
Jenna juga sudah merapikan barang - barang pribadinya untuk dimasukkan ke dalam tas backpack coklatnya. Kunci mobil juga disimpan ke dalam saku jeans-nya. Terlihat si ibu masih ngobrol dengan Rosella di seberang ruangan sana.
Bawaan Dokter Arunika itu adalah dia selalu saja bersikap ramah dengan siapa pun yang dijumpainya. Termasuk gadis ABG yang terlalu dewasa dengan cara berpakaian dan berdandannya. Apalagi si Rosella itu bisa berkeliaran di luar rumah meskipun seharusnya dia masih harus ada di depan laptop atau hape untuk pembelajaran daring.
Bukankah dia bersekolah di sebuah sekolah SMA swasta yang cukup bonafid? Para guru di sana pasti akan mengabsen anak muridnya dengan cara zoom wajah pada setiap sesi pelajaran yang berbeda. Anak ini pasti bolos masuk pelajaran daring dengan berbagai alasan yang tak masuk akal.
Rambut si cantik itu sudah berubah menjadi brunette, alias pirang. Memang kalau kita mewarnai rambut, jika akar rambutnya sudah kembali ke warna rambut yang semula, sebaiknya dicat ulang atau dikembalikan ke warna aslinya. Sebab rambut yang sudah pudar warnanya akan membuat tampilan wajah kita menjadi lebih kusam
Sehingga akan mengurangi nilai dari penampilan diri kita secara keseluruhannya menjadi tidak rapi.
Gadis ABG itu segera membayar biaya perawatan dan pewarnaan rambutnya melalui m- banking dari aplikasi di hape bergambar apel digigit itu. Tetap saja Mbak Aryani melayani gadis muda itu dengan cermat dan ramah.
Jenna terpana , ketika melihat dua wanita datang bersamaan. Mereka terlihat cantik walaupun sudah berusia lebih dari 50 tahun
Sambil turun, Mereka asyik ngobrol sepanjang tangga dari lantai dua menuju meja Mbak Arini.
Mamanya, dan wanita yang bernama Angela Samidi itu terlihat akrab. Jenna sudah membayarkan tagihan untuk perawatan kuku sang ibu. Maunya Jenna, ibunya segera keluar dari lantai satu ini untuk segera pergi dengan Jenna. Dari sini ke Bintaro itu tidak terlalu jauh! Tetapi macetnya di daerah Mayestik itu ampun- ampun, deh! Bisa pegel linu ini pinggang karena terlalu lama menyetir. Seharusnya Pak Imam yang mengantar si nyonya besar ini, tetapi mobil sudah ditukar.Walaupun tak suka pamer, Dokter Arunika membawa mobil hadiah dari suaminya itu agar keluarga tidak diremehkan!
Mbak Arini bengong, saat Ibu Angelina membayar semua biaya perawatannya itu secara cash. Dengan cepat wanita itu menghitung lembaran lembaran merah yang dikeluarkan dari dompetnya kulitnya yang berwarna hitam beludru.
" Jeng, Angel! Ini Jenna anak perempuan saya!" ujar Dokter Arunika memperkenalkannya. Wanita itu mendorong bahu Jenna untuk menyalami wanita kenalan barunya itu.
" Saya Jenna, Tante!"
" Saya Angelina Samidi, Pandu anak saya. Tadi dia yang mengantar saya ke sini. Sejak Papanya, sakit. Dialah yang mengambil alih semua tanggung jawab perusahaan kami..."
Kecantikan wanita yang merupakan ibunda Pandu Samidi itu dalam pandangan Jenna, tidaklah alami. Mungkin wanita itu telah melakukan botoks atau bedah plastik untuk mengurangi keriput pada bagian tertentu sehingga kulit wajahnya terlihat kencang dan licin. Mirip wanita berumur 20 tahun akhir.
Padahal kalau dihitung, usia wanita itu sudah mencapai 60 tahun lebih. Karena Jenna mengenal Ruth Samidi Ruslan, kakak tertua Pandu sudah berusia lebih dari 41 tahun. Belum lagi para menantu lelakinya yang juga memegang divisi penting di perusahaan milik keluarga tersebut.
" Jenna yang mengelola salon ini, Jeng Arunika?" tanya wanita itu kembali setelah menyelesaikan pembayaran. Tanda terima sudah berada di tangannya.
__ADS_1
" Ma, Jenna tunggu di depan!" Serunya, sambil pamit dengan kenalan baru ibunya itu.
Pak Jaka sudah menjaga sedan putih ibunya itu dengan cermat. Petugas parkir itu juga tadi yang membawakan kunci mobil ibunya ini, karena pak Iman mendapat perintah untuk bertukar mobil . Bila sudah seperti ini, tandanya Mamanya akan menemui seseorang yang merupakan kerabat dari keluarga besarnya.
Keluarga besar sang Mama memang beda, dengan keluarga dari kerabat si Papa. Sebagian anggota keluarganya itu suka memamerkan segala kegiatan mereka di medsos atau grup WA Keluarga.
Mungkin kalau beberapa negara Eropa masih membuka jalur wisatanya untuk umum, saat ini. Beberapa anak dari sepupunya si Mama akan memamerkan foto kunjungan mereka dalam perjalanan ke luar negeri atau berwisata ke seluruh dunia. Kalau perlu sampai ke kutub Utara sekalian!
Jenna mulai menyesuaikan dengan mobil yang dijalankan secara matik ini. Jadi tidak terlalu merepotkan. Si Ibu sudah mengambil duduk di sebelahnya. Sementara Pak Jaka sudah bersiap - siap untuk memberi jalan agar mobil yang dibawa Jenna dapat melaju dengan aman di jalan raya di depan salon.
" Mau ke rumahnya Nenek Sabira, Ma? Siapa yang ada di rumahnya itu?" Tanya Jenna sambil mengecilkan volume suara musiknya. Jenna senang mendengar musik- musik lembut atau instrumental bila sedang mengendarai mobil. Beberapa pemusik modern itu sangat piawai memberinya ketenangan. Sebab dia juga harus lebih waspada menghadapi arus lalu lintas yang semakin padat menuju arah barat kota Jakarta.
"'Tante Dian dan suaminya, mereka baru pulang mengobati cucunya di daerah Sukabumi. Mama hanya diminta untuk memeriksa sebentar!"
" Cucu dari anaknya yang mana , Ma?"
" Anaknya Renita dan Fernando!"
Jenna terdiam. Dulu Mamanya pernah memberi saran agar anak laki-laki mereka diterapi. Bayi berusia 10 bulan baru dibawa periksa ke klinik tempat dokter Arunika bertugas. Ternyata si bayi mengalami beberapa kendala dari alat inderanya. Juga karena ketidaktahuan si ibu bayi, barulah ditanyakan masalah itu ke klinik.
" Dibawa ke dukun, Ma?"
" Sst, mereka bilangnya pengobatan alternatif. Mama sudah kasih saran dan petunjuk untuk dokter ahli THT yang tepat, keluarganya menolak... Tetapi Renita tak berani menentang keputusan mertuanya!"
Perjalanan mereka mulai memasuki beberapa perumahan dengan jalan yang semakin menyempit. Satu jalur jalan untuk dua arus kendaraan yang berbeda arah. Sehingga ketika ada lampu merah di pertigaan atau perempatan jalan akan terjadilah penumpukan kendaraan di sana.
Kebanyakan motor-motor mulai main Zig- zag di sekeliling mobil yang dikendarainya Jenna. Berkali- kali Jenna harus memainkan klaksonnya, karena kendaraan roda dua itu terkadang memotong jalur di depannya dengan semaunya.
Itulah yang membuat Dokter Arunika lebih memilih Jenna yang membawa mobilnya. Dia akan berani melawan siapa pun yang salah! Jadi ibunya yang tadinya tegang jadi senyum geli, melihat Jenna ngomel terus selama sisa perjalanan itu.
Pada sebuah rumah model tua itulah mereka masuk. Rumah nenek Sabira itu bertahun-tahun tidak berubah bentuknya. Malah beberapa bagian sudah lapuk karena dimakan usia.
__ADS_1
Padahal semua anak nenek itu bekerja sebagai ASN di Jakarta. Namun mereka lebih memilih tinggal di beberapa perumahan elit di tengah kota Jakarta atau tinggal di apartemen pusat kota. Apalagi ada satu anak nenek yang menjabat di bagian yang penting di kantornya. Sehingga banyak orang mengatakan itulah bagian basah! Artinya mereka bisa mendapatkan uang banyak dan berlebih.
Di ruang tengah, selain ada nenek Sabira ada Boyke Jody Nataprawira.
Bocah lelaki berusia 2 tahun itu lebih menyerupai bayi berumur 8 bulan. Tubuhnya kurus, pandangan matanya kosong.
Kata si Mama, si bayi itu tidak dapat mendengar apapun di sekelilingnya, kecuali kesunyian. Harusnya anak bayi itu lebih banyak diberi perhatian dan kasih sayang! Bukan disembunyikan, karena dianggap membawa malu nama keluarganya.
" Boy, ayo senyum!" Bisik Dokter Arunika saat membopong anak itu. Tangan terampil wanita itu menelisik tubuh bayi, dari punggung sampai perut.
Jenna tersenyum sedih. Diusapnya kulit lengan Boy yang sedikit keriput dan pucat. Tentu melelahkan buat badan sekecil ini harus melakukan perjalanan pulang - pergi, sebulan dua atau tiga kali dari Jakarta Ke Sukabumi untuk berobat.
Tak lama bayi itu tertidur dipelukan Dokter Arunika. Beberapa obat yang diramu paranormal dari Sukabumi itu harus ada yang diminum secara teratur.
Dokter Arunika pasrah! Karena pengetahuan yang didapatnya dari perguruan tinggi, harus bertentangan bila dibandingkan dengan pijitan terapi dan ramuan herbal yang belum tentu teruji secara ilmiah manfaatnya.
Mereka pamit pulang setelah berbincang agak lama dengan Nenek Sabira. Tampaknya kekurangan yang didapat dari cicit lelakinya itu telah membuatnya menjadi wanita tua yang lebih arif. Biasanya wanita tua yang merupakan adik nenek dari pihak ibunya Jenna itu kalau bicara sering tak mau kalah! Keras dan Ngotot!
" Jenna, Kamu kenal dengan anggota keluarga Samidi?" ujar Dokter Arunika membuka percakapan. Jenna dari tadi hanya diam saja.
" Ada sih, beberapa. Memangnya kenapa, Ma?"
" Apa kamu tahu, Pandu itu masih bujangan?"
" Nggak tahu, Mah!"
" Tadi Jeng Angel bilang. Kayaknya kamu cocok untuk jadi pasangannya Pandu!"
" Ogah! Mama , kira- kira, dong! Masa Jenna dijodohin sama Om - Om!"
" Jenna!"
__ADS_1
" Ya, ampun Mama! Ngapain ngurusin jodoh buat Jenna... Tuh, Abang Tedi aja yang cariin calon istri! Daripada anak kesayangan Mama itu jadi jomblo akut!"
Mereka kembali terdiam. Jenna kalau sudah tersinggung, akan lama baiknya. Sampai di rumah, anak gadisnya itu langsung masuk kamar. Dia tidak akan keluar lagi sampai pagi hari menjelang.