
Kesehatan Opa mulai berangsur - angsur mulai membaik. Beliau sudah cukup kuat untuk meninggalkan kamarnya, setelah menyelesaikan sarapan paginya. Tentu dengan tumpukan bermacam-macam obat yang disiapkan Suster Erni di piring kecil. Semua itu harus diminumnya satu- persatu.
Jenna harus berangkat kerja dan dijemput pulang oleh Pak Min setiap hari dari Sentul ke Kelapa Gading. Itupun atas perintah sang Kakek, karena tidak mau cucu kesayangan itu kelelahan karena menempuh jarak yang begitu jauh untuk bekerja.
Sementara di rumah ini, ada dua supir lain yang akan mengantar Oma Frida untuk melakukan kegiatan di luar rumah. Atau si bibi apabila minta diantar berbelanja ke pasar tradisional di sekitaran Sentul, Bogor.
Memang merawat pasien di rumah sendiri itu ternyata lebih merepotkan, daripada dirawat inap di salah satu di rumah sakit. Sebab semua anggota keluarga mempunyai kewajiban untuk menjaga kebersihan rumah dan kamar yang digunakan pasien. Sampai makanan pun harus dari bahan- bahan yang fresh dan memenuhi standar gizi yang dianjurkan oleh dokter yang hampir setiap sore datang memantau. Tetapi dari kebaikannya itu adalah jiwa si pasien menjadi lebih tenang dan nyaman karena berada di tengah keluarganya. Lebih banyak yang memberi si pasien support untuk kesembuhan dari penyakit yang dideritanya.
Bu Rully juga sudah mendengar kabar kalau Jenna akan mengundurkan diri dari kantor ini pada akhir bulan Desember nanti. Semua itu disampaikan sendiri oleh pak Bos ketika akan menutup rapat siang kemarin. Tentu pria itu tahu hubungan akrab yang terjalin antara sekertaris yang sangat handal itu dengan keponakan yang paling dia sayangi.
Ada sebuah alasan dari Pak Jhon Sagara menyampaikan itu kepada Bu Rully. Sebab wanita itu sangat pandai menyimpan rahasia. Selama ini, Jenna masuk kerja di kantor ini pun karena masih terhitung sebagai anggota keluarga. Bukan KKN, sebab Jenna harus belajar banyak tentang perusahaan, walaupun mungkin gadis itu bisa memilih berkarier di bidang yang lain.
Tak banyak orang yang tahu, kalau perusahaan ini masih di bawah naungan perusahaan besar milik ayahnya Jenna, P.T Darmawan Industry. Karena mendirikan sebuah pabrik untuk mengolah berbagai produk kosmetik itu, memerlukan modal sampai milyaran rupiah.
Tampaknya Jenna pun dengan cepat menerima semua tanggung jawabnya sebagai bagian dari divisi HRD. Jadi hal itu tidak menimbulkan permasalahan. Gadis itu pun menjadi menduduki wakil manager HRD di kantor tersebut.
Sebagai karyawan baru pun, Jenna pun diperlakukan sama dengan pegawai yang lain. Lucunya, sosok Jenna jauh dari bullying para seniornya, yang terkadang agak keras dan tak masuk akal.
Entah karena bisikan atau rumor yang beredar kemudian dari seseorang yang mengetahui tentang jati diri Jenna sebenarnya. Atau penampilan Jenna yang terlihat sangat percaya diri. Kadang gadis itu berpenampilan melawan arus mode yang sedang trend saat itu. Malah dia berpakaian terlalu sederhana, yang penting-penting Ng rapi dan sopan.
Apalagi Jenna mematahkan stigma tentang gambaran gadis muda yang berasal dari keluarga yang kaya. Sebab Jenna bukan gadis yang manja atau egois. Dia juga jarang mengeluh ketika tumpukan laporan di meja kerjanya menggunung. Bahkan sesekali dia akan lembur di ruang kerjanya sampai pukul 19.00. Bila laporan itu harus sudah diterima Pak Bos besok pagi di meja kerjanya.
Sebenarnya Jenna pun tak mau diperlakukan secara istimewa di kantor itu. Sebab dia pun harus belajar banyak menghadapi para karyawan dengan bermacam- macam karakter. Hal itu merupakan salah satu dari bagian tugasnya.
__ADS_1
Kembali para pegawai wanita mulai sibuk bergosip ria. Tidak cukup melalui WA grup saja. Kini mereka sering ngumpul makan siang bareng di kantin kantor saja, demi menghemat waktu. Agar lebih banyak lagi mendengar bahan gosip terupdate.
Satu berita yang paling hangat yang menjadi trending topik kali ini adalah tentang rencana mundurnya Jenna dari kantor.
Lihat saja komentar karyawati lain, yang jarang bertemu dengan Jenna.
" Nggak sayang, tuh Jenna! Keluar dari kerjaan di kantor ini. Zaman covid begini... Belum tentu dia mendapat pekerjaan yang lebih baik dari di sini!"
Komentar seorang gadis yang biasanya sibuk di bagian pemasaran. Bu Rully terdiam. Hanya terlihat, kalau Jenna jarang ngumpul bareng lagi. Apalagi, Jenna juga diantar jemput dengan kendaraan sejenis sedan namun bukan model terbaru. Tetapi mobil itu terlihat cukup bagus dan terawat. Ditambah ada supir yang stand by di parkiran kantor seharian.
" Iya, dia walaupun lulusan S1 Ekonomi kan belum banyak pengalamannya! Mana ada perusahaan besar menerima karyawan baru hanya bermodal cantik dan anak orang kaya saja ! "
Komentar gadis lain yang ternyata sangat kepo juga dengan sosok Jenna yang sangat dekat dengan si bos dan istrinya. Juga petinggi di kantor ini.
Begitulah wanita, apabila mendapatkan peluang untuk merendahkan perempuan lain, langsung dia unjuk suara. Bahkan banyak dari mereka yang tidak mengetahui hubungan antara sang pemilik perusahaan ini dengan diri pribadi Jenna Melinda Darmawan!
" Ramai, ya. Bu. Masalah saya mau keluar dari sini ?" tanya Jenna pada Bu Rully.
" Biasa, mulut perempuan... Kalau nggak komentarin masalah orang lain, tubuhnya gatal-gatal, kali!" Ujar Bu Rully malas.
Jenna tertawa geli. Apakah Mbak Sonya yang menyampaikan hal tersebut? Entahlah... Jenna tak terlalu mempedulikannya.
Jenna melanjutkan pekerjaan yang tersisa. Ajakan Om Jhon untuk ikut pertemuan dengan salah satu orang penting untuk perusahaan rekanan nya itu tak bisa diabaikan!
__ADS_1
Jenna meminta Pak Min bersiap. Tak lama mobil sedan itu bergerak meninggalkan halaman parkir kantor menuju arah ke arah Jakarta Pusat. Mobil Om Jhon juga melesat di belakangnya. Kali ini pria itu membawa mobil kesayangannya itu sendiri. Sang supir sedang mengantar si Nyonya pulang ke rumah untuk mengontrol belajar anak tunggal mereka. Verrell yang baru kelas 4 SD dan harus belajar di rumah secara online.
Sebenarnya si Om agak menyayangkan keputusan Jenna untuk keluar dari kantor ini. Setidaknya gadis itu kesayangan itu dapat belajar banyak bersamanya. Sayangnya, Jenna bukan gadis yang mudah dikekang karena punya banyak keinginan. Dia terlalu mandiri untuk mengatur kehidupannya selama ini.
" Sudah sampai, Non!" Ujar Pak Min Sopan.
Jenna bersiap-siap untuk turun. Beginilah. Mereka harus menemui para rekanan usaha secara face to face untuk menyakinkan mereka. Padahal mereka sudah sering rapat dan membicarakan pekerjaan itu secara zoom. Tetap saja ada yang kurang.
" Sini, Jenna! " Panggil Om Jhon. Pria itu dengan santainya mengandeng keponakannya itu masuk ke dalam lift menuju kantor rekanan usahanya itu.
Mata Jenna mengawasi sebuah ruangan yang menyerupai restoran. Tempat ini lebih privat dengan jarak meja lebih jauh di antara para pengunjung di sana
" Ini Jenna, ya?" Sapa seorang pria yang sepantaran usianya dengan Om Jhon.
" Lu kira, gua sugar Daddy apa! Bawa cewek muda ketemuan di restoran. Ini Jenna, Bro. Lupa?"
Pria itu tertawa geli. Hilang sudah sifat jaim pria itu tadi. Tentu sebagai pimpinan tertinggi di sebuah perusahaan besar , pria itu harus terlihat cool. Sebab nama besar perusahaan yang didirikannya sejak empat tahun lalu semakin berjaya. Sejak dimulainya trend berbelanja Online sebagai gaya baru di kehidupan masyarakat modern. Apalagi pada masa pandemi seperti, yang menyebabkan beberapa pusat perbelanjaan, mall, pertokoan mulai ditutup.
" Jenna, ini Om Zaki Iskandarsyah. Kamu lupa?"
Senyum Jenna mengembang setelah mendengar cerita Om Jhon. Pria ini dulu adalah sohib Om Jhon sewaktu mereka bersekolah di satu SMA yang sama. Karena memilih kampus dan jurusan yang berbeda akhirnya mereka terpisah juga. Apalagi setelah lulus kuliah , bekerja dan berumah tangga. Semua karena disebabkan oleh kesibukan masing-masing.
Persahabatan di diantara mereka ternyata cukup langgeng juga. Padahal sudah semakin tua! Apalagi Om Jhon sudah jarang praktek dengan ijazah kedokteran yang dimilikinya. Sebab pria itu ikut membantu istrinya yang mulai berbisnis dalam memproduksi berbagai kosmetik kecantikan untuk wanita hasil racikannya.
__ADS_1
Sampai Om Jhon memimpin perusahaan itu, karena hasil produk berbagai kosmetik itu cukup diminati oleh wanita dari kalangan menengah sampai kaum sosialita. Apalagi mereka juga harus membangun pabrik yang membutuhkan modal yang sangat besar. Sehingga bekerjasama dengan salah satu anak perusahaan milik Ayah Jenna. P.T. Darmawan Industry.
Tawa kedua pria kembali menggema karena mengenang masa muda yang telah berlalu. Bahkan Om Jhon juga cukup berpuas diri dengan menempatkan dirinya saat ini sebagai salah satu pengusaha muda tanah air.