Jodoh Untuk Jenna

Jodoh Untuk Jenna
Bab 58. Arti Kehidupan


__ADS_3

Pak Sutarto membawa rombongan itu dengan menggunakan mobil milik Pak Adrian Damash. Sebuah Inova berwarna hitam. Mereka melakukan perjalanan setelah menyelesaikan makan malam yang sedikit terlambat.


Suster Fani duduk di depan, di samping Pak Sutarto. Sementara di bangku tengah Jenna memangku Baby Efron. Si Emak bayi, Karo mulai memejamkan matanya. Di kursi belakang bertumpuk bawaan milik si bayi... Mulai dari stroller, bak mandi bayi. sampai beberapa tas kresek berisi pampers, tisu dan lainnya. Mirip bawaan para pengungsi karena ada satu bencana yang melanda wilayahnya.


"'Kamu berencana menginap sebulan di Puncak?" tanya Jenna masih tak percaya dengan banyaknya barang bawaan itu. Ternyata semua itu untuk keperluan seorang bayi yang sekarang sedang dipeluknya.


" Kalau perlu!" Jawab Karolina acuh tak acuh.


" Senin aku sudah balik, lho. Aku kan kerja Karo!"


" Sudahlah Jenna!" ujarnya malas.


Perjalanan sudah memasuki wilayah Ciawi, setelah keluar dari jalan Tol Jagorawi. Tampak lalu lintas sedikit tersendat setelah adanya lampu merah di pertigaan menunju Gadog.


Pak Sutarto sudah khatam membawa kendaraan roda empat ini melewati perjalanan bolak-balik, Puncak - Sentul. Dulu selalu dilakukan sang majikannya hampir tiap akhir pekan


Setidaknya Opa masih punya tempat untuk mengganti suasana dari kesibukkan mereka bekerja. Sebuah tempat untuk mengistirahatkan tubuh dan pikiran di daerah Puncak ini. Berupa bangunan villa besar milik keluarga, kebun sayur yang cukup luas dan lahan terbuka serupa lapangan berumput rapi, yang difasilitasi untuk kegiatan masyarakat desa di sekeliling vila. Kecuali dimanfaatkan untuk kepentingan penyewa vila lain, mereka dikenai biaya yang dikelola keuangannya oleh pengurus lingkungan setempat.


Kedatangan mereka sudah diberitahukan oleh Oma Farida sejak siang tadi. Tampak suasana villa yang terasa bersih dengan bau segar pengharum ruangan. Maklum membawa seorang bayi, mereka harus menjaga kebersihan seluruh ruangan di villa besar dua lantai ini.


Mang Acep, Pak Suheri dan istrinya Bik Inah, sudah menyambut kedatangan mereka. Apalagi Bik Inah yang sudah tidak pernah keluar dari wilayah ini hampir setahun lebih.


"'Ampun, ini cucu Emak, ganteng cakep pisan!" Seru wanita tua itu sambil mengayun- ayunkan Baby Efron di pelukannya.


Si bayi mulai berceloteh riang. Apalagi di sepanjang perjalanan Dia ada di baby car seat nya, Supaya aman.


" Istri Acep sudah siapin gorengan sama bakar jagung! Nanti biar dibawa ke sini aja!" ujar Pak Suheri.

__ADS_1


Pria itu keluar dari villa dan menemui Pak Sutarto. Ada banyak kamar tidur di lantai dua. Tetapi Karolina meminta mereka tidur di kamar bawah saja. Kecuali kamar tidur utama milik Opa yang tetap terkunci rapat. Sebab mereka tidak berani menggangu gugat isi kamar keramat itu yang berbeda dari kamar - kamar tidur lainnya.


" Suster!" panggil Karolina.


" Ya, Bu?" jawab wanita yang berusia 30 tahun itu. Dia sangat cekatan dan cukup terampil menggurus Efron.


" Suster tidur di sebelah kamar saya. Kalau dengar Efron nangis. Buka pintu kamar saya saja. Nggak apa- apa. Takutnya obat yang dari Dokter Gunadi ini ada efek obat tidurnya dan saya tidak mendengar Efron menangis..."


Wajah Suster Fani tampak prihatin. Betapa pengaruh dan tekanan keluarga Pak Farhan membuat wanita cantik itu menjadi sering tak nyaman berada di rumahnya. Apalagi ketika wanita yang sering dipanggil Ibu Nyai itu mengkritik Karolina habis - habisan. Bahkan di hadapan Opa Damash sekalipun.


Suster Fani melihat Ibu Karolina bersabar, tetapi tidak berdaya. Apalagi ketika mendengar sang kakek mengalami permasalahan di jantungnya. Jadi dia tetap bertahan tinggal di sana. Saat ibu, nenek dan keluarga yang lain sibuk mengurus operasi jantung Opa Damash.


Jenna terlelap setelah menerima telepon ibunya dua kali. Wanita tak bisa memaksakan kehendaknya, karena menolong Karolina lebih penting dari apapun. Termasuk ketika Jenna menolak bertemu dengan Pandu Samidi lagi!


Paginya Jenna terbangun oleh suara tangis Efron. Bayi itu sedang diurus oleh suster Fani. Sementara Karolina sendiri terlelap di kasur itu dengan keadaan yang tidak nyaman.


" Terimakasih, Non Jenna. Biar Sus, bersih - bersih dulu dan mandi!"


" Santai saja, Suster!"


Halimun mulai turun dari atas gunung yang terlihat dari jendela kaca ruang keluarga di villa ini. Villa ini dibangun dengan mencontoh gaya rumah pedesaan di negara Eropa Tengah. Bangunan ini memang mempunyai banyak bukaan dan jendela kaca yang lebar. Namun tempat ini di kelilingi pagar besi yang tinggi, CCTV dan penjaga keamanan yang diambil dari beberapa pemuda setempat. Jadi kalau ada maling atau perampok mau beraksi di villa ini, mereka harus berpikir seribu kali. Mereka juga sudah tak bernyali , setelah mendengar nama dan Jabatan Pak Adrian Damash sebelum pensiun, sebagai pemilik vila pribadi ini.


Ada ketukan di pintu penghubung samping, Teh Asih membawa nampan berisi sarapan untuk mereka. Tiga piring nasi goreng spesial.


" Non Jenna, ya?"


"'Iya, Teh. Masuk aja!"

__ADS_1


Wanita beranak dua segera menyusun piring di meja makan. Dia juga mulai mengeluarkan cangkir dan membuat teh manis. Keluarga mereka cukup hapal dengan kebiasaan para anggota keluarga Damash yang sering menginap di Villa ini.


Bila cucu- cucu Pak Damash yang menginap. Mereka akan mengandalkan apa pun yang disediakan oleh Keluarga Pak Suheri yang dipercaya untuk menjaga villa ini. Termasuk menyiapkan makanan dan camilan.


Apalagi mereka dibuat bangunan tersendiri, sebuah rumah tinggal tersendiri yang terletak di belakang villa utama dan diberi kepercayaan mengelola lahan sayur yang cukup luas itu.


Kalau Nyonya Farida yang datang, ataupun anak dan menantunya yang menginap, mereka pasti membawa perbekalan yang cukup banyak. Mulai dari tumpukan sembako, lauk- pauk sampai segunung makanan ringan.


" Ini anaknya, Non Karo?"


" Ya, Teh... Mau gendong? Karolina sepertinya kurang enak badan..."


" Iya, kami di sini berharap- harap cemas, sejak Tuan Adrian sakit dan harus dioperasi..."


Jenna tahu itu. Walaupun keluarga mereka tidak tinggal di villa. Tetapi Opa selalu mengirim uang untuk Pak Suheri dan Man Ujang sebagai gaji untuk mengurus villa. Walaupun villa ini dibangun dengan separuh dari uang pribadi Pak Feri. Semua anggota keluarga Opa dapat menggunakannya fasilitas milik Keluarga besar ini. Terutama kaum mudanya. Namun biasanya mereka minta izin dahulu pada Oma Farida.


Teh Asih asyik ngobrol dengan Jenna sambil mengendong bayi mungil itu. Kata si Teteh, keadaan di desa ini sudah banyak berubah setelah covid. Beberapa vila yang bangunannya bertebaran di daerah pegunungan ini sudah lebih dari dua tahun ini tak lagi disewa orang- orang dari Jakarta. Begitu mereka menyebutnya. Jadi banyak penduduk yang kehilangan sebagian dari penghasilan mereka dari sepinya pengunjung vila di sana.


Jenna yang banyak belajar dari sang Mama tentang bayi dan anak, tetap memilih duduk di dalam rumah. Walaupun bayi itu lahir dan besar di Kota Bogor. Tetap saja banyak perbedaannya. Rumah yang ditempati Karolina dan Farhan lebih berada di Selatan kota Hujan itu, sehingga cuacanya lebih panas. Karena di sana banyak terdapat industri dan pembangunan perumahan yang menjamur diperbatasan Bogor, Sentul dan Depok...


" Non makan dulu! Nanti nasi goreng Mak Imah keburu dingin!"


Dari pintu ruang tengah muncul Suster Fani dengan gaun seragam biru mudanya. Kali ini dia memakai jaket tebal. Wajahnya pias tampak lipstik.


" Suster mau sarapan, nggak?"


" Nanti aja, Non. Biar saya siapkan keperluan Baby Efron dulu!"

__ADS_1


Jenna menikmati sepiring nasi goreng spesial dengan telur ceplok setengah matang, dan taburan kerupuk udang. Lucunya si Baby Efron pun memainkan mulutnya seperti orang mengecap makanan tanda dia juga sudah lapar.


__ADS_2