
Suasana di ruang keluarga itu semakin tegang. Namun wajah tenang Om Isman semakin membuat orang tua Farhan ngeper. Apalagi Ibu Nyai yang terhormat, juga sudah gelisah. Baru sebulan lalu, menantu Opa Damash itu naik pangkat dengan menambah satu bintang lagi menghias di baju seragam dinasnya.
Tentu saja pria pendiam itu tidak terima dengan sepak terjangnya sang ibu besan di rumah tangga Karolina. Anaknya hidup dengan karier terbaik yang telah dia capai selama ini, dengan berbagai pengorbanan semasa dia remaja sampai gadis muda. Tetapi masuk ke dalam keluarga Hisbillah , malah diperlakukan semena-mena.
" Farhan jadilah lelaki terpuji. Berani berbuat , berani bertanggung jawab!" Ujar Pak Isman Sunarko tegas.
" Maaf, Papa. Saya menduakan Karolina!"
" Lho, kenapa kamu minta maaf ke saya? Kamu itu menyakiti anak dan cucu saya! Memperlakukan Karolina dengan tidak pantas. Begini cara kalian mendidik anak- anak di keluarga Hisbillah? Keluarga yang sangat dihormati Pak Damash tetapi memperlakukan cucunya layaknya sampah, untuk dibuang!"
Farhan menatap wajah sedih dan kecewa Karolina. Mau tak mau dia harus menceraikan Karolina hari ini juga. Dihadapan keluarga istrinya juga kedua orang tuanya. Lalu , pria itu pun mengucapkan talak kepada Karolina Damash, wanita yang dinikahinya dalam kurung dua tahun terakhir ini.
Jenna yang malah berurai air mata mendengar ucapan talak itu dari Kak Farhan, suami sepupunya itu. Pria muda yang dulu sangat dikaguminya itu. Pria yang menikahi sepupunya, dengan pertimbangan karena lelaki mapan itu berasal dari keluarga yang mempunyai latar agama yang kuat, santun dan akhlak yang baik.
Talak yang diucapkan Kak Farhan itu menambah rasa tidak suka Jenna , pada sosok lelaki lain yang tadi duduk di teras depan bersama Pak Bejo, juga dua ajudan Om Isman lainnya. Dia hanya mendengar sedikit, kalau Marvin yang menelpon ayahnya Karolina. Pria itu memberi tahu, kalau perempuan muda yang menggurus Farhan di Serang itu telah dinikahinya 3 bulan yang lalu. Farhan terlalu nyaman tinggal di sana, dengan istri mudanya itu. Sebab wanita itu baru saja lulus dari pendidikannya di sebuah pesantren dari daerah Banten. Sementara Marvin menggurus perusahaan yang ada di Bogor.
" Mas Feri, tutup semua pabrik yang ada di Bogor! Usaha yang di Bandung lebih bagus! Nanti aku juga akan berinvestasi atas nama Efron dan Karolina!"
Suara tegas Pak Isman, bagai bom keras yang memporak-poranda hati Pak Hisbillah. Dia tahu, sepak terjang istrinya sudah sangat terlalu jauh mencampuri kehidupan rumah tangga Farhan dan Karolina. Tetapi menutup usaha dan pabrik milik Pak Feri Darmawan di Bogor akan menghancurkan kehidupan ekonomi seluruh keluarganya.
" Maaf, Pak Isman. Mengapa anda bertindak demikian?" tanya pria berkopiah putih itu dengan hati-hati.
" Anda tanya mengapa? Ayah mertua saya yang mengusahakan pabrik itu sewaktu Farhan menikahi Karolina, agar cucunya mendapatkan nafkah yang layak dan hidup berkecukupan. Terus kalian memaksa Farhan berpoligami begitu? Sedangkan sikap Farhan saja sudah seperti lelaki brengsek, yang sudah tidak peduli dengan kepentingan istri dan anaknya lagi!"
" Marvin, kamu temui kami besok di kantor pusat, Kuningan. Pabrik sudah diambil alih oleh perusahaan Nathan Pradipta. Kamu bekerja di perusahaan saya, untuk membantu Tedi!" ucap Pak Feri tegas.
Farhan dan orang tuanya langsung pamit begitu permasalahan rumah tangga Karolina dan Farhan diselesaikan. Tentu dengan cara perceraian! Sebab Karolina yang meminta. Toh, Farhan juga sudah tidak berlaku adil pada dirinya dan Baby Efron.
__ADS_1
Padahal tadi, Dokter Arunika dengan sopan menawarkan mereka untuk bergabung makan malam bersama, di rumah ini. Namun dengan tegas, Ibu Komariyah Dian Hisbillah menolak!
Tentu wanita tua itu tidak sudi lagi bersinggungan lebih lama lagi dengan keluarga Damash yang menurutnya yang lebih rendah levelnya dibanding keluarga besarnya! Sebab dia terlahir keturunan keluarga ulama dan tokoh besar di daerahnya. Sedangkan Pak Damash terlalu membanggakan pangkat dan harta, yang menurut si Ibu Nyai itu terlalu duniawi!
Bahkan wanita itu tak peduli, kalau keluarga Darmawan dan Damash pun sangat religius dalam hal agama. Pak Feri pun telah membangun mushola pribadi, yang ada di samping halaman rumahnya. Mushola itu bagus, karena diurus oleh Pak Imam dan para supir pribadi mereka. Selain keluarga mereka, banyak tamu dan para supir sholat di sana. Karena jarak mesjid cukup jauh dari perumahan itu. Hampir 2 km jaraknya dari sini.
" Kuat Karo!" bisik Jenna di teras belakang. Karolina masih menangis di pelukan Jenna. Sebenarnya informasi pernikahan kedua Farhan itu baru diberitahukan Marvin kepada ayah Karolina hampir sebulan yang lalu.
Secara tak sengaja, Marvin melihat Farhan datang ke rumah orangtuanya di Bogor dengan membawa perempuan berhijab panjang berwarna hitam. Cara Farhan memperlakukan wanita berhijab itu sangat lembut dan mesra.
Tampak Ibu Haji Komariyah Dian Hisbillah juga sangat senang dan bahagia ketika menyambut kedatangan menantu barunya itu ke rumah mereka di Bogor . Seorang menantu perempuan muda yang lebih mudah menerima semua perintah dan segala aturan darinya.
" Siapa, perempuan yang dibawa Bang Farhan tadi, Den?" tanya Marvin pada Deni asisten Farhan yang sedang membuka usaha properti di kota Serang.
" Itu Teh Vadia Chairunisa! Istri barunya Bang Farhan. Mereka menikah dua bulan yang lalu, di pesantren milik orang tua perempuan itu di sana..."
" Ya, iyalah... Sebab Ibu Nyai nggak suka sama Mbak Karolina! Katanya Mbak Karolina itu liar dan kasar. Wanita jahanam yang tak berpendidikan dasar agama..."
Deg! Hati Marvin seperti dihantam , balok kayu besar. Apa ibu Nyai itu tidak tahu? Kalau dalam masa pandemi ini, sebagian besar penopang ekonomi keluarga ini berasal dari pabrik dan perusahaan dari keluarga Karolina itu. Lebih tepatnya pabrik milik Pak Feri Darmawan. Pabrik besar itu memproduksi kardus dan kemasan dalam berbagai ukuran. Usaha itu banyak menerima pesanan dari pengusaha online dalam partai kecil maupun besar.
Suasana ruang makan tetap hangat. Karolina berusaha tegar ketika diberitahukan tentang Farhan yang mendua pagi tadi di rumah orang tua Jenna. Dokter Arunika malah menawarkan agar Karolina tinggal di rumahnya. Sebab mereka belum berani menyampaikan berita itu ke Opa Damash mengingat kondisi jantungnya yang bermasalah.
Dalam minggu-minggu sebelumnya, terjalin kerjasama antara Pak Feri, Pak Isman dan Marvin. Sampai mereka mendapatkan bukti dan kebenaran tentang pernikahan siri Farhan dengan salah satu anak pemilik pesantren kecil di sebuah kampung di dekat kota Serang.
Yang membuat Pak Isman murka adalah perlakuan Ibu Komariyah yang sering datang ke rumah Karolina. Wanita itu tidak datang sendirian, dia membawa dua menantu perempuan yang lain.
Mereka telah memasang CCTV di seluruh ruangan rumah itu. Terlihat jelas cara wanita tua itu mengintimidasi Karolina. Yang terlihat tak berkutik karena dihadang oleh tiga kakak ipar perempuannya.
__ADS_1
Pak Feri mencari celah, untuk mengambil alih pabrik dan menjualnya ke pihak lain. Dalam dua tahun ini kedua kakak Farhan hidup sejahtera karena mengelola usaha pabrik itu. Tetapi keluarga mereka berterima kasih dengan keluarga Damash dengan cara yang keji, menduakan Karolina di dalam hidup pernikahannya.
Tentu saja, Marvin belum berani mendekati Jenna, gadis cantik itu dengan seribu keunikan itu. Jadilah dia memberi informasi penting itu kepada ayah Mbak Karolina, rahasia terbesar di keluarga Hisbillah.
Orang tua Farhan sudah kembali ke kediaman mereka di Bogor. Pak Ali, supir mereka sudah merasa tak enak hati sejak mereka meninggalkan rumah besar di Pasar Minggu itu. Sementara Pajero putih milik Farhan telah menyusul mobil mereka dengan kecepatan tinggi. Si Ibu menatap mobil Farhan itu melesat sangat cepat dengan perasaan was-was...Sejak mobil mereka masuk jalan tol Jagorawi, dari arah Taman Mini menuju ke kota Bogor.
Gerbang tinggi yang terbuat dari potongan kayu jati itu telah dibuka oleh dua orang keamanan. Mereka memberi hormat kepada sang majikan, yang masih di dalam mobil Alphard itu.
Saat mereka masuk ruang tamu yang megah itu, Farhan telah terduduk lemas dan tampak bersedih di sana. Sang ayah tak mempedulikannya. Selama ini, Farhan selalu saja menuruti semua kemauan ibunya, termasuk ketika dia harus menerima perjodohan itu.
Pak Ustad Ahmad Yani Syahroni pun berbesar hati menerima lamaran keluarga Hisbillah. Walaupun anak perempuan sulungnya dilamar untuk dijadikan istri kedua Farhan Hisbillah. Bagi mereka tetap suatu kehormatan untuk berbesan dengan keluarga terhormat itu yang sangat terkenal di Bogor.
" Sudahlah, Farhan! " Bisik Pak Hisbillah sambil menepuk-nepuk bahu anaknya itu untuk menghibur. Dia sudah tak berdaya dengan segala kemungkinan yang terjadi nanti.
" Papi mau kemana? " tanya Ibu Komariyah tiba-tiba, ketika melihat suaminya mengangkat koper di sudut kamar tidur utama. Pria itu mengambil beberapa tumpuk pakaian dari isi lemari di sana.
" Balik Bandung, Mi! Papi di sini pusing dengan semua kemauan Mami yang harus selalu dituruti ...Sudah lama Papi bilang, hati - hati dengan keluarga Karolina... Mami memperlakukan istri Farhan itu sesuka hati saja. Sekarang Mami terima konsekuensinya saja!"
" Papi , jangan begini! Papi sekarang lebih sering di Bandung. Mentang - Mentang istri barumu sudah selesai masa nifas! kamu geber terus. Ingat umur, Pi ! Nanti anak-anakmu dengan penyanyi dangdut itu sama umurnya dengan anak si Farhan yang ini!"
Mata tua itu mengernyit tak mengerti. " Maksud Mami, istri muda Farhan sudah hamil?"
" Ya, iya! Apa Papi nggak malu, anak sama cucu umurnya berbarengan... " Tambah Si ibu keras.
" Terserah, Mami deh... Tuh, Farhan kepusingan, sebab bisnis yang di Serang macet... Modalnya habis!
Pikirkan juga, dua anakmu yang lainnya itu. Mi . Mau dikasih makan keluarganya itu pake apa? Kalau pabrik sudah dijual ke pihak lain.."
__ADS_1
" Keluarga sial itu, Damash dan Darmawan! Main tutup rejeki orang saja, seenaknya!" Omel wanita tua itu panjang lebar....