Jodoh Untuk Jenna

Jodoh Untuk Jenna
Bab 73. Habislah Keluarga Hisbillah


__ADS_3

Pertemuan yang didatangi Om Jhon dan Jenna itu merupakan pertemuan antara para pengusaha yang semua anggotanya merupakan teman baik Om Jhon. Namun pembicaraan mereka bukan hanya tentang bisnis saja! Mereka banyak membahas politik, perkembangan ekonomi dalam negeri sampai membicarakan olahraga yang paling digandrungi masyarakat Indonesia, seperti sepak bola.


Jenna berusaha menyimak sebagian dari isi pembicaraan dan rencana kerja mereka. Apalagi, para pria itu sangat menghormati Jenna... Setelah Om Jhon Sagara memperkenalkan Jenna sebagai keponakannya tersayang.


" Mau pesan makan, Jenna?"


" Sudah kenyang , Om!"


Mata pria terbelalak heran. Jenna hanya menikmati dua slice cake sejenis Black forest, selama pertemuan itu berlangsung. Sementara berbagai draft dan surat-surat sudah diurus oleh sekretaris masing-masing secara virtual. Mereka hanya ingin bertemu secara tatap muka agar kerja sama dan pertemanan mereka semakin solid.


" Om , apa nggak tahu? Berapa kandungan kalori yang terdapat pada dua potong kue ini saja! Belum lagi kandungan gula, karbo hidrat dan lemaknya yang terdapat di dalam kue ini?" Ledek Jenna geli.


" Jangan ngomong soal gizi di depan Om kamu ini, Jenna! Makanlah dengan benar! Nggak bagus gadis muda, sehat dan selalu aktif bergerak seperti kamu melakukannya diet ketat hanya untuk menjaga penampilannya!" ujar pria itu sedikit tidak suka.


" Ya, nggak lah, Pak Dokter yang baik! Salahkan saja kakak perempuan Anda, yang sudah memberi anaknya ini sarapan yang penuh gizi tadi pagi!"


Tawa Om Jhon terdengar membahana di sudut kafe ini. Dipikirnya tadi Jenna kangen makan siang yang biasanya dinikmatinya, sewaktu menjadi karyawan di kantor, di kafe di seberang tempat kerja mereka ... Walaupun biasanya Jenna malah hanya memilih berbagai makanan jajanan seperti somay atau bakso!


Di kafe ala barat ini, dengan hidangan serba luar negeri itu. Tentu tidak tercantum menu jajanan ala food street Jakarta, yang serba gorengan, banyak sambal, juga MSG! Tentunya dengan harga yang murah meriah itu.. Bandingkan saja! Harga dua slice cake di kafe itu, setara harganya dengan membeli 3 porsi bakso super komplit di warung Bakso Kumis yang mangkal di depan Salon Ismaya yang cukup bonafid juga tempatnya.


Kehadiran Jenna membuat para pria dewasa itu sangat tertarik. Sebab gadis muda itu terdengar sangat santai dan lucu karena celotehan dan omelan Jenna yang apa adanya. Apalagi yang mereka tahu, latar belakang pendidikan Pak Jhon dan istrinya itu adalah seorang dokter, yang beralih menjadi pengusaha.


" Kemarin, Jenna sudah ngantor di tempatku, Bro! Eh, dia nggak bertahan lama. Cuma setahun saja! Dia sudah nggak betah dengan pergaulan para pekerja wanita di sana. Sampe minta keluar! Sekarang dia dipercaya mengelola cabang Salon Ismaya yang ada di Jakarta Selatan, oleh Istriku!" Jelas Om Jhon.


" Susah memang kalau bekerja dengan para perempuan di kantor. Apalagi kalau sudah masuk dalam lingkaran pertemanan yang kurang sehat. Jadi lebih banyak mementingkan perasaan, menyebarkan rumor tanpa mengetahui fakta dan data. Suasana jadi sering rame!"

__ADS_1


Memang sih, bukan kaum wanita saja! Kaum pria pekerja kadang juga ada sisi pertemanan yang kurang baik. Mereka sering nongkrong dengan kegiatan yang kurang berfaedah. Seperti nongkrong di kafe atau klab malam, berpacaran dengan perempuan lain , tanpa peduli dengan istri atau calon istri yang sudah diberinya janji kesetiaan. Apalagi banyak pergaulan yang menjurus ke hal negatif, seperti judi, narkoba dan gaya hidup bersama tanpa ikatan pernikahan.


Pertemuan bisnis itu telah selesai hampir pada pukul 14.30. Mereka mulai berpamitan pada Om Jhon dan Jenna. Tampaknya si Om juga belum mau beranjak dari ruang kafe yang sangat privasi itu. Bukan pria itu suka berleha-leha! Sepertinya dia menunggu kehadiran seseorang. Jenna kembali menatap wajah adik bungsu Mamanya itu dengan agak bimbang.


Sampai mereka dikejutkan dengan sebuah sapaan suara berat, yang datang di dekat bangku yang mereka duduki. Jenna menengadahkan wajahnya dari layar hape yang memuat berita dan informasi terbaru.


" Selamat siang, Om!" Sapa Kak Farhan pelan.


Mata Jenna membulat. Mana kata santun dulu yang menjadi sapaan dan salamnya? Bukannya dia gila hormat! Tubuhnya kecil tetapi bukan juga berbentuk liliput, sehingga seorang pria seperti Farhan tidak melihatnya dan mengindahkannya.


" Om Jhon! Jenna, tunggu di lobi depan saja. Kalau masih ada keperluan dengan orang lain."


" Jenna, tunggu sebentar! " Suara Om Jhon Sagara menjadi sangat tegas.


Jenna kembali membeku di tempatnya berdiri. Melihat ke wajah seorang Sagara menjadi lebih serius. Jadi dia duduk kembali.


masih membutuhkan bantuan mereka. Ini bisnis, Farhan!"


" Maaf, Om.... " Ucap Farhan Pasrah.


Lelaki itu melihat meja di depan mereka sudah lama kosong. Malah meja itu sudah tampak bersih seperti semula. Tandanya orang-orang yang berkepentingan berbisnis dengannya sudah lama pergi. Sebenarnya bukan menjadi alasan tentang jarak yang jauh dari Bogor ke Jakarta untuk ditempuh bagi Farhan dalam perjanjian tadi. Sekarang sudah ada jalan tol, mobil bagus berkekuatan mesin prima. Tetapi tidak tepatnya janji temu seseorang, akan menimbulkan penilaian yang tidak baik.


" Lain kali jangan gunakan nama Darmawan atau Sagara untuk mengundang para pengusaha itu! Kita sudah tidak punya kepentingan lagi denganmu lagi. Sejak kamu bercerai dengan Karolina! Sekarang kita sudah menjadi orang lain. Berusahalah sendiri dengan kemampuan, kepandaian dan koneksimu!" Ucap Om Jhon Sagara sebelum meninggalkan tempat itu.


" Mampus!" bisik Jenna dalan hati. Saat dia memandang wajah Kak Farhan yang menjadi pucat karena kata - kata sederhana Omnya itu.

__ADS_1


Nama besar keluarga Hisbillah telah dipertaruhkan kali ini. Tetapi Farhan tidak lagi dapat mengangkat dagunya lebih tinggi lagi.


Pria itu menatap paman dari Jenna, yang mengandeng tangan gadis itu keluar dari kafe ini. Berkali-kali Farhan menutup matanya! Mungkin dia marah atau tersinggung. Menangislah Boy! Ejek Jenna dalam hati. Mungkin itu harga yang pantas buat Farhan Hisbillah, dengan segala ketamakannya!


Tampaknya ucapan dari Pak Feri Darmawan dan Pak Ismoyo itu bukan permainan kata semata! Segala daya dan upaya yang dilakukan dia dan dengan ketiga kakaknya untuk mempertahan satu demi satu perusahaan milik keluarganya juga gagal. Kini ada tagihan ratusan juta rupiah dari bank yang harus disiapkan keluarga mereka setiap bulannya. Sedangkan beberapa perusahaan itu sudah tidak beroperasi lagi. Jadi tidak ada pemasukan serupiah pun.


Pak Agus langsung menyambut dan membukakan pintu, ketika melihat majikannya datang bersama keponakannya itu.


" Mau langsung diantar pulang, atau kembali ke kantor?" tanya Om Jhon kepada Jenna.


" Ke kantor lah, Om! Mobil Jenna kan masih di sana!"


"Iya, Om tahu ... Jabatanmu sebagai pengelola salon perlu ditunjang dengan penampilan yang baik, kan?"


" Ih, si Om Ngadi - Ngadi, deh! Tanya si Tante! Siapa yang suruh Jenna bolak - balik ngurus salon di Jakarta Selatan sama di Kelapa Gading... Kalau naik mobil umum seperti Busway... Bisa tua di jalan aku nanti, jadinya ...."


Lagi-lagi Om tertawa. Tante Ismaya memang orangnya aktif dengan berbagai kegiatan di luar pekerjaan yang sudah segunung itu. Padahal dia juga masih punya tanggung jawab di laboratorium penelitian produk kecantikan miliknya. Yang kini dipercayakan tanggung jawab itu kepada seorang yang sangat dia percaya. Belum lagi dia harus mengurus kantornya di Kelapa Gading, kedua salonnya.... Mungkin dia masih memegang jabatan lain, yang melibatkan wanita itu dalam berbagai organisasi profesi lainnya.


" Tenang, Jenna! Om juga menyayangi Karolina seperti Om sayang kepada keponakannya sendiri... Sejak sebulan lalu, Farhan sudah mendekati beberapa pengusaha besar, untuk diajak kerjasama dalam pengembangan proyek perumahannya itu... Tetapi Om terus pantau ... Kalau dia mau berusaha sendiri dengan nama perusahaan atau nama keluarganya, itu sah-sah saja. Kalau dia mendompleng nama Damash dan Darmawan? Ya, nggak ada ampun!"


" Terimakasih, Om... ! " Bisik Jenna terharu.


" Bilang pada Karolina! Kalau dia mau bekerja menjadi ambasador di produk kosmetik Ismaya... Silakan temui Om kamu ini di kantor, ya?"


Jenna tak bisa berkata-kata lagi. Dalam diamnya pun, pria itu masih menjaga dia dan Karolina. Walaupun si Om dan si Mama tidak memakai nama sang ayah dalam jenjang karier mereka, tetap saja usaha kedua orang itu tetap berhasil juga. Belum lagi kakak dan adik mereka yang juga berkarier di bidang yang sama. Mereka bekerja di sebuah rumah sakit besar di Kota Bandung dan Cirebon.

__ADS_1


" Hati-hati, Jenna! " ujar pria itu saat melihat keponakannya masuk ke dalam mobil Honda Jazz merah itu. Jenna melambaikan tangannya, meminta pamit. Setelah mencapai mobilnya mencapai pintu luar parkiran luar kantor.


__ADS_2