Jodoh Untuk Jenna

Jodoh Untuk Jenna
Bab 129. Jangan Lagi Ada yang Tertinggal 2


__ADS_3

Lama Jenna tercenung setelah membaca rentetan berita WA itu dengan nomor yang baru dikenalnya. Pasti semua pesan ini berasal dari Dokter Niken. Aneh saja kalau wanita itu berani mengancamnya!


Sebenarnya yang harus takut itu. adalah Niken sendiri! Dia sudah membuat bara api, bagi orang lain... Terutama, bagi para istri - istri yang tidak mengetahui kalau suaminya suka jajan di luaran sana ... Coba saja! Kalau foto-foto yang begitu estetik antara Niken dan beberapa pria mapan yang selalu menjemputnya di sekitaran klinik tempatnya bekerja itu disebar ke publik. Pasti langsung menjadi berita viral.


Bukan hanya membuat heboh! Juga banyak pihak yang akan tersakiti dan mendapat malu. Terutama kedua orang tua dokter Niken yang masih tinggal di dekat wilayah Jakarta. Tentu dalam segala hal berita dan informasi terbaru mereka dengan mudah mendapatkan aksesnya.


" Boleh! Tentukan saja waktu dan tempatnya!" balas Jenna tanpa takut dan pantang mundur. Mulai mengetik balasan itu dengan jarinya yang terampil.


Hanya saja Jenna tak akan memberitahukan masalah ini kepada siapapun! Kalau Niken merasa kesal karena keburukan itu terungkap, bolehlah! Jenna memang berani mengungkit 'pekerjaan' Niken yang istimewa itu. Sebab keberadaan wanita seperti itu, justru akan memberi dampak buruk dan dapat menghancurkan nama baik juga usaha Tante Ismaya.


Padahal klinik dan salon di Kelapa Gading itu adalah wujud perjuangan Tante Ismaya. Setelah mengumpulkan modal yang tidak sedikit untuk membuka klinik perawatan kecantikan setelah menyelesaikan kuliah sengaja dokter ahli kulit dan perawatan kecantikan.


Hanya klinik kecantikan pertamanya itu dulu berdiri di sebuah pertokoan di daerah Kayu Putih. Sampai usaha itu semakin berkembang, dan berhasil membangun klinik dan salon di pusat bisnis Kelapa Gading. Belum lagi dorongan dari Pak Feri untuk memproduksi berbagai kosmetik hasil racikannya itu dalam skala besar dengan Mendur sebuah pabrik di Tangerang.


Klinik perawatan kecantikan itu menjadi baktinya untuk membantu para wanita tampil lebih percaya diri. Karena merasa cantik, sehat dan bahagia, berkat pertolongan yang diberikan kepada para wanita tersebut.


***


Jenna berupaya mendatangi sebuah kafe yang seperti dijanjikan pada Niken itu. Kafe itu terletak di kawasan jalan Balai Pustaka, Rawamangun. Dia tadi harus menyusuri jalan Boulevard raya Kelapa Gading setelah keluar dari gedung klinik ketika pulang kerja Mobil yang dikendarainya itu terus menyusuri ke jalan Kayu Putih sampai melewati perempatan jalan Pemuda menuju Rawamangun. Di sepanjang jalan itu kendaraan, semakin padat merayap menjelang sore hari, bersamaan jam kantor tutup.


Tepat di jalan di sebelah kiri itu ada bangunan unik dengan tulisan dua jenis huruf nama kafe tersebut, Jenna berhenti. Dia segera mendapatkan tempat untuk parkir di depan bangunan berlantai dua itu dengan nuansa putih bercampur biru yang terlihat sederhana dan nyaman. Karena hari masih sore, pengunjung di kafe masih sedikit. Malah dapat dihitung dengan jari tangan.


Jenna melangkah pasti saat memasuki tempat yang cukup menarik dan cozy ini . Di pojok ruangan depan kafe, terlihat ada dokter Niken Sabrina Mahmud yang telah menunggunya.. Wajahnya sedikit kesal dan tegang.


Dia sih, masa bodoh! Sebab jam tangan yang melingkari pergelangan tangan kirinya menunjukkan waktu yang pas saat ditentukannya pertemuan ini. Satu jam dari jam dia pulang kerja!


" Selamat sore, Dokter Niken!" sapa Jenna tanpa mau mengulurkan tangannya. Sebuah kebiasaan yang sering Jenna lakukan untuk menghormati orang yang lebih tua usianya. Tetapi untuk apa juga menghormati orang ini! Wanita yang tidak menjaga harkat dan martabatnya sendiri sebagai wanita. Kok, kita yang harus repot!

__ADS_1


" Silakan duduk, Jenna! Mau pesan apa?" ucap Niken pelan.


" Dokter, biar saya membayar sendiri minuman yang saya pesan ini!" ucap Jenna tegas. Dia memesan jus jeruk dengan banyak es dan sedikit gula! Gelas jus berbentuk kerucut itu sudah diantarkan pramuniaga itu ke mejanya. Di meja yang sama itu juga terlihat pesanan Dokter Niken juga sudah disajikan .


Tampaknya wanita itu memesan menu dengan makanan yang lebih berat. Sajian yang sudah terhidang pada piring datar itu, sepertinya adalah Chicken Cordon Blue dengan french fries sebagai pelengkapnya. Wanita itu juga memesan segelas lemon tea untuk dirinya.


Jenna mulai mengaduk- aduk whiped cream yang ada di ujung jus jeruknya itu. Berusaha sabar dan menunggu wanita itu membuka pembicaraan. Kalau wanita itu berniat berbicara baik-baik akan dia didengarkan juga dengan baik. Kalau wanita itu bersikap arogan dengan marah - marah nggak jelas atau menggunakan tangan orang lain untuk mencelakai, Jenna tidak takut. Why not?


Demi sebuah kebenaran! Kadang orang harus berani menghadapi segala resiko! Jenna selama ini dididik oleh kedua orangtuanya dan Opa Damash untuk berkata jujur dan berani karena benar.


" Sudah berapa lama kamu menguntit kegiatan hidup saya?" Ucap wanita itu seperti tuduhan.


Mata Jenna menatapnya sedikit tajam, " Sejak Pak Bokir menyampaikan kegiatan sampingan Anda, dokter! Karena sering dijemput dengan pria berbeda, di dekat gedung Galeri!"


" Pak Bokir?" tanyanya kurang yakin.


" Iya, dia kepala keamanan pertokoan di Blok C... Dia ke restoran ayam bakar ' Sari Rasa', untuk mengambil pesanan Pak Barnas, bos pemilik Bengkulu dan showroom di belakang gedung klinik!"


Padahal peranan mereka juga penting . Sebab sejak ada Pak Bokir, daerah itu sangat aman dari tindakan kriminalitas seperti copet, maling atau jambret. Sebab Pak Bokir ditakuti oleh orang-orang dari kalangan pengamen, pemulung dan preman - preman tingkat kroco. Mereka yang tidak berani mengusik lelaki itu, juga daerah yang dikuasainya itu. Sehingga wilayah mereka terbilang sangat aman.


Jangankan menegur, melihat orang -orang - orang seperti itupun , Dokter Niken akan membuang muka! Baginya orang yang yang bekerja dari tingkatan yang paling rendah itu, sangat tidak sepadan dengan dirinya! Kehidupannya mereka juga sebelum tidak mudah! Jadi mereka itu tetap bertahan dengan pekerjaan itu walaupun upahnya sangat rendah. Demi menyambung hidup, di Jakarta yang ternyata cukup berat.


" Pak Bokir menemui saya di parkiran. Karena kegiatan Anda sudah di luar batas kewajaran. Pak Bokir sudah tua dan banyak pengalaman hidup! Tahunya kalau perempuan begituan mangkalnya dekat jembatan play over di sana ! "


Segera saja Jenna mengirim foto - foto Niken yang sedang menunggu di depan galeri itu. Hmm, padahal Mumun yang lebih dulu memberi informasi itu lebih dulu kepadanya. Sedangkan Jenna yang menanyakan langsung kepada kepala keamanan itu, untuk membuktikan kalau ucapan dan informasi yang dibawa Mumun bukan hanya praduga saja.


" Saya akan tuntut kamu kalau foto-foto ini menyebar ke orang lain?" ujar Niken geram.

__ADS_1


" Maksudnya, Anda akan memberi kami kompensasi bila rahasia itu tetap terjaga kan , dokter Niken?"


" Kamu mau memeras saya? Awas percakapan ini sudah saya rekam, ya!"


" Saya tidak memeras Anda, Niken Sabrina Mahmud! Tetapi ancaman Anda itu membuat saya takut . Eh, Tapi bohong...." Kata Jenna mengejek dengan senyum usilnya.


" Apakah Anda tahu dokter Niken? Bahwa pria- pria langganan Anda adalah para suami dari wanita yang menjadi teman baik Dokter Ismaya Sagara. Sekaligus pelanggan VIP kliniknya yang paling loyal! Kalau cari pelanggan, Open B* sekalian, Dok! Siapa tahu pelanggan anda lebih banyak lagi! Jadi lebih cepat lagi untuk mendapatkan modal membuka usaha klinik yang serupa dengan Ismaya Beauty!"


Wanita itu meletakkan garpu dan pisaunya dengan kasar di piring itu sehingga menimbulkan suara keras berdenting. " Kasar sekali kata - kata kamu, Jenna! Apa iya ini anak dari pengusaha kaya dan terkenal, Pak Feri Darmawan..."


" Saya senang Anda mengakui kalau itulah ayah saya... Tetapi kalau orang bermimpi untuk menjadi hebat, kaya dan terkenal itu boleh-boleh saja, kok! Bermimpi dan berkhayal tinggi itu tidak dilarang! Tetapi untuk meraih impian itu dengan segala cara. Nah yang itu yang harus dipertanyakan?"


Jenna menatap wajah wanita itu yang penuh dengan coretan dari makeup berharga mahal itu sebagai alat untuk menutupi segala kekurangannya pada dirinya . Mulai dari hidungnya yang kurang mancung, alis mata yang tidak sama atau tidak simetris atau pipinya yang chubby . Semua itu semakin terlihat nyata di bawah siraman cahaya lampu LED di ruangan kafe ini.


" Maaf, Dok! Saya bukannya menasehatinya, lho!! Sebab saya tidak kuliah di luar negeri! Boro- boro kuliah sampai S2 ... Tetapi saya yakin Anda sudah mengantisipasi semua perbuatan itu dengan menyimpan kondo* di laci meja kerja Anda, sebelum menemui langganan, kan? Atau Anda bisa mencegah berbagai penyakit kelamin yang mungkin menjadi resiko dari pekerjaan itu selama ini? Tentu Anda dapat mencegah penularan itu dengan suntikan atau obat-obatan."


Sekali lagi Jenna menatap wajah wanita itu dengan santai. "Namun ada mata Tuhan yang melihat dan akan menghukum perbuatan laknat itu. Apapun agama yang Anda anut , Dok! Apalagi di Indonesia sudah mengakui ada 5 agama besar itu... Silahkan kalau anda mau berkubang terus di dalam dosa itu. Kalau nggak mau kena karma , azab atau laknat dari masyarakat sebagai sanksi sosial. Bertobatlah!"


Mata Niken itu melotot sejadi-jadinya. " Siapa kamu, hah ? Apa jabatannya kamu! Sampai dengan berani - beraninya mengajari saya. Sampai menyuruh saya bertobat segala..."


" Ya, kalau Anda menolak... Terserah! Begitu aja, kok, repot!" Ujar Jenna kalem.


Tampaknya wanita di hadapannya ini sudah memuncak emosinya. Jenna sudah bersiap - siap saja untuk membela diri. Termasuk menyiapkan dua benda terbaiknya yang selalu tersimpan di dalam tas tangannya saat ini. Malas rasanya kalau dia harus ngotot dan adu fisik sesama perempuan. Lebih baik dia gunakan semprotan air cabe dan bubuk lada ataupun ada alat kejut listrik itu dalam keadaan terdesak.


" Sudah kan, Dok? Nggak ada yang perlu dibicarakan lagi... Saya mesti pulang juga. Kalau terlalu malam pasti Bang Tedi Darmawan atau Pak Feri akan sampai di tempat ini juga. Sebab mobil dan hape saya ada pelacak GPS- nya untuk menjaga keamanan saya!"


Wanita itu terdiam ketika Jenna memanggil seorang pelayan." Mbak minta bill- nya masing-masing, ya! Saya tadi yang memesan minum belakangan, jus mangga!"

__ADS_1


Niken Sabrina itu itu semakin gondok ketika pelayan wanita itu membawakan dua bill yang berbeda. Segera saja Jenna beranjak meninggalkan mejanya untuk membayar minuman itu di kasir! Jenna membayar harga minuman itu dengan selembar uang seratus ribuan miliknya. Walaupun harga menu pesanan Dokter Niken itu tidak sampai dua ratus ribu rupiah saja! Namun Jenna enggan membayarkannya!


Buat apa? Sudah dipanggil ke sini, dituduh dan juga tak ada niatnya untuk meminta maaf, atas kesalahannya itu. Uang dua ratus ribu itu lebih bermanfaat bila dibagi - bagi kepada beberapa orang yang menjaga parkir kendaraan di jalan , depan kafe ini. Atau bisa juga diberikan kepada pengemis atau pengamen yang rajin keluar- masuk toko dan warung makan yang berada di sepanjang jalan yang semakin ramai menjelang malam hari.


__ADS_2