah ini.
Mereka dengan antusias memesan bakso pilihan yang sesuai dengan selera mereka masing-masing. Tak pakai lama, wanita cantik itu langsung menikmati seporsi bakso pilihan mereka.
Keringat bercucuran keluar dari dahi Jenna ketika dia telah menghabiskan seporsi bakso urat dengan tahu dan sambal yang banyak. Begitu juga dengan Uni Neti. Wajah orang awak yang putih bersih itu menjadi kemerahan karena kepedasan. Maklum dia terlalu asyik tadi menuang banyak sambel di mangkok baksonya.
Mereka terus ngobrol sambil menikmati es teh manis. Sejenak Jenna melepaskan topi, kacamata dan masker penutup wajahnya. Gerah juga! Warung bakso sebesar ini, hanya memakai kipas di sudut-sudut ruangan saja. Jadi cukup lumayan panasnya. Sampai beberapa orang pria di warung ini itu beberapa kali melirik pada wajah Jenna yang cukup cantik. Setelah gadis melepaskan atributnya tadi.
__ADS_1