
Suasana cafe " Mojok" sore itu agak ramai. Beberapa pekerja di sana sibuk merapikan meja dan kursi yang agak berantakan akibat peristiwa itu. Barang pecah belah seperti piring, gelas dan vas bunga sudah dibuang. Sehingga tempatnya itu terlihat normal seperti sediakala.
Jenna datang dengan maksud mencari tahu tentang peristiwa itu., Apalagi setelah kedatangan Om Bramantyo Sanusi, bersama dengan dua ajudannya. Pihak manajemen Cafe mau diajak bekerja sama. Jadilah mereka dipilihkan tempat di bagian belakang bangunan kafe yang agak terpisah dari para pengunjung.
Pria bertubuh tinggi besar itu memeluk tubuh mungil Jenna penuh rasa sayang. Dulu Om Bramantyo sangat dekat dengan anak sambung Pak Damash, yaitu Pak Feri. Mereka terikat tali persaudaraan yang agak jauh dari orang tua Pak Damash .
Berkat campur tangan pria yang mempunyai kedudukan penting di daerah ini, mereka mendapatkan izin untuk mengcopy rekaman kejadian dari CCTV cafe. Sehingga terlihat dengan jelas awal kronologi kejadian pengeroyokan itu sampai adanya jatuh korban.
" Panggil Farhan Hisbillah, ke tempat ini!" Perintah pria beranak dua itu tegas, kepada salah satu ajudannya. Pria yang lebih muda itu izin keluar dari ruang kafe untuk segera menelpon mantan iparnya Jenna itu.
Sekarang Jenna duduk ngobrol dan memesan berbagai makanan yang segera dilayani para pekerja di sana. Sambil menunggu kedatangan. Kak Farhan untuk mengklarifikasi keterlibatan dalam peristiwa pengeroyokan itu.
Jenna meneguk es lemon tea, setelah menghabiskan suapan terakhir dari roti bakar khas kafe ini. Sementara Om Bram memesan makanan yang lebih berat untuk dirinya dan kedua ajudannya itu. Karena ada kegiatan di kantor yang sangat padat, Om Bram belum sempat pulang ke rumah untuk makan siang.
" Kamu bisa melihat keanehan itu?" tanya Om Bramantyo pada Jenna. Setelah mengamati rekaman CCTV itu di hape Jenna. Pria itu sering menantang kemampuan Jenna dalam mengamati suatu peristiwa yang terjadi secara lebih mendetail.
Kedua pasang mata itu terus melihat video rekaman itu. Dari kedatangan Marvin yang disambut hangat oleh Farhan. Sampai kedatangan lima sampai enam orang yang turun dari empat buah motor besar... Rombongan itu dengan cepat bergerak merangsak masuk cafe dan menghampiri meja tempat Marvin dan Farhan duduk.
" Aneh aja, Om! Setelah melihat rekaman itu. Farhan yang orang sini, aman tak kena satu tonjokan dalam peristiwa pengeroyokan itu ... Justru Marvin yang bukan orang sini yang dihajar secara membabi buta! Dia yang jadi korban, Om! Bahkan, dokter memperkirakan ada luka dalam yang dideritanya. Karena di kaosnya ada banyak bekas tendangan sepatu. Ciduk Farhan Hisbillah, Om! Dia mau mencari perkara dengan keluarga kami tampaknya. " Usul Jenna tegas.
" Perkara gampang Jenna! Hanya untuk memborgol Farhan dan kita antar ke polsek terdekat dengan bukti rekaman CCTV ini...Juga bisa kita lacak dari percakapan dari hape Marvin... Kamu nggak mau memberi kenangan - kenangan pada si lelaki pecundang itu?"
Senyum Om Bram seperti menawarkan sesuatu permainan yang sangat menarik bagi Jenna. Untuk apa Farhan bermain kotor seperti ini. Mengorbankan seorang sahabat sekaligus seorang asisten yang selalu membela kepentingannya. Bahkan dengan berbesar hati, seorang Marvin tunduk dan selalu mengikuti segala kemauan dan perintah Farhan. Sehingga hubungan mereka seperti tidak seimbang alias berat sebelah.
" Boleh, Om?" tanya Jenna kurang yakin.
" Siapa yang melarang! Om juga sudah lama ingin menghajar lelaki menye-menye itu! Dasar anak Emak! Mau-maunya diatur hidupnya oleh ibunya. Sampai menghancurkan pernikahannya sendiri! Om tidak rela, ya ! Gadis kesayangan Om disakiti dan dibuang seperti ini!" Umpat Om Bram agak sedikit emosi. Dia juga sangat menyayangi Karolina.
Ternyata Farhan tak bisa berkelit. Hampir satu jam mereka menunggu kedatangan. Padahal rumah barunya yang ditempati dengan istri kedua itu, jaraknya tak sampai 10 Km. Alamat rumah yang berada di sebuah kompleks pemukiman tingkat menengah itu yang berhasil dilacak Gunawan. Orang yang dipercaya oleh Bang Tedi, untuk memantau pergerakan Hisbillah.
__ADS_1
Dari meja depan cafe, terdengar suara Farhan menanyakan keberadaan sosok Om Bramantyo yang sedang menunggu kedatangannya, kepada salah satu pekerja kafe. Farhan diarahkan oleh pria itu, jalan ke bagian belakang cafe. Tadi Om Bram meminta Jenna bersembunyi sebentar. Pria itu ingin mengorek sedikit keterangan dari Farhan dan mengetahui motif dari pengeroyokan itu.
" Assalamualaikum, Om Bramantyo!" Sapa pria itu masih santun dengan menyalami pria itu yang sangat dekat hubungannya dengan Pak Adrian Damash dan Feri Darmawan.
" Walaikum Salam. Duduk Farhan!"
Pria yang merupakan mantan suami Karolina itu menduduki sebuah kursi di depan lelaki yang tampak berwibawa itu. Sayangnya seragam itu tidak dikenakan beliau hari ini. Karena ada kegiatan bakti sosial di kantornya. Jadi dia berpakaian sipil.
" Kamu baik-baik saja?" tanya Pria itu sambil mengawasi wajah tampan Farhan yang lebih tirus dari beberapa bulan yang lalu. Benar saja perkiraan Jenna itu. Tak ada luka seujung kuku pun di wajah tampan dan bersih dari anak bungsu Nyai Dian Komariah Hisbillah itu. Agak mencurigakan bukan?
" Baik-baik, Om... Apa keluarga Damas atau Darmawan yang mengetahui perkara ini? Sampai Om bersusah- payah dan mau turun- tangan untuk mengusut perkara sepele seperti ini?" Ucap Farhan cepat.
" Kamu selalu meremehkan nama keluarga itu, bukan? Justru Om sangat beruntung bertemu mereka, Pak Damash dan Feri Darmawan adalah orang baik, bermartabat dan tidak suka memanfaatkan orang lain. Kamu salah tentang mereka! Jenna yang mengurus kasus ini!"
" Jenna?" Dari suaranya terdengar Farhan agak khawatir.
Dia pernah kena hantam salah satu jurus andalan cucu termuda dari keluarga Damash itu. Sampai seminggu dia masih merasa nyeri di di pinggang dan bahunya kena hantaman itu.
Farhan diam tak bergeming. Pria dapat menilai kalau Farhan tak peduli dengan apa yang telah dilakukannya saat ini.. Setelah keluarganya banyak mengalami permasalahan pelik dalam hal keuangan. Dia selalu diliputi segala amarah yang membabi buta tanpa mementingkan perencanaan dan logika. .
" Jenna sudah mendapatkan rekaman CCTV di cafe ini, dengan kejadian pengeroyokan itu. Dia akan melaporkan ke Polsek terdekat! Kamu ada masukan?" tanya Pria itu lagi sambil memainkan hape mahal di mejanya.
Belum sempat Farhan menjawab, terlihat ada sosok Jenna datang ke mejanya ini. Dia diikuti tiga pria lain di belakangnya. Dua pria dalam penampilan yang hampir sama, yaitu bergaya militer. Ditambah jaket bomber hitam dan sepatu pantofel hitam.
" Assalamualaikum, Kak Farhan! Nggak tergerak melihat keadaan Marvin yang hampir sekarat? " Ucap Jenna manis - manis kecut. " Dasar lelaki biadab! Sudah nggak pake otak dia. Bertindak semaunya dan menyalahkan orang lain... Daripada mengintropeksi ketidakmampuan dirinya sendiri untuk mengatasi permasalahan keuangan di keluarganya!"
Wajah Farhan menegang... Seakan-akan dia tidak menerima omelan Jenna yang diucapkan seolah sambil lalu itu! Tetapi jelas-jelas sedang menyindir dirinya!
"Om, Bang Tedi sudah ke sini bersama Bang Fendi. Sebaiknya sekarang kita buat laporan ke Polsek setempat.. Ada seorang pekerja di kafe ini yang mau jadi saksi, kok! O, ya ... Kak Farhan juga bisa menjadi saksi juga. Dia kan terlibat dalam pengeroyokan itu! Walaupun nggak menutup kemungkinan dia bisa menjadi...."
__ADS_1
Jenna terdiam! Gadis itu saja sudah gemas sejak dia berada di ruang manajer cafe, ditemani seorang ajudan Om Bramantyo... Farhan tadi yang melarang pihak manajer cafe untuk melaporkan kejadian ke kepada pihak yang berwajib... Alasannya agar nama baik cafe ini tetap terjaga dan tidak tercemar jelek.
Cafe tempat nongkrongnya anak muda itu ini yang baru beberapa bulan beroperasi dan langsung nge-hits. Setelah ada satu atau dua orang anak muda yang memposting keberadaan tempat ini ke media sosial mereka. Ternyata banyak orang yang menyukainya.
Cafe ini menawarkan sensasi yang berbeda dibandingkan cafe lainnya Selain makanan yang dijual sangat bervariasi. Bangunan Cafe dua lantai bini bergaya industrial. Uniknya, di sisi kiri dan kanan ada perkebunan buah jambu kristal juga mangga. Di belakang cafe, terbentang sawah yang menghijau.
" Apa kamu menjadikan saya saksi?" tanya pria itu.
" Kalau perlu! Bukannya Kak Marvin datang ke sini karena diundang Kak Farhan, kan? Dia yang sudah jadi korbannya, lho!" ujar Jenna cepat.
" Ayo Farhan kita harus jalan! Biar nanti ajudan saya akan membantu mengusut masalah ini sampai tuntas."
Tampak Farhan berdiri agak ogah-ogahan. Dia berusaha cuci tangan dari masalah ini. Matanya melirik ke kiri dan ke kanan untuk mencari kesempatan agar bisa lepas dari tempat ini, alias kabur. Otaknya berpikir sangat cepat, mencari seribu cara.
Mungkin dia bisa mengelak dari persoalan ini. Kalau bisa meminta pertolongan dari pengunjung cafe yang kebanyakan kaum muda. Apalagi Om Bramantyo dan juga ajudan tidak berseragam. Pri itu malah berpakaian sipil berupa kemeja lengan pendek biru kotak-kotak, dengan bawahan celana kerja bahan hitam. Pria itu juga memakai sneakers putih dengan brand yang tampak asli.
Ketika Farhan mau berbalik arah, dengan cepat Jenna menjejak tungkai lelaki itu. Ada suara yang berbarengan antara jeritan tertahan yang keluar dari mulut lelaki itu dengan suara tulang yang berderak keras. Tubuh Farhan jatuh terduduk dengan kedua lututnya menekuk di lantai. Sebuah lengan mungil yang halus melingkari lehernya dengan sangat kuat.
" Sekali bergerak, leher ini patah! Kamu akan mati sia- sia!" Ancam Jenna dingin.
Semua terkejut dengan serangan mendadak dari Jenna. Apalagi gerakannya itu sangat cepat dan terduga. Gunawan, lelaki yang tadi berdiri paling belakang dari rombongan itu sampai melotot hampir tak percaya.
Di depannya, Farhan mengaduh- aduh. Wajahnya menyeringai jelek menahan sakit. Mungkin Jenna sudah membuat tulang keringnya di kaki kirinya itu retak karena tendangan kakinya sangat kuatnya.
"'Urus ini, Rafi!" Pinta Om Bramantyo. Sekarang dia hampir memelototi Farhan. " Sepertinya kamu sekarang hanya menjadi lelaki pecundang! Bertanggung jawablah dengan semua perbuatan yang sudah kamu lakukan!"
Ajudan Om Bramantyo yang bernama Rafi itu menarik keras kedua lengan Farhan yang dipiting di punggungnya, agar lelaki itu terbangun. Langkah Farhan terseok-seok saat digiring ke halaman parkir cafe. Segera dia dimasukan ke dalam Fortuner hitam milik Om Bram. Sementara Gunawan segera masuk ke dalam Honda Jazz merah itu. Kedua mobil itu beriringan keluar dari halaman cafe.
Seorang pekerja segera membereskan meja itu. Tetapi dia terkejut ketika menemukan sebuah amplop putih di meja. Tampaknya sengaja ditinggalkan oleh seseorang dari rombongan pria yang cukup berwibawa tadi. Di dalamnya berisi puluhan lembar uang seratus ribuan. Di amplop itu terdapat tulisan yang kecil dan tipis.
__ADS_1
" Untuk ganti kerugian barang yang rusak. Terimakasih atas kerjasamanya." Tak ada ada nama , juga tidak atau tangan di tulisan belakang amplop itu. Hanya ada huruf J saja yang tertera di sana.