Jodoh Untuk Jenna

Jodoh Untuk Jenna
Bab 75. Karolina Ambil Sikap


__ADS_3

Pandu datang lagi ke rumah ini... Alasannya tadi sore adalah, dia membawakan oleh-oleh yang dari ibunya untuk keluarga Darmawan. Ibunya itu baru pulang kemarin dari negara Singapura.n Karolina tahunya kalau Ibu Angelina itu pergi ke negara tetangga itu, untuk membawa suaminya berobat. Dokter Arunika yang merekomendasikan seorang dokter kenalan yang ahli menangani penyakit dari Pak Samidi Senior.


Jadi Ibu Angelina ke sana pun, bukan jalan-jalan! Jadi mereka cukup kaget juga, kalau ibunya Pandu itu membawakan oleh-oleh khas negara itu, yang sangat banyak jumlahnya.


Di kotak besar itu ada berbagai varian coklat dengan bungkusnya yang mungil, mewah dan menarik. Berbagai kemasan snack mahal dan puluhan kotak kecil plastik transparan berisi yang permen aneka rasa dan bentuk.


"Mama, memang beda, ya. Kalau oleh-oleh dari keluarga sultan?" Ledek Karolina ketika melihat Ibu Arunika sedang memilah- milih berbagai makanan bawaan Pandu itu di atas meja makan.


" Memang kamu tahu, Karo... Kalau keluarga Samidi itu berasal dari kerajaan mana?"


Kesal Karolina mencubit pinggang langsing tantenya itu." Huh, Mama Arunika, nggak asyik bercandanya! Sultan itu sebutan untuk orang yang sangat kaya, gitu. Ma!"


" Tahu, Mama tahu, itu! Tetapi lebai banget, sih. Istilah amat anak muda zaman sekarang! Orang kaya dan hidup sedikit mewah saja disebut sultan... Seharusnya kita menyebut seorang sebagai sultan itu seperti raja dari kerajaan di negara Brunei Darussalam sana ... Lihat saja koleksi mobil mewahnya saja sudah ratusan buah.. Belum lagi mobil kebesaran kerajaan yang terbuat dari emas murni..."


Karolina terdiam. "Coba kamu lihat kehidupan keluarga sultan kita yang asli yang berada di kota Yogyakarta! Mereka justru hidup biasa- biasa saja! Membaur di tengah masyarakat... Malah salah satu putri beliau, ada lho yang pergi kemana-mana naik becak!"


Karolina nyengir mendapat santapan rohani di sore menjelang malam hari ini, dari Ibunya Jenna itu. Maklum keluarga intelek, jadi semua ucapan kita harus diberi alasan dan bukti yang konkrit dan masuk logika.


" Sepertinya, Pandu itu naksir Jenna, deh, Ma!"


" Jangan sampai Jenna mendengar hal ini, bisa diamuk nanti kamu!" Kata Ibu Arunika dengan pandangan lucu ke arah salah satu dari keponakannya suaminya itu.


" Mama cuma ngeledek aja, kok! Jangan ngomongin soal jodoh dengan Jenna! Mama pernah didiamkan Jenna dua hari dua malam, gara-gara setuju untuk berbesan dengan Ibu Angelina!"


Ha,ha, ha! Tawa Karolina jadi meledak, juga! Akhirnya si Ibu Ratu, di rumah ini , kalah juga dengan Jenna yang merupakan putri kesayangan sang ayah!


"Memang, nggak ada niat gitu, Ma.

__ADS_1


Menjodohkan Jenna dengan Pandu?"


" Sudahlah, Karo! Jenna masih muda ... Biar dia berproses sendiri! Kenapa nggak kamu aja yang menggaet Pandu? Sebab dia juga bisa menjadi bapak sambungnya Efron. Lagian kalian kan seumuran! Sepertinya...Jeng Angelina itu bukan calon mertua kolot dan otoriter seperti Ibu Nyai itu!"


" Aku? Sama Pandu? Huh, bisa-bisa nanti malah jadi arena perang dunia ketiga, Mama! Dia itu lelaki penuntut! Pasangannya harus perfeksionis... Ogah, ah !"


Sekarang gantian, Ibu Arunika yang mentertawakan sikap Karolina yang terlihat bergidik. tanda dia geli dengan ide itu.


" Apa karena Mama dan Papa Feri, bertemu pertama kalinya dan saling jatuh cinta, ya? ... Jadi selalu menjadi pasangan yang romantis sampai sekarang...."


Wanita itu menatap wajah sesat Karolina dengan rasa iba. Tentu bukan keinginan Karolina juga, kalau umur pernikahannya dengan Farhan Hisbillah itu, hanya bertahan sampai dua tahun! Sungguh perjalanan waktu pernikahan yang sangat pendek.


" Nikmati saja, masa kebebasanmu saat ini, Karolina! Kamu punya tanggung jawab untuk membesarkan Efron... Kata Jenna, jangan mengharapkan apapun dari mantan suamimu! Semua keluarga akan mendukungmu... Apa kamu mau menerima tawaran dari Jhon Sagara, menjadi Ambassador dari produk kosmetik kecantikan terbarunya?"


Karolina menggeleng kepalanya agak lemah. Dia cukup tahu diri! Sebab perkembangan dunia model dan iklan yang sangat pesat saat ini. Penuh dengan pendatang baru. Para wanita muda berbakat, memiliki kecantikan yang universal sehingga diterima dengan cepat di dunia mode.


***


Jenna bergerak di dua tempat yang berbeda dalam seminggu hari kerjanya. Dia sedang menyiapkan beberapa perubahan besar di gedung berlantai tiga ini. Hampir sama dengan gedung yang ada di Kebayoran Baru, tetapi yang ini lebih luas lagi lahannya. Terutama tempat parkir.


Persoalan Farhan sudah dapat ditangani oleh orang - orang dibawah arahan keluarga Darmawan dan Damash. Bukan karena keluarga mereka menyimpan dendam. Tetapi perlakuan Ibu Nyai yang semena-mena terhadap Karolina sewaktu menjadi menantunya. Sepertinya tindakan mereka itu bagai mengibaskan kain merah di depan seekor banteng, yang menimbulkan amarah besar.


Sekarang, mereka semua sudah mulai tenang... Opa sudah dapat menerima perceraiannya cucu perempuannya itu, dengan lebih ikhlas. Pria tua itu tidak hanya merasa bersalah karena campur tangannya, menyebabkan penderitaan dan kesusahan buat Karolina dan bayinya juga.


" Kamu nggak mau balik ke Sentul, Karo?" tanya Oma Frida suatu hari. ketika dia menelpon Karolina.


" Belum kepikiran, Oma... Orang di team kerjaku, banyak yang tinggal di seputaran Jakarta...Kalau saya tinggal di Sentul, malah merepotkan mereka jadinya!"

__ADS_1


Alasan Karolina itu memang bukan dicari - cari... Walaupun kita tinggal di kampung kecil di daerah padat pemukiman sekali pun. Tetap mudah dicapai lokasi itu karena masih berada di wilayah Jakarta.


Banyak transportasi umum yang kita dapatkan di Ibukota Jakarta itu. Semuanya tersedia cepat. Apalagi dengan ojek daring, bisa 24 jam.


Hanya saja kita, para perempuan harus berhati - hati bila melewati daerah yang terkenal sedikit agak rawan. kita harus tetap waspada.


Biasanya para pencopet dan begal beraksi di sana. Kata orang, kaum wanita sering menjadi sasaran dari aksi para penjahat jalanan itu karena menganggap wanita adalah kaum yang lemah, dan takut! Mereka mudah panik bila mendapatkan ancaman dari seorang penjahat.


Jenna, hanya membatasi jam kerja di Salon Kelapa Gading, sampai pukul 19.00... Walaupun memakai kendaraan pribadi sendiri, yang beroda empat. Tetap saja dia tak boleh lengah.


Terkadang dia meminta bantuan para sekuriti di salon untuk mengecek ban kendaraannya terlebih dahulu, sebelum meninggalkan tempat parkir menuju ke rumah. Tentu para bapak petugas di sana akan melakukannya dengan senang hati. Sebab di dekat gedung salon juga ada beberapa bengkel mobil resmi yang membuka usahanya itu.


" Oke, Non Jenna...Semua ban aman!" Seru Pak Heru. Sambil mengacungkan jempol kanannya.


Banyak para pekerja di salon itu sangat menghargai sosok Jenna itu. Sebagai keponakan Ibu Ismaya, sang pemilik usaha itu, wanita muda itu malah sangat akrab dengan para pekerja di sana. Dari para pegawai yang melayani pelanggan di dalam salon, para OB sampai tenaga sekuriti yang menjaga keamanan di gedung ini.


Tak segan-segan, Jenna sering membelikan mereka gorengan yang cukup banyak dan mengenyangkan saat pas tanggal tua. Maklum pekerja biasa, mereka menggantungkan hidupnya dari gaji bulanan yang diterima mereka. Kadang belum 30 hari kerja saja , kantong sudah kempes alias tinggal uang recehan yang tersisa.


Udara malam Jakarta masih terasa hangat menyelimuti kota ini. Jenna melajukan mobilnya melewati jalan umum dari arah Utara Jakarta menunju Selatan. Asal mau bersabar sebentar saja, bila berada di daerah perempatan lampu merah dan tetap menutup kaca jendela mobil. Kita akan berkendaraan dengan aman.


Bukan Jenna tidak kasihan melihat para pengemis atau pengamen yang beraksi di perempatan lampu merah seperti itu. Mereka sekedar mengharapkan diberi receh seribu atau dua ribu rupiah lewat rasa kasihan dari para pengemudi mobil. Tetapi Jenna tak mau memberi celah sedikitpun untuk aksi dan tindak kriminal di tempat yang sering dijadikan sasaran kejahatan dan perampasan itu.


Jalan menuju arah daerah Pasar Minggu pun masih ramai menjelang malam... Sebisa mungkin Jenna masih dapat menghirup sisa- sisa oksigen dari banyaknya pohon besar di daerah ini. Mungkin ini daerah teraman di Jakarta. Sebab daerah rumahnya jauh dari terjangan banjir dan masyarakatnya masih menyisakan sedikit halaman untuk bertanam dan memelihara lingkungan yang cukup hijau.


"'Sudah pulang, Non!" seru Pak Iman yang membukakan pintu garasi rumah. Pria itu tadi masih bercakap - cakap dengan para pekerja tetangga sebelah. Mereka bekerja sebagai sekuriti atau supir pribadi majikannya.


"Iya, Pak Iman... Terimakasih kasih, ya!" Seru Jenna sambil meninggalkan mobilnya yang terparkir manis di sudut garasi. Dia membawa semua bawaannya yang ditaruh di kedua pundaknya. Melenggang masuk ke dalam rumah.

__ADS_1


__ADS_2