Jodoh Untuk Jenna

Jodoh Untuk Jenna
Bab 54. Pertemuan yang Kesekian


__ADS_3

Pak Bejo yang membawa BMW putih milik dokter Arunika pada undangan acara makan malam itu. Sengaja wanita itu mengatur menggunakan supir pribadi, agar Jenna tetap tampil rapi dan mempesona.


Kini anak gadisnya itu mengenakan gaun coklat panjang sampai sebetis, dengan dandanan natural. Mana mau Jenna ke salon untuk menata rambut dan wajahnya....Padahal hampir setiap hari Jenna bekerja di salon!


Mobil itu telah memasuki rumah kawasan permukiman elite di daerah Kebun Jeruk. Kedatangan mereka rupanya sudah sangat ditunggu oleh si tuan rumah yang mempunyai acara makan malam itu dengan amat sangat.


Lihatlah! Ibu Angelina Samidi langsung menyambut kedatangan kedua tamunya. Begitu mereka masuk ke dalam ruang tamu yang super megah itu, langsung diantar ke ruang tamu.


Ruangan itu nampak seperti loby di hotel bintang lima. Selain super megah, di sana terdapat lampu hiasan gantung yang sangat indah.


Mereka ngobrol sebentar di ruang keluarga yang tak kalah menakjubkan isi ruangan itu dengan berbagai barang mewah.


Seperangkat sofa berwarna soft, tampan nyaman dan empuk untuk diduduki. Di bawahnya terhampar karpet bulu binatang lembut. Belum lagi segala hiasan kristal di meja rendah, sampai patung- patung perunggu di pojok ruangan.


" Jenna, kamu kalem sekali sayang?"


" Masa Tante Angel? Tanya Mama, tuh... Jenna itu orangnya senang beraktivitas di luar rumah..."


" Kami punya lapangan basket di belakang, juga kolam renang. Sayangnya, para cucu masih di rumah orangtuanya masing- masing. Kecuali kalau liburan sekolah agak lama, barulah rumah ini penuhi dengan anak, menantu dan cucu-cucu!"


" Kasihan Mama saya, dong. Tante! Punya satu cucu saja tinggal jauh di kota Medan. Memang itu maunya Mama saya! Padahal... biar nggak ada anak kecil yang akan memanggilnya 'Oma' . Takut dibilang cepat tua! " Ujar Jenna menggoda si Mama.


Tawa Tante Angela langsung terkikik geli. . Dia kegelian mendengar ucapan Jenna itu yang seperti mengandung kebenaran. Padahal menjadi tua itu adalah proses alami.. Tetapi para kaum wanita mendengar kata 'tua' itu seperti momok yang menakutkan kehidupan mereka.


Dari pintu samping ada seorang pelayan yang berpakaian putih dan apron hitam menghampiri mereka. Jenna menatapnya tak percaya. Ini mirip adegan di suatu film drama Asia dengan puluhan maid, atau ART wanita yang siap melayani semua keperluan sang majikannya.


Ternyata, ART itu mempersilakan mereka untuk ke ruang makan, karena jamuan telah disajikan. Belum sampai mereka duduk di kursi ruang makan elegan itu. Ada suara berat, dengan sosok kedatangan Pandu yang sedang menuruni tangga indah dari batu marmer dari lantai dua di sisi ruang makan.

__ADS_1


" Selamat sore semuanya. Selamat datang dokter Arunika, selamat datang di rumah kami!"


Mata lelaki arogan itu bertatapan dengan wajah Jenna yang menjadi sangat datar. Sekelebat rasa bersalah muncul di hati pria itu.


Sekarang pria itu berhadapan dengan Jenna. " Saya mohon maaf! Kalau pada pertemuan kita sebelumnya, telah salah menilai kamu , Jenna!"


Pria itu berbicara sambil menunduk wajah dan meletakkan tangan kanannya menyilang ke dadanya. Jenna hanya mengangguk. Sok bersikap seorang kesatria! Padahal bangsa kita punya cara meminta maaf yang lebih mudah. Yaitu hanya dengan bersalaman saja. Bereskan?


Begitulah, kalau seseorang merasa dirinya sangat berkelas. Lebih mengutamakan mengadopsi gaya orang barat dalam bersikap dan bertingkah laku. Mungkin Pandu baru mengenal dan mempelajari budaya itu tak lebih hanya dua atau tiga tahun lamanya. Sebab dari sejak lahir, sampai dia tumbuh menjadi dewasa tinggal di Indonesia! Sepertinya dia terlalu menilai dirinya amat tinggi.


Justru kebalikannya! Jenna sejak remaja sangat menyukai berbagai kesenian, budaya dan kearifan lokal budaya bangsa Indonesia yang sangat agung dan tinggi nilainya.


Apalagi Wak Guru yang menempanya dalam berlatih ilmu bela diri asli Indonesia. Jenna sampai mempelajarinya secara khusus ilmu pencak silat itu di sebuah padepokan di daerah Sumatera. Di sana berkembang sebuah aliran silat yang sudah sangat langka. Juga sepi peminatnya karena sangat jarang ditampilkan ke publik secara luas.


Selama bertahun - tahun, Jenna menyerap arti dari setiap gerakan dan langkah dari irama pencak silat itu. Hal itu banyak memberinya manfaat. Dia jadi jarang sakit, mudah mengontrol emosi dan sangat waspada terhadap gerakan orang- orang yang ada di sekelilingnya.


Si Opa Damash yang tidak tenang ketika Jenna mendapatkan senjata pisau untuk tingkat mahir. Setelah cukup lama berlatih dalam mempelajari jurus silat itu. Sebuah pisau kecil yang kini disimpan oleh Opa Damash di ruang kerjanya. Senjata itu diwariskan pada Jenna beberapa waktu setelah Wak Guru meninggal dunia.


Pendapat Opa, lebih baik Jenna diberi alat pertahanan diri dasar saja, daripada membawa senjata tajam yang berakibat fatal. Terkadang bagi pemilik ilmu beladiri mereka akan menjadi tersangka bila dihadang copet atau perampok. Justru yang terluka si penghadang itu. Malah yang membela diri yang akan menjadi tersangka. Aneh kan?


Makan malam berlangsung sangat formal. Mereka hanya berempat saja di meja makan yang besar dan panjang itu. Jenna adalah pemakan segalanya. Tetapi dia hanya mengambil sedikit - sedikit tiap menu yang terhidang di piring saji.


" Ini masakan favorit di keluarga kami. Jenna tidak alergi udang, kan?" tanya Ibu Angelina manis.


" Nggak sih, Tante... Jenna alerginya sama cowok yang arogan, egois dan suka menilai perempuan lain dengan kacamatanya yang salah!" ucap Jenna memprovokasi.


Mata Pandu melotot tajam. Jenna tersenyum masam. Maaf Bambang! Apa iya, orang yang sakit hati, hanya dengan ucapan sekali maaf saja, sakit hati itu akan lenyap seketika. Ini wanita, Bung! Yang punya perasaan sehalus sutera.

__ADS_1


Sayang saja Jenna belum ada kesempatan untuk menghajar lelaki angkuh itu. Kalau perlu di akan menghantam wajah tampan yang penuh kesombongan dari pria itu!


" Jenna suka, ya. Bekerja di Salon Ismaya itu?"


" Suka banget, Tante! Apalagi harus mengatur orang - orang yang bekerja. Harus begini atau begitu!" kata Jenna tersenyum puas.


Dokter Arunika tertawa geli. " Sejak kecil Jenna akan mengajak semua kakak dan sepupu lelakinya untuk bermain rumah- rumahan, boneka atau masak- masakan. Sampai mereka bosan. Jadi anak saya yang laki-laki lebih suka main keluar rumah dengan sepedanya!"


" Begitulah, Jeng! " balas Ibu Angelina. " Harusnya Pandu juga masih kuliah di Singapura, tetapi terpaksa kembali ke tanah air, karena ayahnya jatuh sakit!"


" Pandu sudah menyelesaikan S2 nya di sana?" tanya Jenna iseng. Sebab Jenna pernah mendengar kalau pria itu mengambil sebuah jurusan tentang broadcast di negara yang punya icon patung Merlion atau singa itu.


"Belum selesai... .Karena perusahaan harus tetap berjalan. Sedangkan si papinya lebih suka memberi mandat itu kepada anaknya sendiri daripada kepada menantu!"


" Kami kalau bekerja di perusahaan milik Papa atau Om Jhon, harus dari jabatan rendah dulu! Agar banyak belajar. Termasuk kedua kakak laki-laki saya. Kalau Jenna sih maunya punya usaha sendiri, seperti Bang Tedi!"


" Kami dengar itu, kok. " kata Ibu Angel menimpali." Tampaknya Pak Feri Darmawan telah menghasilkan banyak pengusaha muda tangguh yang berasal dari kalangan keluarganya sendiri!"


Mata Pandu menatap ibunya seakan tak percaya. Selama ini keluarga mereka hidup dengan aturan yang ketat berkat pengalaman sang Kepala Keluarga ... Sangat jarang ada keluarga lain yang dapat akrab dengan mereka. Ini Ibunya tampak sangat menghargai segala tingkah laku dan ucapan dua wanita di hadapannya itu.


Seorang Ibu yang cantik dengan karier cemerlang sebagai dokter anak ... Juga seorang gadis muda yang dapat memukul harga dirinya secara telak!


Hampir dua jam mereka duduk bercengkrama di ruang keluarga. Padahal si Ibu hanya mengeluhkan keadaan suaminya itu yang sudah tidak dapat beraktivitas lebih banyak lagi, karena sakitnya. Sedangkan Dokter Arunika dengan sangat terbuka memberi nasehat secara profesional untuk memberi bantuan kepada Pak Samidi Senior itu.


"'Bisakah Jeng. Papinya anak- anak mendapat perawatan langsung dari Dokter Bagas Samudera?"


" Bisa, Bu Angel. Jangan putus asa! Pengobatan medis di dalam negeri juga sudah baik, kok! Nanti saya konfirmasi ulang pada dokternya. Asal tekun dan rajin terapi, untuk penyembuhan Pak Samidi pasti akan berhasil!"

__ADS_1


Mereka mengantar tamu itu sampai ke halaman luar. Pak Bejo segera membuka pintu belakang mobil BMW itu.. Agar Dokter Arunika masuk disusul Jenna. Kendaraan asal pabrikan Jerman itu segera meninggalkan halaman depan rumah keluarga Samidi. Hari menjelang pukul 21.00.


__ADS_2