
Jenna terbangun di ranjang yang berbeda pagi ini. Di salah satu kamar tidur yang dikhususkan untuk tamu yang menginap di rumah Om Jhon Sagara ini. Dia menikmati kenyamanan itu sebentar, sambil mengingat kembali kalau hari ini adalah hari Senin. Jadi dia harus kembali masuk kerja.
Tadi malam, perjalanan mereka dari bandara Soetta menuju ke rumah ini, sedikit terhambat oleh hujan yang turun sangat deras. Yang penting mereka selamat sampai di rumah... Di Jalan tol dalam kota dari arah Tanjung Priok ke Cawang, tidak terlalu padat. Hanya banyak kendaraan berjalan lebih lambat karena jarak pandang yang terbatas karena derasnya hujan tersebut. Belum lagi mereka harus berhati-hati dengan banyaknya truk-truk besar yang mengangkut barang di jalur jalan tol yang paling kiri.
Jenna sudah mandi dan menikmati sarapan paginya yang disiapkan oleh ART di rumah ini. Setelah dia pamit pulang ke rumah, kepada pasangan suami -istri itu yang tetap harmonis dengan usia perkawinan yang sudah lebih dari 15 tahun.
" Berangkat siang saja, nggak apa-apa. Jenna ! Kamu urus dulu yang Salon yang di Kebayoran Baru!" ujar Tante Ismaya mengingatkan.
" Beres, Tante ! Aku pamit, ya!"
Seorang supir, segera membuka pintu gerbang depan rumah. Jenna mengucapkan terimakasih kepada pria itu.
Ternyata perjalanan Jenna menuju rumah pun, juga terhadang beberapa kemacetan di beberapa lampu merah di Jalan utama dari Jakarta Utara, Timur sampai ke Selatan.
" Non, sudah pulang?" tegur Pak Imam.
Pria itu mendorong pintu garasi samping yang sudah kosong. Tak ada dua mobil yang menjadi penghuni ruang garasi khusus itu. Tanda kalau kedua orangtuanya juga sudah berangkat ke tempat kerjanya masing-masing.
" Iya, Pak Imam. Sekalian saya minta tolong untuk angkat satu kardus yang berwarna putih ke dalam rumah, ya! Jenna nggak beli banyak oleh -oleh. Itu pun yang pesan Tante Ismaya semuanya...."
" Beres, Non!" ujar Bapak itu yang menerima kunci mobil dari Jenna... Anak majikannya yang paling bungsu itu malah mengambil koper bepergiannya miliknya yang diletakkan bersama kardus titipan Tante Ismaya.
Sebelumnya mobil yang mereka naiki masuk ke parkiran di bandara Juanda, Tante Ismaya meminta tolong kepada Pak Dodo untuk diantar ke sebuah toko oleh-oleh yang terdekat saja dari bandara itu. Kebetulan mereka lewat di daerah jalan Waru dan ada bangunan bertingkat dua yang khusus menjual bermacam oleh -oleh.
__ADS_1
Padahal di mata Jenna semua kue - kue itu sama saja dengan jenis oleh-oleh dari daerah lainnya. Sampai Tante memilihkan berbagai jenis makanan kecil yang dimasukkan dan dibagi menjadi dua dus yang sama besar dan isinya.
Jenna melihat Mak Isah sudah menata oleh-oleh itu di atas meja makan. Kalau dulu pergi ke Malang, Jenna malah ingin memetik sendiri buah apel Malang yang ada di perkebunan yang ada di daerah wisata Batu. Namun dia belum sempat menikmati semua objek wisata terkenal di daerah Malang tersebut. Dia baru menjelajahi Meseum Angkut dan Jatim Park 2. Karena keterbatasannya waktu kunjungan.
" Biar, Non... Taruh di keranjang rotan pakaian kotornya. Nanti Ayu yang akan membawanya ke mesin cuci!" Pinta Mak Isah.
" Tanggung, Mak! Sudah dibawa turun! Sekarang cobain, Mak. kuenya! Tante Ismaya yang beli, kok!" jawab Jenna sambil meletakkan tumpukan pakaian kotor itu di keranjang pakaian kotor di ruang laundry.
" Nanti aja, Non! Bu Dokter sama Pak Feri aja belum cobain! Masa kita sudah duluan!" balas Mak Isah.
Sebenarnya Jenna sudah membeli beberapa oleh -oleh lain pesanan para pegawai di salon. Ada yang minta dibawain Lapis Surabaya, ada yang ngidam sambel bajak Bu Rudi. Jenna kemarin hanya mengiyakan saja saran Miko yang membawanya ke sebuah gerai oleh-oleh yang ada di lokasi objek wisata yang mereka kunjungi sebelumnya.
Kedatangan mobil Jenna sudah disambut senyum lebar Pak Rum, si petugas parkir gedung. Beberapa mobil pribadi milik pelanggan salon ini, tampaknya sudah nongkrong lebih pagi darinya. Jenna sempat membelikan berbagai gorengan yang abangnya mangkal di daerah dekat perumahan dia tinggal. Gorengan itu yang paling laris, sebab selain murah rasanya lebih enak.
Mereka tampak membagikan makanan itu ke semua orang yang ada di sana. Termasuk para petugas parkir di gedung seberangnya... Begitulah yang Jenna nilai. Kesederhanaan hidup para pekerja di depan salon ini, tetap mengajarkan arti berbagi kepada sesama.
" Ada apa, Mbak Jenna?" tanya Mas Tatam. Dia makan kue lapis Surabaya bawaan Jenna yang sudah dipotong - potong oleh Mbak Arini yang diletakkan di meja ruang karyawan.
" Sambel Bu Rudi itu buat Tika, ya? Dia bunting lagi!" ujar Pria yang cukup macho itu agak sebal.
" Biar aja, Mas... Ada suaminya ini!" Omel Arini.
" Iya suami pemalas yang bergantung pada nafkah dari istri! Sudah pengganguran banyak gaya, dia! Mana ada orang mau hidup enak dan cukup, nggak mau capek. Terus nggak kerja lagi!"
__ADS_1
Mbak Arini melotot pada pria yang sebenarnya, bernama Utama. Tetapi mereka sering memanggilnya Tatam. Maksud wanita itu agar pria itu tidak melanjutkan omelannya. Karena takut Jenna mendengar kabar tak sedap itu yang jadi bahan gosip beberapa karyawan di sini.
Jenna mengalihkan perhatiannya. Dia sudah mendengar sedikit tentang Mbak Tika itu. Hampir mirip dengan kehidupan yang dialami Karolina. Mungkin Mbak Tika lebih ekstrim lagi, dia nekat menikahi lelaki yang tidak disetujui keluarganya itu... Karena mereka menilai calon suami anaknya kurang bertanggung jawab. Sekarang Mbak Tika pun harus menanggung semua kesusahannya hidupnya itu seorang diri... Sementara sang suami, di rumah bersama anaknya yang baru berusia 4 tahun.
Jenna menatap Mbak Arini dan Mas Tatam... " Kadang cerita pernikahan setiap orang berbeda-beda...Seperti Karolina juga, justru mertuanya yang menyuruh anaknya menikahi perempuan lain. Karena sepupu saya itu tidak sesuai dengan kriteria darinya, sebagai menantu idaman."
" Apa? Wanita seperti Mbak Karolina itu masih dianggap kurang layak jadi menantu ! Gila aja si Ibu Mertua!"
Seru Mas Tatam kaget.
Jenna tersenyum miris ... Dia juga melihat Keadaan Mbak Tika tampak baik-baik saja... Atau dia sangat pandai menutupi segala kesusahan hidungnya ?
" Mbak Jenna bagi-bagi gorengan lagi! Memang singkong gorengan merekahnya enak sih! Saya pernah ditinggalin Pak Rum dua biji!" Bisik Mbak Arini keceplosan.
Mas Tatam tersenyum geli." Lo, apa aja doyan sih, Arini....Doyan apa rakus! Kita tahu maksud Mbak Jenna membawakan gorengan itu. Sebab nggak semua orang di luar gedung itu kebagian oleh-oleh ini. Jadi , begitu kan, Mbak?"
" Iya deh! " Seru Mbak Arini mengalah... Dia segera menyerahkan laporan minggu ini.. Semua laporan transaksi bank yang mengunakan berbagai aplikasi selalu ditujukan ke rekening Tante Ismaya di Salon utama cabang Kelapa Gading.... Tampaknya laporan pemasukan itu sudah sinkron.
Jenna menyelesaikan hari kerjanya sampai jam tutup salon pukul 17.00. Para karyawan juga sudah bersiap - siap untuk pulang. Sampai di depan gedung salon dia mengamati keadaan gedung salon itu dan beberapa gedung usaha lainnya, yang saling berjejer dan berhadapan di jalan yang cukup ramai ini sepanjang harinya.
Tak ada sesuatu pun yang berbeda di sana.Tetap sama seperti semula. Karena semua orang mempunyai kesibukan dan urusannya masing-masing...
Apa iya, Miko mau membayar seseorang hanya untuk mengawasi kegiatannya ini sehari-hari? Apa itu tidak sia-sia! Karena dirinya bukan siapa-siapa! Kalau dikuntit seseorang layaknya paparazi tentu akan sedikit aneh! Dia hanyalah pekerja wanita biasa... Yang bekerja untuk membuktikan bahwa dia cukup diberi pendidikan yang layak dari orang tuanya, dan sekarang belajar untuk mandiri.
__ADS_1