Jodoh Untuk Jenna

Jodoh Untuk Jenna
Bab 56. Jangan Katakan dengan Bunga


__ADS_3

Buket bunga mawar itu tetap tergolek di sana tanpa ada yang menyentuhnya... Sampai Mbak Arini mulai sibuk mencari vas bunga kosong untuk diisi air. Dia merasa sayang kalau tidak memanfaatkan keindahan bunga dalam buket itu.


Buket bunga mawar itu dia segera di letakkan di meja rendah di ruang tunggu. Mungkin para pelanggan atau tamu yang lainnya, lebih bisa menghargai keindahan itu walau hanya sebentar.


Biasanya di sana ada anggota keluarga pelanggan salon. Bisa juga para supir pribadi yang menunggu sang majikan untuk dijemput di tempat ini.


"'Cantik bunganya?" Seru Ibu Venda.


Wanita paruh baya itu sedang menunggu supirnya, yang disuruh membelikannya jajanan dan air mineral yang banyak dijual di warung seberang salon.


Sementara di rambut wanita itu masih tersemat berbagai benda yang digunakan untuk pengecatan warna rambut. Karena lamanya waktu pengerjaan itu, biasanya pelanggan salon akan menyelanya untuk makan sambil menunggu cairan kimia itu bekerja untuk mempercantik penampilannya.


Mata tua wanita itu kembali meneliti tiap lembar kertas pembungkus buket itu. Sungguh ini bukan hiasan bunga yang biasanya untuk menerima tamu.


" Seharusnya wanita muda sekarang tidak perlu diberi buket bunga. Perlunya diberi bunga bank, bunga deposito atau pun bunga saham..."


Ucapan pelanggan setia salon Ismaya itu konyol.


Malah ditanggapi Mbak Arini dengan candaannya yang ringan saja. " Ya, Bu Vanda... Cewek zaman sekarang itu maunya dikasih yang praktisnya aja. Seperti fulus, begitu ..."


" Itu mah bukan praktis Arini. Tapi matre!" kata Bu Vanda menyela.


Ha, ha, ha. Tawa seru wanita beda umur itu seperti menertawai para wanita muda zaman sekarang, yang tentu berbeda generasi dari masa muda mereka


" Ya, Iyalah, Bu Vanda! Coba berapa jam buket bunga ini bisa bertahan untuk tetap segar? Mana mahal lagi harganya... Mending dikasih ke kita duitnya. Dibawa ke warteg semua lauk dan sayur di sana bisa kebeli semuanya..."


" Situ, mah urusannya cuma perut, aja... Ini masalah cinta, Arini! Cinta anak zaman sekarang itu nggak perlu pakai simbolis. Langsung to the point!"


" Artinya, Jangan berikan aku bunga, berikan saja dompetmu padaku, Bang!" Ledek Mbak Arini nggak mau kalah.

__ADS_1


Adu debat yang terjadi antara mereka itu dianggap sebagai selingan saja. Beberapa kali Mbak Arini memantau keadaan di lantai dua. Takut Jenna mendengar gurauan iseng mereka, yang akan membuat keponakan pemilik salon ini tersinggung.


Lagipula Mbak Arini sudah dua kali melihat kehadiran sosok Pandu di salon ini. Walaupun pagi tadi, dia hanya datang seorang diri. Tak sampai satu jam, wajah pria tampan itu sudah sangat tampak berang, setelah turun dari ruang kerja Jenna. Kemungkinan lelaki yang pantas mendapat julukan 'Suami Masa Depan' itu pergi dengan mobil sport merah yang bergambar kuda jingkrak itu.


Keadaan Jenna di dalam ruang kerjanya, terlihat damai dan sentosa. Lepas dari kehadiran sosok Pandu yang seolah mengintimidasi dirinya. Pria itu selalu memaksakan kehendaknya saja!


Jenna adalah jiwa yang sangat bebas dan kreatif. Gadis itu dapat sanggup belajar dengan cepat segala hal dari keadaan yang terjadi di sekelilingnya. Sebab keluarga Opa Damash juga bukan berasal dari orang kaya.


Dalam pertemuan keluarga dan kerabat dekat, pasangan suami-istri Damash itu selalu mau menceritakan bagaimana sulitnya kehidupan mereka sebelumnya. Dimulai dari proses kehidupan Opa Damash dari sekolah, sampai harus berjuang keras untuk dapat diterima menjadi anggota prajurit di sebuah kesatuan.


Oma juga kadang menambahkan pengalaman mereka ketika tinggal di beberapa daerah terpencil di luar pulau Jawa dan Sumatera. Sampai mereka menitipkan Pak Feri Darmawan di rumah neneknya di Jakarta.


Kehidupan keluarganya yang berpindah - pindah hampir tiap tahunnya, membuat Feri kecil kurang mampu menerima pelajaran. Karena selalu tertinggal dari daerah yang mereka tempati sebelumnya. Sampai Feri diasuh keluarga neneknya di Jakarta untuk mengejar ketinggalan pelajaran sekolahnya.


Sukses itu perlu perjuangan! Itulah semboyan di dalam keluarga Damash dan Darmawan. Bahkan keluarga mereka berkali- mengalami kesulitan besar.


Pak Feri pernah keluar dari pekerjaan di suatu perusahaan di tahun 1997, saat krisis moneter melanda Indonesia. Perusahaan di bidang perdagangan luar negeri itu bangkrut dan tidak bisa membayar gaji semua pegawainya.


***


" Jenna, Minggu ke Sentul, ya! aku sama Baby Boy di rumah Opa menginap!"


Huh, telepon dari sepupunya itu sudah membuat bibir Jenna manyun! Nggak ada basa-basi. Dasar sang Nyonya bos! Semakin ke sini, Karolina semakin suka mengatur orang lain. Tetapi dia juga sudah lama tidak bertemu dengan Baby Boy kesayangannya.


Lucunya, wajah baby boy itu, semakin lama semakin mirip nenek dari pihak sang ayah. Entah agar bayi itu berhak diakui sebagai keturunan dari Hisbillah. Atau karena ketidaksukaan Karolina terhadap sepak terjang sang mami mertua dalam kehidupan rumah tangganya. Sehingga Karolina diam-diam membenci mertuanya itu ketika dia hamil si Baby Boy. Sehingga tercetak di wajah bayinya ketika dilahirkan.


Pekerjaan hari itu telah diselesaikan oleh Jenna. Sebenarnya dia bisa pulang lebih dahulu dari para karyawan salon yang lain. Namun dia juga malas pulang ke rumah. Sebab kedua orangtuanya sejak dulu selalu sibuk dengan pekerjaannya dan urusan mereka masing- masing. Jadi di rumah besar ini pun, Jenna hanya dengan para ART yang jumlahnya lebih banyak dari anggota keluarga Darmawan. Yaitu dirinya dan kedua orangtuanya.


Foto- foto Jenna yang terpajang di dinding salon lantai dua itu selalu menarik perhatian para pengunjung di tempat itu. Sampai mereka cukup takjub, setelah diberi tahu kalau foto itu memang wajah dari pengelola salon kecantikan Ismaya ini. Seorang gadis muda keponakan dari pemilik dua salon terkenal Salon Ismaya.

__ADS_1


Ternyata, bergaul dengan para pekerja di sana cukup menyenangkan bagi Jenna yang suka mengenal orang banyak. Sebab para pekerja salon di sana, walaupun banyak yang hanya berijazah SMA dan SMK, tetapi mereka punya berbagai sertifikat keterampilan dari kursus kecantikan top yang pernah mereka ikuti. Sebab Tante Ismaya sangat ketat menyeleksi para pelamar itu untuk dipekerjakan salonnya.


Sampai Jenna mendapat sebuah brosur tentang kursus kecantikan yang diselenggarakan oleh sebuah pendidikan yang dipimpin oleh penata rambut terkenal. Ternyata harga kursus itu cukup mahal hanya dalam kurun 3 bulan. Kursus itu. membimbing siswanya dari tingkat pemula sampai mahir, dengan biaya mulai 5 juta sampai 15 jutaan.


Jenna menunjukkan jadwal untuk dua hari ke depan setelah Mbak Arini memasukkan daftar nama pelanggan yang menelpon dan mengadakan janji padanya seharian ini.


Dulu di meja resepsionis ini ada dua orang pekerja. Jadi seorang yang mengolah data. Satu orang lagi dapat melayani berbagai permintaan dari pekerja dan pelanggan salon. Sedangkan untuk semua perlengkapan di dalam salon diurus oleh satu orang ART.


" Mbak Arini aku balik dulu, ya! Mas Joss ada janji jam 3 dengan Ibu Ira, mungkin jam 5 akan mereka selesai!"


" Oke, Mbak!" Ucap Mbak Arini menyetujui.


Segera Jenna meninggalkan gedung salon itu, dengan Honda Jazz merah kesayangannya. Begitulah kegiatan Jenna sehari - hari sebagai pekerja di Salon Ismaya.


Pendirian klinik dan salon kecantikan di gedung inilah yang dirintis pertama kali oleh Tante Ismaya. Wanita bergelar dokter itu tertarik mendalami spesialisasi kecantikan kulit wajah dan kosmetik.


Wanita muda itu sangat gigih mempelajari ilmu kecantikan itu, sampai belajar ilmu itu ke negara, Korea Selatan dan Jepang. Bahkan mengambil spesialisasi kecantikan itu sampai ke Australia.


Kemampuan Dokter Ismaya itu didukung suaminya. Sebab berbagai racikan kosmetiknya itu itu sangat cocok bagi pelanggan wanitanya yang sebagian besar adalah orang Indonesia. Para wanita kelas atas dan menengah itulah yang menjadi iklan berjalan, bagi semua produk kecantikan Tante Ismaya, yang diberi nama "Ismaya Beauty Cosmetics".


Sampai pasangan suami istri, mulai membuka beberapa cabang serupa ldi Jakarta. Bahkan mereka mampu memproduksi sendiri berbagai jenis kosmetik yang dipasok ke beberapa cabang salon kecantikan mereka di Jakarta dan beberapa kota besar lainnya.


Produk kecantikannya itu pun semakin laris di pasaran tanah air. Setelah produk kecantikan itu dibuat iklannya melalui TV, lewat iklan di majalah, koran juga brosur dan selebaran.


Dulu juga, Tante Ismaya sangat ketat menyeleksinya pekerja salonnya. Tidak hanya melihat Ijasah dan sertifikat keterampilannya yang mereka miliki. Juga pengalaman mereka bekerja. Sampai di wawancara juga sikap, pandangan hidup dan agama mereka.


Wanita itu mendirikan salon untuk membantu wanita lain dalam permasalahan kulit wajah dan penampilan mereka. Di antara image buruk tentang fungsi lain dari salon.


Sampai gedung itu diberi nama, Klinik kecantikan dan Salon Ismaya, untuk mengubah image buruk keberadaan salon dan para pegawainya itu.

__ADS_1


Para pegawai salon diharapkan oleh Tante Ismaya tetap melayani semua pelanggan dengan baik tanpa mengharapkan tips atau imbalan... Bahkan tak segan, Tante Ismaya menegur para pekerja salonnya yang melakukan tindakan kurang baik di luar jam kerja. Apalagi kalau ada pekerja salon wanita yang berperan 'ganda'. Tanpa kata ampun, pekerja di salonnya itu akan dipecatnya!


__ADS_2