
Perjalanan pagi menuju kota Malang, hanya dihabiskan Jenna dengan tertidur di jok mobil belakang. Untung mobil itu melalui jalan tol, jadi dia bisa tidur lelap tanpa gol guncangan jalan yang tak berarti.
Kedua kakinya terasa kebas dan pegal karena berdiri dengan berbagai pose saat pemotretan kemarin. Belum lagi harus berganti beberapa gaun yang cara pemakaiannya agak merepotkan sehingga dia memerlukan bantuan beberapa pegawai Mbak Rosalin.
Padahal yang dipikir Jenna, saat dia menerima tawaran untuk menjadi model produk kosmetika itu adalah, dia diambil fotonya tersebut dengan duduk manis seperti membuat pasfoto untuk KTP.
Kembali dia membayangkan perjuangan Karolina, sepupunya itu dulu saat baru menapaki dunia permodelan itu dalam usia yang masih muda. Karolina harus mengikuti kursus modeling pada sebuah sekolah model milik mantan peragawati terkenal. Terkadang dia juga harus membawa tugas, pr dan buku- buku pelajarannya ke tempat latihan setelah dia pulang sekolah. Karena dia masih kelas 10 dan baru berusia 16 tahun.
Apalagi Karolina bersekolah di sebuah SMA swasta bonafid di Jakarta. Sekolah yang cukup disiplin dengan peraturan dan tata tertib untuk para siswanya. Jadi dia harus bertanggung jawab dengan segala resiko yang telah diambil dalam hidupnya itu.
Nama Karolina pun semakin di kenal namanya setelah dua tahun berkecimpung dalam dunia tersebut.
Sepupunya itu jadi semakin kurang istirahat, pulang malam dan harus sekolah di pagi hari. Bahkan dia pernah tetap menjalani suatu sesi peragaan busana dari perancang terkenal Indonesia di Minggu malam. Padahal hari Seninnya, dia harus masuk sekolah untuk menghadapi UN alias Ujian Nasional. Karena saat Itu Karolina masih kelas 12 SMA.
Opa pun tetap mengharuskan Karolina kuliah setelah lulus SMA. Walaupun pada saat itu Karolina sudah punya penghasilan sendiri, yang cukup besar tanpa subsidi dari kedua orang tuanya.
Opa Damash kurang yakin kalau Karolina dapat terus berkarier di dunia model. Sebuah dunia yang menuntut seseorang harus menampilkan wajah menawan dan tubuh dengan ukuran standar sempurna.
Dibantu Jenna, Karolina memilih sebuah kampus dan jurusan yang tidak terlalu ketat menuntut mahasiswanya hadir di ruang kuliah.
Mereka berdua juga tinggal di sebuah apartemen, yang jaraknya tidak jauh dari sekolah Jenna. Karolina nekad memilih kuliah di akademi bahasa asing dan dia memilih jurusan Bahasa Perancis. Tentu dengan harapan dia dapat melenggang di pentas catwalk di Paris, jantungnya mode dunia.
Bahu Jenna terasa diguncang dengan kekuatan penuh. Setara dengan guncangan gempa bumi sebesar 6 skala Righter. Juga disertai suara keras Tante Ismaya yang cukup mengejutkannya. Sampai dia terhempas di dunia nyata.
"Jenna, bangun!"
" Iya, iya, Tante! Apa sudah sampai di Malang, Tante?" Tanya Jenna bingung.
Rasanya dia baru saja memejamkan mata tak sampai sepuluh menit saja. Kini mobil Inova yang mereka tumpangi itu sudah berada di sebuah lahan parkir hotel modern berbintang tiga. Tak terlalu menguras kantong harganya, tetapi dengan fasilitas dan sarana yang cukup memuaskan.
"Huh, sudah sampai dari tadi, Ratu tidur! " Ujar Tante Ismaya kesal.
"Seharusnya tadi Pak Radi dan Bang Agus menggotong kamu keluar dari mobil ini sampai loby, ya?" "
__ADS_1
Terseok-seok Jenna bangun. Tak peduli dengan rambutnya yang acak adul dan muka bantalnya.
Jenna mengikuti si Tante yang masuk ke dalam lobi hotel dengan sapuan warna abu-abu dan putih. Hotel ini berkesan minimalis dan modern. Wanita itu menerima kunci kamar yang mereka pesan sebanyak tiga kamar.
" Kamu Tante pesankan kamar sendiri! Ingat jam 12.00 sudah siap . Kita makan dan sholat dulu. Kalau belum bangun juga, aku suruh seorang pangeran membangun kamu, Ratu tukang tidur!"
"Pangeran dari Kerajaan Majapahit, Tante?"
" Iya pangerannya itu Bang Agus." Ujar Tante Ismaya tersenyum mengejek.
" Huh, Bang Agus itu mah pangeran kodok. Rugi bandar aku!" Balas Jenna manyun.
Kamar mereka ternyata letaknya bersisian di lantai tujuh ." Jenna pasang alarm di hapemu. Jam dua belas siang sudah rapi dan tunggu di loby ini. . Nggak siap, gaji bulan ini dipotong 50 persen. Oke?"
" Ih. ini nggak oke , Tante. .."
" Ya sudah, komisi pengambilan foto kemarin masuk rekening Tante, ya."
" Om Jhon parah, ini ! Punya istri masih berlatar belakang penjajahan. Ini kerja rodi atau romusha ?"
Tepat pukul 14.00, Jenna sudah berdandan cantik dan tampil maksimal di ruang lobi utama. Satu jam sebelumnya, Tante Ismaya mengajak mereka makan siang di restoran hotel yang ada di lantai lima. Sampai Jenna tersentak, ketika jendela kaca restoran yang di sebelah barat itu memperlihatkan beberapa gedung bertingkat dengan sebuah pintu gerbang ala- ala bangunan relief candi. Kampus Brawijaya Malang.
Letak kamus agak jauh, karena di hotel itu ada sebuah sungai besar yang membatasinya. Letak sungai itu juga agak dalam dan dipenuhi semak-semak dan tumbuhan liar.
Samar, kemarin Mbak Rosalin pernah membicarakan tentang adiknya yang kuliah di kampus ini. Entah Miko atau adik yang lainnya ! Sebab Jenna sudah melupakan beberapa wajah cucu- cucu Eyang Sugandhi Wikrama. Bocah- bocah yang berumur dari seusianya kira-kira 10 tahun sampai usia dua puluhan, seperti Mbak Rosalin. Cucu tertuanya.
Bang Agus ternyata menyambangi sebuah ruko berlantai dua yang letaknya ada di pinggir kota Malang. Ruko itu bersebelahan dengan beberapa gerai makanan kekinian, seperti minuman Boba, aneka sosis bakar dan dimsum. Juga di ujung, ada sebuah toko lain yang menjual pakaian wanita muda dengan style ala korea.
"Bu Ismaya!" Jerit suara perempuan yang turun dari lantai dua.
Padahal tadi saat mereka masuk ruko yang memasang berbagai displai produk kosmetik dan beberapa skin care terbaru, Jenna serasa sangat akrab dari cara penataan barang-barangnya.
Barulah sekarang dia mengenali wanita yang sebenarnya sepantaran umurnya dengan Tantenya. Mbak Suwartini kah?
Tubuh wanita menyusut beberapa kilo , sedangkan potongan rambutnya tampak muda dan segar dipotong sebahu dengan warna agak kecoklatan . Wajahnya lembut dan ayu dengan sapuan make up tipis dan natural.
__ADS_1
"Ibu , terima kasih mau jauh-jauh menengok saya! Ini Mbak Jenna, ya?"
"Iya, saya Jenna. Dulu Mbak yang ada di klinik Tante Ismaya , ya?"
"Iya, itu saya. Mbak Jenna!" suaranya sedikit parau menahan haru.
Wanita memeluk Jenna juga Tante Ismaya bergantian. Dengan sopan segera membawa kedua tamunya ke ruang kerjanya di lantai atas.
Tampak di pojok ruangan itu ada boks bayi. Namun isinya kosong. Barulah Jenna menyadari kalau pada rak di sudut sana ada tumpukan kardus susu bayi, popok dan tumpukan baju-baju ukuran kecil.
Mereka segera disuguhi minuman teh manis hangat. Rasa teh itu begitu segar, sehingga Jenna menuang teh itu kembali ke gelasnya. Mereka menyiapkan dalam wadah teko plastik ukuran 1 liter.
Ternyata Tante Ismaya dan Mbak Suwartini sedang membahas laporan penjualan produk kosmetik yang mereka jual. Tak lama halaman ruko dipenuhi oleh kedatangan serombongan remaja putri menggunakan motor. Mereka segara masuk ke dalam toko. Di dalam toko tadi ada dua gadis muda yang wajahnya mirip dengan si pemilik usaha ini.
Hampir dua jam lebih mereka berdiskusi . Tadi Jenna sempat mendengar, kalau penjualan kosmetik keluaran dari produk Tante Ismaya mulai digemari para remaja putri di kota ini. Tante Ismaya telah mengemas beberapa produk kosmetik itu dengan warna-warna muda yang menarik.
Tak Lama terdengar suara salam. Dari tangga terlihatlah seorang ibu tua yang sedang mengendong bayi berusia 11 bulan.Tante Ismaya menyalami wanita itu yang ternyata itu adalah nenek si bayi.
Jenna memang tidak terlalu mengenal para para pegawai yang bekerja di klinik perawatan kecantikan yang didirikan Tante Ismaya dan Om Jhon pertama kalinya. Tetapi sangat mengenal Mbak Suwartini,. karena dialah pegawai lama di klinik tersebut.
Bahkan klinik itu semakin berkembang, setelah dikelola oleh Mbak Suwartini.
Gedung klinik itu berhasil dibeli oleh Om Jhon. Terus direnovasi menjadi bangunan tiga lantai. Di Lantai pertama, dijadikan loby untuk para tamu sekaligus salon kecantikan dan potong rambut.
Di depan klinik itu ada kedai makanan dan minuman yang masih dimiliki oleh Tante Ismaya.
Konsep klinik kecantikan yang ada di daerah Bangka, Jakarta Selatan itulah yang digunakan Tante Ismaya membuka beberapa cabang klinik yang lain.
.
Awalnya, Tante Ismaya dan Om Jhon menggunakan berbagai produk kecantikan yang diproduksi oleh temannya atau import dari dari luar negeri seperti dari Thailand dan Jepang. Namun banyak pelanggan di klinik itu lebih cocok dengan krem racikan Tante Ismaya. Sehingga oleh Om Jhon, krim itu diproduksi lebih banyak dengan meminta bantuan Pak Feri ayah Jenna untuk membuat pabriknya dengan peralatan yang modern.
Mereka mulai mendirikan pabrik yang tidak terlalu besar di daerah Sawangan. Karena hanya untuk kalangan terbatas. Namun pabrik itu semakin besar produksinya dan dipindahkan ke Bogor.
Mbak Suwartini inilah yang menjadi asisten kepercayaannya Tante Ismaya. Bahkan dia juga mengenal beberapa kerabat dari bosnya itu dari dokter Arunika dengan putrinya Jenna, sampai Ibu Amanda dengan Karolina si putrinya yang datang kenal di kalangan mode.
__ADS_1
Sampai wanita itu mengundurkan diri ketika ibunya yang tinggal di Malang sakit dan harus menjalani operasi di rahimnya. Karena hubungan yang baik itulah, Tante Ismaya memberi Mbak Suwartini kepercayaan itu memasarkan produknya di kota ini.