Jodoh Untuk Jenna

Jodoh Untuk Jenna
Bab 68. Hadiah Buat Keberhasilan


__ADS_3

Tumpukan kardus - kardus cantik berbagai produk kosmetik dan alat kecantikan dari Tante Ismaya datang keesokan harinya. Barang - barang itu diantar langsung oleh para kurir dari perusahaan yang berada di kantor pusat Kelapa Gading.


Di sana ada surat dari Tante Ismaya dan Om Jhon, terselip di atas kardus yang paling besar. Surat itu sebagai bentuk support bagi Karolina agar dapat berkarya lebih baik lagi. Sebab mereka juga sudah melihat tayangan video Konten Karolina yang cukup menarik.


" Jenna , terima kasih!" Jerit Karolina bahagia.


Dengan caranya tersendiri, Jenna membantu Karolina untuk kegiatan kontennya tersebut... Berbagai produk make-up pemberian Tante Ismaya itu, akan dikenang Karolina sebagai barang pertama yang menjadi endorse untuk tayangan video itu berikutnya.


Bersama team kreatif, mereka mencari rak yang dapat memajang semua barang produk kecantikan pemberian dari Ismaya Beauty tersebut.


Rencananya jangka panjangnya, nanti Karolina akan memberi tutorial ber-make dan berdandan penuh gaya sebagai ucapan terimakasih pada Tante Ismaya juga. Walaupun video seperti itu sudah banyak dilakukan oleh para blogger atau influencer Indonesia lainnya. Tetapi Karolina akan menggunakan metode dan trik yang berbeda.


Bang Tedi adalah penasehat umum dari pembuatan konten tersebut. Sedangkan Pras adalah orang yang mengurus hasil video yang telah di edit... Juga siap ditayangkan secara serentak di beberapa aplikasi medsos terbaru Karolina.


Sampai Jenna mulai kehilangan satu demi satu koleksi gaun, sepatu beberapa aksesoris yang di simpan di dalam lemari pakaiannya. Atau pun di kotak asesorisnya. Walaupun bukan perhiasan emas murni, 24 karat. Beberapa cincin, gelang dan kalung- kalung itu adalah hadiah atau oleh-oleh dari orang tua, Om dan Tante yang biasa bepergian ke luar negeri. Baik karena ada perjalanan dinas dari kantor. Atau hanya berlibur.


" Hey, Emak bocil! Kalau pakai barang orang balikin lagi, Way !" Tagih Jenna kesal.


" Sorry, Jenna! Koleksi pakaianmu kan banyak, jadi aku pinjam!". Ucap Karolina yang sedang menyuapi Efron dengan nasi tim.


" Lo, itu pinjam, apa ngerampok, sih! Masa semua dipake dari segala baju, sepatu sampai tas segala... Bajumu kan banyak! Jangan bilang semua pakaianmu masih ada di Rumah Kak Farhan?"


Karolina tercenung... " Aku takut, Jenna datang ke sana... Masih terngiang-ngiang, segala ucapan Mami Mertua dengan segala kritikan pedasnya itu!"


" Itu sudah jadi mantan, oke. You know?" ujar Jenna kesal.


" Kapan kamu off di Salon. Aku minta tolong antar aku ke rumah di Bogor?"


" Sabtu aja, bisa?" Tanya Jenna. Jadi nanti hari Minggu dia dapat mengatur jadwal ulang.


" Eh, Karo... Cari orang laki-laki juga untuk bagian angkat-angkat, lah! Memangnya aku Jenna yang multi Jobs, apa? Sudah jadi supir dan pengawal. Eh tukang angkut barang lagi! Pasti pakaianmu seabrek - abrek banyaknya...."


" Ini orang, banyak ngeluhnya! Sesekali, biar Marvin ngerasain ketupat Bengkulu kamu, dong!"

__ADS_1


Jenna jadi berpikir lagi." Sudah banyak cerita ya, si pria mata keranjang itu?"


" Iya, sih... Dia memang nggak terlalu sakit saat kamu banting, walaupun mata kakinya sedikit terkilir. Tapi kata Prasaja, malunya itu satu kebon..."


" Karo, kamu jangan terlalu dekat sama playboy cap kerupuk yang di jual abang Bubur Ayam Cirebon, ya? Jangan terburu-buru mengambil keputusan untuk mencari ayah baru buat Baby Efron!"


"'Ya, Nenek Jenna. Hamba mengerti.. Aku juga nggak akan terburu buru mau menikah lagi. Bukan karena sakit hati akan perbuatan Kak Farhan yang dengan cepat menikahi perempuan lain..."


" Terus apa, dong?" tanya Jenna semakin penasaran.


" Masak aku mau nikah untuk kedua kali. Tetapi Jenna aja boro-boro mau menikah, pacaran aja nggak pernah. Maklum jomblo forever, sih!"


" Sialan!" ucap Jenna kesal.


Tetapi Karolina cepat berlari menghindar dari kejaran Jenna dengan masuk, dan segera menutup pintu. Dia takut kena cubit dari tangan kuat Jenna yang bisa menimbulkan perih dan perih.


" Huh, dasar Karolina. Lu, sudah bisa ngeledek. ya?"


Terdengar tawa geli Karolina dari balik pintu jati itu. Walaupun sangat kesal. Tetapi Jenna agak lega. Karolina sudah bisa diajak becanda, mengganggunya dan tertawa lagi.


" Karo!" Jerit Jenna kaget. Dia terlalu repot dengan bawaan di kedua tangannya ketika turun dari mobilnya. Sehingga kurang memperhatikan Karolina yang berdiri tepat di depan pintu itu.


" Berisik, Jenna ! Jangan teriak terlalu keras, Efron baru saja tidur setelah digendong Oma Arunika...."


Kesal, ditariknya poni melambai di dahi Karolina. " Kamu kenapa berdiri di depan pintu. Aku kira ketemu sama kuntilanak menjelang Magrib."


Suster Fani dan Ibu Arunika hanya geleng-geleng kepala, melihat ulah kedua saudara sepupu itu yang selalu saja ribut kalau bertemu. Namun akan selalu mencari satu sama lain bila tidak bertemu cukup lama.


" Iya, aku mau ngasih tahu berita penting!"


" Dih, serius amat.... Sebentar, ah! Jalanan agak macet, jadi aku gerah ini!"


Cepat Jenna menaiki tangga menuju ke kamarnya di lantai dua. Karolina agak sedikit kecewa. Tetapi dia cukup maklum.

__ADS_1


" Siapa suruh kalau jalan macet, buka jendela! Kalau aku sih, tinggal pencet klakson kalau ada mobil atau motor yang motong jalan di depanku!"


Ibu Arunika paham. Jenna lebih suka memberi nasehat atau sedikit gertakan bagi orang yang suka semaunya di jalan raya. Apalagi bila ada pengemudi lain yang tidak sabaran hanya karena menunggu lampu menjadi hijau untuk mereka jalan.


" Jenna, si Mami mantan mertua. Sudah memindahkan semua pakaianku ke dalam gudang!"


Jenna garuk-garuk kepala antara gatal dan bingung. Dia lebih suka menghadapi lelaki yang konyol dan bertingkah menjengkelkan daripada Emak-emak berumur yang sangat rempong. Biasanya wanita seperti itu adalah wanita keras kepala, dan merasa semua tindakannya yang selalu dilakukannya adalah benar!


" Siapa yang kasih kamu informasi?"


" Siti! Dia yang disuruh menunggu dan membersihkan rumah itu. Katanya Farhan dan istrinya mau tinggal di sana... Tetapi Siti sudah minta keluar. Karena nggak tahan bekerja di atur oleh Ibu Nyai . Pusing, katanya!"


" Ada apa ini?" tanya Pak Feri karena melihat anak dan keponakan dari tadi ngobrol tak ada habisnya.


" Pah, kita mau ambil sisa barang dan pakaian milik Karolina di Bogor.. Tetapi sama mantan ibu mertuanya, malah disingkirkan ke gudang.."


" Apa ada barang berharganya?"


" Papa Feri, sepatu dan tas Karolina itu cukup berharga. Belum baju- baju yang merupakan hadiah dari sponsor... Biasanya itu juga agak mahal harga...."


" Memang si Ibu Nyai itu nggak pernah mau menghargai hak orang lain! Papa telpon siapa ini untuk membantu kalian besok. Pak Fajar atau Marvin?"


" Marvin aja, Pa! Kalau Pak Fajar, nanti Si Ibu Nyai bisa menelpon bala bantuan dari kumpulan anak muda dari di masjidnya itu. Jadi heboh lagi hanya perkara baju!"


Jadilah Marvin yang akan mendampingi Karolina untuk mengambil sisa barangnya. Mereka naik Fortuner milik si mantan asisten Kak Farhan itu. Sudah lama, usaha Farhan di Serang tidak berjalan lancar... Tetapi pria itu tak mau kembali ke Bogor dengan cepat. Sampai si Mami mendapat kesempatan untuk mempengaruhi sikap Farhan yang mulai mendua.


Rumah minimalis berlantai dua itu kelihatan agak kotor pada halaman depannya. Beberapa tanaman hias di pot mulai mengering.


Satu, dua kali ketukan di pintu pagar tidak mendapatkan tanggapan.. Sampai wajah Siti menyembul di tirai balkon lantai dua. " Ibu Karo?"


Wanita muda itu kembali menutup tirai. Tampaknya dia sedang mengepel di lantai atas. Tak lama kemudian Siti berlari sambil membuka pintu pagar lebar -lebar.


Marvin memasukkan mobil dengan cara terbalik. Dia memundurkan mobilnya sampai mencapai teras depan. Karolina cepat masuk. Di gudang belakang, segala barang Karolina ditumpuk sembarangan ke dalam kardus- kardus bekas elektronik. Dengan cepat Marvin mengangkat kardus itu dan membawanya ke halaman depan.

__ADS_1


Karolina masih berupaya untuk melihat sisa barangnya lagi di kamar tidurnya di lantai atas. Di sana masih terpajang tas tangan, tas selempang dan beberapa aksesoris yang terlihat biasa- saja. Padahal harganya cukup mahal, karena dibuat secara limited edition oleh beberapa desainer perhiasan dalam negeri. Karena perhiasan itu hanya tepat dipakai oleh Karolina dalam sebuah acara pagelaran busana. Kebanyakan perhiasan itu terbuat dari perak bakar, batu alam dan batu mulia dari Martapura. Sampai mutiara khas dari daerah NTT, yang berbentuk gelang dan kalung dan giwang.


__ADS_2