Jodoh Untuk Jenna

Jodoh Untuk Jenna
Bab 64. Di rumah Keluarga Darmawan


__ADS_3

Pagi harinya, rumah keluarga Feri Darmawan jadi ramai. Di ruang keluarga ada Karolina, Pak Feri dan dokter Arunika berkumpul. Sementara Jenna di dapur sibuk meminta bantuan Mak Isah untuk membawakannya sarapan di dalam dua wadah untuk dibawa ke salon.


" Morning, guys!" Seru Jenna riang ketika bertemu keluarganya di meja makan.


" Ini anak, nggak ada susah- susahnya jadi orang, " ucap ibunya.


" Hidup harus terus berjalan, Mama. Ayo, Karo, Itu pilihanmu yang terbaik, ... Ayo bangkit!"


Karolina menatap Jenna yang sudah berpakaian rapih pagi ini. Dia bersiap untuk berangkat bekerja. Suatu pekerjaan yang lebih banyak memberi Jenna suatu tantangan.


" Karo nanti kamu ikut Mama untuk bawa Baby Efron ke klinik!"


" Siap Mama Arunika, biar Sus Fani yang menyiapkan keperluannya..."


Di rumah besar ini, para ART sudah mempunyai tugas dan pekerjaan masing- masing. Jadi rumah berlantai dua ini selalu dalam keadaan bersih, rapi dan teratur.


Mak Isah sudah menyiapkan berbagai cemilan sehat yang akan dibawa dokter Arunika ke klinik tempatnya praktek di daerah Lebak Bulus, tiga kali dalam seminggu.


" Non Karo, ini jus buah buah dedek bayi!"


Sebotol jus buah campur sudah disiapkan oleh wanita paruh baya yang cukup gesit itu. Sementara tiga Mbak yang lain sudah mulai mengerjakan pembersihan masing-masing kamar para anggota keluarga di rumah ini. Paling mereka hanya mengeluarkan tumpukan baju kotor yang ada di keranjang depan pintu kamar mandi. Selain menyapu dan mengepel lantainya.


Mbak Jiah yang lebih sibuk karena harus mengunakan vacuum cleaner untuk menyedot debu karpet yang digunakan di lantai kamar tidur utama itu.


" Jiah...!" Panggil Sang majikan.


" Ya, Bu..." Jawab Mbak Jiah sopan.


" Bilang sama Ayu, kalau mau mencuci pakaian, tolong pisahkan baju orang dewasa dengan baju bayinya, ya! Pakai mesin cuci portabel saja, juga ada sabun cuci khusus di sana!"


Wanita cantik itu mematut diri sebentar di depan kaca besar di depan lemari pakaian... Sambil mengambil tas tangan, lalu memakai sepatunya.


" Itu uang di meja, buat jajan kalian nanti! Bagi yang rata... "

__ADS_1


" Terimakasih, Bu!"


Mbak Jiah yang mengurus kebersihan kamar tidur utama, milik sang majikan. Selalu mendapatkan amanah untuk membagi uang jajan untuk mereka, para ART di rumah ini. Biasanya dokter Arunika melakukan hal itu kalau mereka mempunyai tamu yang banyak atau ada acara di rumah. Sehingga pekerjaan para ART akan bertambah. Padahal mereka semua melakukan pekerjaan berat itu tanpa mengeluh. Sebab Dokter Arunika sangat menghargai kerja keras mereka.


Sore harinya, terlihat BMW sport milik Tedi Darmawan memasuki tempat parkir di samping paviliun... Pria tampan dan rupawan itu tidak datang sendirian. Dia bersama Marvin sambil mengangkat satu koper pakaian.


" Thanks, Vin!" ujar Bang Tedi ketika koper besar itu sudah berpindah dari bagasi ke depan pintu depan rumah utama.


" Sama-sama, Bang!"


" Eh, Elo jangan ikut-ikutan Jena dan Karolina panggil gua Abang! Kapan gua kawin sama Mpok Lu?" ujarnya nyolot.


Marvin tertawa ngakak. Dia juga agak ragu-ragu memanggil kakaknya Jenna ini dengan namanya saja, walaupun usia mereka hanya terpaut satu tahun saja. Tetapi kemampuan anak kedua dari keluarga Darmawan ini sudah melampaui kehebatan sang ayah yang mampu mengelola sebuah perusahaan besar yang yang menaungi beberapa anak perusahaan dalam berbagai bidang yang berbeda.


Tedi baru mendengarkan permasalahan perceraian Karolina dari Jenna tadi malam. Setelah beberapa hari sebelumnya sepupunya itu tinggal di rumah orangtuanya bersama bayi dan wanita muda yang menjadi baby sister untuk Efron.


Marvin tak berbicara apapun tentang persoalan itu. Yang dia tahu, pria ini menjadi manager pemasaran pada pabrik skala menengah yang ada di kota Bogor... Karena pabrik itu sudah diambil alih perusahaan lain, Pak Feri pun melepaskannya.


" Assalamualaikum!" salam Tedi, saat pemuda itu malah masuk ke paviliun yang di depan dekat tempat parkir depan ...Marvin jadi berhenti di depan garasi besar itu. Sampai koper itu diangkat seorang pria yang tadi membuka pintu gerbang utama.


" Jadi bapak tinggal di sana?" tanya Marvin sambil menunjuk rumah di dekat halaman parkir depan.


"Iya, Sebenarnya itu rumah lama peninggalan nenek Pak Feri. Sekarang ditempati keluarga kami. Ibu kami sudah bekerja di rumah ini sejak Non Jenna lahir... Sekarang Ibu hanya menggurus dapur dan masak-memasak di rumah utama. Saya jaga rumah dan cuci mobil. Sedangkan istri saya yang menyetrika dan belanja keperluan rumah utama sehari-hari."


Keterangan itu cukup menarik perhatian Marvin... Sungguh berbeda cara pengaturan orang-orang yang bekerja di keluarga ini dengan keluarga besar Hisbillah di Bogor.


Semua orang yang bekerja di keluarga Darmawan dan Damash diperlukan secara layak dan diberi gaji yang cukup... Sehingga para pekerja itu betah dan tinggal bersama keluarga itu bertahun- tahun. Lain halnya dengan Keluarga Hisbillah di bawah komando Ibu Nyai Hisbillah... Hanya diberi uang bulanan sekedarnya...Padahal pekerjaan mereka hampir 24 jam tidak pernah berhenti.


Keluarga Hisbillah selalu menyelenggarakan acara pengajian hampir seminggu dua atau tiga kali. Acara itu memerlukan konsumsi yang cukup besar, sehingga di rumah belakang itu banyak orang yang diperkerjakan untuk memasak. Dari makanan berat berupa nasi kebuli dengan segala pelengkapnya. Sampai makanan kecil. Kebanyakan yang bekerja di sana adalah orang-orang yang masih berkerabat dengan Ibu Nyai Komarudin Dian. Jadi mereka bekerja karena mengharapkan berkah dan pahala, walaupun diberi upah sekedarnya saja.


Selain rumah besar yang menjadi satu dengan komplek berbagai usaha milik keluarga besar Hisbillah. Di samping rumah besar mereka, juga berdiri mesjid berkubah emas dan biru yang didirikan oleh Kakek buyut dari Ibu Nyai Hisbillah. Sayangnya, nama sang kakek tidak bisa disandang lagi pada nama anak-anak dan cucu lelakinya sejak dia menikah dengan Zaenudin Hisbillah. Yang juga namanya cukup dikenal di dunia masyarakat di sana sebagai ketua partai daerah setempat, sejak terjun ke dunia politik hampir sepuluh tahun yang lalu.


Marvin masih duduk di teras teduh, di depan mushola keluarga ini. Dari dalam paviliun terdengar tawa ceria seorang wanita dan Tedi yang memenuhi ruang tamu itu. Pintu rumah terbuka dengan jendela yang terbuka , menandakan kalau mereka adalah orang -orang yang sangat mudah menerima orang lain.

__ADS_1


" Lho, Nak Marvin malah nunggu di luar?" ujar Mak Isah.


Wanita itu masih tersenyum sambil memegang tas kecil berisi makanan yang tadi dibeli Tedi di pinggir jalan.


" Koper gua , Lo bawa ke mana?"


" Tadi dibawa seorang bapak berpeci ke dalam rumah!"


Tiba - tiba bapak yang disebutkan tadi muncul dari pintu samping yang menembus dari pintu belakang dapur.


" Saya kasih ke Mbak Ayu, Den Tedi! Itu semua pakaian kotor, kan?"


" Iya, Pak Imam... Di dalam rumah ada siapa?"


" Ada Non Karo, dedek bayi dan Suster Fani... Nyonya pulang malam... Paling sebentar lagi Non Jenna juga pulang."


" Makasih, Pak. Ayo, bro! kita masuk. Mak Isah sudah menghidangkan masakan kesukaanku!"


Benar saja, di ruang makan sudah ada Karolina yang baru saja menyelesaikan makannya...


" Mbak! " Sapa Marvin sopan.


" Kamu sudah gabung di kantor pusat, Vin? Bagaimana?"


Marvin menghela napas agak panjang. " Maaf, Mbak Karolina... Saya juga agak telat mendapat informasinya.... Ibu Nyai sengaja menutupinya serapat mungkin pernikahan kedua Farhan. Tetapi dia lupa, saya juga sudah lama bekerja bersama anaknya. Akhirnya ada juga orang yang memberi tahu kepada saya kebenaran itu..."


" Nggak apa -apa, Vin. Mungkin memang jodoh kami hanya berumur pendek saja. Tanpa Kak Farhan menikah lagi pun, saya sudah minta bercerai... Pusing Vin, punya ibu mertua bawelnya minta ampun..."


" Susah, Mbak...Sejak Pak Zaenudin fokus pada kegiatan di partainya, semua urusan yayasan menjadi tanggung jawab Ibu Nyai dan menantu perempuannya. Jadi ibunya Farhan itu mengatur semua urusan dengan tangan besi...Dia tidak tahu urusan kesepakatan antara Pak Damash dan Pak Hisbillah setelah pernikahan itu."


Tedi pernah datang ke kediaman Zaenudin Hisbillah itu, hampir 4 bulan yang lalu. Banyak biaya operasional pabrik di luar perkiraan mereka. Padahal pesanan semakin banyak, tetapi pemasukan semakin berkurang. Niat awalnya mereka akan menutup pabrik tersebut, karena mencurigai ada dana siluman yang direkayasa kedua kakak Farhan itu.


Bukan Tedi meremehkan beberapa usaha dan perusahaan mereka milik keluarga besar Hisbillah itu. Sejak pandemi berbagai usaha yang dijalankan anak- anak Hisbillah mengalami berbagai kendala...

__ADS_1


Sekolah boarding school milik keluarga mereka, dengan latar agama di kawasan pinggiran kota Bogor hampir kolaps... Sebab semua siswa harus kembali ke rumah orang tua masing -masing, dan belajar di rumah. Padahal gedung sekolah berlantai enam itu baru beroperasi dalam dua tahun ini dan terus membangun berbagai fasilitas yang dibutuhkan dengan dana pinjaman di bank yang cukup besar. Tanpa keberadaan murid di sana, tentu tidak ada uang masuk untuk pembayaran biaya untuk tinggal di asrama, biaya operasional lainnya termasuk mengaji guru-guru yang akan menjadi pengawas di sekolah asrama itu.


Sebuah perusahaan agen Perjalanan umroh dan Haji yang dikelola anak kedua dan menantunya perempuan untuk menyelenggarakan perjalanan ibadah haji dan umroh, sudah harus ditutup operasional sejak pertengahan tahun 2020. Karena adanya larangan berpergian ke berbagai negara saat ini. Apalagi penyebaran virus Corona ini semakin meluas mencapai seluruh dunia. Di tanah Suci juga menutup kedatangan para jamaah dari berbagai negara untuk memutus penyebaran virus di wilayah Asia Barat itu.


__ADS_2