Jodoh Untuk Jenna

Jodoh Untuk Jenna
Bab 46. Kebimbangan di Hati Jenna


__ADS_3

Di dalam kamarnya yang rapi dan bersih, Jenna berbaring. Kali ini bukan karena dia letih, tetapi terlalu banyak yang dia pikiran.


Sebenarnya dia memang membutuhkan suasana baru. Hidupnya terlalu monoton selama ini. Sejak dia kuliah, mamanya meminta Jenna fokus pada studinya sehingga dengan cepat dia menyelesaikan dalam waktu kurang dari empat tahun, dari waktu yang seharusnya.


Berbagai kegiatan di luar kuliah mulai dilepaskannya satu persatu. Dari organisasi di kampus, di lingkungan rumah sampai kegiatan olahraga raganya.


Sejak mendengar ucapan receh dan rayuan gombal yang dengan begitu mudah dilontarkan oleh seorang pria bernama Prasaja Bramantyo! Jenna mulai berpikir ulang untuk tidak menerima tawaran kakaknya mengelola sebuah bisnis baru di sana.


Bekerja di Bali dan tinggal di Pulau Dewata itu, memang sudah lama menjadi impiannya. Biasanya mereka sekeluarga hanya berlibur di sana untuk satu atau dua minggu saja. Karena ada saudara jauh Ibu Arunika yang mempunyai cottage yang disewakan per satu rumahnya.


Sekarang Jenna semakin galau. Kalau dia harus bertemu setiap hari dengan pria model Casanova awal abad 19, nggak lah, ya! Bukan saja dia muak melihat gayanya yang absurd! Tetapi bisa saja dia sulit tidur setiap malam karena selalu bermimpi buruk.


Apa iya, cewek - cewek Bule mudah jatuh hati dengan pria yang hanya mampu mengucapkan gombalan recehnya itu? Seorang pria yang berlatar berpendidikan dari luar negeri. Namun hidupnya bagai seorang musafir, berkelana dan berpindah- pindah dari satu negara ke negara.


Kembali dia memikirkan ucapan Opa Damash, untuk mempunyai usaha sendiri itu. Tetapi memulai sebuah usaha, sekecil apa pun skalanya, tetap saja harus mempunyai modal yang cukup besar.


Lagipula kata Papa, sekarang ekonomi Indonesia sedang dalam masa krisis akibat hantaman virus covid yang melanda seluruh dunia. Juga banyak negara menutup impor.


Keadaan itu terus Jenna bawa akhirnya sampai dia kembali bekerja keesokan harinya di kantor. Dia pun semakin jarang keluar dari ruangannya, kalau tidak terlalu penting sekali. Apalagi harus keluar dan masuk ke kantin. Bertemu dengan para emak- emak dari kelompok rumpi itu lagi. Justru bawaannya jadi males saja!


" Jenna. Hay, Jenna!" Panggil Tante Ismaya yang sudah berkali - kali mengetuk pintu ruang kerjanya.


" Tante Ismaya. Masuk, Tan!" Panggil Jena terkaget - kaget. Karena dia cukup lama termenung dan melamun di depan laptop.


Segera Jenna menutup layar laptopnya... Sejak tadi Jenna mencoba berkonsentrasi dengan segala jenis laporan yang ada di hadapannya.

__ADS_1


" Sudah makan siang, ya?" tanya Wanita cantik itu. Tak urung matanya seketika melihat ada dua buah kotak makan Tupperware di meja kerja Jenna. Sepertinya itu salad buatan ibunda dokter Arunika yang terhormat. Satu kotak Tupperware lagi berisi nasi goreng komplit masakan Mak Isah.


"Mau Tante, salad ini? Belum disentuh, Kok! Mak Isah sudah membawakan nasi goreng ini terlalu banyak. Tadi sudah separuh Jenna habiskan, saat pagi hari. Separuhnya ini baru dimakan untuk makan siang."


Tante Ismaya membuka tutup Tupperware yang berisi salad itu. Tangannya bergerak dengan sendok plastik, diambilnya salad campur buatan kakak iparnya ini yang cukup menarik pandangan matanya.


Di sana ada potongan buah segar seperti apel, pear dan melon. Ditambah sayuran seperti daun selada dan kol merah. Semua itu dicampur dengan saus dari kuning telur yang dihaluskan ditambah minyak zaitun, perasaan air lemon, madu juga taburan biji wijen sangrai. Di atas salad itu ada hiasan potongan anggur hijau.


" Ini, enak sekali, Jenna. Cukup mengenyangkan, tetapi tidak banyak mengandung kalori!" Ucap si Tante.


Jenna hanya tersenyum masam... Justru sang Mama membawakan salad itu agar Jenna ada nafsu makan. Akhir-akhir ini, Jenna lebih sering makan di luar rumah. Walaupun ART selalu menyediakan menu yang sudah disusun Mamanya secara baik. Biasanya Jenna akan memesan makanan itu melalui aplikasi pesan antar.


Baginya makan sendirian di ruang makan keluarga Darmawan yang luas itu tidak enak. Walaupun Mak Isah selalu siap sedia untuk menyiapkan berbagai makanan kesukaan Jenna.


"Tante, tolong dong, kasih ke Jenna! Usaha apa yang paling mudah dijalankan pada saat sekarang ini ?" pinta Jenna lembut.


" Belum jelas, masalah itu, Tante ... Apalagi Bang Tedi malah sibuk di sini membantu Papa!"


" Banyak Jenna! Kita bisa memulai dari usaha sembako, ada jajanan kekinian dari makanan sampai minuman.Ada produk fashion untuk anak atau wanita, menjual produk elektronik, alat rumah tangga, produk kecantikan dan kesehatan..."


Jenna hanya mengangguk tanda setuju. Usaha seperti itu pun, Jenna harus punya rekanan juga. Tak mungkin dikerjakannya sendiri. Dia harus punya tempat usaha, misalnya menyewa ruko. Harus mengaji karyawan juga, belum yang lainnya.


"Bagaimana kalau mencoba untuk mengelola usaha salon Tante yang ada di Blok M, mau? Tante kurang suka dengan cara Lina mengatur di sana. Kurang gaul istilahnya, jadi banyak karyawan yang cukup profesional pada mundur."


" Memang salon itu masih buka, Tante? "

__ADS_1


" Masih, sementara Tya yang ngatur. Kalau kamu mau pegang, nanti Tya akan Tante tarik kembali ke salon pusat. Sayang, sih! Pelanggan sudah banyak. Ruko itu sudah Om Jhon beli juga. Mungkin kamu bisa memberi ide, untuk mengisi usaha pada lantai atasnya. misalnya. membuka kafe kecil, jualan pakaian dan aksesoris wanita , biar ada perubahan.." Ujar Tante Ismaya menggebu-gebu.


Usaha utama Tante Ismaya awalnya adalah mendirikan klinik kecantikan.. . Salon adalah usaha tambahan, agar pelanggan klinik langsung dapat mengupgrade dirinya setelah melakukan perawatan wajah dan tubuh.


Oleh karena itu, sebuah klinik kecantikan akan lebih dipercaya bila ditangani oleh seorang dokter ahli kecantikan yang sesuai dengan bidangnya. Jadi dapat dipertanggung jawabkan hasilnya.


" Apa ada tawaran lainya, Tante?"


" Kenapa tidak tetap bekerja di kantor ini?"


" Males Tante! Banyak perempuan yang mulutnya lebih tajam daripada pisaunya Mak Isah!"


Tawa Tante Ismaya terdengar geli.


" Itulah dunia kerja, Jenna! Ada banyak gosip, saling bersaing untuk menjadi yang terbaik, saling sikat!"


" Capeknya, Tante ! Diomongin sana- sini. Kuping Jenna jadi gatal. Jadi serba salah. Apalagi kalau sudah ngomongin kemampuan Jenna, yang katanya nggak sesuai lah! "


Tante Ismaya kembali tertawa dengan omelan gadis muda ini. Sebab yang dia tahu keponakan suaminya ini biasanya tahan mental dan tahan uji. Karena Jenna agak tomboy juga! Tetapi telinga gadis itu suka agak memerah dengan berbagai sindiran tak jelas!


Jenna masuk ke perusahaan Om Jhon pun untuk mengasah kemampuan dirinya. Malah banyak pegawai lainnya yang menyebutnya masuk dengan sistem KKN, nepotisme dan lain- lain...


Buktinya? Hasil kerja Jenna cukup bagus selama ini. Jenna telah memperbaiki sistem pengajian juga absen karyawan. Tetapi soal yang satu ini, Jenna cukup kewalahan juga mengatasinya. Terutama soal kedisiplinan dan irama kerja pegawai yang kurang optimal. Ada satu dua orang pekerja pria yang mulai mengulur waktu saat istirahat siang sudah selesai.


Agak segan Jenna menegur atau , mengatur pekerjaan karyawan. Tak mungkin juga dia menasehati cara kerjanya karena usianya lebih muda. Sedangkan yang akan ditegur lebih tua, banyak pengalaman hidup dan sudah lama menjadi karyawan di perusahaan ini.

__ADS_1


Dua hari kemudian, Tante Ismaya membawa Jenna ke salonnya. Nama salon itu " Salon Ismaya" Terletak di sebuah jalan simpangan yang cukup strategis...Di sepanjang jalan itu berdiri berbagai tempat usaha dengan konsep bangunan yang unik dan menarik sampai gedung megah dan mewah.


Tempat usaha sangat beragam , dari restoran ala kali lima, sampai berbentuk kafe yang cukup dikenal anak- anak muda. Banyak galeri , butik dan toko- toko yang menjual produk makanan, kebutuhan sehari-hari sampai segala aksesoris khusus wanita.


__ADS_2