Jodoh Untuk Jenna

Jodoh Untuk Jenna
Bab 128. Jangan Ada yang Tertinggal


__ADS_3

Di ruang kerja dokter Niken yang berukuran 3x 3 m itu, Mbak Lydia masih bergerilya. Dia mengumpulkan berbagai benda yang didapatkannya seperti harta karun yang dari membuka seluruh laci pada meja kerja itu. Juga lemari kecil di dekat wastafel.


Barang- barang itu seperti beberapa alat tulis, botol-botol parfum yang sudah tidak ada isinya lagi. Juga ada sampel make-up dengan merk tertentu. Dari kit- up lipstik, eyeshadow dan contoh atau rouge, pemerah pipi.


Mungkin dokter Niken sangat suka memakai produk make-up dari merk tersebut, walaupun harganya sedikit mahal. Karena produk kosmetik itu berasal dari luar negeri. Juga ada pernak- pernik lain, dari gantungan kunci oleh- oleh khas dari beberapa negara di Asia, sampai ada notes atau buku catatan kecil lainnya.


Mas Naim, seorang OB sibuk membantu Mbak Lidya itu. Dia sudah menyediakan dua kardus bekas air mineral... Untuk menempatkan berbagai barang bekas. peninggalan itu. Satu kardus sudah hampir penuh, sedangkan yang satu kardus lagi sedang disortir isinya. Kalau masih bagus akan digunakan atau akan disimpan di gudang. Kalau sudah rusak dan tidak dapat digunakan lagi, akan dia masukkan ke dalam kantong sampah besar berwarna hitam itu. Semua akan digabungkan dengan sampah salon. Yang juga , selalu dipilah - pilah dan dimasukan ke dalam beberapa kantung kresek hitam yang lebih kecil. Antara botol bekas berbagai pewarna rambut sampai rambut bekas guntingan para pelanggan. Sehingga Mas Naim sudah hapal dengan cara kerjanya seperti itu.


Jenna akan menata ulang ruang kerja itu lagi nanti. Setelah disapu dan dipel oleh OB lain yang biasa menyapu halaman dan lantai loby. Sementara Mbak Lidya masih memilah berbagai barang di kardus itu. Dari yang memang punya klinik ini, alias barang properti. Atau peninggalan "'Si cantik " itu.


Brak! sebuah buku bersampul kulit hitam dilemparkan Mbak Lydia itu dengan kesal ke dalam kardus satunya. Sebab buku itu sepertinya milik dokter Niken... Mirip sebuah buku agenda atau buku diary, ya?


Tampa sadar, Jenna melihat banyak barang printilan yang berada di dua kardus bekas itu. Sebab para OB pun masuk ke ruangan konsultasi itu pun hanya untuk menyapu , mengepel atau melap meja kerja kayu itu agar tidak berdebu. Entah mengapa banyak sekali barang bekas miliknya yang Sepertinya sengaja ditinggalkan oleh wanita itu. Atau sudah merasa kalau ruangan ini, seperti rumah kedua baginya?


Memang, sih! Bila dibandingkan dengan dua dokter lain. Jam kerja dokter Niken pun lebih banyak juga! Seminggu 3 kali dokter Niken mempunyai jadwal kerjanya di klinik ini. Jadi seolah - olah ruangan konsultasi itu menjadi miliknya pribadinya. Padahal dia harus berbagi. dengan dua dokter lainnya, yang tampaknya lebih senior dan lebih berpengalaman di bidangnya. Sebab Dokter Nena juga berpraktek di salah satu klinik estetik di bilangan daerah Menteng.


" Wuih, apaan ini, woy!" Jerit Wanita itu antara kesal, marah dan jijik.


Mata Jenna mendelik melihat dua bungkusan barang berbentuk seperti sachet persegi dengan nama mereknya tertulis jelas di sana. Benda-benda ini kalau dijual pada konsumen, biasanya diletakkan pada rak-rak yang dekat dengan meja kasir. Sering Jenna lihat pada beberapa mini market dan swalayan besar di dalam Jakarta.

__ADS_1


" Itu bungkusan kond*m ya, Mbak?" tanya Naim sok tahu.


" Sudah, taruh saja! Nanti semua milik Dokter Niken kita masukkan dalam kantong sampah dan kita buang ke penampungan sampah di ujung jalan sana... Buat nama klinik dan salon ini tercemar saja! Dengan barang beginian! " Ujarnya kesal.


Jenna menjauh. Naim sudah mulai menjalankan instruksinya. Pria muda itu sudah menyapu dan mulai mengepel ruangan itu dengan seember air yang diberi cairan karbol wangi yang cukup banyak. Biar hilang itu kuman - kuman dan segala bakteri kotor yang turut dibawa wanita itu ke dalam ruang kerjanya ini.


Mbak Lydia masih menyimpan buku hitam itu di sebuah kotak di laci meja kerja ... Jenna membiarkan wanita itu melakukan apapun yang disukainya. Bila perlu Mbak Lydia dapat membaca isi buku bersampul kulit hitam itu. Sehingga saat selesai membaca, Mbak Lydia akan menemukan beberapa hil-hil yang mustahal, yang ada di dalamnya.


Jadi Jenna tidak perlu menjelaskan lagi, alasan keluarnya dokter Niken dari klinik tempatnya bekerja di sini.


Seharian ini mereka sudah merapikan ruang kerja itu. Jenna menggeser bangku dan meja itu lebih ke sudut lagi. Dibantu OB lain dan beberapa petugas parkir di depan. Sehingga masih ada sisa di ruangan tersisa yang lebih lapang.


Rendy masih mengutak-atik komputer di atas meja kerja itu. Takut ada data pelanggan penting di klinik yang hilang ataupun eror. Maklum, seorang yang gelap mata akan melampiaskan segala rasa amarah dan sakit hatinya pada apapun juga. Ketika semua rahasia besar yang telah ditutupinya selama ini dengan sangat rapi, juga terus dijalaninya. Tak peduli kalau perbuatannya. Itu sudah melanggar kaidah agama, norma susila dan bisa juga menjadi sasaran empuk dari wartawan pencari berita. Sebab ada beberapa pria yang bepergian dengan Niken itu cukup dikenal. Pria itu mempunyai perusahaan besar , dengan sang istri yang aktif di media sosial miliknya. Karena bersahabat juga dengan artis terkejut.


" Terima kasih, Mas Rendy!" ujar Jenna.


Pria muda itu sudah meninggalkan ruangan itu. Tempat kerja para teknisi itu ada di lantai satu. Dengan sebuah ruangan kecil di belakang ruang tunggu gedung ini. Sebab sehari- hari mereka juga mempunyai tugas memantau CCTV, mengawasi operasional mesin - mesin canggih di klinik yang menjadi tenaga tenaga andalan saat ini. Mereka Juga akan memperbaiki beberapa perangkat elektronik yang ada di gedung ini, dari masalah WiFi sampai AC.


Semua pekerjaan administrasi sudah diselesaikan Jenna, disela mengatur ulang ruang konsultasi agar lebih nyaman digunakan para dokter lain nantinya. Sekaligus Jenna sudah melaporkan jadwal kerja untuk di salon Kebayoran Baru.

__ADS_1


Kini dia melihat - lihat beberapa berita menarik dari akun media sosial milik Karolina. Setelah seminggu lebih mereka tidak bertemu... Terakhir kali Karolina meminta izin untuk tinggal di Pasar Minggu, kepada ayahnya, di rumah keluarga Darmawan... Karena mobilitas pekerjanya menuntut Karolina datang tepat waktu pada beberapa kegiatan penting. Tentu dengan jarak rumah masih di wilayah Jakarta akan lebih untuk memudahkannya dia dalam pekerjaannya itu.


Keanu dan Bang Miko sudah banyak membantu Karolina untuk menyeleksi beberapa tawaran yang masuk. Sebagian besar adalah menjadikannya model iklan dalam produk tertentu yang cukup baik prospeknya. Namun Karolina masih menolak untuk muncul pada beberapa acara hiburan di tv swasta. Sampai ada tawaran datang dari sebuah agen yang memintanya menjadi figuran di sebuah judul film Indonesia untuk layar lebar.


Meskipun dia tahu, pada masa sekarang banyak bermunculan para sutradara muda yang sangat handal dan berbakat. Sehingga semakin banyak saja produksi film Indonesia yang bermunculan. Juga semakin beragamnya, genre film kita yang akan memperkaya dunia hiburan. Tetap saja Karolina menolak tawaran itu.


" Jenna, itu iklan Karolina, ya?" tanya Mbak Lydia yang sudah duduk di bangku kebesarannya itu.


Tampak ada wajah Karolina pada sebuah video iklan terbaru. Di hape Jenna. Potongan iklan itu yang tiba- tiba tadi di kirim oleh Bang Miko via di WA Jenna.


 " Iya, Mbak!" jawab Jenna.


Saking tertariknya, wanita itu langsung mengambil hape Jenna dan melihat sepotong tayangan iklan tersebut. Untung saja tidak ada berita atau tulisan Bang Miko yang aneh. Jadi Jenna membiarkan saja Mbak Lydia melakukan hal itu.


" Bagus , kok! Iklannya! Terlihat di sana Mbak Karolina semakin matang dan dewasa... Mudah- mudahan iklan itu berhasil, ya!"


Senyum Jenna terukir manis. Bukan hal mudah untuk sepupunya kembali ke dunia itu. Walaupun hanya tiga tahun saja dia vakum. Tetapi selama waktu itu, bermunculan juga wajah- wajah muda para model yang berbakat dan cepat menanjak namanya. Contohnya Rara yang mulai menikmati keberhasilannya lewat beberapa iklan terbaik dari brand besar di Indonesia.


" Ini, Ibu Ismaya sudah menerima laporannya bulanan, ya. Jenna!" Kata Mbak Lydia sambil membuka email dari hapenya.

__ADS_1


Saat ini, perasaannya Jenna lebih tenang dan lega setelah Niken tidak bekerja di sini lagi. Setidaknya apa yang terjadi pada wanita itu tidak lagi memberi dampak buruk bagi salon dan klinik ini. Setelah bertahun - tahun usaha ini berdiri dan berusaha mempertahankan reputasinya sebagai klinik dan salon dengan pelayanan terbaik.


Tring! nada notifikasi WA di hape Jenna berbunyi. Jenna membaca sekilas kalimat demi kalimat yang dikirimkan seseorang kepadanya. Dia sedikit bingung dan kurang paham dengan isi berita itu. Apa ini WA dari dokter Niken Sabrina Mahmud?


__ADS_2