Jodoh Untuk Jenna

Jodoh Untuk Jenna
Bab 113. Kisah Cerita dari Vila Bunga


__ADS_3

Kegiatan pengambilan shooting film iklan itu, akan dikerjakan kembali setelah mereka sudah istirahat makan siang. Beberapa orang yang beragama muslim mulai melaksanakan sholat dhuhur berjamaah di musholla keluarga yang dibangun di dekat teras samping. Bentuk mushola itu hanya beratap dan bertiang saja, sehingga terlihat terbuka dari dua sisi lainnya. Kecuali ada kamar mandi dan tembok di sisi depan kamar mandi dengan empat kran untuk berwudhu.


" Dia muslim?" tanya Jenna kepada Keanu. Sebab dia melihat Bang Miko juga ikut berbaris untuk mengambil wudhu di pancuran halaman belakang.


" Ntar aja, ngomongnya. Gua takut ketinggalan ini!" bisik Keanu, yang segera menarik ujung celana jeansnya untuk antri berwudhu juga.


Jenna segera menyelesaikan sholatnya di kamarnya, di lantai atas. Sejak bangun pukul o6.30 pagi tadi, Naura sudah ribut dengan acaranya untuk berenang di kolam renang di vila Bunga, siang ini. Sampai gadis kecil itu terus mengacak-acak isi koper kecil bawaannya. Dia sibuk menyiapkan handuk dan baju berenangnya, sekaligus perlengkapan mandinya.


Apalagi Om Jhon juga sudah berjanji untuk menemani putri bungsunya itu berenang di sana. Karena kedua orang tuanya sama-sama super sibuk, bisa dibilang Noura agak caper bila Om Jhon dan Tante Ismaya ada di dekatnya. Setiap harinya Naura hanya diasuh oleh Mbak Ros, yang seperti Nany baginya. Juga dua ART lainnya yang menggurus semua keperluan anak bungsu majikan itu, sejak Naura bangun pagi, ke sekolah, pulang sekolah dan menjalani berbagai les dan tambahan pelajaran di sebuah bimbel.


" Kok, dandan di sini?" tanya Jenna, kepada Mas Fajar dan Mbak Hera. Ketika dia turun ke lantai bawah, kedua pekerja salon Itu mulai membuka lapak di ruang keluarga. Mas Fajar sudah memindahkan beberapa kotak besar yang sebagian berisi perlengkapan makeup dan tata rias yang jumlahnya sangat banyak.


" Iya, kami akan mendadani Rara di sini. Maklum lampu di ruang depan ruang depan di vila Bunga, kurang memadai !" Jawab Mbak Hera diplomatis. " Nanti gampang, kalau di lokasi, tinggal touch of, bagian mana yang masih kurang!"


Berdua, mereka segera merias Rara di area ruang keluarga yang terang dan memang lebih nyaman. Sebab banyak bukaan di sana. Sehingga tak perlu menyalakan lampu ruangan, cukup cahaya matahari menyinari ruangan itu dari jendela kaca besar yang bisa digeser-geser, posisinya.


Suster Fani sedang menidurkan Efron. Bayi itu tadi sangat senang saat diajak ke Vila Bunga untuk melihat kesibukan orang-orang di sana. Namun, Efron mulai sedikit rewel, menjelang tengah hari. Sehingga Suster Fani disuruh pulang oleh Opa Damash. Mungkin Efron capek atau mengantuk.


" Sudah siap, Bang!" Jawab Fajar dari seseorang yang menelponnya. Pria itu telah selesai menata rambut Rara. Mbak Hera membantu Rara memasangkan anting- anting berjuntai panjang di telinganya yang kecil.


" Mas bisa bawa mobil, nggak?" tanya Jenna kepada Mas Fajar. Wajah lelaki itu pias, setelah disodorkan beberapa kunci mobil milik keluarga Jenna yang terparkir di halaman depan vila. Sebagian kendaraan operasional sudah mengangkut peralatan ke vila Bunga. Di sana tinggal mobil Karolina, mobil Tedi dan Jeep milik Opa Damash.


" Menyerah saya, Mbak! Disuruh bawa mobil mahal begitu. Bukannya nyampe ke vila malah nabrak pagar orang jadinya..."


Jenna juga nggak bisa mengantar, dia sedang menghitung pendapatan salon dan klinik untuk pengajian para karyawan salon Tante Ismaya. Jadi harus konsentrasi tinggi, karena salah hitung sedikit, akibatnya akan sangat fatal.

__ADS_1


Nggak mungkin saja juga, membiarkan Rara yang sudah berdandan dengan make-up lengkap, dengan tatanan rambut ala jambul khatulistiwa. Belum lagi gaun pesta yang melambai, ala gala dinner di hotel bintang tujuh ! Eh, malah harus berjalan kaki menuju vila Bunga di tengah teriknya matahari menjelang pukul 13. 30 WIB.


Bisa meleleh itu semua dempul dan polesan di wajah cantiknya Rara itu. Padahal hampir satu jam Mbak Hera mengerjakannya. Sebab make-up untuk disorot kamera sangat berbeda dengan make-up kondangan untuk menghadiri suatu acara. Itulah kemampuan khusus yang dimiliki Mbak Hera Yuliana, senior MUA di salon Kelapa Gading.


Akhirnya Rara dibonceng Mang Asep dengan motor matiknya yang jalannya sudah seperti keong siput, karena secara pelan-pelan. Agar tatanan rambut Rara tidak amburadul terkena tiupan angin siang itu yang cukup membahana.


" Opa... Efron masih rewel" Jenna mulai tidak enak melihat wajah bayi itu memerah dan sembab. Ketika Jenna sempat menengok bayi itu yang masih menangis sambil berbaring di ranjang besar, di kamar tidur Karolina.


" Suster Fani, tadi Efron diajak kemana saja di Vila Bunga?" tanya Opa, setelah pria itu mengamati keadaan bayi itu.


" Saya sempat masuk ke dalam villa, Pak. Disuruh mengambil hape di kamar Mbak Elsa. Jadi saya juga ke sana sambil gendong Efron. Nggak mungkin Efron ditinggal sendiri, di depan vila banyak orang. Tetapi mereka semua sibuk!"


Opa mendekati ranjang besar tempat cicitnya itu berbaring. Dengan penuh kasih sayang, pria tua itu mengusap -usap kepala Efron, sambil membacakan beberapa surat dari ayat suci Al Quran. Sampai bayi itu berhenti menangis, setelah diberikan botol susunya. Tak lama Efron mulai mengantuk dan tertidur.


" Kenapa? Kamu juga sudah merasakan ada sesuatu yang terjadi di Villa Bunga?" tanya Opa pelan. Setelah yakin di ruang keluarga ini hanya tinggal berdua. Mereka baru bisa berbicara tentang kejadian beruntun di vila sewaan itu. Takut kalau orang lain yang mendengar, malah akan menimbulkan kehebohan tersendiri.


Ada senyum miris di bibir Jenna yang sedikit terpulas. " Awalnya, Jenna hanya menganggap hanya gangguan biasa saja, Opa. Sampai pagi tadi, Mbak Hera dan Mas Fajar minta izin untuk tidur di sini untuk malam nanti. Mereka agak takut tidur di sana, setelah kejadian yang menimpa sebelumnya."


" Kayaknya ada salah satu anak buah Tedi yang iseng. Sehingga ada sesuatu yang terjadi di sana, karena merasa terganggu!"


" Apa ibunya Om Sidharta itu memakai kursi roda, Opa?"tanya Jenna mau tahu. " Beliau katanya sakit parah."


Pria tua itu menggelengkan kepalanya dengan lemah. " Tidak! Setahu Opa, wanita tua itu menderita kanker rahim yang sudah diidapnya sangat lama.... Kamu mendengar sesuatu di sana?"


" Waktu Jenna datang ke Villa kemarin sore untuk bertemu dengan Mang Koya. Seperti mendengar mendengar ada suara kursi roda yang didorong di dalam ruangan vila utama. Tetapi kata Mang Koya tempat itu sudah lama kosong. Si Mamang hanya membersihkannya, kalau sempat saja. Sebab dia sibuk mengurus tanaman paprikanya dibantu sama suaminya Teh Nia!"

__ADS_1


" Efron nggak apa-apa, Opa?"


" Nggak apa-apa, cuma kecapean sedikit.... Fani membuat Efron agak lama berpanas-panasan di bawah sinar matahari saja!"


Tante Ismaya sudah mengirim makanan dan buah untuk kru dari tim produksi. Setelah selesai berenang, Naura minta diajak jalan - jalan keluar dari wilayah itu dengan kedua orang tuanya itu. Mereka terpaksa keluar sebentar dari kawasan wilayah Cilember itu sampai melewati puncak pass ke arah Cipanas. Mereka mampir membeli berbagai jajanan yang di jual di sepanjang jalan itu. Juga membeli jagung untuk acara bakaran nanti malam.


Untungnya, hujan di wilayah ini tidak merata. Jadi shooting terus berlanjut... Mereka tampak lega setelah melihat hasil pengambilan gambar yang bagus dan cukup memuaskan. Setelah dinyatakan selesai oleh Bang Miko, Rara nekad kembali ke Vila Damash tanpa mengganti gaunnya itu. Dia cepat menggeret tangan Keanu yang sedang sibuk diberi pengarahan oleh Bang Miko, untuk rencana shooting besok.


" Sabar ngapa, Neng!" Omel Keanu yang tangannya terus ditarik keponakannya itu dengan kuat, keluar dari halaman vila Bunga.


Bahkan tadi Rara minta diantar ke kamar mandi oleh Keanu. Bukannya masuk ke vila utama, tetapi Rara malah numpang ke kamar mandi di rumah Mang Koya. Walaupun rumah penjaga vila itu sangat sederhana, karena rumahnya berbentuk gubuk. Tetapi kamar mandinya bersih dan terang.


Di depan vila, mereka melihat Jenna membantu Mang Asep menyiapkan acara barbeque sore ini. Di sana ada arang batok dalam karung kecil , juga ada alat pemanggang yang sudah disiapkan.


Segera saja Jenna tertawa karena Rara terpaksa berjalan dengan sandal jepit, sementara dia masih memakai kostum yang tadi digunakan untuk pengambilan gambar terakhir.


" Aku pikir ada ondel-ondel yang nyasar, ngamen sampai ke tempat ini!" Ledek Jenna.


Mang Asep pun tertawa geli. Gaun Rara walaupun bagus dan mahal , tampak tidak cocok untuk dipakai sehari-hari. Terlalu mewah dan mencolok karena banyak hiasan, dengan renda-renda, juga panjang gaun yang tidak simetris.


" Mbak Hera belum balik?" tanyanya pelan. Dia duduk sembarangan di bangku yang ada di taman itu tanpa mempedulikan akan membuat gaun mahalnya itu kotor . Wajahnya terlihat sangat lelah. Keanu sudah membawa segelas air putih dingin dari dapur samping.


" Minumlah! Ganti saja kostum ala Princess abal-abal itu. Sana!" pinta Keanu yang terlihat agak sebal dengan keponakannya itu.


Jenna dan Mang Asep kembali tertawa. Walaupun pekerjaan Keanu itu dibayar mahal oleh sang keponakannya itu sendirian. Tetapi Keanu tak segan-segan mengomeli keponakannya itu dengan tegas. Sebab sudah seharian tadi, Rara membuatnya lelah dan pusing. Pokoknya Rara nggak mau masuk ke dalam villa utama. Jadilah dia beristirahat sebentar di dalam mobil milik Bang Tedi itu.

__ADS_1


__ADS_2