Jodoh Untuk Jenna

Jodoh Untuk Jenna
Bab 84. Sebuah Kenangan


__ADS_3

Para petugas parkir yang melihat sejak tadi Jenna berdiri di belakang mobilnya agak khawatir. Takutnya, keponakannya Ibu Ismaya, bos yang mempunyai tempat usaha ini mengalami suatu kesulitan. Kalau sudah begitu, merekalah yang harus bertanggung jawab.


Maklum! walaupun perempuan itu sangat mandiri dan berani seperti Jenna. Dia pasti juga memerlukan tenaga laki-laki. Apalagi yang berhubungan dengan mesin mobil. Tidak semua perempuan mengetahui mengenai mesin pada kendaraan beroda empat itu... Apalagi kalau masalah ban bocor saja, untuk menggantinya saja mereka memerlukan tenaga kuat seorang pria. Bisa juga untuk membawanya ke bengkel terdekat.


" Ada yang salah dengan ban mobilnya, Mbak Jenna?"


Teguran itu membuat Jenna sedikit terkejut. Sebab Pak Rum dengan sangat perlahan mendekatinya... Langkah lelaki yang bersepatu kets itu tidak didengarnya. Jenna memandang lelaki yang bertanggung jawab atas kenyamanan para pemilik kendaraan maupun pengunjung di salon ini.


" Coba lihat, apa ada sesuatu yang mencurigakan di tempat ini, Pak Rum!"


" Saya rasa aman-aman saja, Mbak! Sekarang kan musim pandemi Covid 19 . Banyak orang yang memakai masker... Tetapi saya hapal kok, orang - orang yang menjadi pelanggan di sini... Mungkin ada isu tentang ******* lagi, Mbak? Oke saya akan lebih waspada!"


" Begitu lebih bagus, Pak ... Tolong, kalau ada orang yang tidak dikenal mengawasi daerah ini... Usir saja, Pak!" Ujar Jenna lebih serius.


Huh! Jenna mulai membuka kunci mobilnya. Sekali lagi, dia mengamati keadaan sekelilingnya... Kini dia lebih seksama memperhatikan beberapa mobil yang ada di belakangnya saat kendaraannya dipacunya meninggalkan daerah Kebayoran Baru menuju ke arah Timur. Ke arah rumahnya di Pasar Minggu.


Dulu, Mas Aji Bayu selalu memperingatkan agar Mama dan adik-adiknya kalau berkendaraan pulang itu, jangan selalu menggunakan jalur jalan yang sama setiap harinya . Tujuannya agar tidak mudah dihapal oleh seseorang yang berniat tidak baik kepada kita. Oke! Nasehat kakaknya yang cukup bijaksana itu pun sekarang telah dilakukannya. Jenna membelokkan mobilnya ke jalan yang ada di kanan, ke daerah Warung Buncit.


Walaupun di daerah itu arus kendaraannya semakin padat, dengan dilewatinya jalur untuk busway.


Mungkin kalau dalam tayangan sebuah sinetron, mobil yang dilalui si tokoh melewati jalan raya yang sepi sehingga si penguntit mudah diketahui... Lha ini, daerah Selatan Jakarta, yang bersamaan dengan waktunya jam pulang kantor... Puluhan mobil berderet di belakangnya karena jalan raya di sekitarnya mulai padat merayap. Bisa- bisa dia stres sendiri kalau mencurigai semua barisan mobil pribadi yang ada di belakangnya itu. Yang kini ikut terjebak kemacetan yang cukup panjang bila berada di jalan perempatan lampu merah yang ramai.


Jenna hanya harus lebih waspada saja sekarang. Dia mulai menjalankan mobilnya memasuki sebuah wilayah yang lebih sempit jalur jalannya , yaitu di daerah pemukiman. Selama perjalanan ini, terasa tak ada kendala apa pun.

__ADS_1


Begitulah, Jenna jadi agak kelelahan karena waktu tempuh yang harus dilalui mobilnya bertambah lebih dari 30 menit lamanya... Harusnya dia mempercayai Insting saja! Kalau ucapan Miko hanya berdasarkan keisengan semata.


Awas kalau dia bertemu dengan lelaki itu lagi! Ucapnya kesal dalam hati. Selama ini Jenna selalu berusaha mengendalikan diri dari segala emosi. Takut rasa amarah itu akan berimbas pada orang lain.


Mungkin kalau yang suka bergunjing di belakangnya bukan karyawan wanita yang bekerja di perusahaan Om Jhon, sudah pasti Jenna akan berani melawannya.


Sayangnya para wanita itu seolah-olah mempertanyakan kemampuan dan kapasitas dia saat bekerja di perusahaan itu. Tetapi yang lebih menyakitkan kalau dia diremehkan oleh mulut lelaki yang punya seribu rayuan maut seperti itu!


Di ruang makan sudah ada Papanya yang duduk menikmati makan malam sendirian. Biasanya si ayah melakukan seperti itu untuk suatu keperluan. Akhir-akhir ini Pak Feri jarang pergi ke luar rumah setelah malam hari. Pria itu lebih sering berada di ruang kerjanya untuk memantau pekerjaan para asistennya melalui rapat virtual atau zoom.


" Kamu baru pulang Jenna?' tanya pria itu lembut.


" Biasa, sudah mulai macet lagi Jakarta, Pa!" bisik Jenna. Dia mengambil piring sambil memperhatikan satu-persatu sajian makan malam yang telah disiapkan Mak Isah. Di situ ada semur daging dan kentang, oseng-oseng kacang panjang dan bakso sama karedok sayur pesanan si Mama.


" Belum, itu... Katanya nengok salah satu rekannya yang baru melahirkan di Lebak Bulus!"


" Tante Dian yang lahiran?"


" Papa kurang jelas tadi..."


Jenna masih menyelesaikan makan malamnya ketika si ayah meninggalkan ruang makan. Karolina sekarang sudah sering kembali ke Sentul. Rumah orang tuanya kosong... Sehingga dia dapat menggunakan beberapa kamar yang kosong untuk anggota para timnya tidur di sana.


Lagipula, atas usul Bang Tedi juga, mereka mulai mengambil gambar video dengan latar belakang yang berbeda dengan merekam dari luar rumah agar ada variasi... Untungnya pemukiman khusus untuk keluarga Damash itu cukup luas dan memadai jadi tidak menggangu aktivitas orang lain di komplek itu.

__ADS_1


Pak Iman sudah membersihkan mobil Jenna. Pria itu mencuci dibantu anak laki-lakinya. Kecuali mobil- mobil yang digunakan oleh Pak Feri dan Dokter Arunika yang masing-masing sudah dicuci oleh para supirnya.


Jenna hanya dapat tersenyum sedih... Mungkin dia perlu waktu bekerja berpuluh-puluh tahun lagi, agar merasakan sebuah kesuksesan yang diraih seperti pada kedua orangtuanya itu. Sebab kedua orangtuanya juga sudah lama bekerja semasa mereka masih muda. Bahkan sebelum mereka menikah.


Itulah yang sebenarnya yang Jenna cari, Pria bersahaja yang dapat mencintai sekaligus mendukung semua keputusannya..Termasuk sebagai wanita pekerja. Kalau zaman sekarang wanita karier.


Contohnya Karolina yang membuang masa kejayaannya sebagai model profesional demi menjadi seorang istri dari Farhan Hisbillah. Namun kenyataannya hanya dalam waktu tak sampai dua tahun saja, keputusan lelaki itu goyah. Dia berpaling dari Karolina yang telah memberinya satu putra.


Sejak itulah, gambaran pria idaman yang dulu disematkan pada Kak Farhan itu buyar . Hancur berkeping-keping... Walaupun dia tahu, hati Karolina pun lebih hancur lagi. Dia melihat ada rasa cinta di mata Karolina. Tetapi diduakan oleh suaminya lebih menyakitkan.


Mungkin Jenna Melinda Darmawan memerlukan cinta yang lebih dewasa lagi! Cinta yang dilihat pada pasangan Opa Damash dan Oma Frida. Betapa si Opa begitu mencintai wanita yang berat janda muda beranak satu. Dia bahkan menerima anaknya itu dan memberikan pendidikan yang terbaik sampai membiayai kuliahnya ke luar negeri. Lelaki itulah Papanya sekarang. Papanya itu sangat menghormati Pak Damash, yang memperlakukan dirinya sama dengan kedua adiknya.


Cinta itu berulang lagi kepada sang Papa. Pak Feri muda bertemu dengan Arunika yang juga baru lulus menjadi dokter. Mereka bertemu pada sebuah kegiatan bakti sosial di sebuah pemukiman warga di daerah pinggiran Jakarta.


Sejak itulah, Pak Feri mendukung karier istrinya . Walaupun wanita itu telah memberinya tiga orang anak, Pak Feri tidak melarang istrinya melanjutkan pendidikannya ke luar negeri. Sebuah pengorbanan besar karena anak bungsu mereka masih kecil, harus ditinggalkan di rumah neneknya di Sentul.


Lamunan Jenna dikejutkan dengan suara ketukan di jendela kacanya berkali- kali. Sampai Jenna berhadapan dengan wajah pria lain yang paling dihindarinya


untuk saat ini. Pria itu justru menatap Jenna dengan pandangan agak khawatir.


" Ngapain kamu di sini! Awas kamu menghalangi, saya mau keluar!"


Teriak Jenna kesal. Tubuh pria itu tetap tak bergerak di depan pintu mobilnya yang akan dia buka.

__ADS_1


__ADS_2