Jodoh Untuk Jenna

Jodoh Untuk Jenna
Bab 86. Nasehat sang Guru


__ADS_3

Perjalanan ke restoran yang dituju tidak terlalu lama memakan waktu yang lama untuk mencapai tempat itu. Restoran itu ada di sekitar daerah Melawai, Blok M. Sebenarnya sudah agak lama juga Jenna menghindari kawasan itu, sejak semasa dia masih menjadi mahasiswi.


Kehidupan dunia malam di sekitar daerah itu, selalu memunculkan penilaian kurang baik dari orang lain... Terutama terhadap wanita muda yang sebaya usianya dengan dirinya.


Bukan Jenna menilai rendah kepada para wanita muda yang mengais rezeki dengan bekerja di berbagai tempat hiburan malam yang banyak terdapat di sekitaran wilayah itu.


Terkadang mereka dengan mudahnya berbaur dengan wanita muda lainnya. Bahkan fenomena kehidupan para wanita muda seperti itu sering menjadi latar cerita pada sebuah novel dan juga pernah diangkat ke layar lebar tentang sisi gelap kehidupan wanita muda di kota Metropolitan.


Apalagi saat itu terminal bus Blok M masih ramai dipenuhi oleh masyarakat pengguna jasa angkutan darat itu. Dari bus, busway sampai Kopaja. Belum lagi di kawasan itu banyak berdiri pusat pertokoan, mall- mal dan berbagai jenis restoran. Dari tradisional, ala barat sampai yang kekinian...


Setidaknya bagi mata orang awam, ada perbedaan sedikit dari para pekerja seperti itu dengan wanita biasa pada umumnya. Yaitu dari cara para wanita itu berpakaian. Mereka terkesan lebih berani tampil dengan pakaian yang sexy, sedikit terbuka hanya dengan tujuan untuk menarik perhatian kaum pria, khususnya pria yang disebut hidung belang. Walaupun pada umumnya para wanita di muda yang kawasan itu memang selalu berpenampilan keren dan bergaya trendy.


Semua fenomena itu juga membuat Jenna semakin waspada. Seperti yang selalu dikatakan oleh para guru yang membimbingnya dalam kemampuan ilmu bela diri kepadanya. Beliau selalu banyak memberinya berbagai nasehat, " Dimana kita bergaul di situlah kita dinilai"


Sejak itulah, Jenna selalu melangkah dengan berhati - hati untuk memilih teman untuk bergaul. Bahkan teman baik di kampusnya pun dapat dihitung tak sampai lima jari saja. Pada saat itu pun, dia juga mempunyai keharusan untuk menjaga Karolina yang mulai menerima banyak job di dunia panggung catwalk dan entertainment.


Opa Damash juga banyak melatih Jenna atas segala kepekaan dan tindakan mawas diri. Sebab musuh seseorang yang utama, adalah dirinya sendiri.


" Enaknya jadi penumpang VVIP, bisa melamun diantar supir paling ganteng sedunia!" Cemooh Bang Tedi setelah mereka sampai tujuan. Mobil Honda Jazz milik Jenna itu terparkir manis di sebelah sedan mentereng milik Karolina.


Jenna menengok ke belakang dan beradu pandang dengan Karolina, sambil tersenyum penuh arti.


" Dih, kepedean ada yang menyebut dirinya ganteng. Siapa yang ganteng? Gangguan tenggorokan kali!" Ledek Jenna malas.


Si Abang malah nyengir tak jelas. Sengaja dia melakukan itu untuk mengurangi ketegangan atas pertemuan tadi, yang belum menemukan titik terang yang jelas.


" Iya, kalau ganteng tetapi Jomblo, aih...Percuma! Kalah sama muka alay bintang di aplikasi tok tok. Meskipun timbul - tenggelam... Seenggaknya mereka punya fans begitu ..." Tambah Karolina yang makin updated di dunia media sosial karena pekerjaannya itu.


Kesal pria itu memiting lengan Jenna dengan main-main. Efron yang sudah bangun dengan keriuhan suara yang dibuat oleh Mama, Tante dan Omnya itu terkejut. Apalagi saat melihat dua orang kesayangannya siap baku hantam di jok kemudi depan.

__ADS_1


" No, no... Ate ama Om! Ndak berantem!" ujar bocah lucu itu sambil mengangkat jari telunjuk kanannya. Persis seperti yang dilakukan Karolina setiap melarang anaknya itu melakukan sesuatu.


Jenna tertawa ngakak.... " Efron, Om Tedi nakal, ini Ate sampe sakit ini tangannya!"


" Nanan, Om. Ndak boleh tuh!" ucap Efron lagi dengan mimik wajah layaknya seseorang menasehati.


Si pria super narsis itu hanya dapat menggaruk kepalanya yang tidak gatal. " Lebay!" Ujarnya kesal.


Membanting tubuh Jenna pun bukan perkara yang mudah baginya. Walaupun adiknya itu bertubuh imut dan langsing. Sebab Jenna akan tetap melawannya. Sejak adik bungsunya itu mengikuti pelatihan pencak silat yang diajarkan sendiri oleh Opa Damash, yang sejak dulu aktif sebagai salah satu ketua dari cabang organisasi olahraga bela diri asli Indonesia tersebut di kesatuannya. Jadilah Jenna wanita muda yang lebih mandiri dan berani.


" Mau gendong, Om Tedi?" tanya Tedi ketika membuka pintu mobil belakang.


" Oke?" Efron langsung menempel pada pria itu dengan penuh rasa sayang. Hampir seminggu sekali mereka bertemu dan banyak berinteraksi, seperti layaknya ayah dan anak laki-laki kecilnya.


Tedi akan mengajak Efron berenang di kolam renang yang menjadi salah satu fasilitas yang dapat digunakan oleh para penghuni apartemen di gedung megah dan mewah itu. Mereka juga main game yang cukup sederhana untuk dapat dimainkan oleh bocah berusia 1 sampai 2 tahun. Sering diajak melihat latihan sepak bola atau lari di Sabtu sore di sekitar GBK.


Tentu saja Bang Tedi tidak sendirian untuk mengasuh Efron. Di sana ada Marvin sang asisten dan Suster Fani yang siap menggurus segala keperluan anak kecil itu


Setelah selesai makan siang, Ibu Endang, Mbak Lydia, Bang Tedi dan Karolina berunding sebagai upaya terakhir.


Jenna kembali menyingkir. Dia tahu, Karolina akan dilindungi oleh orang-orang yang menyayanginya, juga anggota keluarga Darmawan. Jadi dia tidak perlu berkecil hati. Padahal tuntutan uang untuk biaya Efron yang diajukan oleh sang pengacara untuk Farhan, masih cukup masuk di akal. Sebab bayi itu hanya membutuhkan pampers, susu formula, dan beberapa vitamin yang dikalkulasikan sebesar 4 juta rupiah sebulan. Namun belum ada itikad baik keluarga Farhan yang tak juga segera memenuhi tuntutan tersebut.


" Sudah kenyang, mam-nya ?" tanya Jenna saat Efron menolak suapan terakhir yang disodorkan pada bayi itu.


" Udah!" Jawabnya sambil meringis lucu.


Marvin mengambil alih Efron. Sebab Jenna baru menyentuh sedikit makan siangnya tadi. Keburu Efron ngambek karena tak mendapat tanggapan dari ibunya.


" Yang makan belakangan yang bayar!" Ledek Tedi sambil menikmati es lemon tea pesanannya.

__ADS_1


" Siapa takut?" Ujar Jenna emosi.


Karolina kembali tertawa geli. Ada-ada saja ucapan dari Bang Tedi itu, yang dapat kadang menimbulkan huru-hara bagi kedua. kakak beradik itu.


" Maaf, yang adiknya Pak Tedi itu... Mbak Jenna atau Mbak Karolina, sih?" tanya Mbak Lydia sopan.


Tedi segera menunjuk ke arah Karolina, " Dia adik sepupu saya! kalau Jenna adik pungut!"


Ha, ha, ha! Tawa Karolina malah meledak. Betapa lucunya wajah Jenna yang imut langsung memberengut dibilang anak pungut. Bu Endang ikut senyum-senyum melihat keakraban ketiga bersaudara itu.


" Mbak Lydia, sudah punya pasangan belum?" tanya Jenna.


" Wah, bulan depan malah saya mau mengadakan pesta pertunangan. Mbak Jenna, mau kan datang kalau saya undang?"


" Aduh, selamat kalau begitu... Sebab Bang Tedi ini merupakan stok cowok terakhir sebagai Jomblo Forever... Saya mau lelang, deh! Dijual murah, biar dapat pasangan... Daripada hidup ngenes..."


Pria itu menatap wajah Jenna dengan pandangan mata tajam seakan mau membunuhnya. Mau bagaimana lagi, adik dan adik sepupunya ini adalah pembuat masalah dalam keluarga besar mereka. Namun sikap dan tingkah laku mereka juga tak berubah jauh meskipun Karolina telah pernah berumah tangga. Dan Jenna mulai memperlihatkan pesonanya sebagai gadis muda masa kini.


" Kalau Pak Tedi mau benar- benar mencari pasangan hidup atau pacar, banyak kok gadis-gadis yang belum punya pasangan di kantor hukum saya. Ada yang baru lulus tahun ini.. Yang sudah berprofesi sebagai pengacara juga ada. Berminat?"


" Boleh, itu Bu Endang. Tetapi perempuan yang mau dikenalin itu ke Bang Tedi bisa nggak menerima kekurangannya, ya ?" tanya Jenna ragu-ragu.


" Maksud Mbak Jenna?" tanya Bu Endang kurang yakin.


" Yaitu, Abang saya ini itu kurang rendah hati. Kurang sabar sama wanita, terus kurang perhatian pada wanita pasangannya. Maklum dia merupakan spesies langka di bumi.. Terlalu kepedean orangnya...."


" Stop Jenna! Ayo Bu Endang, kita kembali ke pembahasan semula!"


Ujar Pria muda itu. Sebab kalau Jenna sudah menyebutkan kekurangan yang ada pada dirinya, akan semakin lama pertemuan itu berakhir. " Sana cepat habiskan makan siangmu !"

__ADS_1


Jenna asyik menikmati suapan nasi dan sup iga bakar di piring makannya itu. Sementara Bu Endang sudah memberi kesepakatan terakhir. Bila kali ini pihak Farhan kembali mangkir, jalan satu-satunya adalah melaporkan mantan suami Karolina itu ke pihak yang berwajib. Mungkin dengan hukuman dalam kurungan penjara adalah salah satu cara agar pria itu dapat memenuhi perjanjian itu.


__ADS_2