Jodoh Untuk Jenna

Jodoh Untuk Jenna
Bab 81. Miko di Mata Jenna


__ADS_3

Mobil berwarna hitam itu bergerak meninggalkan wilayah perumahan mewah itu menuju ke pusat kota Surabaya. Selama dalam perjalanan keduanya terdiam... Jenna belum mempunyai gambaran apa pun dalam pikirannya untuk mengunjungi salah satu dari berbagai objek wisata terkenal di kota Pahlawan ini.


Padahal sebagai guide tour atau tuan rumah yang baik, seharusnya pria ini lebih bersikap ramah kepadanya. Atau kalau perlu dia ngoceh saja, guna memperkenalkan kota kelahirannya ini, kepada orang yang hanya berkunjung tiga kali ke Surabaya dalam seumur hidupnya.


Sejak dia pertama kalinya datang ke kota ini, dibawa kakek-neneknya untuk memenuhi undangan dari rekan sejawat dan sahabat Opa Damash. Kakeknya Miko, kakek Ramon Sugandi yang menyelenggarakan pesta pernikahan untuk anak laki-laki bungsunya.


Mana Jenna ingat semua peristiwa yang menyertainya, karena pada saat itu dia baru berusia 4 tahun. Sedangkan kunjungan kedua tahun lalu, saat masa covid 19 sudah mulai mewabah di Indonesia. Dia menjadi teman seperjalanan Tante Ismaya yang sudah lama menjalin pertemanan dan bisnis dengan Mbak Rosalin sahabatnya. Barulah sekarang ini, dia bisa menikmati hingar-bingar keramaian kota Surabaya sebagai kota terbesar nomor dua setelah Jakarta.


Wah, kalau begini sikap Miko sebagai pelaku bisnis perjalanan wisata, akan menimbulkan banyak kerugian! Mana orang-orang atau wisatawan mau untuk mengunjungi daerah wisata di Jawa Timur, khususnya kota Surabaya ini. Kalau Si penunjuk jalannya itu diam saja! Lelaki cocok disematkan sebagai kulkas empat pintu, yang sedang dingin-dinginnya.


Tidak bersuara sedikitpun. Nggak ada manis -manisnya, kata iklan yang menerangkan kelebihan sebuah produk air mineral.


Dari duduknya Jenna terus mengamati sikap pak pengemudi, yang lebih mirip sebagai bapak ketua asrama yang membawa rombongannya dari pusat pendidikan atau kepelatihan buat para pegawai baru. Sesekali Jenna sempat membaca tempat yang mereka kunjungi tadi . Walaupun cuma sebentar atau sekilas saja.


Pria itu bersikap tenang ketika membawa mobilnya menuju alun-alun kota Surabaya dan Balai Pemda. Jenna berpikir tempat ini hampir mirip seperti kawasan di taman monumen nasional Jakarta atau Monas, dengan empat jalan raya utama yang mengelilinginya.


Di setiap jalan utama itu berdiri beberapa kantor dan gedung-gedung yang mempunyai peranan yang tak kalah pentingnya. Seperti kantor pemerintah daerah atau Pemda Jakarta, di Jalan Merdeka Selatan. Ada museum Nasional Jakarta, atau banyak orang lebih sering menyebutnya museum Gajah di Jalan Merdeka Barat. Juga ada gedung istana negara,atau tinggalnya Pak Presiden kita di jalan Merdeka Utara!


Sayangnya, Miko tidak membawanya untuk masuk ke dalam Monumen Tugu Pahlawan dan Meseum 10 November. Mungkin karena keterbatasan waktu dari kunjungan Jenna. Pria itu hanya mengajak Jenna berkeliling kota saja.


Menurut Jenna, apa yang mau dilihat? Jakarta juga lebih macet dan lebih padat lagi lalu lintasnya! Dengan ribuan kendaraan yang hampir memadati setiap jalan- jalan di Ibukota negara Indonesia itu setiap harinya!

__ADS_1


Pada pantai itulah , Miko memutuskan sendiri untuk memasuki satu wilayah wisata dengan pantainya yang terkenal di sana. Tepat di pintu gerbang utamanya tertulis Pantai Kenjeran. Miko agak berputar-putar di sekitaran jalan di pantai itu untuk mencari tempat yang paling pas untuk memarkirkan kendaraannya.


Pria itu tadi membayar uang tiket masuk tempat wisata pantai itu, untuk mereka berdua dengan selembar lima puluh ribuan. Namun oleh si Mbak penjaga tiket masih diberi kembalian.


" Kita makan siang di sini!" ujar Miko sambil menunjuk sebuah pendopo atau gubuk-gubuk yang memang ditujukan untuk pengunjung restoran itu.


Kata orang Jenna manut atau menurut saja! Walaupun dia masih menghadapi berbagai pantangan makanan dalam jenis tertentu! Biasanya Jenna kurang menyukai menu yang baru belum pernah di cobanya sama sekali. Apalagi Restoran ini banyak menyajikan menu ikan dan sejenisnya.


Jenna tidak suka makan ikan tawar seperti ikan lele, ikan patin atau bentuk ikan yang sedikit menyeramkan. Kalau Ikan laut, dia menghindari kepiting dan kerang!


Bahkan dia akan bergidik ngeri melihat salah satu makanan Korea yang menggunakan gurita yang masih hidup! Selain takut dan ngeri. Jenna serasa menjadi orang kanibal saja memakan makhluk hidup yang masih bernapas dan bergerak!


Selama menunggu pesanan mereka sedang disiapkan, tatapan Jenna mengarah ke arah pantai yang terhampar di depan restoran itu. Kebanyakan pengunjung di sana adalah keluarga. Terutama para orang tua yang membawa anak-anaknya bermain ombak di tepi pantai itu.


Kalau melihat kebahagiaan keluarga kecil itu, Jenna mengingat kembali pada masa kecilnya ... Di saat dia masih balita, sehari-hari dia hanya diasuh oleh Mak Isah. Dokter Arunika sebagai seorang ibu tiga orang anak, dokter dan seorang pegawai negeri yang bekerja di departemen kesehatan, ditugaskan di sebuah puskesmas di daerah Jakarta Utara...


Wanita itu terpaksa mengontrak rumah di daerah Pademangan. Dia akan pulang pada Sabtu siang dan kembali ke kontrakan itu di Minggu Malam. Karena wanita itu tidak sanggup harus bekerja setiap hari pulang- pergi dengan jarak yang jauh dari rumahnya di Pasar Minggu Sampai ke tempat kerjanya di sebuah puskesmas di daerah Tanjung Priok.


Apalagi wanita itu juga harus menggunakan transportasi umum, belum lagi terkendala macetnya lalu lintas di daerah itu... Bahkan harus berganti-ganti kendaraan umum, dari bus sampai angkot untuk mencapai tempat kerjanya yang di ada di dekat pemukiman padat penduduk itu.


Demi tugasnya itulah, Dokter Arunika berbesar hati untuk menitipkan putri bungsunya itu yang diasuh sehari-hari oleh seorang ART yang sangat dipercayainya. Mak Isah.

__ADS_1


Begitu juga ketika dia agak besar sedikit. Kembali Jenna dititipkan pada asuhan Oma Frida, ibu mertuanya yang tinggal di Sentul. Dokter Arunika mulai mengambil spesialisasinya di sebuah kampus di Negara Australia. Hampir selama 3 tahun lebih, wanita beranak tiga itu menurut ilmu di sana. Kembali Jenna tinggal dan bersekolah di daerah Sentul, diasuh Mak Isah yang juga ikut tinggal bersama di rumah mertua majikannya.


Jadi sampai saat ini, Jenna malah lebih dekat dan akrab dengan Oma Frida dan adik ayahnya, Tante Amanda. Dibandingkan dengan ibunya sendiri yang selalu disibukan dengan karier itu.Sebab setelah kembali dari luar negeri, setelah menyelesaikan pendidikannya itu, karier Dokter Arunika meningkat dengan pesat. Dari pemimpin sebuah Puskesmas sampai bertugas di beberapa rumah sakit besar milik pemerintah sampai rumah sakit swasta ternama.


"'Neng! Ini makanannya! Jangan melamun melulu... kemarin ayam tetanggaku mati karena banyak melamun!" Tegur Miko dengan suara beratnya.


Jenna terkejut dengan panggilan Miko itu... Dia sedikit melamun karena teringat masa kecilnya yang tidak biasa itu. Namun mendengar omongan receh itu, Jenna tersenyum masam.


" Garing, ucapan Lo!" tukasnya cepat .


Eh, si Oppa Made in Surabaya ini memang tidak medok dari cara bicaranya, seperti anggota keluarganya yang lain. Namun Jenna makin jadi bete, tahu!


" Memang aku kacang dibilang garing?" tanya agak kesal.


" Maksudnya ucapanmu itu unfaedah tahu!" Ucap Jenna menjelaskan.


Belum tahu aja, dia ! Anak muda di Jakarta itu punya bahasa gaul yang berbeda - beda dari setiap wilayahnya. Contohnya bahasa gaul anak Jaksel, yang menyelipkan kosakata bahasa Inggris ke dalam percakapan sehari-hari. Mereka menciptakan percampuran bahasa Inggris dan bahasa Indonesia itu dalam percakapan dengan sesama teman. Sehingga bahasa gaul itu semakin terkenal dan meluas saja pemakainya. Karena dengan memakai bahasa gaul anak Jaksel banyak orang merasa lebih berkelas dan tidak ketinggalan zaman.


" Kalau Neng, kan sebutan Mbak untuk orang Jakarta. Kita di sini biasa menyebutnya Ning !"


" Up To You , Sak Karepmu, lah! !" ucap Jenna yang lebih tertarik dengan melihat datangnya para pelayan yang membawakan pesanan makan mereka... Makanan itu mereka letakkan di beberapa piring saji. Sedangkan nasinya di tempatku di wadah tersendiri... Sehingga meja kayu yang tidak terlalu besar itu sudah penuh dengan semua pesanan makanan mereka berdua.

__ADS_1


__ADS_2