
Karolina tak sabaran untuk segera pulang ke Sentul. Dia belum berniat tinggal seatap dengan mertua. Lebih enak tinggal di rumah Opa atau rumah orang tuanya yang bersisian dalam satu kompleks milik keluarga. Tidak banyak aturannya.
Di rumah besar mertuanya, Karolina tidak bebas melakukan hal apa pun. Bahkan dia juga harus makan makanan tertentu pemberian dari ibu mertuanya dengan berbagai mitosnya untuk kebaikan wanita hamil!
Sedikitnya Karolina harus minum satu kali dalam sehari, satu sendok minyak kelapa asli. Minyak kelapa itu khusus dipesan Mami Mertua dari Tasikmalaya. Di sana, ada sebuah desa yang penduduknya menjadi pengrajin pembuatan minyak kelapa secara tradisional. Tentu dengan mitos, kalau diminum ibu hamil kelahiran bayinya menjadi lebih lancar.
Belum lagi Karolina harus sering minum air kelapa hijau supaya kulit kepala bayinya bersih. Maklum , Mami Mertua masih berdarah Sunda Tasik dan Garut juga Betawi yang lahir di Bogor. Wanita itu sangat mempercayai segala hal yang berasal dari wejangan para leluhurnya tentang kehamilan.
Tak peduli kalau sebagian hal itu sudah ditinggalkan oleh beberapa orang, karena sudah kuno dan tidak sesuai dengan ilmu kedokteran modern.
Terkadang Karolina dilarang tidur siang , karena untuk ibu hamil nanti darahnya akan naik ke kepala. Padahal semalam Karolina susah tidur sehingga sering begadang. Badannya setiap malam terasa panas, perut begah dan tak nyaman. Alhasil setelah sholat Dzuhur, Karolina menguap terus menerus.
Farhan kasihan melihat Karolina yang semakin stress saja dari hari ke hari. Sebab larangan dan perintah si Mami ya harus dipatuhi! Bukan hanya oleh anggota keluarga juga para ART , supir, tukang kebun sampai petugas keamanan yang menjaga di depan gerbang rumah.
" Tidurlah, Karol! " bisik Farhan menenangkan. Untungnya Farhan selain banyak bertanya pada dokter yang memeriksa Karolina secara rutin juga membaca buku tentang kehamilan dan melahirkan.
Diam- diam, dibantu Bibik yang mengurus semua keperluan istrinya itu, Farhan menyiapkan kepindahan Karolina. Mereka mengepak satu koper pakaian Karolina dan satu dus keperluan bayi saat mendapat kado pada acara tujuh bulanan sebulan bulan yang lalu. Juga memasukan barang- barang itu ke bagasi mobil Farhan tanpa dilihat penghuni rumah yang lain.
" Farhan, nggak baik Karolina pindah lagi ke rumah orang tuanya. Nanti bayimu umurnya muda lagi!" Ujar Mami Mertua keras.
Si Mami sudah mewanti- wanti saat mereka pamit mau pergi ke Sentul.
Kebetulan si Papi mulai sibuk bepergian tiap minggu dari Bogor- Bandung mulai bulan ini. Ada berbagai program partai yang dilaksanakan di Kota Kembang sana.
Pajero sport hitam itu akhirnya memasuki rumah utama di kompleks perumahan mewah itu.
Dada Marvin sudah bergemuruh tak karuan saja saat turun dari mobil Farhan itu.
Sebagai suatu tanda penghormatan, Farhan memilih lebih dulu datang ke rumah Opa dibandingkan datang ke rumah mertuanya. Walaupun letak rumah mereka hanya bersisian.
Pria itu memapah Karolina yang masih lemas karena dibangunkan dari tidurnya yang hanya sebentar. Tak sampai dua puluh menit.
" Assalamu'alaikum! " Salam Farhan.
"Walaikum Salam, " Seru sang tuan rumah yang tetap bersuara lantang dan tegas walaupun sudah berumur hampir tiga perempat abad.
__ADS_1
"Karol ?" Panggil pria itu ketika melihat wajah pucat Karolina. "Kamu kurang sehat, sayang?"
Segera diraihnya sang cucu sambil dipeluk erat -erat. Walaupun seorang laki- laki, si Opa tahu, Karolina kurang nyaman dengan keadaanya sekarang. "Kapan prediksi dokter Felisha?"
" Maaf, Opa. Kami ganti dokter saat ini....". Ujar Farhan menjelaskan
"'Hah, kamu pikir, cucuku ini harus melahirkan dibantu dukun beranak, begitu ! Sampai harus menganti dokter kandungan yang terbaik di bidangnya. Memang susah mengubah pandangan dan kekolotan Haji Komariah Dian Hisbillah, itu !"
Hampir saja Marvin tersedak! Pria tua itu memang pengamat sejati. Padahal mereka jarang bertemu, namun dapat menerka berbagai aturan kuno yang harus dijalani Karolina karena tinggal di Pondok Mertua Indah!
" Kamu Marvin? " tanya mantan Jendral ini tegas. Sebab dia hanya mengenal asisten Farhan yang lain.
" Iya, Pak..." Jawab Marvin hormat.
Mereka sedang duduk- duduk di ruang tengah. Tadi ada pria muda yang menyajikan minuman dan kue- kue untuk para tamu sang tuan rumah.
"Biar Karolina tinggal di sini saja sampai dia melahirkan! Farhan hubungi dokter Felisha, kamu harus memeriksakan istrimu di tempat prakteknya!"
Mana Farhan berani membantah segala ucapan perintah dari kakek istrinya ini. Sebab pria ini sudah teruji dengan kehidupan dan di lapangan tempur.
Wajah Farhan dan Marvin sama- sama memucat. Barulah Marvin berani mengangkat wajahnya, memandang wajah Pak Damash yang sudah dipenuhi kerutan dari banyaknya pengalaman hidup yang sudah beliau jalani.
" Saya minta maaf sebelumnya, Pak! Mungkin tindakan saya yang terlalu over acting sehingga membuat Jenna, cucu Bapak sangat marah..."
"Lho kok, bisa?"
" Dia datang saat di tengah acara, lalu menyelinap ke samping rumah. Karena halaman depan rumah dipenuhi ibu-ibu pengajian dan tamu undangan, jadi saya menahannya!"
" Kamu kira Jenna siapa?" tanya si Opa lagi.
" Yah, penyusup atau maling , gitu. Pak!"
" Apa kamu sudah tanya namanya?"
" Sudah, Pak! "
__ADS_1
" Terus dia nggak marah atau menghajar kamu gitu. Cucuku itu kalau merasa tidak nyaman . Apalagi tersinggung dia akan mengajar orang tersebut. Tidak peduli badan kamu Segede gajah begini!"
" Maafkan dia, Opa.... Selama Ini Marvin yang memegang urusan pekerjaan saya di Banten dan di Lampung. Jadi kurang mengenal keluarga dari Karolina. Sebab Dwi Pramana sedang membantu Papi di Bandung..." Ujar Farhan hormat dan sopan.
Si Opa hanya mangut-mangut saja. Dia tahu sikap dan watak Farhan yang sangat santun, sopan dan menghargai orang lain. Makanya, dia menjodohkan anak muda ini dengan cucunya, Karolina. Tak peduli kalau masing- masing dari mereka berasal dari latar belakang dan pandangan yang berbeda.
"Kamu sudah minta maaf belum sama Jenna?"
Marvin tertunduk, " Belum, Pak! Nomor saya diblokir."
" Baiklah! " Ujar lelaki tua itu lagi, sambil mengeluarkan hape dari kantong saku celananya. Tak lama terdengar saat pria itu menghubungi si cucu perempuan kedua yang tersayang.
Semua orang mendengarkan pembicaraan penuh kasih sayang itu antar kakek dan cucu perempuannya. "Jenna kapan menengok Kakek?"
" Sorry, Opa. Nana lagi banyak kerjaan ini. Besok mau ke Surabaya antar Tante Ismaya. Opa mau titip dibeliin apa?"
" Jenna! kiriman kue dan oleh- olehmu dari Bandung aja kemarin belum ada yang makan. Opa mau melihat wajah kamu, Jenna. Apa masih cemberut karena peristiwa di Bogor..."
" Nggak lucu, Opa! Apa si cecunguk itu mengadu . Huh!"
" Sayang, kamu bicaralah dengan Marvin!"
Si Opa paling tahu, kalau sudah Jenna ngambek itu bisa awet berminggu- minggu. Kecuali orang yang dinilainya berbuat salah pada dirinya mau meminta maaf.
" Assalamu'alaikum, Jenna. Saya Marvin. Saya mau minta maaf karena membuat kamu tidak nyaman dengan tindakan dan ucapan saya"
" Ya, sudah.Saya maafkan. Kasih hape ini ke Opa saya lagi!"
Semua orang tertawa lega dengan suara ketus Jenna. Maklum si Opa dengan isengnya membesar volume hapenya sebelum dia berikan pada Marvin. Jadi semua orang mendengar pembicaraan itu.
Tanpa sadar Marvin menggaruk- garuk- kepalanya yang tidak gatal. Apa sesusah itu meminta maaf pada Jenna? Dia akan selalu mengingat mata Jenna yang berpendar karena marah, kecewa dan tersinggung. Tetapi senyumnya membentuk garis sinis.
" Jenna, jangan benci lho. Nanti benar- benar cinta! " Teriak Karolina iseng menengahi percakapan di telepon itu.
" Sial! " Umpatan Jenna terdengar jelas. " Dag , Opa. Jaga kesehatannya. Salam untuk seluruh keluarga...."
__ADS_1
Klik. Suara itu telah menutup percakapan Jenna. Padahal pria itu sangat merindukan cucunya yang paling perhatian padanya.Tanpa sadar mata pria tua itu menatap Marvin dengan tajam.