
Mbak Mia akhirnya bisa juga mengerjakan permintaan anaknya sang nos, Naura. Setelah dia dibantu pekerja lainnya menata rambut dua pelanggan lamanya.
Gadis kecil itu hanya mau creambath dan dipotong poninya sedikit. Agar rambutnya itu tidak keluar dari kerudungnya, yang agak menggangu pandangannya saat sedang belajar di kelas.
" Mami mau keluar sebentar dengan Kak Jenna, ya!" ujar Tante Ismaya kepada anaknya itu di ruang cuci rambut.
" Naura jangan ditinggal, Mami !" Tolak Naura mulai bersikap manja.
" Bukan ditinggal, sayang. Kamu di sini saja dulu, nanti ada Tante Lydia yang menjagamu... Sudahlah Naura! Mami ada urusan sebentar di luar. Tadi di rumah janjinya, apa? " ucap Tante Ismaya tegas.
Wajah Naura menjadi cemberut mendengar teguran ibunya itu. Iya, tadi dia mau saja ikut ke salon milik ibunya ini. Sejak ibunya ikut bekerja membantu ayahnya menggurus perusahaan kosmetik milik mereka. Naura sehari-hari di rumah hanya bersama supir, pengasuh dan para ART. Bahkan pada hari libur pun kedua orangtuanya akan pergi ke luar rumah, sebab mereka mempunyai kesibukan sendiri - sendiri.
Kini Naura sudah kembali belajar di sekolah seperti biasanya. Walaupun pun jadwal masuk kelasnya bergiliran dengan kelas lain. Dalam seminggu Naura masuk sekolah hanya tiga kali.
Meskipun saat ini, ada beberapa SD negeri di Jakarta sudah mulai masuk sekolah seperti biasanya. Tetapi pihak yayasan di tempat Naura bersekolah belum sepenuhnya menjalani belajar secara full day bagi murid-murid mereka.
Jenna melihat sekilas ada kesamaan antara dirinya dengan Naura, sewaktu masih kecil. Hanya saja dia dititipkan oleh ayahnya ke rumah .Opa Damash yang berada di Sentul. Ketika itu Ibunya mulai sibuk mengejar kariernya. Beliau harus sering pulang malam. Sebab selain bekerja, Dokter Arunika giat mengadakan berbagai pelatihan, ikut dalam suminar atau simposium di bidang kesehatan.
Dokter Arunika juga harus menyelesaikan tugasnya saat ditunjuk oleh pemerintah menjadi kepala puskesmas. Letak tempat kerjanya itu berada di sebuah kampung padat penduduk di ujung wilayah Jakarta Utara. Selama dua tahun wanita itu bekerja di sana. Sampai dokter Arunika memutuskan untuk melanjutkan melanjutkan pendidikannya pada program spesialisasi di negara Australia. Selama itu pula Jenna tinggal di rumah keluarga Opa Damash lebih dari 3 tahun lamanya.
Di perumahan khusus milik keluarga Damash itu Jenna tidak kesepian. Karena di sana dia mempunyai banyak teman. Sedangkan di rumahnya di Pasar Minggu, dia sering sendirian dan kesepian. Maklum beda usia Jenna dengan Bang Tedi hampir 7 tahun, sedangkan dengan kakak sulungnya hampir 11 tahun.
Modelnya anak laki-laki remaja pada waktu itu adalah sibuk bersekolah dan bergabung dengan teman - teman satu kelompoknya di luar rumah. Apalagi Bang Tedi punya gank anak basket. Sedangkan si kakak sulung mulai rajin bimbel setelah pulang sekolah, untuk persiapan menghadapi ujian nasional di kelas 12. Juga tes masuk pergi tinggi.
__ADS_1
Bang Tedi mempunyai juga mempunyai pertemanan dengan anak-anak sebayanya. Mereka sering beramai-ramai nonton pertandingan sepak bola di GBK. Kalau dulu disebutnya Stadion Senayan.
Apalagi saat itu si Opa Damash sudah mulai pensiun dari dinasnya di ketentaraan... Walaupun beliau juga ikut terjun berbisnis di perusahaan anaknya, Feri Darmawan. Tetapi Opa sudah menetap di Sentul secara permanen. Beliau tidak lagi tinggal berpindah- pindah di berbagai daerah di Indonesia. Karena mendapatkan penempatan tugas di sana. Selain kenaikan pangkatnya.
Oleh karena itulah, Mas Bayu Aji dan Bang Tedi, kedua kakak Jenna tidak terlalu dekat dengan Opa Damash dan Oma Frida. Karena mereka jarang bertemu. Kecuali kalau kedua orang tua Pak Feri itu datang ke Jakarta saat libur panjang atau kangen dengan semua cucu-cucunya. Tetapi kedua kakak Jenna itu selalu menghormati kakek- nenek dari pihak ayahnya itu.
Oma Frida juga lebih banyak waktu di rumah untuk menggurus para cucu termasuk Jenna. Anak keduanya, Danang juga menjadi anggota militer, dan ditempatkan di Jakarta. Sedangkan anak bungsunya, Amanda sudah lebih dulu menikah dengan salah satu anak buahnya suaminya ketika mereka dulu tinggal di Bandung.
Di Sentul Jenna bisa bersekolah dan bermain dengan para sepupunya itu. Karena mereka juga bertetangga dengan jarak rumahnya yang saling berdekatan dengan rumah si Opa. Di sana juga ada dua orang sepupu yang bersekolah di SD yang sama di daerah Sentul. Lain lagi dengan Karolina, saat itu dia sudah bersekolah di sebuah SMP di Jakarta.
***
Pak Agus, sang supir sudah membawa mereka sampai ke depan sebuah restoran yang lokasinya ada di belakang mal besar di daerah Kelapa Gading. Karena menjelang makan siang, restoran itu pun mulai banyak didatangi para pengunjung. Kebanyakan yang datang ke sana adalah para pekerja atau pegawai dari satu kantor atau lembaga. Sebab di sekitar wilayah itu banyak terdapat gedung perkantoran dan berbagai tempat usaha yang bisa disebut cukup bonafid.
Mereka datang pada umumnya bersama teman kerjanya. Ada yang secara berpasangan atau berkelompok. Sebab para pekerja itu pun ingin melepaskan lelah dari rutinitas kerja yang melelahkan, dengan berganti suasana di restoran yang hijau dan menenangkan itu.
Jenna dan Tante Ismaya mulai menapakkan kaki mereka di lobi gedung restoran itu yang tampak simpel dan bergaya minimalis. Tanpa banyak hiasan yang aneh-aneh di dindingnya. Tetapi penuh dengan berbagai pot-pot tanaman hias besar dan kecil yang ditata di tiap - tiap sudutnya
Di satu sudut restoran, mereka melihat sudah ada Bang Tedi dan Bang Miko menunggu di sana. Mereka memilih berada di kawasan bebas asap rokok.
Pak Agus, supir sang tante segera mencari makan siangnya sendiri. Setelah dia memarkir mobil majikannya itu. Uang makan siangnya akan cukup bersisa, bila dia makan di warteg atau warung nasi di pinggir jalan, di dekat restoran itu. Sepiring nasi yang berharga sepuluh sampai lima belas ribu rupiah, cukuplah untuk mengenyangkan perutnya hari ini.
"'Selamat Siang, semuanya...!" sapa Tante Ismaya ramah, kepada dua pria muda yang tampan dan sopan itu.
__ADS_1
" Siang Tante, Jenna!" ucap Bang Miko ramah. Dia segera berdiri dan menarik ujung kursi yang akan duduki wanita tersebut.
Mereka segera didatangi para pelayan restoran yang membawakan buku menu. Karena sudah waktunya jam makan siang, Tante Ismaya memilih makan siang dengan menu yang terdapat nasi dengan hidangan lengkap. Jenna memilih menu gado - gado lontong. Bang Tedi dan Bang Miko sama - sama memilih sup iga bakar, yang merupakan menu terfavorit di restoran ini.
" Ini soal berita yang viral itu!" ucap Tante Ismaya perlahan. Setelah dia menyelesaikan makan siangnya itu
" Jeng Faradina sudah lama menyuruh orang untuk mengawasi suaminya dan Niken. Jadi di sudah tahu, kalau Niken bekerja di klinik saya!"
Bang Tedi, Bang Miko dan Jenna saling bertatapan. Mereka sudah salah sangka, takutnya akibat laporan itulah, Om Januar Ludy dan Niken kena grebek oleh Ibu Faradina. Sehingga peristiwa itu menjadi berita yang panas dan cukup viral juga dalam seminggu ini.
" Dulu, Januar Ludy pernah ketahuan ketika berhubungan dengan Niken. Waktu itu, Niken mengaku hamil. Sehingga, Ludy banyak mengeluarkan biaya kompensasi untuk menggugurkan bayinya. Pak Jorge, ayah mertuanya tidak suka dengan affair menantunya itu, sehingga mengancamnya mereka untuk membuat sebuah kesepakatan."
" Tetapi, sekarang mereka kemudian berhubungan lagi! Faradina sudah membalikkan semua asset kekayaan itu menjadi milik dia dan anak-anak mereka.. Januar Ludy harus menerima konsekuensinya itu. Karena hubungan mereka sudah tercium publik dan langsung viral!"
Tedi menarik nafas lega. Apalagi Jenna terus berusaha mengaitkan dia dengan masalah kedatangan Tante Faradina di kafe itu. Sejahat- jahatnya dirinya, Jenna tidak pernah menghancurkan lawannya dengan menggunakan tangan orang lain. Dia bisa menghadapi Dokter Niken sendiri selama ini, dengan keberaniannya.
" Jadi ini bukan klarifikasi, loh.." Ledek Tante Ismaya. " Saya hanya memberi beberapa informasi penting. Mungkin takut hubungan itu tercium pihak keluarga istrinya lagi, Januar Ludy jarang menemui Niken... Apalagi Faradina memegang semua kartu kredit, ATM dan informasi keuangan suaminya itu.. Jadi selama setahun ini. Kehidupan pernikahan mereka berjalan normal seperti biasanya... Apalagi mereka sedang menguliahkan kedua anak kembar mereka di luar negeri... Sampai ada foto - foto yang dikirim Pak Sanad itu. Barulah Faradina menyadari kalau Niken bukan hanya menjadi wanita simpanan suaminya saja. Sebab wanita itu seperti menjalankan sebuah praktek prostitusi terselubung, dengan menerima rekan - rekan Januar Ludy sebagai pelanggannya juga. Dasar perempuan nggak benar! Mau memakai kedok apa pun, tetap aja terbuka kebobrokan mentalnya!"
" Terus apa yang dilakukan Tante Faradina setelah menggerebek mereka, Tan?" tanya Tedi ikut penasaran.
" Jeng Faradina dapat menjadikan video viral itu sebagai bukti untuk menggugat perceraian dengan Januar Ludy di pengadilan. Sebab perusahaan Ludy juga agak mandek selama pandemi ini ... Faradina sudah memindahkan usahanya di Batam... Dia berusaha melepaskan lelaki itu dengan ikhlas... Termasuk menuntut pembayaran denda yang tinggi! Katanya sekali lelaki itu buaya akan tetap menjadi tetap buaya!"
Jenna nyengir sendiri mendengar ucapan si Tantenya yang agak ketus itu. Dia memandangi kedua pria muda di hadapannya ini. Seperti sekarang ini, mereka barulah menjadi pria lajang yang masih belajar banyak. Apalagi Bang Tedi! Dia mempunyai banyak faktor untuk menjadi buaya sejati! Keduanya adalah pria berparas tampan, pekerja keras, mapan juga berasal dari keluarga yang kaya!
__ADS_1
Buktinya, Bang Miko mampu menyelesaikan kuliahnya dalam bidang entertainment dan penyutradaraan. Dia kuliah di sebuah kampus terbaik di bidang tersebut, di sebuah negara bagian di Amerika Serikat. Walaupun tidak kuliah di luar negeri, Bang Tedi juga dengan cepat menyelesaikan kuliah S2 di bidang bisnis dan manajemen.
Kita lihat saja nanti, perkembangannya, kedua pria muda itu di masa depan. Waktu yang akan menjawabnya segalanya!