Jodoh Untuk Jenna

Jodoh Untuk Jenna
Bab 60. Hasil Perenungan


__ADS_3

Opa masih asyik ngobrol dengan Pak Suheri dan kedua supirnya di teras depan. Tampaknya hal itu sudah jarang dilakukannya lagi. Semenjak beliau jatuh sakit dan menjalani perawatan pemulihan yang cukup lama. Dengan hati-hati, Pak Suheri memijat kaki majikannya itu yang terlihat lemah dan rapuh.


" Sehat, Gan? Jangan terlalu memikirkan kehidupan orang lain. Cucu-cucu Juragan juga punya jalan hidup masing-masing. Kita mah yang tua - tua tinggal ngawasin!"


Tentu orang-orang yang bekerja padanya sangat mengkhawatirkan keadaan sakitnya Opa Damash itu. Sedangkan suratan takdir berkata lain. Pria tua masih diberi kesembuhan dari sakit jantungnya yang mengalami komplikasi yang cukup berat. Sedangkan di beberapa rumah sakit lainnya, banyak pasien yang lebih muda usianya dari si Opa banyak yang meninggal karena merebaknya virus pandemi covid itu.


" Benar, Her! Sehari- hari ya sama si Oma Farida aja di rumah. Anak dan cucu- cucu sibuk kerja. Kalau malam Jumat, saya sering jalan ke mesjid komplek sebelah. Belajar agama lebih mendalam dengan Ustadz Jasman."


Kehadiran Baby Efron pun menjadi perhatian para pria yang duduk-duduk di teras depan sana. Mata bulat bayi berusia 6 bulan itu memindai satu demi satu wajah- wajah para pria yang tidak terlalu dikenalinya itu. Kecuali Pak Sutarto.


Tiba-tiba bayi itu minta digendong supir pribadi si Kakek buyutnya itu. Dalam seminggu ini, Efron memang sering digendong pria paruh baya itu. Dalam seminggu itu juga Karolina tinggal di rumah orangtuanya bersama bayi dan baby sister nya, Mbak Fani.


Suster Fani menyerahkan botol susu untuk bayi itu. Tampaknya bayi itu juga kehilangan perhatian sang ayah yang hanya pulang seminggu sekali ke Bogor. Berbagai proyek di provinsi tetangga sebelah itu banyak mengalami kendala. Karena beberapa investor besar mulai menarik modal mereka.


Dalam hukum ekonomi, ada tiga kebutuhan dasar manusia yang paling utama. Yaitu pangan , sandang dan papan. Ternyata dengan pukulan berat bagi beberapa pelaku usaha pada masa pandemi ini, manusia lebih mengutamakan kebutuhan pangan mereka yang lebih didahulukan... Nah , itulah kendala yang dialami perusahaan properti milik Kak Farhan.


Pak Rasid bersiap - siap mengantar Jenna kembali ke Sentul setelah sholat Isya. Sebab Jenna harus masuk kerja di Senin Pagi. Opa dan Oma bertahan di villa sambil menemani Karolina yang semakin terpukul dengan carut - marut keadaan rumah tangganya.


Kak Farhan, hanya pulang ke rumah orang tuanya di Bogor sebentar untuk kembali ke Serang. Dia tidak peduli kalau anak dan istrinya berada di rumah mertuanya di Sentul atau bersama kakek neneknya di menginap di Puncak.


Jenna sedikit mendengar pertengkaran mereka, dari kamar sebelah. Pembicaraan telepon antara Karolina dan Farhan hanya memicu konflik di antara mereka menjadi semakin besar. Jenna melihat Karolina meminum berbagai obat yang ditebusnya di apotek depan rumah. Tanpa memeriksa keadaan dirinya secara medis pada seorang dokter di klinik terpercaya atau rumah sakit di Bogor.


Jeena mengambil mobilnya yang dititipkan di rumah Opa di Sentul. Selama melakukan perjalanan pulang, pikiran Jenna semakin tidak tenang. Kehidupan pernikahan Karolina bagai bara di atas api. Tampak sepupunya itu perlu diberi pertolongan, tentunya bukan dari anggota keluarganya yang terdekat. Dia perlu membicarakan hal ini pada sang Mama.


Beruntung, pagi itu dokter Arunika tampak agak santai. Dengan daster batik panjangnya, wanita itu tentu akan seharian ini sibuk mengurus koleksi tanaman anggrek dan tanaman hias yang di tata cantik di teras depan rumah.


"Mama, sepertinya Karolina membutuhkan bantuan untuk konsul pada psikiater, deh! Dia kurang bisa berbicara baik dengan Kak Farhan karena sudah sakit hati dengan perlakuan ibu mertuanya itu ..."

__ADS_1


" Kamu ini, Jenna! Jadi orang itu jangan sok tua, tahu!"


" Biar saja Karolina di Sentul, di sana ada keluarganya... Sayang sih, kita sayang sama Karo. Tetapi kita tidak bisa turut campur pada permasalahan rumah tangga orang lain.."


Jenna terdiam. " Ayolah, Mama! Tolong Karolina. Dia minum sembarang obat yang dibelinya di apotek. Tanpa memeriksakan keadaan dirinya kepada dokter. Kata Sus Fani, Karolina sering mengeluh pusing dan demam.."


" Maksudmu, Karolina mengalami sedikit depresi? " tanya Dokter Arunika yang mengetahui kalau Jenna punya pengamatan yang tajam terhadap sikap dan perubahan perilaku anggota keluarga dan sanak saudaranya.


" Jenna baca sedikit, tetang perubahan perilaku Karolina.. Dia tampak lemas dan tak bertenaga di pagi hari. Dia juga seperti menyerah pada kondisi rumah tangganya. Kak Farhan terlalu sibuk dengan proyek pembangunan perumahan di Serang. Sedang Ibu Mereka, selalu datang dan mengawasi kegiatan di rumah Karolina!"


Jenna hanya berharap, Karolina mendapat bantuan medis atau non - medis dari orang- orang yang ada di sekelilingnya. Sakit si Opa menjadi pemicu kurang baiknya, keadaan yang berlaku di kediaman mereka, di Sentul.


Jenna berharap ada orang yang mampu memberi Karolina sedikit wejangan. Walaupun ada satu dua dari kerabat mereka yang bercerai dengan berbagai alasan. Tetapi permasalahan yang dihadapi Karolina akan menjadi pemicu permasalahan tesebut.


Memang setiap manusia hidup ada saja problematikanya. Tetapi dengan berbagai hambatan itulah kita dapat bertahan menghadapi berbagai kesulitan. Bahkan menjadi lebih sukses dari yang sekarang.


Dalam beberapa bulan ini, setelah Jenna dipercaya mengelola salon itu, dia menghadapi sebuah fenomena baru. Ada satu dua pelanggan yang terlalu pamer dan selalu minta diistimewakan. Bahkan berlaku seakan-akan uang yang dimilikinya tidak berseri saking banyaknya!


Jenna selalu mengingatkan para pekerja salon untuk tetap melayani para pelanggan dengan baik. Tanpa memandang penampilan dan sikap mereka. istilahnya bisa berbasa - basi.


Lainnya halnya dengan Mbak Arini, yang banyak nggak enaknya. Jadi wanita itu sering nego dengan beberapa pegawai salon dengan wanita yang sering dadakan mengadakan janji itu. Bahkan si penelepon itu minta lebih didahulukan kepentingannya.


Terkadang, para pelanggan mulai ngeper juga kalau Jenna sudah turun tangan. Sebab selain Jenna tidak terlalu suka mencari muka dengan mereka..pemilik salon itu adalah tantenya, Tante Ismaya.


" Ayo, Mbak Arini! Jangan begitu lagi, dong! Kasihan Mas Jos belum istirahat, sudah dua kali pegang pelanggan! Kita profesional aja!"


Wajah Ayu Mbak Arini jadi memerah. Dia kena skak mat dari Jenna. Pelanggan tadi suka agak royal dalam memberi tips..Jadi Mbak Arini tidak mau membuatnya kecewa. Sehingga namanya langsung diselipkan pada daftar yang sudah disusun Jenna dengan susah payah.

__ADS_1


Sampai di siang itu pun salon jadi heboh dengan kedatangan Karolina. Wanita cantik mantan model terkenal itu ke tempat ini untuk mencari Jenna.


Mbak Arini tidak tahu, kalau Jenna sedang berbicara dengan Ibu Angela di lantai 3. Walaupun dia tidak menyukai Pandu Samidi. Tetapi ibunya itu adalah wanita yang baik hati dan lembut.. Mereka ngobrol sambil Mbak Tari menggosok kedua kakinya yang sedang menjalani perawatan berikutnya.


" Jenna? Kamu kemana aja, sih!"


Teguran Karolina mengejutkannya. Dia baru saja turun dari satu lantai di bawahnya ketika diserbu wanita itu.


" Ngapain kamu ke sini Karo? Kirain masih nginap di Puncak...Opa sehat?"


" Ayo ke kantorku, aja! " ajak Jenna.


Para pelanggan salon sudah tertarik pada sosok Karolina yang dua tahun lalu, berita pernikahannya disiarkan di beberapa tv swasta.Tetapi tubuh tinggi semampai wanita beranak satu itu tetap menjelaskan eksistensi dirinya. Tak lama Suster Fani datang dengan Efron dalam gendongannya.


" Mama Arunika menyuruhku tinggal di rumahmu. Tadi barang-barang sudah ku drop di Pasar Minggu. Kalau sekarang aku disuruh perawatan dulu, agar tubuhku nyaman dan segar!"


" Kamu itu awas, ya! Main datang terus nyuruh seenaknya orang bekerja! Bayaran dan tipsnya mahal tahu! Apa Nyonya Farhan ini cukup tebal rekeningnya untuk membayarnya?"


" Sip, beres Jenna! Aturlah! Aku titip Baby Efron, dulu!"


" Enak aja, aku manager di sini. Bukan pengelola day care untuk baby, ya!"


" Eh, sejak kapan Lo gila jabatan dan embel-embel nggak jelas itu?" ledek Karolina culas.


" Sejak sekarang! Awas kalo di rumah kamu bersikap nggak baik dan nggak sopan, ya! . Jangan jadi diktator baru untuk para ART dan supir di sana.."


Ya, Tuhan! Karolina tertawa geli mendengar ancaman receh Jenna Tampaknya Dokter Arunika akan menerima kehadiran Karolina, bayi dan baby suster ini di rumahnya. Semoga sang Mama bisa mencari jalan keluarnya.

__ADS_1


__ADS_2