
Tedi dan Marvin mulai memantau situasi dan perkembangan persoalan di Parung itu sampai saat ini.Tentu mereka mendapatkan laporan itu lewat beberapa orang yang sangat dipercaya, juga keberadaan mereka itu sangat tersamarkan.
Mungkin karena letak kavling itu tidak jauh dari pabrik pembuatan kemasan yang dulu dimiliki oleh Pak Feri Darmawan. Oleh karena itu timbul anggapan, bahwa terbukanya kasus kavling tanah itu karena campur tangan keluarga Damash dan Darmawan.
Justru Pak Feri malah menjual pabrik itu kepada kenalan lamanya. Karena ada indikasi perbuatan curang dari anak- anak Pak Zainuddin Hisbillah yang dipercaya sebagai penyalur hasil pabrik tersebut. Setelah dijual, Sekarang ayahnya Jenna hanya memiliki sebuah pabrik pembuatan kosmetik, yang lokasinya itu ada di jalan Jakarta - Bogor, dekat daerah Depok. Pabrik itu sekarang mulai menambah kapasitas produksinya . Dengan semakin luas Tante Ismaya membuka jaringan pemasaran, lewat online dan reseller ke berbagai daerah.
" Aman, Bos! " Seru Marvin. Setelah dia menerima telepon dari seseorang.
Tedi hanya mengacungkan jempol kanannya... Dia selama ini terus memantau pergerakan Jenna dalam kesehariannya. Adiknya itu bersikap terlalu santai, dengan keadaan dan situasi terakhir yang genting ... Walaupun dia yakin Fendi Sabaruddin akan selalu siap siaga menjaga si bandel itu.
Lihat saja pergerakan Jenna yang mulai membagi wilayah kerjanya menjadi dua bagian, sejak Karolina takut keluar rumah. Senin sampai Rabu, Jenna akan berada di salon di Kelapa Gading... Dia akan dibantu Mbak Lydia yang memegang bendahara dan keuangan Salon Ismaya di dua cabang. Hari Kamis sampai Sabtu, Jenna ada di Salon Kebayoran Baru. Dia akan bantu Mbak Arini, menyusun semua jadwal kerja para pekerja salon dan pekerja tambahan, mengaji karyawan dan pengajuan pembelian barang - barang kebutuhan di salon tersebut.
" Mbak Jenna dicari pacarnya, tuh!" suara cempreng Mbak Arini sudah membuat telinganya gatal.
Telepon paralel yang ada di atas meja kerjanya itu sudah berbunyi dua kali. Saat diangkat, Mbak Arini malah sudah berbicara agak ngaco.
" Mbak Arini! Jenna nggak punya pacar! Pusing tahu! Tolong hari ini saya nggak mau terima tamu. Ntar nggak gajian, mau kalian ?"
Mbak Arini tertawa ngakak... Jenna kalau membalas seseorang pasti langsung menusuk hati, begitu. Tandanya Jenna saat ini memang tak mau diganggu. Apalagi menerima tamu ... Sebab mata Jenna berusaha terus fokus pada kedua laporan gaji karyawan itu tetap sinkron, yang akan diteliti ulang sampai dua kali. Dia tidak mau para pegawai di tempat ini mengalami kerugian dengan kehilangan satu rupiah pun, dari hasil kerja dan keringat mereka selama bekerja sesuai dengan jumlah jam masuk dan izin yang tertera.
Pria yang disebut pacar itu adalah sosok Pandu Samidi! Pria perlente itu berdiri di depan Mbak Arini sambil membawa buket selusin mawar merah yang tampak sangat eksklusif dan mahal.
" Maaf, Pak Pandu ... Mbak Jenna lagi repot! Nggak bisa diganggu!" Bisik Mbak Arini sambil menangkupkan kedua tangannya sebagai permohonan maaf.
Pandu terlihat agak kecewa... Sejak kemarin, Jenna tak membaca WA yang dia kirimkan. Apalagi mau menerima telepon darinya! Entah ... dapat bisikan dari siapa lagi? Sekarang gadis muda dan cantik itu telah menolak kehadiran dirinya! Malah takutnya nomor teleponnya ini akan diblokir karena dirasa oleh Jenna itu sangat mengganggu.
Langkah sepatu pantofel mahal milik Pandu Samidi itu mulai menapaki dua anak tangga, menuju lantai depan salon. Pintu ruang kerja Jenna tertutup rapat! Sementara di dalam Jenna terus mengamati deretan angka - angka di layar monitor komputernya. Sebagian karyawan di salon ini mempunyai rekening bank sendiri. Untuk OB dan petugas keamanan, diberi gaji bulanan secara cash.
__ADS_1
***
Dulu Fendi dan beberapa murid lain yang belajar dan menetap di padepokan Guru Umar, hanya memandang selintas kehadiran Jenna... Selain masih sangat muda kira-kira berusia 13 tahun. Kedatangan Jenna ke padepokan itu adalah hal baru, sebab jarang sekali Guru Umar menerima murid perempuan dari luar daerah. Kecuali anak kerabat dan keluarganya. Tetapi dengan mudahnya lelaki tua itu menerima Jenna yang mempelajari ilmu bela diri asli Indonesia, di padepokan ini.
Mereka ditempatkan di pondok - pondok kecil yang berada di sebelah barat bangunan besar yang menyerupai aula utama. Pondok itu biasanya digunakan para tamu atau para pengajar silat yang sudah berumah tangga. Sedangkan yang disebut aula adalah berupa bangunan besar yang sederhana seperti gubuk beratap rumbia, dengan lantai semen keras. Tempat para murid berkumpul dan berlatih silat, sore dan malam hari.
Gadis itu sangat sayang pada Nenek Umi, istri dari Kakek Guru Umar.
Setiap gadis remaja itu datang dari Jakarta, banyak membawa sembako untuk diberikan kepada keluarga Kakek Guru Umar. Sebab Pak Damash membawa sendiri sebuah mobil mirip Jeep tentara yang bagasinya dipenuhi dengan dua karung beras, minyak goreng, lauk- pauk, dan beberapa kardus mie instan.
Bahkan ada keperluan mandi dan cuci pakaian. Seperti sabun mandi, pasta gigi, dan deterjen. Barang- barang itu agak susah mereka dapatkan di desa yang agak terpencil terpencil ini. Kecuali mereka membelinya di kota terdekat yang jaraknya hampir puluhan kilometer ditempuh dari desa yang letaknya ada di sebuah lembah, di kaki gunung besar di Sumatera.
Sebagian para murid laki-laki yang belajar di sana, akan menetap lama atau mondok. Awalnya mereka menilai Jenna hanyalah gadis kaya yang manja. Ternyata gadis remaja itu fisiknya dan staminanya sangat bagus. Walaupun hanya belajar saat dia libur sekolah saja, dengan cepat Jenna menyerapnya salah satu jurus andalan padepokan itu. Bahkan Jenna dipercaya untuk menggunakan senjata tajam khas berupa pisau kecil sebagai jurus andalannya yang ilmunya langsung diajarkan oleh sang Guru sendiri.
Pak Damash sering membawa kelompok berburunya untuk ikut bertandang ke sana. Para mantan tentara itu juga mampu memperlihatkan kemampuan berbagai jurus ilmu bela diri dari berbagai perguruan terbaik di tanah air. Selain membawa banyak hewan buruan sepeti rusa dan ayam hutan, yang dapat di jadikan simpanan cadangan lauk -pauk.
Para murid di sana juga melihat Jenna mau mencuci pakaian dan mandi di sungai kecil yang mengalir di belakang padepokan, bersama anak perempuan dan dua orang adik Kakek Guru Umar. Jenna malah bisa makan seadanya... Apa pun yang disediakan dan dimasak oleh Nenek Umi dan saudaranya iparnya itu. Mereka akan memetik segala sayuran di kebun belakang rumah untuk dimasak dengan tambahan lauk sederhana seperti ikan goreng hasil menjaring di sungai.
***
Keberadaan Pandu yang berdiri lama di depan salon itu sudah mengusik insting seorang Fendi. Dia mendekati pria perlente itu yang masih asyik menelpon seseorang di dalam mobil. Apalagi saat melihat pria Don Juan itu tampak marah ketika melemparkan buket bunga itu dengan sembarangan ke jok belakang setelah masuk ke dalam mobilnya.
"'Hey, ada ini!" Seru Pandu berteriak marah, sekaligus menahan sakit.
Tiba-tiba lehernya dipiting kuat oleh yang orang muncul di samping kaca mobilnya.
" Nggak usah cari perhatian dengan Jenna! Tahu diri, Bung! Dia masih terlalu muda dan Anda tidak pantas bersanding dengannya. Anda hanyalah lelaki buaya darat yang penuh akal licik!"
__ADS_1
Pandu terbatuk-batuk karena lengan pria itu menekan lehernya dengan sangat kuat... Wajah Pandu memerah, setelah Fendi melonggarkan tekanannya.
Cepat Pandu mengambil botol bening berisi air mineral kemasan yang ekslusif. Air bening itu menyegarkan lehernya yang sesak dan panas.
Pandu tak bergerak dan terkunci. Sebagian tubuh Fendi menutup pintu samping mobilnya. Mata Pandu melotot antara marah dan kesal.
" Pulanglah boy! Ini peringatan pertama untukmu... Saya melakukan ini atas perintah Pak Andrian Damash!"
Peringatan itu cukup mengejutkan Pandu juga. Seorang kakek sudah turun tangan untuk menjaga cucunya! Harus membuat Pandu juga tahu diri... Mana berani dia mempermainkan cucu dari lelaki yang cukup dikenal namanya di dunia bisnis tersebut, setelah beliau pensiun dari kedinasannya. Tetapi penolakan Jenna selama ini justru memunculkan jiwa petualangan pada dirinya untuk menaklukkan gadis muda yang lugu itu.
" Sana, pergilah! Jangan sampai saya bertindak lebih kasar lagi!"
Pandu mengeram kesal dan mulai menyalakan mobil mahalnya itu. Fendi menjauh sedikit ke sebelah mobil lain yang berjejer rapi di samping pelataran parkir depan salon.
Suara mesin mobil super car itu menderu sangat keras ketika digas kuat, saat meninggalkan tempat parkir tersebut . Musuh Jenna ternyata banyak. Pria yang satu ini yang paling tidak disukai Opa Damash, setelah mendapatkan laporan dari anak buahnya yang bekerja di agen pengawalan sebuah group band yang datang dari Amerika Serikat.
Beberapa kali Pandu Samidi bekerja sama dengan sebuah agen yang merekrut jasa pengamanan untuk mengawal tamu, artis terkenal atau group band dari luar negeri. Salah satunya perusahaan itu merupakan rekanan dari menantu Pak Damash. Tetapi ada salah satu orang kepercayaan Pak Damash itu mendapatkan fakta tentang kehidupan Pandu Samidi sebenarnya.
Pria muda itu berhasil mengembangkan perusahaan milik keluarganya, setelah ayahnya jatuh sakit. Perusahaan Samidi Group itu merambah di berbagai usaha di dunia hiburan tanah air. Namun Pandu Samidi tidaklah sedingin penampilannya saat tampil di depan publik atau kamera para pencari berita.
Dia berhubungan dengan banyak wanita dari kalangan artis, penyanyi maupun model. Bahkan setiap dia menghadiri berbagai acara formal yang disorot media massa, selalu datang dengan wanita yang berbeda-beda . Biasanya mereka adalah wanita muda yang cantik, seksi juga bergaya glamor. Terkadang juga sangat ambisius.
Seorang Pandu Samidi juga menjauhi berkomitmen untuk membentuk suatu ikatan pernikahan dengan pasangan kencannya itu. Sebab para wanita itu dapat datang pergi dalam kehidupannya menurut perintahnya.
Ternyata pria itu menganut paham kehidupan bebas ala kebudayaan orang barat. Hidup bersama dengan seorang wanita tanpa ikatan pernikahan. Wanita itu ditempatkan di sebuah apartemen yang sangat terlindungi privasinya. Dia juga sering pergi ke klub dan hiburan malam, terlibat dalam pesta liar kalangan kaum jet set. Bermabuk- mabukan.. . Mungkin juga sebentar lagi keterlibatan dirinya sebagai pengguna narkoba akan dapat diendus oleh aparat kepolisian.
Sayangnya sampai saat ini, Pandu masih dilindungi oleh seseorang yang sangat kuat, banyak uang dan mempunyai kekuasaan tinggi di negeri ini. Jadi dia masih aman.
__ADS_1