Jodoh Untuk Jenna

Jodoh Untuk Jenna
Bab 109. Rencana Kerja Tedi Darmawan


__ADS_3

Perjalanan ke arah Puncak semakin padat merayap, setelah melewati pertigaan lampu merah, dekat Gadog. Sesekali Tedi menggigit gemblong yang ada di ujung pembungkus plastiknya. Justru Jenna menikmati suapan demi suapan dari rujak bebek yang dibelinya tadi berbarengan dengan dua bungkus gemblong.


" Jenna, jangan makan itu!" omel Si Abang. Nggak tanggung - tanggung, Jenna membeli lima wadah rujak bebek dengan level sangat pedas, pada pedagang yang tadi menawarkannya.


Pria itu menggeleng - gelengkan kepalanya. Ngeri melihat bentukan nama makanan yang disebut rujak yang ditumbuk itu.Tidak ada potongan buah segar dari nanas, mangga muda, kedondong ataupun bengkuang yang terdapat di wadah plastik yang biasanya untuk puding atau agar-agar itu.


Buah-buahan itu sudah ditumbuk halus, menyatu dengan campuran bumbu berupa gula merah, garam dan sedikit terasi. Bentukannya pun mirip bubur bayi yang dulu menjadi makanan Efron saat berusia 6 bulan lebih.


Begitulah ciri khas pedagang asongan, yang berjualan di daerah sekitar wilayah Puncak ini. Demi memberi nafkah pada keluarganya, mereka akan memanfaatkan segala peluang yang ada. Termasuk berjualan saat banyak kendaraan terjebak kemacetan yang agak parah. Kendaraan berbaris- baris di jalur menuju Puncak.. Kendaraan itu sebagian besar berplat B, alias dari luar kota Jakarta dan sekitarnya. Bukan kendaraan asal Bogor, kecuali angkutan umum dan bus.


Seperti sekarang ini, pedagang asongan itu menjajakan barang dagangannya dari satu jendela mobil ke jendela mobil lainnya yang sedang terjebak kemacetan yang cukup parah.


"Kue gemblong inikan yang sering dibuat Mak Isah dulu, kalau di rumah kita ada arisan keluarga ya, Dek!"


" Iya". Jawab Jenna yang mulai sibuk membuka tumbler air minumnya. Ternyata dia kepedasan. Lihatlah wajah bersihnya bukan hanya terlihat kemerahan. Tetapi keringat menetes di dahi dan hidungnya.


Siapa yang menyuruh dia makan rujak sepagi ini! Saat hari ini baru pukul 10.00 WIB? Padahal dia tahu, Jenna hanya makan pagi sekedarnya saja, agar perutnya tidak terlalu kosong.


" Ih, kamu Jorok bener, Jenna!" omel kakaknya itu kesal. Sebab Jenna mengelap ingusnya itu sampai berbunyi. Cela sang kakak, karena hidung Jenna meler setelah kepedasan dan harus membersihkan dengan gumpalan tisu. Hampir saja gumpalan tisu itu mau dilempar ke arah wajahnya.


" Bang Tedi ini, nggak ada manis-manisnya, ya. Sama cewek! Kayak iklan air mineral gitu, don. Bang! ... Makanya, sampai sekarang masih jomblo, deh!" Ledek Jenna.


" Memang kamu nggak jomblo?"


" Lho situ yang udah tuaan, umurnya. Ye? Seharusnya sudah lama Abang menikah! Teman sepantaran Bang Tedi itu aja, sedikitnya sudah punya anak dua, lho!"


" Kawin gampang, Neng! Nikahnya yang susah, dodol!" jelas pemuda itu konyol, dengan banyolan seperti itu kalau dipaksa buru-buru menikah.

__ADS_1


" Iya, juga sih. Memang cewek bisa kenyang apa, hanya melihat tongkrongan Abang Tedi yang sok kegantengan ini? Sama cewek dingin dan ketus, begitu! Siapa yang mau?"


" Yah, kalau kamu nanti mau nikah duluan, ya. Monggo! Lelaki kan tidak dituntut nikah hanya karena umurnya. Iya, kan ?"


" Jenna mau punya usaha dulu sendiri, baru mikir mau menikah!" jelasnya kekeh.


" Apa karena status Karolina sekarang, kamu jadi takut menikah?"


" Mungkin, itu salah satu faktornya." ujarnya cuek.


" Wuih, sesi curhat, nih!" Ledek si kakak seru. Walaupun Tedi orangnya sedikit acuh tak acuh, dan konyol. Tetapi dia sering mendapatkan curhatan dari adiknya itu. Termasuk kasus Farhan yang mendua, dan tidak menafkahi anaknya itu.


" Apa lelaki itu selalu brengsek, seperti Kak Farhan, ya ? Muka alim begitu , latar belakang agama yang kuat. Tetap saja tak pernah cukup hidup hanya dengan satu wanita... Padahal Karolina sudah mengorbankan kariernya sebagai model profesional, untuk menjadi ibu rumah tangga saja. Malah dipoligami, terus ditelantarkan...."


" Nggak semua lelaki seperti itu, Dek!"


Kesal Tedi menyentil ujung dahi Jenna dengan kekuatan dua jari tangannya yang panjang dan kokoh.


" Abang!" Jerit Jenna kesal. Bakal memerah dahi ini, kena sentilan itu. Biar dia nanti akan menendang tungkai panjang kakaknya itu, yang sepertinya lebih mirip iklan di sebuah merek kecap. Saking tinggi tubuh kakaknya itu , dengan sepasang kaki yang panjang dan kurus


" Maksudnya... lihat Opa Damash dan Oma Frida. Lalu lihat hubungan orang tua kita! Mereka menjalani rumah tangga tidak setahun atau dua tahun, lho. Dek. Saling menghargai, menghormati dan menjaga rasa cinta itu! Apa rumah tangga mereka selalu adem- ayem saja? Nggak, juga kan? Itulah makna berumah tangga. Harus saling menjaga komitmen, dalam situasi apapun!"


" Sok tua Lo, Bang!"' ucapnya asal.


Jenna memahami semua itu. Tetapi kepedihan Karolina adalah kesedihannya juga. Betapa hidup itu tidak bisa diprediksi. Seperti kata pepatah ' Rejeki, jodoh , maut semua di tangan Allah SWT ', yang bisa disebut Takdir. Nasib itu yang dapat diubah oleh manusia itu sendiri.


" Tuh, fokus! Konsentrasi! Udah kebuka itu jalan!" jerit Jenna.

__ADS_1


Sambil cengengesan, Tedi mulai menjalankan kendaraan agak sedikit cepat. Sebenarnya mobil kesayangan kakaknya ini sudah berusia 5 tahun lebih. Kemarin Tedi bermaksud akan melakukan tukar tambah dengan mobil yang tahunnya lebih baru. Namun Papanya melarang, agar semua anak-anaknya mengerem dulu untuk mengeluarkan banyak uang untuk suatu kebutuhan yang tidak terlalu penting.


Apalagi pada masa-masa sekarang. Walaupun belum terlalu besar dampak pandemi terhadap Eko dalam keluarga Darmawan.Tetapi ada dua pabrik di Bandung yang harus ditutup. Pasaran hasil produksi pabrik itu ke beberapa negara di Asia sudah tak bisa dilakukan , akibat sistem lockdown di Singapura dan Malaysia, sejak pertengahan tahun 2020.


Dekat sebuah masjid besar, mobil mereka berbelok ke kiri, ke jalan yang lebih kecil dengan tulisan Cilember. Biarlah nanti sore dia akan keluar dengan anak buahnya dari team kreatif untuk membeli berbagai keperluan. Syukur - syukur si Oma sudah menyiapkan berbagai makanan kesukaannya, selain ubi Cilembu dan jagung bakar. Kedua makanan itu hal paling afdol di nikmati di depan Vila menjelang tengah malam, sambil melihat Mang Asep membuat pembakaran alami di halaman vila.


Beberapa belokkan lagi, mereka akan mencapai vila Damash. Sebuah villa yang terdiri dari bangunan dua lantai dengan bentuk villa mengadaptasi sebuah rumah adat dari Sulawesi. Tetapi sebagian dindingnya sudah berbentuk plesteran beton untuk mencegah keropos atau lapuk. Karena seharusnya rumah itu seluruhnya terbuat dari kayu. Tetapi udara di sini sangat lembab, dan sangat dingin.


Gerbang besi sederhana di pagar depan villa sudah terbuka lebar. Di sana sudah berjejer berbagai jenis mobil dari yang sport, mobil mewah sampai berjenis mobil keluarga dan niaga. Dulu di tempat inilah yang sering dijadikan para sepupu dan kedua abangnya sebagai tempat bermain sepak bola.


" Om Tedi!" panggil Efron.


Lelaki itu segera keluar dari kursi pengemudi. Disambutnya anak Karolina itu yang dari minggu ke minggu bertambah pandai. Bocah lelaki itu langsung nemplok dengan nyamannya di dada Tedi yang lebar dan kokoh. Jenna menyeret tas besar yang berisi pakaiannya.


Di teras depan berkumpul anggota team yang akan melakukan persiapan pembuatan film iklan itu.Kata Karolina disebut team independen. Karena mereka bekerja dibawah arahan Tedi Darmawan, yang sudah lama terobsesi menjadi seorang produser atau sutradara.


Di sana mereka duduk santai di teras yang luas dan lapang. Sementara barang - barang bawaan mereka masih ada di dalam mobil. Sebab Tedi akan menempatkan mereka di vila yang lain sekaligus mencari taman yang disesuaikan dengan tema untuk pengambilan gambar atau film, yang mempunyai pemandangan hijau, segar dan asri.


Karolina, Keanu , Rara dan kedua nenek dan kakeknya malah asyik ngobrol di ruang keluarga, yang memperlihatkan halaman samping rumah dengan berbagai pohon buah-buahan cangkok koleksi Opa Damash.


Di dapur, para wanita mulai menyiapkan makan siang. Di sana ada Bik Onah, istri pak Suheri. Menantu perempuannya, juga satu ART dari rumah Karolina di Sentul.


Makan siang mulai diletakkan di meja besar di ruang makan. Dulu di villa inilah keluarga besar Damash dan Darmawan berkumpul untuk acara - acara tertentu. Paling seru menjelang tahun baru. Bisa dua atau tiga hari mereka di sana dan menyiapkan acara bakar - bakaran setiap malamnya.


" Ayo Jenna, kita temui beberapa penjaga vila di kawasan ini. Kalau nggak ada, kita keluar dari Cilember. Mungkin bisa kita cari di daerah Cisarua atau Cipanas!"


Mereka menggunakan dua motor, satu motor Nmax, milik Mang Asep, dari lagi motor Mio lama punya Pak Suheri. Pria yang menjadi orang kepercayaan Opa Damash. Sebab sampai sekarang pun, Pak Suheri yang diberi kepercayaan mengurus vila, kebun buah dan lahat sayur milik mereka di depan vila sana.

__ADS_1


Tedi memboncengkan adiknya. Sedangkan satu pria dari team kreatif, membonceng Keanu. Kedua sepeda motor itu menderu - deru di jalan yang berupa tanjakan dan turunan tajam untuk mencari beberapa villa yang banyak didirikan dan disewakan di daerah ini. Apalagi jalan yang sering dijadikan jalan alternatif ini tembusannya sampai objek wisata Taman Matahari atau Cimory yang ada di depan Taman Safari.


__ADS_2