Jodoh Untuk Jenna

Jodoh Untuk Jenna
Bab 76. Jangan Berkilah


__ADS_3

Pagi hari Jenna muncul di ruang makan. Dia tertarik melihat tumpukan coklat dan permen lucu yang berada dalam wadah keranjang rotan. Biasanya tempat itu diisi buah seperti rambutan atau duku, yang tidak bisa terlalu lama disimpan di kulkas.


" Coklat dari siapa, Mak? " tanya Jenna. Pada pengasuhnya itu. Yang sekarang hanya ditugaskan oleh Dokter Arunika untuk memasak saja di dapur. Sebab semua anggota keluarga Darmawan sudah cocok dengan masakan wanita itu.


" Kurang tahu, Neng! Mungkin oleh - oleh dari temannya Ibu Dokter , kali?"


Ragu-ragu, Jenna mengambil beberapa buah bungkusan coklat dan permen. Jenna masih berada di meja makan itu untuk menunggu Mak Isah menyiapkan sarapannya, nasi goreng dengan telur mata sapi.


" Bilang Mama, ya. Mak. Jenna ambil permen dan cokelat ini!"


Datanglah si sepupunya yang cantik itu, dari halaman samping rumah. Selain Karolina kembali menjaga pola makan dan tidurnya. Setidaknya setiap pagi dia berolahraga ringan sedikit di halaman belakang.


Tampak wajah Karolina menatap Jenna dengan pandangan sinis. Ketika mereka bertemu di meja makan. Jenna masa bodo dengan sikap Karolina yang membingungkannya itu ... Biasanya, dengan wajah seperti itu, sepupunya pasti menerima kabar buruk dari team kreatif setelah mereka menyelesaikan editing gambar dan suara. Biasanya ada l kendala dari hasil pengambilan video kemarin. Paling apes, mereka akan merekam kembali bila ada bagian penting yang gagal diperbaiki seperti mutu gambar dan volume suara yang kurang jernih.


" Sana , sarapan... Mukamu jelek Karo kalau kamu bete, begitu! Nanti cepat tua, Nek!" Ledek Jenna.


" Hmm, sama oleh - olehnya aja mau! Kalau sama orangnya nolak! !" Omel Karolina sambil memanyunkan bibirnya.


" Kamu ngomong apa, sih. Karo?"


" Dasar nggak peka!" balas Karolina lagi tambah kesal. Dia sekarang malah menaikkan kedua tangannya di pinggang.


Jenna jadi tertawa geli melihat gaya Mamanya Efron itu selayaknya ABG tingkat labil... Marah-marah nggak jelas...Nggak ingat umurnya, yang menjelang akhir dua puluhan, di tahun ini.


" Jenna itu oleh-oleh dari Pandu!"


" Terus masalah buat, Elo? Ya, Alhamdulilah! Rezeki anak Sholeh... Jadi di jalan, aku pada cemilan!"


Jenna meletakkan piring bekas makannya di wastafel beserta gelas susunya. Tak lupa dia mengambil tumbler berisi air es untuk bekal minumnya nanti.


" Kamu nanti ada di salon mana?" tanya Karolina, akhirnya menyerah juga menghadapi sikap tidak peduli Jenna terhadap Pandu.

__ADS_1


" Di Kebayoran Baru! Mau nyusul ke sana?"


" Iya, aku mau potong rambut sama sedikit di highlight, biar terlihat lebih mudaan sedikit. Ada penyegaran!"


" Nanti , biar Mas Jos yang melayani permintaanmu! Jangan telat dari jam satu, ya?"


" Iya, Bu! " Jawab Karolina patuh.


Suara langkah Jenna terdengar ketika dia meninggalkan rumah ini. Dia akan pamit kepada para ART yang ditemuinya satu- persatu dari ruang makan sampai ke garasi depan rumah. Gadis itu tampak riang dan bersemangat untuk berangkat bekerja.


Hati-hati, Karolina menghubungi nomor tertentu yang ada di hapenya.... Sebuah nama tertera di layar alat komunikasi itu...Tak beberapa lama, ada suara macho terdengar, menjawab panggilannya itu!


" Iya, Halo!"


" Jenna di cabang Kebayoran Baru... Gua mau ke sana sebelum jam satu..!" Lalu ada suara kurang jelas menjawab semua uraian Karolina.


"'Terserah, deh! Pokoknya ini terakhir bantuan dari gua, ya. Oke!"


Jadi sikap dan perilaku dari sang kakek, ayah, paman, kakak dan para sepupunya adalah contoh yang diambil Jenna sebagai pria idaman yang cukup pantas mendampingi hidupnya kelak.


Sang kakek, Adrian Saputra Damash adalah idola dalam kehidupan Jenna, selain sang ayah... Pria itu sangat berkarisma, karena lama berkarier dalam dinas ketentaraan.. Jadi Opa Damash adalah pria tegas, percaya diri dan hangat dengan keluarganya.


Di keluarga mereka, Karolina dan Jenna selalu dilindungi dan dijaga, oleh kaum Adam dari dinasti Damash dan Darmawan. Justru karena dalam asuhan sang kakek itulah karakter Jenna menjadi lebih kuat lagi.


Kini, dengan mudahnya Jenna bisa menghindari para pria yang menurutnya kurang gentleman, bersikap arogan dan meremehkan keberadaan kaum perempuan.. Seperti Pandu Samidi itu, contohnya!


Benar saja, Jenna langsung mendapat telepon dari Tante Ismaya , yang sedang mengadakan acara di sebuah gedung pertemuan di daerah Kuningan... Tepatnya, sebuah gedung bagus yang dimiliki oleh sebuah kedubes dari sebuah negara di Benua Eropa, bagian Barat.


" Ayo , Jenna ! Di sini ada Mbak Rosalin... Dia kangen kamu, lho! Dia nggak bisa lama di Jakarta. Sebab malam ini mau harus balik kembali ke Surabaya!"


" Ih, Tante... Nggak bilang dari kemarin!"

__ADS_1


" Sorry, Rosalind baru menyetujui dua hari yang lalu, jadi semua serba dadakan!"


Jenna hanya menitipkan pesan pada Mas Jos yang dimintai tolong untuk memenuhi permintaan Karolina. Sepupunya ingin memotong dan memberi sedikit rambutnya agar ada perubahan sedikit. Biar lebih fresh, katanya.


" Mbak Jenna, mau pergi?" Sapa Mas Jos. Ketika pria gemulai melihat gadis muda itu merapikan barang- barang pribadinya yang bertebaran di atas meja kerjanya.


" Biasa ... Bu Bos, kalau sudah menelpon, anak buah bisa apa?" jawab Jenna diplomatis.


Jenna segera berjalan keluar dari gedung salon...Dia membawa segala peralatannya. Termasuk satu kantong kecil coklat dan permen yang diambilnya dari atas meja makan.


Kehadiran Jenna memang sudah ditunggu oleh kedua wanita cantik itu yang sedang temu kangen di belakang ruangan aula, gedung tempat acara seminar dan pelatihan itu berlangsung. Acara itu sangat terbatas, para peserta sedang menjalani sesi latihan dan praktek dari para tutor lainnya.


" Tante Ismaya, Mbak Rosalin?" Panggil Jenna pelan sambil menghampiri mereka. Mereka tersenyum melihat kedatangan Jenna. Sebab penampilan Jenna tetap santai dan berpakaian sporty tanpa melanggar batas kesopanan seorang wanita.


" Sini!" Panggil Wanita yang minta dipanggil dengan sebutan Mbak Rosalin... Sebab wanita yang baru genap berusia 32 tahun itu adalah pebisnis wanita muda yang cukup mumpuni dan sangat sukses di kota Surabaya. Terutama setelah dia mengusahakan membuka berbagai salon dan kecantikan. Bahkan memperkejakan beberapa dokter ahli bedah kecantikan di sebuah klinik terbaik dan tercanggih di kelasnya itu.


" Kami nggak sempat, menghubungi Kamu, Jenna... Tantemu memberi jadwal seminar dan pelatihan yang padat banget sejak kemarin... Jadi baru sempet sekarang... Ayo kita ke restoran dekat hotel tempat aku menginap saja!"


Mereka bergegas keluar gedung... Dari ruangan aula masih terdengar suara ramai para peserta pelatihan bisnis yang sedang rehat Istirahat sore. Pada umumnya, pesertanya adalah para wanita yang mulai tertarik menekuni bisnis di sektor kecantikan, yang menjanjikan banyak keuntungan.


Jenna masuk ke bangku pengemudi mobil sedan milik Tante Ismaya itu yang tadi dibawah oleh Pak Radi....Kata Si Tante di dalam aula ada Bu Rully , dan beberapa staf khusus dari kantor yang ada di Kelapa Gading, yang dilibatkan dalam kegiatan tersebut.


Jenna cukup hapal seluk beluk wilayah Jakarta Pusat dan Selatan ini, jadi si Tante mempercayakan mobil kesayangan dibawa oleh-nya. Mereka menuju arah ke Selatan jalan Rasuna Said yang sering disebut orang Kuningan, sampai di bawah persimpangan dibawah tol dalam kota. Jenna membelokkan mobilnya ke arah Barat menuju arah hotel Hotel Kartika Candra


Di hotel Mbak Rosalin ditempatkan oleh Ketua penyelenggara acara. Dulu dia dan keluarganya sering menginap di hotel itu bila mereka berkunjung ke Jakarta. Sebagai tempat yang penuh kenangan, saat keluarga masih berkumpul dan hidup akur.


Di dekat hotel tempat Mbak Rosalin menginap ada sebuah restoran yang tidak jauh jaraknya. Mereka menempuhnya dengan berjalan kaki, setelah memarkir sedan mahal itu dengan tetap di halaman hotel itu.


Di Jalan Gatot Subroto itu selain merupakan jalan terlebar di Jakarta, juga terdapat jalan tol dalam kota yang terhubung ke beberapa kota di Timur dan Barat Jakarta. Selain itu di kedua sisi jalan raya itu terdapat barisan gedung-gedung tinggi menjulang yang menjadi kantor dari berbagai perusahaan milik pemerintah maupun swasta. Belum lagi mall besar di dekat Jembatan Semanggi, gedung pertemuan, hotel , kampus dan beberapa area tempat bisnis andalan.


Mereka memasuki sebuah restoran cepat saji ala Jepang dengan gambar lucu pada logonya. Mereka langsung mengambil baki coklat dan berbaris di sepanjang etalase berisi pilihan menu makanan yang terdiri dari beberapa jenis paket..

__ADS_1


Jenna menyukai beef teriyaki yang dagingnya diiris tipis, dengan bumbu simpel dari potongan bawang bombay dan potongan paprika dengan saus teriyaki yang khas. Sebab menu makanan lainnya pun masih cukup bisa diterima lidahnya yang sudah menjadi lidah baku orang Indonesia. Ada nasi berarti kita bisa makan.


__ADS_2