Jodoh Untuk Jenna

Jodoh Untuk Jenna
Bab 133. Kehidupan Terus Berjalan


__ADS_3

Jenna terus mengotak - atik jadwal kedua dokter yang bekerja di klinik ini. Mereka hanya dapat meluangkan waktu dari jadwal kerja, masing- masing dua dan tiga hari saja di tempat ini. Tampaknya yang satu hari itu, yaitu di hari Sabtu harusnya dapat diisi sendiri oleh sang Tante. Agar dia sekaligus dapat mengawasi jalannya usaha klinik dan salonnya ini.


Sayang juga kalau klinik yang merupakan usaha pertamanya itu, setelah dia mempunyai izin dan sertifikat sebagai dokter ahli kecantikan. Sekarang tidak dipegangnya sendiri dan jadi terbengkalai. Sebab saat merintisnya dulu harus dengan penuh pengorbanan... Kini mengapa juga harus dipegang oleh dokter lain? Apalagi kalau orang itu justru ingin memanfaatkan untuk kepentingannya pribadi . Apalagi Klinik ini sudah besar dengan berbagai fasilitas terbaru dan termodern saat ini.


" Terserah kamu, deh. Jenna!" ucap wanita itu pasrah.


Mau bagaimana lagi, saran Jenna memang benar. Nanti dia akan melonggarkan waktunya di hari Sabtu untuk tidak ngantor dan berada di kliniknya itu, walaupun hanya sebentar. Mungkin kalau Naura libur sekalian biar dibawanya si bungsu untuk ke sana. Daripada dibawa ke kantor malah merecoki pekerjaan sang ayah. Sebab jarangnya mereka punya waktu luang bersama keluarga, membuat Naura akan menuntut seluruh perhatian ayahnya itu.


Jenna terus menghubunginya soal pembagian jadwal kerja itu. Sebenarnya di klinik sudah ada tenaga terapis handal dan sangat berpengalaman. Tinggal para dokter itu saja yang mengarahkan pekerjaan mereka saja. Jadi pelanggan tetap dapat menerima pelayanan terbaik untuk perawatan kulit dan kecantikan mereka secara maksimal. Sebab mereka selalu berusaha memberi yang terbaik untuk para pelanggan di sana.


Pekerjaan yang ada di meja itu, satu persatu sudah diselesaikan Jenna bersama Mbak Lydia. Sejak dokter Niken sudah tidak bekerja di sini, suasana terasa lebih damai. Jenna juga merasa lebih tenang dan nyaman bekerja tanpa ada orang yang memusuhinya lagi.


Sekarang, sering terdengar candaan dan seloroh konyol dari para karyawan salon saat mereka istirahat ataupun mengerjakan permintaan pelanggan. Untungnya mereka masih berbicara dengan mengutamakan keramahan dan kesopanan.


Bagi pelanggan yang sudah akrab, yang sering datang kemarin, mereka terbiasa dengan candaan para pekerja salon. Bahkan dapat akrab ngobrol apa saja. Bahan yang paling menjadi pembicaraan mereka, biasanya gosip artis atau berita viral yang paling sering muncul di media sosial lainnya.


Jenna selalu mengingatkan, agar para pekerja di salon dan klinik tetap berbicara dengan sopan- santun kepada para pelanggan. Sebab rata-rata para pelanggan mereka berasal dari kaum menengah sampai kalangan atas. Mereka umumnya sedikit jaim atau gengsi kalau berakrab dengan orang atau pekerja dengan status sosial dan kedudukan yang tidak sejajar. Alias di bawah mereka. Takut disebut kurang menghargai atau tidak sopan saja!


"Mbak Jen! Sini!" panggil Alya. Wanita muda itu adalah seorang terapis di bagian facial. Dia jarang kumpul bersama mereka, karena masih sedikit canggung. Sebab kedudukannya hanya sebagai karyawan baru.


" Ada apa, Lo! Panggil Mbak Jenna?" tanya Mbah Rahma, sambil menikmati bermacam gorengan yang ada di piring besar itu. Biasanya dibeli oleh Mas Naim di depan mini market sana, atas permintaan Mbak Jenna.


Jenna mendekat setelah dia selesai mencuci tumbler berisi jus mangga yang dibawanya dari rumah. Dia sering mencuci wadah mahal itu, agar tidak ketinggalan di dapur gedung ini. Sebab benda itu yang akan dicari si Ibu, dan harus ada di meja makan setiap pagi. Waktu wanita itu hanya memberi perintah kepada para ART, termasuk pesan langsung kepada Mak Isah untuk membuatkan berbagai jus buah untuk diminum Jenna di tempat kerjanya.

__ADS_1


" Ini ada peristiwa viral, Mbak! Wajah perempuannya itu sepertinya dokter Niken, deh!" ujar Alya cepat karena sedikit kaget dan tak percaya setelah melihat video dari kiriman temannya itu, siang ini.


Semua perempuannya yang ada di ruangan makan itu jadi ikut tertarik. Mereka hampir secara bersamaan bergerak mendekati Alya yang masih memegang hape yang ada di tangannya.


" Mana, Alya?"


"Ah masa? Ini benar dokter Niken, nih ?"


" Deh, ini kepergok istri sah, jalan sama suami orang!"


" Ih, tampang perempuan itu memang mesum sih!"


Berbagai ragam komentar mulai keluar dari mulut para wanita itu. Tiba-tiba saja mereka sekarang bisa menjadi pengamat berita sekaligus hakim yang mudah menjatuhkan hukuman bagi orang yang melakukannya kesalahan lewat posting atau video di media sosial itu. Sering disebut orang ' Netizen yang Budiman. Yang serba tahu dan maha benar'.


Sampai juga hape Alya itu berakhir di tangan Jenna. Setelah beberapa kali hape itu pindah tangan, karena mereka mau melihat lebih jelas lagi tayangan video dokter Niken yang wajahnya kena gampar oleh wanita yang disebut istri sah itu. Tentu para wanita itu menilai kejadian itu dengan jiwa kepo mereka yang tinggi!


" Ini kapan diambilnya, Alya?" tanya Jenna pura-pura tidak tahu tentang permasalahan ini.


" Malam Minggu, Mbak! Lagi rame banget ini ... Sebab teman Mas Ali, berada di kafe itu yang ada di Rawamangun, sewaktu kejadian itu berlangsung!" ujar Alya bersemangat.


Tentu wajar kalau Alya sangat senang melihat korban di video itu adalah dokter Niken. Sebab dialah, terapis di klinik yang paling sering diomelin oleh dokter itu.


Padahal segala yang dilakukan oleh Alya itu sudah sesuai dengan prosedur. Karena gadis itu juga mendapat pelatihan khusus dari seniornya di klinik, saat melakukan facial wajah terhadap para pelanggan mereka. Sehingga dia dianggapnya cukup mahir untuk melakukannya pekerjaan itu tanpa didampingi dan diawasi seniornya.

__ADS_1


Sebenarnya Tante Faradina juga sudah jarang ke klinik ini lagi sejak beliau sering bolak - balik Jakarta - Batam. Di sana orang tuanya tinggal bersama adik bungsunya. Tante Faradina berbisnis dengan Tante Ismaya dalam Salon terbarunya di kota itu. Belum lagi pendirian butik dan spa terbarunya.


Mereka bekerja sama untuk memasarkan berbagai produk kosmetik produk Tante Ismaya yang sangat spesial. Sebab hanya digunakan di salon tertentu. Terutama untuk produk perawatan kecantikan kulit wanita.


Sampai jam kerja pulang, Jenna masih kepikiran soal keributan antara Pak Ludy, Niken dan Tante Faradina. Pasti ada tangan lain yang menggerakkannya, sehingga Istri Om Ludy itu berhasil menemui pasangan itu di kafe itu. Kalau pun akhirnya Tante Faradina berbuat anarkis, semua orang dapat memakluminya. Sebab sakit hatinya wanita itu atas perbuatan suaminya yang mendua dapat dipahami semua orang.


Pernikahan Tante Faradina dengan suaminya itu sudah berjalan lebih dari dua puluh tahun. Mereka sudah dikaruniai sepasang putri kembar yang mulai tumbuh dewasa... Karena keduanya putrinya itu melanjutkan pendidikannya sejak tahun lalu di Negara Australia. Sayangnya Jenna tidak akrab dengan mereka, yang dulu sering hadir di pesta keluarga Tante Ismaya.


Si kembar, itu agak berbeda dari remaja Jakarta pada umumnya. Selain bersekolah di sekolah Internasional school. Pergaulan mereka adalah anak-anak yang berasal kaum borjuis. Sebab sang kakek dari pihak ibunya adalah seorang konglomerat terkenal di bidang pertambangan batu bara.


Jadi pembicaraan mereka semuanya hanya tentang materi semata. Seperti berburu barang limited editions dari gerai di mal besar Jakarta. Seperti mendapatkan tas, sepatu dan aksesoris tertentu . Mengadakan liburan ke luar negeri. Juga mencari hiburan dan mengejar tiket konser dari beberapa group musik K-Pop di beberapa negara di Asia.


Sampai kedua gadis remaja itu juga mengadaptasi gaya berpakaiannya. Mereka juga berdandan dengan meniru salah satu idol wanita dari sebuah grup yang berasal dari Negeri Ginseng itu


" Bang Tedi!" bisik Jenna dalam hati. Sebab Jenna merasakan, kalau Bang Miko pasti bertemu juga dengan pasangan beda usia di kafe tersebut. Apalagi Jenna masih merasa kesal dengan ancaman dokter Niken itu! Siapa juga yang mengamati kehidupan wanita nggak jelas seperti dia? Memangnya pekerjaan dia sangat tidak penting, Di mata wanita itu. Sampai mempunyai banyak waktu luang untuk menguntitnya!


Hanya saja, cara wanita itu bergaul dengan kaum lelaki, lebih mi menyerupai seperti wanita panggilan! Tentu akan memberi dampak buruk bagi nama baik klinik. Juga akan berpengaruh kepada para pekerja wanitanya juga! Seakan mereka sama dengan Niken Sabrina Mahmud itu.


Sebenarnya mau menjadi apapun juga, Itulah pilihan yang diambil oleh dokter Niken.Jangah sampai resiko terburuknya berimbas kepada orang lain, orang yang sama sekali tidak tahu dengan perbuatannya di luar jam kerjanya itu!


Kalau menjadi seorang dokter tidak bisa memenuhi kebutuhan hidupnya, yang lebih mengutamakan gaya hidup masa kini yang bersifat hedonisme! Ya, jangan menjadikan profesi mulia itu sebagai selubung dirinya. Juga untuk menutupi dirinya yang sudah terbiasa melakukan perbuatan yang melanggar ajaran dan kaidah agama .Juga merusak nilai moral dan susila di tengah masyarakat.


" Ada apa, Jenna?" tanya sang kakak. Ketika Jenna menghubunginya saat dia akan meninggalkan gedung itu.

__ADS_1


" Sudahlah, Jenna! Ngapain ngurusin Si Niken itu. Biar dia menikmati karma akibat berani menggoda suami orang!" ujar kakaknya itu kalem. Ketika Jenna membicarakan video viral di kafe itu.Di sana Tante Faradina ngamuk dan menghajar pasangan selingkuh itu. Termasuk merusak kaca mobil mahal milik suaminya itu.


Hape segera dimatikan oleh lelaki itu. Tandanya si Abang tersayang sudah tidak mau membicarakan soal Niken lagi. Alias tutup buku! Jenna menghela nafas. Hati nuraninya berkata lain!


__ADS_2