Jodoh Untuk Jenna

Jodoh Untuk Jenna
Bab 15. Karolina si Emak Rempong


__ADS_3

Keadaan di Sentul semakin menegangkan. Maklum setelah kemarin Farhan membawa Karolina memeriksakan kehamilannya di tempat prakteknya dokter Felisha Sudrajat. Menurut dokter ahli kandungan itu letak bayinya sungsang. Sejak itulah wajah Karolina semakin pucat, antara takut, cemas juga ragu- ragu.


Sampai Mama Amanda pun mengubah beberapa jadwal pertemuan dengan kolega bisnisnya agar bisa selalu mendampingi putrinya tersebut saat memeriksakan kehamilannya secara teratur, dua minggu sekali.


" Mama, apa Jenna sesibuk itu? Kok, tega banget sih sama sepupunya ini.." Keluh Karolina suatu hari.Ketika menelpon sepupunya itu yang tiap minggu ada saja pekerjaan di luar kantor yang memaksanya mengunjungi beberapa kota di Pulau Jawa.


Oma Frida pun selalu berada di sisi Sang cucu. Pokoknya hampir semua anggota keluarga Damash selalu ada di dekat rumah menjelang persalinan Karolina.


"Jangan ngeluh, sayang! " bujuk Mama Amanda. "Percuma juga kamu lahiran ditungguin Jenna. Malah nanti dia kabur kalau mendengar kamu nangis dan jerit- jerit di ruang persalinan.  Malah Anak itu jadi takut menikah dan harus punya anak!"


" Mengapa perempuan harus seperti ini ya, Ma! Baru lulus kuliah ditanyain kapan kawin ? Sudah menikah, ditanyain sudah hamil belum?   Eh, sudah punya anak, ditanyain lagi, mau anak berapa?  Rese banget...."


Wanita itu hanya tertawa mendengar ocehan anaknya itu. Yah, karena sang kakek  yang telah  memotong sayap kebebasan Karolina yang sibuk berkarier di dunia modelling saat itu. Bahkan saat itu karier anaknya itu sedang bagus- bagusnya karena banyak menerima tawaran dari beberapa  desainer Indonesia untuk mengikuti peragaan busana di luar negeri. Bahkan menjadi model berbagai produk berkelas dari produk kecantikan sampai perhiasan.


Ternyata Opa kurang suka dengan gaya hidup dan pergaulan Karolina di dunia hiburan itu. Apalagi setelah Karolina lebih memilih tinggal di apartemen, sampai Jenna pun diajaknya tinggal di sana, sebagai backing nya.  Ternyata Karolina sedang menjalin hubungan asmara  dengan salah satu aktor yang terkenal dengan sebutan Don Juan, karena sudah kawin cerai dua kali!


Sang Opa memanggil Karlina Anita Damash ke Sentul dengan segala nasehat yang dimulai dengan lemah lembut sampai akhirnya keluarlah ultimatum sang jenderal, agar cucunya itu memutuskan hubungan dengan si aktor tersebut.


Ternyata Opa mendapat informasi dari beberapa rekan bisnis, juga seorang anak buahnya yang bekerja di sebuah berita online tentang kehidupan sang aktor tersebut yang tak jauh dari sensasi dan gosip.


Sampai cucunya itu digiring untuk berkenalan dengan Farhan, anak seorang tokoh terkenal dari kota Bogor, Zaenuddin Hisbillah. Pria itu dan Opa Damash menjalin hubungan persahabatan sekaligus beberapa bisnis di di kota itu dan daerah sekitarnya.


Setiap pagi, Farhan menemani istrinya itu berjalan - jalan mengelilingi seluruh kompleks perumahan keluarga Damash ini sampai keluar dari jalan raya menuju taman di perumahan cluster sebelahnya. Berbagai saran dari dokter pun telah dijalani Karolina. Sampai Istrinya itu takut ditinggalkan suaminya saat  bekerja.


"Mau pulang?" tanya Farhan melihat keringat sudah menetes di dahi dan wajah istrinya itu. Padahal mereka baru berjalan kurang dari 500 meter.

__ADS_1


"Sakit, Mas! " Rintih Karolina sambil menahan perutnya.


" Sini, duduk dulu. Istirahat. Tarik Napas ! "


Farhan sudah menjadi pria yang paling sabar dan suami siaga selama ini. Beruntungnya Oma Frida dan Ibu Amanda orangnya tenang dan dapat menguatkan hati istrinya. Jadi Karolina cukup tenang menghadapi ketika dia akan melahirkan putra pertamanya itu.


" Istrinya kenapa Pak Farhan? " tanya seorang petugas keamanan yang berjaga di pos perumahan itu, yang segera menghampiri mereka.


Beberapa orang petugas dan penghuni perumahan cluster itu mengenali Farhan dan Karolina yang hampir tiap pagi rajin jalan kaki di taman dan sepanjang jalan raya perumahan ini. Apalagi mereka adalah anggota keluarga Pak Damash yang namanya cukup disegani oleh masyarakat sekitar.


" Maaf, Pak! Apa  saya  bisa minta tolong. Istri saya sepertinya mau melahirkan!" Pinta Farhan cemas.


Hari minggu ini dia menemani Karolina jalan santai saja, namun melupakan hapenya, karena sangat memperhatikan penjelasan dari dokter Felisha kalau persalinan Karolina diperkirakan terjadi antara dua atau tiga minggu mendatang.


Pria petugas keamanan itu segera memanggil temannya lewat alat penghubung yang selalu dibawanya. Tak berapa lama datang seorang petugas lain membawa motor N-max.


Farhan segera mengangkat istrinya ke jok motor itu. Sedangkan Farhan memegangi Karolina di belakangnya. Sepanjang jalan Karolina terus mengaduh dan merintih, membuat Farhan tambah senewen. Sehingga sepasang suami istri melupakan segala macam cara untuk mempersiapkan diri dalam keadaan yang terdesak. Buyar semua cara- cara itu yang mereka pelajari dari senam hamil yang rajin Karolina ikuti atau dari video.


Motor bewarna putih itu melaju cepat menyusuri perumahan sampai menembus jalan raya utama . Di sana ada perempatan jalan yang cukup ramai karena jalan itu menghubungkan daerah itu dengan wilayah lainya.


Setelah melewati perempatan itu, tampak sebuah bangunan klinik bersalin yang tidak terlalu besar dengan tulisan berwarna hijau dengan lambang ibu dan bayi" Klinik Bersalin Indri." Rupanya kedatangan mereka sudah disambut oleh seorang petugas yang dengan cepat mendorong sebuah kursi roda.


" Dokter, ada dokter! " Panggil Farhan semakin panik. Karolina sudah dalam keadaan tidak berdaya.


"Pak Farhan, biar saya hubungi orang di rumah bapak ya! " ujar Pak  petugas security perumahan sebelah , langsung kembali naik ke motornya.

__ADS_1


"Oh, Ya. Pak Majid! Terima kasih sebelumnya..."


Farhan diminta mengisi data di meja pendaftaran. Namun Karolina malah menangis histeris karena ditinggal suaminya sebentar.  Bidan Indri yang memang tinggal di belakang Klinik itu segera menangani pasien pertamanya di minggu pagi yang cerah dan hangat itu.


Setiap pertanyaan yang diajukan oleh Ibu bidan yang tampak sangat berpengalaman itu, hanya dijawab Karolina dengan suara terbata- bata dan air mata yang mengalir di wajahnya.


" Nggak apa- apa , Ibu. Tenang ya..."


Suara seorang perawat yang sejak tadi membantu Bidan Indri mengangkat Karolina dari kursi roda ke atas ranjang sambil diperiksa.


Tak lama, Karolina sudah terbaring tenang. Bidan Indri sudah cukup berpengalaman menghadapi para calon ibu baru yang selalu mudah panik dan was- was dan ketakutan saat menghadapi kontraksi di rahimnya.


Tak sampai tiga puluh menit, rombongan keluarga Damash berdatangan ke klinik itu. Dimulai dari Ibu Amanda  yang hanya sempat mengganti dasternya dengan gaun batik kaftan tetapi hanya memakai sandal jepitnya. Tak lama Oma Frida dan Opa Damash juga masih mengenakan seragam olahraganya, berupa senam jantung sehat yang dilakukan mereka di halaman belakang rumah.


Ternyata Bidan Indri mengenal baik Ibu Amanda Damash Wirawan, yang sering membawa beberapa Ibu muda dari kampung diseberang perumahan ini untuk melahirkan di klinik ini.


Biasanya mereka berasal dari keluarga tidak mampu, dan Ibu Amanda yang akan membayar semua biaya melahirkan para wanita yang ditolongnya. Sebagian dari mereka adalah warga pendatang tetapi masih memegang KTP asal daerahnya sehingga tidak terdata di kelurahan setempat.


" Anak saya baik - baik aja kan, Bu Indri? Perkiraan dokter Felisha masih 2 minggu lagi paling cepat."


" Nggak apa -apa. Tadi hanya kontraksi palsu saja! Nanti Kalau Mbak Karolina sudah cukup tenang, bisa dibawa pulang."


Kedua wanita mandiri itu terus bercakap - cakap di ruang kantor Klinik. " Nggak menyangka saja, Bu Amanda sudah mau jadi nenek?"


Hanya ada tawa ceria dari Ibu Amanda yang merasa  diledek. " Saya sudah tua, Bu Bidan...Malah sepupu Karolina yang seumuran dengannya saja, anaknya kembar dan sudah berusia tiga tahun!"

__ADS_1


" Mbak harus jaga- jaga pola makan, ya.  posisi bayi sudah normal, kok " Ujar Bidan Indria saat memeriksa keadaan Karolina yang terakhir kalinya. Sebelum mereka membawa Karolina kembali ke kediaman Damash.


Rombongan keluarga itu ternyata menggunakan dua mobil yang berbeda.  Sampai di rumah, tampak ayah Karolina yang baru kembali dari kepergiannya ke Jakarta semakin cemas saja melihat kedatangan putri sulungnya yang turun dari mobil dan dipapah oleh Farhan, suaminya.


__ADS_2