
Tante Ismaya menerima kedatangan Jenna dan Pak Sanad, ajudan Pak Andrian Damash di ruang kerjanya siang itu. Jenna sudah memberitahukan kepada wanita cantik itu, ketika dia meminta sedikit dari waktu si pemilik klinik dan salon Ismaya Beauty tersebut. Sebab semakin hari, Tante Ismaya semakin tenggelam dengan segala kesibukannya itu di sepanjang hari kerjanya.
Apalagi sejak penyelesaian pengambilan gambar untuk iklan produk kosmetik terbarunya. Rara sering dimunculkan dalam berbagai kegiatan kampanye iklan tersebut sejak launching minggu lalu. Rara pun semakin banyak mendapatkan tawaran untuk menjadi model iklan dari berbagai produk lain. Sehingga namanya mulai melesat dan dapat disejajarkan dengan model terkenal lainnya yang lebih senior darinya.
Modal Rara untuk berkecimpung di dunia itu bukan hanya karena menampilkan kecantikannya saja. Sebab wajah Rara memiliki kecantikan yang unik, perpaduannya dari beberapa daerah di Indonesia. Juga usia mudanya. Tetapi Rara punya tekat kuat dan mau bekerja keras untuk mewujudkan impiannya tersebut.
Kecantikan wajah Rara adalah asli wanita Indonesia. Tanpa ada darah Eropa atau Asia lainnya yang disebut Indo. Sebab wajah seperti itulah yang mendominasi model iklan di tanah air. Karena mempunyai banyak kelebihan fisik seperti hidung mancung, kulit putih dan bola mata coklat. Belum lagi kalau ada yang rambutnya pirang atau kecoklatan tanpa dicat rambut.
Tante Ismaya mengusahakan agar Rara mendapat perawatan wajah secara kontinyu selama kontrak itu berlangsung. Para dokter pun turut memberi bantuan, sebab kulit remaja Rara itu masih rawan dari jerawat dan peradangan karena mendapatkan make-up tebal dan pancaran cahaya panas kamera setiap habis berfoto atau menyelesaikan Pembuatan Iklan.
"Jenna, ada apa ini ?" Tanya Wanita cantik itu agak bingung. Sebab tidak biasanya sang keponakan dari suaminya itu datang ke kantor dan menemui di ruang kerjanya, dengan segala hal yang berbau formal. Apalagi dia didampingi Pak Sanad, salah satu orang kepercayaan dari kakek gadis itu.
" Ini soal Dokter Niken Sabrina, Tante!" Kata Jenna pelan, membuka percakapan.
Jenna harus berhati-hati dalam menyampaikan masalah ini. Sebab akan banyak memberi dampak buruk dari berbagai hal dan situasi. Terutama yang berhubungan dengan image nama salon Ismaya yang sudah dibangun si Tante sejak memulai kariernya dulu. Klinik di Kelapa Gading ini adalah hasil pertama jerih payahnya, sebelum mempunyai produksi kosmetik sendiri.
" Apa dia kurang kompeten di bidangnya? Tante juga sudah banyak mendapatkan komplain dari Tante Okke dan Jeng Faradina." Kata Wanita itu lagi.
Dua nama wanita yang disebutkan oleh Tante Ismaya itu adalah sahabat dekatnya, sekaligus pelanggan VIP di kliniknya. Mereka termasuk dalam kategori wanita sosialita sesungguhnya , yang cukup dikenal di kalangan para wanita istri pebisnis di Jakarta.
Terlihat wajah Tante Ismaya itu agak galau. Padahal dia memasukkan nama Dokter Niken itu karena wanita muda itu terlihat sangat berkompeten dalam ilmu kecantikan dan bedah kosmetik yang dipelajarinya di sebuah perguruan tinggi yang cukup bonafid yang ada di luar negeri. Sayangnya dia masih kurang berpengalaman, yang harus ditempuhnya dengan belajar lebih banyak lagi dengan berpraktek di lapangan.
Terkadang Niken juga masih kurang mampu beradaptasi dengan para pelanggan salon yang merupakan para istri para pemilik perusahaan dan berbagai usaha terkenal di kancah nasional. Para wanita itulah yang ada di belakang nama besar para suami mereka.
__ADS_1
Segera saja Jenna memberikan sebuah amplop tebal berisi foto-foto kegiatan Dokter Niken Sabrina yang sudah diprint- out Pak Sanad di ruang kerja Opa Damash, di Sentul. Semua dilakukan secara terperinci, takut foto itu disalahgunakan oleh pihak lain yang tidak berkepentingan.
Mata Tante Ismaya melotot kaget, saat melihat foto-foto itu lembar demi lembar. "Apa - apaan ini, Jenna! Kenapa kamu baru memberi tahukan soal ini!"
Tangan wanita itu gemetar ketika mengamati segala kegiatan Niken di luar jam kerjanya... Wajah wanita itu terlihat muak. Sebab ada beberapa foto yang diambil Pak Sanad, ketika pria itu menguntit dokter itu keluar dari gedung salon dan klinik di Kelapa Gading. Sampai menemui seseorang pria di titik tertentu di lokasi yang tidak jauh dari tempatnya bekerja.
Secara jelas terlihat kalau yang dia temui adalah pria yang berbeda - beda. Setiap dari pertemuan yang direncanakannya. Biasanya Dokter Niken melakukan hal itu pada saat istirahat jam makan siang. Lebih sering lagi, saat jam pulang kerja pada pukul 16.00.
Pada umumnya, para pria yang menjemputnya itu terlihat seperti gambaran pria pengusaha mapan dan sukses. Sampai ada wajah pria yang cukup familiar di masyarakat Jakarta, saat ini. Sebab beliau sekarang ini sering muncul pada program kegiatan sosial di masa pandemi ini.
Terlihat pada foto-foto itu juga adegan cipika- cipiki saat di dalam mobil. Padahal pria yang ditemui Dokter muda itu lebih cocok sebagai ayahnya. Karena kalau dilihat sekilas, pria itu seumuran dengan Pak Feri atau Pak Sungkono, ayah Karolina. Sebab Dokter Niken Sabrina dan Karolina itu berusia sebaya , hampir 28 tahun. Mereka merupakan anak perempuan sulung di keluarganya.
Pak Sanad pun menceritakan kronologi pengintaian itu. Tentu dilengkapi dengan foto-foto yang sesuai dengan yang diceritakan.
Tentu saja wanita itu hafal berbagai tempat usaha di sekitaran wilayah salon dan kliniknya berada. " Apa ada pekerja kita yang melihat kegiatan Niken ini, Jenna?"
" Mereka nggak tahu, Tante! Sebab tempat itu agak terlalu jauh dari bangunan klinik. Tetapi ada dua orang yang memberitahukan kepada saya. Mereka itu Pak Bokir dan Mumun."
" Mumun?" tanya Tante Ismaya mendengar nama yang masih asing di telinganya.
" Dia ART di toko bakery, yang rukonya ada depan gedung Klinik, Tan! Gadis lugu itu juga awal mulanya tidak yakin, dengan apa yang dilihat. Sebab dia sedang mengambil cucian milik majikannya di laundry di dekat galeri itu."
" Pak Sanad sudah berapa kali menguntit perempuan ini sampai ke hotel dengan para pria itu?"
__ADS_1
" Ini sudah ketiga kalinya. Bu ! Sepertinya, para pria itu punya tempat favorit tersendiri untuk mereka datangi. Atau pria itu memiliki jaringan hotel tersebut, ya. Bu?"
Wajah Tante Ismaya semakin merah padam. Beberapa pria yang ditemui Niken itu merupakan suami dari para pelanggan VIP di kliniknya. Tante Ismaya sudah berteman dekat dengan para sosialita itu bertahun - tahun lamanya. Jadi apa yang dilakukan oleh Niken itu sudah membuatnya meradang dan semakin menambah emosinya saja.
" Begini, Bu. Kita harus panggil Mbak Niken, di tempat yang khusus. Jangan di kantor Ibu atau di klinik! Ibu bisa minta Pak Jhon mendampingi. Nanti akan kita tawarkan sesuatu yang selalu menarik perhatian Mbak Niken ini. Saya melihatnya sebagai Wanita muda yang sangat ambisius dan terobsesi untuk hidup lebih baik dari siapapun! Termasuk dari Mbak Jenna! Nanti di ruangan itu saya siapkan perangkat untuk pemutaran video dan foto - foto itu. Agar Mbak Niken tak berani mengelak! Selama ini dia sangat pandai memanfaatkan situasi... Takutnya dia bisa menjatuhkan nama baik Ibu Juga!"
" Maaf, Jenna! Tante tahu, kamu dari awal tidak suka ketika saya menerima Dokter Niken kerja di klinik itu. Saya pikir dia mau belajar banyak di sana, karena masih terbilang muda dan punya pendidikan yang mencukupi!"
Jenna hanya tersenyum berusaha menenangkan perasaan Tantenya itu yang agak bimbang memikirkan segala sesuatunya.
" Saya pernah buka media sosial miliknya, Tante! Temannya sedikit! Padahal dia bersekolah di SMA terkenal di Jakarta! Tampaknya dia sangat membatasi pergaulannya sejak kembali dari kuliahnya yang di Malaysia itu!"
" Boleh saya minta tolong, Tedi?" tanya Tante Ismaya lagi.
" Untuk apa, Tante? Pake si Abang Jelek itu dipanggil segala!"
Mereka yang tadi sudah sangat serius untuk mempersiapkan rencana pemanggilan Niken itu jadi kaget. Jenna terlihat tidak suka kalau kakaknya itu juga dilibatkan lagi dalam permasalahan ini. Kemarin saja masalah Arkan dan Vila Bunga saja belum tuntas. Ini Dokter Niken lagi!
" Ada Pak Sanad, kok! Mau berbuat apa Niken kepada saya? Bukti dan data sangat otentik... Apa panggil Om Bramantyo saja, mungkin dia bisa?"
Tante Ismaya menggeleng lemah. Sesungguhnya dan tidak menyangka kalau Niken harus melakukan hal ini. Padahal profesi yang digelutinya itu juga menuntut pengabdian yang tinggi. Side Job wanita muda ini yang dilakukan di luar jam kerjanya sangat membuatnya miris. Seakan gadis itu menampar harga dirinya juga. Padahal dia juga harus berjuang sangat keras di bangku kuliah dengan waktu yang lebih lama dan biaya kuliah yang tidak sedikit! Ini jalan pintas yang membunuh namanya!
Sampai mereka pamit, Tante Ismaya malah duduk termenung. Dia hanya mengiyakan saja, ketika Jenna menyebut sebuah ruang kantor di gedung perusahaan milik Ayah Jenna untuk menjadi tempat pertemuan itu, di kawasan Kuningan. Sehingga mereka juga memerlukan keterlibatan Tedi Darmawan juga dalam menyelesaikan masalah pelik ini.
__ADS_1