
Jenna duduk menunggu agak gelisah di ruangan tersebut. Di sebuah ruang tunggu, di depan ruang kerja ayahnya. Seorang Feri Darmawan, sebagai CEO, yang memimpin perusahaan PT Jaya Darma.
Sebenarnya pembicaraan ayahnya di dalam sana, dengan orang kepercayaannya itu adalah kegiatan sehari-hari beliau. Selain membantu pengaturan rencana kerja harian sebagaimana biasanya, dari jadwal yang sudah disusun Siska, sekretarisnya. Sehingga tidak memerlukan waktu yang cukup lama juga untuk menyelesaikannya.
Sampai pria itu mendapatkan sosok putri bungsunya duduk sendirian di pojok ruangan yang cukup luas dan tertata nyaman itu. Dengan jendela kaca besar dan jernih yang memperlihatkan pemandangan di bawahnya. Kepadatan lalu lintas di jalan raya Kuningan itu menjelang siang. Terlihat juga berbagai gedung tinggi dan megah, berjejer di kedua sisi jalan itu dengan segala kemegahannya.
Anak gadisnya itu sedikit melamun, sebab tidak mendengar kedatangannya. Padahal anak keduanya, Tedi dan istri dari adik iparnya itu sedang mengadakan pertemuan penting di sana. Di sebuah ruang pertemuan khusus di lantai 12 dari gedung kantor ini.
Di ruang pertemuan yang tidak terlalu besar itulah, biasanya Pak Feri mengadakan rapat penting. Terutama rapat dengan beberapa pemilik perusahaan lain yang ada berada di luar negeri. Jadi sering melakukan rapat virtual. Setelah situasi buruk memburuk di beberapa negara Asia di masa pandemi.
" Jenna?" panggil pria itu.
Terkesiap Jenna dengan panggilan suara berat dan dalam milik sang ayah. Tanpa sadar dia menatapi wajah pria itu yang memandangnya dengan rasa cemas seorang ayah terhadap putri kesayangannya itu. Tak peduli kalau putrinya itu sudah tumbuh dewasa sekarang.
Dalam sekejap, Jenna masuk dalam pelukan lelaki cinta pertamanya itu. Pelukan yang beberapa tahun ini memberinya rasa hangat, nyaman dan penuh keberuntungan.
" Ada apa? Hmm, nggak ikut rapat penting di sana?"
Jenna hanya menggeleng. Tanpa sadar, pria itu dengan penuh rasa sayang menengadahkan dagu putrinya itu. Tampaknya Jenna dalam keadaaan yang tidak baik-baik saja. Sebab kedua matanya sedikit memerah seperti menahan tangis juga rasa kesal.
Segera dibawanya sang putri masuk ke ruang kerjanya. Walaupun Tedi sudah mengambil sebagian dari tanggung jawab itu dari pundaknya, untuk menjaga putri bungsunya ini. Tetap saja kedua anaknya itu sering kisruh akibat timbulnya gesekan di antara keduanya. Bertengkar sesama bersaudara, Walaupun begitu mereka akan berbaikan kembali. Sebab pada dasarnya, Jenna bukanlah putri manja, yang menuntut perhatian semua orang yang ada di sekelilingnya.
" Nggak mau cerita sama Papa, nih ?" bujuk pria itu dengan sabar. Pria paruh baya itu terus menepuk-nepuk bahu Jenna penuh rasa sayang.
" Tentang mereka yang ada di ruang pertemuan itu!" ucap Jenna sedikit terbata dan tidak yakin. " Dia dokter muda yang diperkerjakan Tante Ismaya di kliniknya... Dia sepertinya bukan perempuan muda seperti biasanya. Niken itu lebih mirip seperti PSK , Pa! "
Mata pria paruh baya itu sedikit melotot." Tantemu kecolongan lagi?"
__ADS_1
" Maksud, Papa. Apa ya?"
" Sudahlah, sini! Papa punya kamera khusus yang dapat memantau kegiatan di ruang pertemuan itu. Kamu duduk di sini, kalau nggak mau terlibat dalam permasalahan yang disebabkan oleh anak buah Ismaya!"
Pak Feri menyalakan sebuah tombol kecil yang berada di dalam laci meja kerjanya, yang paling atas. Dari sebuah tv besar yang ada di sudut ruangan sana, mulai terpampang sebuah ruang pertemuan itu yang dilengkapi dengan peralatan elektronik secara canggih.
Suasana di ruangan itu masih terlihat santai. Tampaknya Prasaja, asisten Bang Tedi masih mempresentasikan sebuah mesin modern. Alat untuk perawatan kecantikan wajah terbaru lewat proyektor dan layar lebar di dinding.
Sepertinya mesin seperti itu sudah sudah dibeli Tante Ismaya hampir 3 tahun yang lalu. Juga digunakan di kliniknya. Hanya alat yang sedang dipromosikan itu adalah produk terbaru. Buatah sebuah pabrik di Australia. Juga modelnya lebih portabel dengan yang fitur yang lebih fleksibel saat dioperasikan.
Sampai Pak Sanad mulai menekan tombol lain dari alat pemutar video yang ada di sampingnya itu. Flash! Dalam sekejap gambar mesin itu berganti dengan foto-foto kegiatan Niken dengan para pria yang sering menjemputnya itu.
Biasanya Niken mengajukan izin pada saat jam makan siang. Tentu setelah dia memberi alasan kalau tak ada janji temu dengan pelanggan klinik untuk konsul. Dari foto-foto itu terlihat jelas kalau pria yang menjemputnya, sebagian besar adalah gambaran pria dewasa yang mapan dan cukup sukses dengan pekerjaan.
Bahkan tampilan para pria itu jelas bukan pekerja kantoran biasa. Sebab ada yang menggunakan setelan jas, dibalik kemeja lengan panjang formal yang bagus. Beberapa aksesoris yang dipakai pria itu juga bermerek, bukan yang kaleng-kaleng. Selain terlihat mahalnya dari hape, jam tangan juga cincin berlian... Sang pria juga umumnya menggunakan kendaraan roda empat terbaik di kelasnya. Kebanyakan merupakan mobil- mobil sedan buatan negara Eropa.
Semua orang yang ada di sana sangat terkejut dengan foto- foto yang terlihat semakin mesra. Melebihi pertemuan bisnis antara wanita dan pria secara umum. Bahkan di video terakhir, terlihat pertemuan Niken itu dilakukan di sebuah di hotel ternama, berbintang lima. Tanpa perlu dijelaskan, semua orang di sana sudah bisa menyimpulkan sendiri, kegiatan yang telah dilakukan oleh dokter Niken itu di luar profesinya itu. Apalagi pemutaran foto-foto itu juga diberi jeda, dengan adanya teks peristiwa yang terjadi dan tanggal foto itu di ambil.
Tampaknya Niken menyadari kalau semua gambar di layar itu adalah kegiatannya yang selama ini berhasil ditutupinya dengan sempurna. Segera Niken berdiri dengan gugup dan sedikit panik. Wajahnya memucat antara takut dan menahan malu. Cepat sekali dia berjalan menuju meja tempat proyektor itu bekerja. Tak dibiarkan alat pemutar video itu itu lebih mempermalukan dirinya lagi
Sayangnya, Pak Sanad beraksi lebih cepat untuk mencegah tindak Niken yang bermaksud menghancurkan proyektor mahal itu Terlihat Pak Sanad berhasil meringkus kedua lengan perempuan muda itu. Niken mulai berteriak - teriak protes antara marah dan kecewa. Dia terus berusaha memberontak saat dihadang.
Niat untuk menghancurkannya alat itu pun terhalang! Kedua lengannya disatukan di belakang punggungnya. Dengan tekanan kokoh lelaki paruh baya itu. Tangannya sudah seperti borgol yang sangat kuat untuk menghalangi kenekatannya.
Pria paruh baya itu sangat berhati-hati ketika mengerjakan permintaan Jenna dalam dua minggu ini dengan sebaik-baiknya. Sehingga Ibu Ismaya mempercayai kalau kegiatan Niken itu di luaran sana dapat dibuktikannya kebenarannya.
Pria itu mempunya tugas utama dan sangat penting yaitu menjaga keselamatan Pak Andrian sang bos. Sekarang dia yang akan melindungi keluarga Pak Damash. Juga anak- anak dan cucu beliau. Jadilah Pak Sanad berlatih fisik secara spartan.
__ADS_1
Teriakan Niken semakin histeris, dia berusaha melepaskan kungkungan kuat di belakang tubuhnya. Karena sangat kesal, mulutnya mulai berkata - kata kasar dan kotor kepada pria itu yang menangkapnya seperti seorang maling. Sebab Pak Sanad terus menikung kedua tangga di belakang punggung Niken dengan kuatnya.
Siapa lagi yang dia cerca dan dia maki, kali ini? Tentu saja dia sudah mengira kalau ada campur tangan Jenna dibalik foto- foto yang memajang dirinya dan para pria itu. Juga ada sebuah video dirinya masuk hotel dan keluar hotel secara jelas, dengan pasangan terakhirnya malam Minggu lalu.
" Diam kamu!" Bentak Tante Ismaya kesal. Mendekati Niken yang mulai histeris, sambil menampar wajah anak buahnya itu. Sebab perempuan muda itu meracau tak jelas dan berisik. Sebuah tamparan yang cukup keras mendarat di pipi mulus Dokter Niken. Karena wajah Niken sampai ikut berputar sedikit dengan sambaran telapak tangan Tante Amanda.
Seumur -umur baru kali ini, Tante Ismaya begitu sangat marah dan kecewa! Mereka terlihat adu mulut. Tedi bergerak di antara mereka. Niken terdiam ketika Tedi menyuruh Niken kembali ke bangkunya.
" Bisa diam nggak, kamu? Kalau nggak mau dibicarakan baik - baik. Saya akan menelepon wartawan dan menyampaikan berita ini. Dua orang dari pria di foto itu adalah pengusaha terkenal di negara ini. Jelas kamu akan dilibatkan sebagai pelaku utama dalam bisnis ilegal itu!"
Suara Tedi keras dan membahana. Hati Niken ciut dan takut. Apalagi foto-fotonya itu bukanlah hasil rekayasa atau hasil editan. Habislah dia sudah!
Sementara di ruang kerja lain, di lantai 3. Pak Feri menatap Jenna agak lama. " Ini yang kamu dapatkan? Mengapa kamu malah bersembunyi di sini?"
" Malas aja, Pah. Kalau harus menggurus soal beginian! Dulu aja Jenna agak panas telinganya, ketika mendengar gosip kalau salah satu mahasiswi di kampus, ada yang sering dibawa om- om setiap dia pulang kuliah malam. Walaupun mahasiswi itu beda fakultas dan jurusan dengan kita. Tetap saja hampir semua mahasiswi di sana hampir kena imbasnya juga ! " Ujar Jenna kesal
" Itu cewek, sudah miring otaknya kali! Kira- kira aja , cari mangsa langsung dari tempat dia belajar. Jadi kita agak malas nongkrong lagi di warung atau mall yang ada di depan kampus! Apalagi ke toko buku! Sebab rumor seperti itu juga menjadi pembicaraan ramai di antara tukang ojek, supir angkot dan para pedagang yang berjualan di seberang kampus!"
Pria itu menatap wajah Jenna agak lama. " Papa berharap kamu selalu siap dengan semua kenyataan seperti ini yang ada di tengah masyarakat kita. ... Tak peduli kalau orang itu punya titel, pendidikan tinggi atau jabatan bagus sekalipun ! Pasti ada salah satu dari mereka yang melakukan berbagai tindakan amoral juga melanggar ajaran agama dan hukum juga!"
Ucapan Papanya itu seperti memberi Jenna pengertian yang lebih mendalam. " Sekaligus kamu akan semakin belajar banyak tentang kehidupan, Jenna! Papa harap kamu dapat mengambil sikap! ... Manusia itu mempunyai akal dan budi pekerti... Seharusnya hal itu yang akan digunakan mereka dalam memenuhi kebutuhan hidupnya. Tinggal pilihan mereka sendiri, mau jalan kebaikan atau jalan yang buruk! Sebab dia akan menerima konsekuensinya dari setiap jalan yang diambil."
Jenna terdiam.... Hidupnya memang tidak senyaman dan seindah saat dia masih menjadi seorang remaja. Mungkin karena dia masih berusia sangat muda, segala kenyataan ini cukup mengejutkannya juga... Sambil termenung dia mengamati kembali kejadian di ruang pertemuan di sana.
Terlihat Niken sudah duduk tenang. Wajahnya terus tertunduk menahan malu. Karena side job yang dilakoninya itu dibuka secara terang - terangan di hadapan Ibu Ismaya dan para pria eksekutif muda itu.
" Tolong! Kamu besok sudah mengambil barang-barang milikmu di klinik! Nanti saya minta Lydia yang menemani! Sejak saat ini kamu bukan lagi, dokter yang bekerja di klinik kami. Jadi segala tindakanmu di luaran sana, bukan tanggung jawab kami lagi!" Ujar Ibu Ismaya tegas.
__ADS_1
Tedi telah menyerahkan berbagai surat-surat yang sudah ditandatangani Niken. Ada juga surat pembatalan kontrak kerjanya itu. Apalagi jelas terlihat kalau Niken memanfaatkan semua fasilitas klinik untuk kepentingan pribadinya . Termasuk memakai data dari pelanggan VIP klinik yang dulu ditangani sendiri oleh Ibu Ismaya itu yang juga bergelar dokter ahli kecantikan dan kulit. Sebab tertera di data pelanggan itu adalah beberapa pria yang sering menjemputnya di dekat gedung klinik tempatnya dia bekerja!