Jodoh Untuk Jenna

Jodoh Untuk Jenna
Bab 31. Atas Nama Jenna


__ADS_3

Pekerjaan Jenna mulai sedikit agak berkurang setelah pembuatan iklan produk dari Ismaya Beauty selesai. Mbak Sintia yang merupakan manajer pemasaran yang mulai sibuk sebab ruang kerjanya semakin banyak dipenuhi setumpuk laporan pekerjaan.


Tante Ismaya semakin berseri - seri wajahnya dalam seminggu terakhir ini. Saat iklan kosmetik kecantikan itu mulai tayang perdana di sebuah atas tv swasta.


Ajaibnya dalam waktu hanya hitungan tak sampai dua minggu iklan itu mulai disukai masyarakat. Apalagi wajah innocent, sang model sangat sesuai image dari dengan produk kecantikan yang dia promosikan "Kembalikan Usia Muda Dengan kulit Bersih dan Berseri"


Sekarang iklan itu mulai disiarkan ke berbagai tv swasta lainnya. Hasilnya semakin baik. Dengan banyaknya permintaan produk buatan Tante Ismaya itu yang semakin banyak di beberapa kota lainnya. Selain Kota Jakarta sebagai pangsa pasar utama.


Bahkan kini, lobi kantor Ismaya Center pun mulai dipenuhi beberapa foto wajah cantik sang model yang terpasang di koridor setiap ruangan di kantor berlantai lima itu.


Bahkan sudah disiapkan sebuah team kerja untuk memasang Poster besar, baliho sampai pemasangan iklan tiga dimensi berupa layar datar sudah disiapkan di kantor Ismaya Beauty Center.


" Dia tidak secantik yang ada di foto itu! " bisik Mbak Sonya sinis saat duduk di ruang depan lobi setelah mereka selesai istirahat makan siang di sebuah kafe yang jaraknya tidak cukup jauh dari kantor.


Sejak Karolina tidak aktif lagi dalam dunia mode hampir tiga tahun belakangan ini, Jenna jadi kurang mengikuti perkembangan dunia model tanah air. Jadi dia hanya sekilas mendengar munculnya berbagai wajah baru di dunia tersebut. Wajah wanita yang lebih muda, belia dan sangat berbakat dengan berbagai keunikan dan ciri khas masing- masing.


Saat itu dia disibukkan dengan ujian akhir semester di kampusnya, praktek lapangan sampai menyusun skripsi dan maju sidang skripsi. Baginya itu target utama lulus kuliah dan menjadi sarjana di usianya yang dua puluh satu tahun. Sehingga kurang mengenal sang model baru itu, yang langsung naik pamornya sejak pandemi awal tahun 2020.


" Ini berkat nama besar Pandu Samadi!" bisik Mbak Sonya pelan dengan wajah agak sinis. Mbak Sonya terkenal sangat modis walaupun usianya sudah mencapai tiga puluh lima tahun.


Wanita itu hidup sendirian di sebuah apartemen di Kelapa Gading. Walaupun demikian dia mempunyai pergaulan yang sangat luas. Teman -teman terdiri dari berbagai kalangan. Mulai seorang dari wanita muda yang mempunyai berbagai usaha kuliner, artis sampai model, bahkan pejabat muda di beberapa institusi pemerintahan.


Mbak Sonya Brigita sangat menikmati kesendirian itu dengan memegang prinsip, " Hidup Sendiri Lebih Bahagia"

__ADS_1


" Jangan julit, Mbak !" Ledek Mbak Sintia.


"Ugh, nggak percaya? Ya, sudah. Kita lihat akan berapa lama mereka dapat menutupi hubungan asmara itu. Pasti jadi bom!" Ucapnya sambil mengedipkan mata. Sekedar memberi tahu kalau hal itu sudah menjadi rahasia umum.


Tanpa sadar Jenna menatap poster terbesar yang ada di dekat lift. Di sana ada wajah muda Tania terpampang nyata. Wajah itu memang cantik karena hasil riasan make-up sempurna hasil tangan seorang MUA yang terkenal saat ini di Kota Jakarta.


Usia Tania Esmeralda baru menginjak 19 tahun. Dia baru saja menyelesaikan sekolahnya di sebuah SMA swasta tahun ini.


Jenna tentu telah membaca data diri Tania, saat pihak dari perusahaan Pandu mengajukan beberapa nama model lengkap dengan portofolio mereka yang akan dipilihnya untuk menjadi bintang iklan produk kosmetik itu. Apa kata Tante Ismaya tentang hal itu kepada Jenna.


" Cantikan kamu, Jenna! Hanya saja Tante tidak berani menghadapi orang tuamu apalagi reaksi Opa Damas. Untu meminta izin agar kamu saja yang jadi model iklan itu!"


Sejak dulu Opa selalu membebaskan semua cucu-cucunya untuk mengikuti berbagai ekskul dan bermacam kegiatan di sekolah mereka. Hanya pilihan Karolina yang paling tidak disukai oleh pria tua itu. Modeling! Mau ditentang sekeras apapun, Karolina semakin kekeh dengan tekadnya. Tetapi Opa tetap meminta Karolina agar menomorsatukan sekolah dan juga harus kuliah dan mendapat gelar sarjana! Suatu janji yang harus dijalankan Karolina dengan berat hati saat itu.


" Kok, melamun?" Tegur Mbak Sintia.


Mereka segera bergerak menuju lift. Namun saat di lantai dua, yang lantainya dibuat terbuka sehingga u masih dapat melihat lantai loby di bawahnya. Sampai ke pintu luar gedung. Di sana memperlihatkan suatu pemandangan yang berbeda.


Tiba-tiba ada serombongan orang bergerak cepat ke arah pintu utama gedung yang terbuat dari kaca. Dua bapak yang menjadi petugas keamanan gedung pun ikut berkerumun di depan sana.


Sayangnya, Jenna langsung masuk lift yang menuju ruang kerjanya di lantai empat. Mungkin gadis itu juga akan heran karena dari dua mobil berjenis sedan Meri Benz tahun terakhir itu muncul Pandu Samadi dan sosok cantik yang wajahnya sangat familiar belum lama ini, Tania Esmeralda.


Sonya dan Sintia sempat terpaku. Mereka kurang memperhatikan dering hape di masing- masing dompet besar yang mereka bawa tadi saat makan siang. Sebab ada puluhan wartawan yang tiba- tiba ikut merangsak ikut masuk gedung dan mengambil gambar mereka berdua.

__ADS_1


Ruangan lobi itu seketika menjadi ramai tidak hanya dengan suara blitz dan cahaya silau berpendar- pendar ke seluruh lantai sebagian berdinding kaca . Juga gumaman suara orang- orang.


Benar saja, pasangan itu masuk ke dalam kantor ibu Ismaya di samping loby. Ruangan yang berada di lantai satu merangkap ruang kerja juga ruang pertemuan khusus untuk tamu penting untuk Ibu Ismaya. Pemilik perusahaan Ismaya Kosmetik.


Ruangan berwarna biru lembut itu di tata apik menyerupai ruang pamer pribadi, dengan rak-rak kaca tinggi yang mempertontonkan berbagai piala, piagam dan penghargaan yang diterima wanita itu dalam dedikasi di bidang produk kosmetik kecantikan untuk taraf nasional.


Belum furniture berwarna lembut yang sebagian berwarna putih. Selain ada seperangkat sofa nyaman untuk menerima tamu, juga seperangkat meja dan kursi kerja yang ada di sudut ruangan itu.


" Ayo, Mbak Kita dipanggil ke kantor Ibu Ismaya!" bisik Mbak Sintia.


Mata Sonya pun ikut melotot sempurna. Mungkin semua urusan itu sudah dipegang oleh dua sekretaris Pak Jhon Sagara. Tetapi dengan kehadiran mereka, tampaknya ada pertemuan yang sangat penting di luar agenda formal perusahaan yang sudah terjadwal rapi.


Jenna sibuk seharian ini mengerjakan segala tugasnya. Tadi Ibu Rully sudah memberi tahu Jenna soal pertemuan dadakan di kantor Si Tante di lantai satu. Wanita itu sudah memesan beberapa cemilan dan minum dari kafe terbaik di wilayah ini yang sudah diantar oleh kurir.


Jenna paling malas disuruh menerima tamu. Dia tidak suka ber basa- basi dengan bersikap manis dan wajah yang harus terlihat ramah. Padahal hati kita dongkol dengan perilaku sang tamu yang kadang suka meremehkan orang lain. Contohnya Pandu Samadi!


Lebih baik Jenna fokus dengan berbagai tumpukan pekerjaan yang ada di mejanya. Apalagi hitung menghitung angka, dari absen dan kehadiran karyawan sampai besaran gaji yang akan diterima bulan ini cukup menyita perhatiannya.


Bekerja dengan angka- angka yang ada di komputer itu memaksa lebih dia fokus dan lebih konsentrasi lagi. Sehingga ruangan itu sangat sunyi. Terlebih dua orang asisten yang biasanya ada di ruangan itu malah sibuk mencetak beberapa laporan di mesin Printer yang ada di ruangan belakang dekat pantry.


Dua gadis muda itu bahu- membahu menumpuk foto copy laporan itu sambil berbicara pelan. Sebab mereka tahu, selama bekerja Jenna sangat membutuhkan suasana yang tenang.


Jenna sudah mengirimkan email ke Ibu Rully yang tampaknya masih sibuk di ruang kantor Tante Ismaya.

__ADS_1


Sampai Jenna dikejutkan dengan kehadiran sesosok pria tampan bertubuh tinggi, tegap dan tersenyum manis di depan pintu ruangan kerjanya.


" Ya Allah, kamu demit atau manusia, sih!" Tegur Jena agak marah." Kasih salam apa, kek! Jangan seperti ini datang tak diundang , pulang tak diantar!"


__ADS_2