
Pagi itu Jenna dikejutkan dengan bunyi hapenya yang terus berdering. Dia agak malas juga mengangkat telpon itu. Baru pukul 04.10 pagi.
Dia dibangunkan untuk tugas ronda apa? agar kompleks perumahan ini aman.
Tak lama, pintu kamarnya digedor-gedor dengan kuatnya. Memang beberapa hari ini sebelumnya Jenna baru dapat tidur nyenyak setelah lewat pukul 24.00. Entah karena terlalu banyak pikiran, sehingga susah tidur. Padahal tubuhnya juga sudah sangat lelah setelah seharian bekerja di kantor.
Sekarang irama dering hape dan ketukan pintu kamarnya kembali mengusik tidurnya yang kurang lelap. Tanpa berpikir panjang, Jenna membuka pintu. Di sanalah muncul wajah cantik sang ibunda, Nyonya Arunika.
" Jenna, Opa Damash masuk rumah sakit!"
Ucapan ibunya itu seperti hantaman kuat di dadanya yang membuatnya sudah terjaga. " Apa, Ma?"
" Ayok kita ke rumah sakit! Opa Damash dibawa ke RSUD! Sejak tadi malam Opa mengeluh dadanya sakit..."
Dalam keadaan setengah sadar, Jenna berbalik ke kamarnya. Dia segera mengganti piyama tidurnya dengan t- shirt dan celana jeans panjang. Tak lupa dia mencuci wajahnya dengan face wash dan menepukkan sedikit serum dan moisture milk racikan Tante Isnaya. Setelah itu dipakainya jaket bomber miliknya. Sampai dia mengambil hape, dompet yang dia masukan dalam tas selempang kecil.
" Mobil siapa yang bawa, Ma?"
" Pak Bejo sudah siap. Tadi Papamu berangkat lebih dulu dengan Bang Tedi!"
Selama perjalanan menuju rumah sakit Gatot Subroto, kedua penumpang di dalam mobil sedan mewah itu terdiam. Mata Jenna langsung terjaga. Dia melihat keadaan di sekitarnya. Ketika mobil milik ibunya itu menembus lalu lintas di keheningan pagi.
Seolah alam di sekelilingnya pun merasakan segala rasa cemas, sedih dan takut akan kehilangan pria tua yang sangat disayanginya itu. Pria yang menjadi panutan dalam hidup seorang Jenna Melinda Darmawan.
Tampak perbedaan yang menyolok saat suasana Jakarta ketika dinikmati dalam keremangan dini hari. Semua bangunan megah, rumah dan gedung - gedung bertingkat dalam balutan bayangan gelap. Kecuali beberapa lampu taman dan lampu jalanan yang menyala terang.
__ADS_1
Beberapa prosedur untuk masuk ke rumah sakit pada masa kini yang diperketat, dapat dilalui Jenna dan mamanya dengan mudah berkat kartu identitas milik si Empunya, dokter Arunika Jelita Fitri.
Tak lama langkah kaki mereka yang kurang harmonis menapaki loby utama rumah sakit. Jenna sudah sangat pasrah ketika masuk ke dalam lift, dan membawa mereka ke sebuah lantai tempat Opa Damash menjalani operasi!
Si Opa sudah pernah menjalani operasi Jantung yang terakhir di Singapura tiga tahun yang lalu. Harusnya beliau menjalani cek ulang setiap tahunnya. Namun karena pandemi itulah yang membuat sang kakek tidak dapat berpergian jauh kali ini. Apalagi negara Singapura juga menerapkan sistem lockdown yang sangat ketat.
Suasana tampak mencekam. Karena ruangan untuk Opa Damash menjalani prosedur perawatannya ada tersendiri di lantai khusus. Terlihat dari kejauhan bayangan sang Papa sedang menunggu di depan pintu ruang operasi, dengan wajah lelah dan cemas.
Sayup-sayup Jenna mendengar isakan tangis pelan di sebuah ruangan kecil yang mereka lewati tadi. Jenna berbalik. Di sana terduduk Oma Farida sendirian. Wajah wanita tertunduk. Sedangkan sang Mama duduk di kursi dekat ruang tunggu operasi.
" Oma?" Panggil Jena tak yakin.
Takut dia berhalusinasi, karena ruang di rumah sakit ini terlalu besar, terlalu sepi dan terlalu sunyi.
Jenna bukan gadis penakut dengan segala cerita horor yang menyeramkan dan penampakkan makhluk tak kasat mata itu. Namun suasana pagi itu menimbulkan kesan tersebut yang membuat bulu kuduk juga sedikit meremang.
Jenna segera memeluk si Oma yang tampilannya sudah tak serapi dan anggun seperti kesehariannya. Mungkin karena terburu-buru membawa Opa ke rumah sakit agar segera mendapatkan pertolongan.
" Ada Papa dan Mama di sana... Berdoa saja Oma! Semoga Opa dapat melewati semua ini dan cepat sembuh.!"
Sekarang Oma Farida yang seharusnya ditolong. Wajah wanita tua itu pucat dan kuyu. Ada dua mantan ajudan Opa tadi yang menggurus semua administrasi dan beberapa formulir yang harus diisi dengan data lengkap.
Tampak sosok Bang Tedi keluar dari lift. Dia membawa dua tas kain besar di tangannya. Ada beberapa gelas kopi panas, burger, kentang dan sup hangat.
Hati- hati Oma meneguk kopi di gelas itu seteguk demi seteguk. Tentu setelah dibujuk sang cucu laki-laki tersayang itu. Segelas kopi pahit tanpa gula. Jenna mengambil sup hangat, dari tumpukan wadah makanan itu. Dia sedikit memaksa agar si Oma dapat menikmati sup krim yang berprotein tinggi untuk menjaga stamina tubuhnya.
__ADS_1
" Ma, aku sudah dapat kamar untuk Mama beristirahat! " bujuk Dokter Arunika. Wanita itu menuntun tangan mertuanya masuk lift menuju ruangan lain. Di belakangnya, Tedi dan Jenna membawa tas makanan dan dua gelas kopi panas di gelas kertas.
" Opa bagaimana?" tanyanya wanita tua itu cemas.
" Sebentar lagi operasinya selesai. Kita tunggu saja, mudah-mudahan semua berjalan lancar. " Bisik Ibu Arunika untuk menenangkan.
Oma membaringkan tubuh lelahnya di sofa. Dia menolak untuk beristirahat di atas ranjang. Karena masih menunggu hasil operasi yang sedang dijalani Opa Damash. Ibu Arunika pamit, karena dia tahu Jenna akan menjaga neneknya dengan penuh kasih sayang.
Lamat-lamat terdengar percakapan di ujung ruangan sana. Disertai dorongan roda yang menjauh. Dari pintu ruang depan, Pak Feri muncul. Hati- hati sekali dia menyentuh pipi ibunya yang sedikit pucat dan sembab.
" Mama, operasi Papah sudah berhasil. Mama yang tenang, ya? Di sini sama dulu sama Jenna. Arunika akan mengurusnya semuanya!"
Suara Pak Feri itu cukup menenangkan Oma Farida. Pria bertubuh tinggi tegap itu memeluk erat ibunya. Wanita yang dulu dengan sangat tegar memperjuangkan kehidupan dirinya setelah suaminya meninggal. Wanita itu nekat berjualan sembako di sebuah pasar tradisional dengan membawa anaknya yang baru berusia 2 tahun.
Fery kecil selalu dalam asuhannya. Walaupun saat itu dia menjadi seorang ibu yang Single Parent. Tak ada uluran tangan dan bantuan dari pihak keluarga almarhum suaminya. Walaupun mereka kaya dan sangat terhormat. Sejak jenazah suaminya itu dibawa para ipar untuk dimakamkan di pemakaman keluarga di Yogyakarta.
Ibu Farida menikah terlalu muda dengan Fajar Laksmono Darmawan. Seorang pemuda dari keturunan ningrat Yogyakarta, yang kuliah di Jakarta. Pernikahan mereka tidak disetujui pihak sang pria. Sebab, lakso belum menyelesaikan kuliahnya, sedangkan Farida walaupun ada darah Jawa, namun keluarga hanyalah orang dari kalangan rakyat kecil. Sehingga pernikahan tanpa restu itu berlangsung.
Keluarga kecil itu dibiarkan berjuang tanpa dukungan siapapun untuk menghadapi kehidupan yang sangat keras di Jakarta. Ternyata Lakso muda itu harus menyerah saat tidak tubuhnya didera sakit berkepanjangan. Apalagi dia harus setiap hari berjualan di pasar tradisional. Dari Subuh sampai malam agar istri dan anaknya yang masih kecil tercukupi kebutuhan makannya sehari- hari.
Sampai Feri tumbuh agak besar dan dititipkan di rumah orangtuanya di Pasar Minggu. Sebab, Ibu Farida harus mendampingi suami keduanya, seorang prajurit yang punya karier baik. Mereka ditempatkan di sebuah daerah di Kalimantan yang agak jauh di pedalaman.
Oma menangis lega, sambil mengusap air matanya. Pak Feri duduk sambil menikmati kopi yang tadi dibeli anaknya di area kantin rumah sakit. Jenna sengaja mengecilkan volume hapenya agar Oma dapat sedikit beristirahat, dan tertidur di sofa, dengan bantal dan selimut menutupi tubuhnya.
Di ruangan itu juga sudah ada Bang Tedy. Dia sejak dulu tadi ikut menemani si Ibu. Berlari dari satu ruang ke ruang lainnya. Kini si Opa ditempatkan di sebuah ruang isolasi khusus. Pria itu akan mendapat penjagaan dari perawat selama 24 jam penuh dan dokter khusus yang akan memantaunya setiap 2 atau 3 jam sekali.
__ADS_1
Operasi jantung yang selesai dilakukan oleh team dokter itu tidak terlalu berat. Karena berupa tindakan darurat. Namun akibatnya akan sangat fatal kalau tidak segera dilakukan.